The Quest for The Lost Inheritors

Len Arna yang Gelisah

Di puncak tertingginya, di mana bintang-bintang tampak begitu dekat seolah bisa diraih dengan uluran tangan, Iroaél sedang berdiri menatap ke depan. Angin berembus cukup keras, tetapi hanya menggoyangkan sedikit dari helaian rambut sang Maula Angin yang tertegun, memerhatikan dengan pandangan yang bisa memantau cukup jauh.

Matanya sedang memerhatikan semua makhluk yang menjalani hari-hari mereka, dalam keadaan susah, senang, suka, duka, penuh semangat maupun letih. Namun, yang menarik perhatiannya akhir-akhir ini adalah sosok Aldérin dan Kolé.

Tidak lama, muncul titik-titik sinar bak kunang-kunang, yang semakin lama semakin banyak dan membias. Setelah itu muncul sosok-sosok yang sudah berdiri di belakang tubuh Iroaél. Delapan Len’ Arna lain yang sepertinya datang karena memang desakan dalam hati nurani masing-masing.

Mereka memberi salam pada Iroaél, “Anaiya.”

Alsaina,” balas Iroaél.

“Kurasa kau tahu, alasan kedatangan kami, Iroaél.” Fel’ Calben—Sang Hijau—membuka suara. “Terlalu banyak kerusakan yang terjadi akibat peperangan yang sudah terjadi. Ini benar-benar menyayat hatiku. Hal-hal yang indah dan hijau, hancur karena sikap percaya diri para bangsa dëia.”

“Bukankah sudah menjadi takdir, bahwa bangsa dëia dan bangsa lain akan beririsan satu sama lain. Dan hal ini tidak mungkin kita pungkiri,” balas Fel’ Caran, Sang Merah. “Mereka sudah memilih takdirnya masing-masing, kita tidak bisa berbuat apa-apa.”

“Lalu membiarkan bumi ini hancur untuk kedua kalinya? Atau bahkan mungkin, kali ini akan menjadi musnah selamanya?” Sang Kuning atau Fel’ Malliná menatap dingin pada rekannya sesama Len’ Arna.

“Bicaralah pada Avinlár Yang Agung, Iroaél.” Fel’ Lwin, Sang Biru, menatap lekat-lekat pada Sang Abu alias Iroaél. “Apa dia tak bisa mengubah takdir, atau menghentikan peperangan ini dengan segera?”

Bahkan sebelum para Len’ Arna lain mengatakan hal itu, Iroaél sudah memohon pada Avinlár agar jangan lagi terjadi peperangan di bumi.

Namun, itu sudah menjadi sesuatu yang tertulis dan harus terjadi, bahkan Iroaél tidak pernah tahu, setelahnya akan seperti apa. Semua adalah rahasia Avinlár, juga para Shlikalla Naorma lain, sebagai tangan-tangan terpercaya Yalla Sang Tunggal.

“Biarkan takdir berjalan apa adanya,” tukas Iroaél. “Aku pun hanya melakukan tugasku, meski hatiku sebetulnya merasakan kepedihan yang juga kalian rasakan.”

“Jika kau menginginkan ini menjadi sebuah takdir yang mengalir, mengapa kau temui elf itu? Kau katakan pada kami, bahwa Len Arna tidak memiliki campur tangan. Namun, kau lagi-lagi menemuinya, apa kau sudah memberatkan sebelah tanganmu? Lalu bersikap tidak adil?”

Suara yang dingin dan datar itu terdengar dari bibir Fel’ Morn, Sang Hitam.

Iroaél tidak bisa menjawab apa-apa. Karena jauh di lubuk hatinya, dia terlalu menyayangi anak-anak dari Élfarä, yang diciptakan oleh Avinlár untuk mengisi dunia Khâli.

“Jika memang kami, para Len Arna, tidak memiliki suara apa pun atas apa yang telah terjadi, maka sebaiknya kau pun, sebagai Fel’ Meth, lepaskan tanganmu dan tidak perlu ikut campur,” tambah Fel’ Malden, atau Sang Emas. “Kau seharusnya memenuhi janjimu, Iroaél.”

Iroaél mengangguk singkat. “Baiklah.”

Luidor,” ucap semuanya serempak.

Luiya,” balas Iroaél lirih.

Sosok-sosok Len’ Arna lain pun lenyap dalam kedipan mata, dan meninggalkan Iroaél sunyi sendiri lagi. Ada embusan napas panjang terdengar dari hidung Iroaél yang mancung. Dia menyadari kekeliruannya, dan tentu ini akan membuat sedih Avinlár, karena tindakan sembrono yang telah ia lakukan.

“Kasih sayangmu beralasan, tetapi kasih sayang yang terlalu besar, akan membutakanmu, Iroaél,” suara itu terdengar di dalam batin Iroaél. Itu adalah suara Avinlár.

“Aku telah melakukan kekeliruan, oh Avinlár Yang Agung. Mungkin memang tidak sepantasnya aku menjadi Fel’ Meth, karena hatiku yang tidak bisa menimbang keadilan secara benar.”

“Kujadikan kau sebagai Fel’ Meth, bukan karena tanpa alasan. Seperti yang pernah kukatakan, kalian semua akan kembali bersamaku di sini … setelah kalian menyelesaikan tugas terakhir. Ini sangat penting, dan aku ingin kalian semua menjalankannya dengan baik.”

“Apa aku sanggup melakukannya? Sedangkan yang lain, mereka sudah merasakan kegelisahan di hati masing-masing. Terlebih melihatku yang serapuh ini.”

“Tidak apa menjadi rapuh, karena kau memang tercipta dengan hal itu.”

Iroaél hanya tertunduk lesu. Meski wajahnya tidak menunjukkan ekspresi sesungguhnya, tetapi jauh di lubuk hati, Iroaél memiliki perasaan yang begitu dalam.

“Teguhkan hatimu, Iroaél. Karena waktu yang bergulir ke depan, harus membuatmu siap akan semua hal yang akan terjadi di depan mata.”

“Baik, aku akan melakukannya.”

Angin berembus pelan, menyelusup ke dalam batin Iroaél. Perasaannya benar-benar pedih dan sakit. Terlebih saat mengingat kali pertama dia datang ke Khâli, semua hancur. Sama persis seperti tanah airnya dulu, yang tak bisa terselamatkan. Iroaél tak mau bumi tempatnya ia berada sekarang, ikut rusak seperti tempat tinggalnya dulu.

“Temukan keempat saudaraku. Ini sudah waktunya bagi mereka untuk kembali, terlalu lama mereka pergi, dan menentang titah Yalla. Aku sudah tahu di mana penyuka salju dan api berada. Hanya tinggal kutemukan kedua saudaraku yang lain.”

Tentu saja, salah satu tugas Len’ Arna terlebih Iroaél adalah mencari para roh yang masih satu penciptaan dengan Avinlár. Iroaél tahu banyak kisah yang diturunkan oleh Avinlár padanya, sehingga Iroaél diharapkan jauh lebih bijak, dari saudara-saudari para Len’ Arna yang lain.

“Akan kulaksanakan, Avinlár.”

Lalu senyap. Tidak ada jawaban apa-apa lagi di dalam batin Iroaél. Dia pun mendesah pelan, dan mengingat-ingat kembali apa yang dititahkan oleh Avinlár, semenjak dulu kala. Kedatangan mereka ke bumi Khâli adalah untuk memperbaiki kembali bumi yang sempat hancur.

Dulu, tanah-tanah bergetar, kering, seolah bumi akan tenggelam dalam air bah yang besar. Daratan terobek-robek, terombang-ambing di atas permukaan air yang bergejolak. Semua makhluk yang masih hidup, dan entah apa akan bertahan, mereka hanya bisa menangis meratap, merasakan dunia yang mengamuk.

Para Len’ Arna datang kemudian, menenangkan bumi yang sudah di ambang batas kesabaran. Mereka pun membenahi bumi Khâli kembali. Menumbuhkan apa yang sebelumnya di ambang kemusnahan, yang tadinya mengering, kembali menghijau. Lalu tiba-tiba saja datang lagi suratan takdir, bahwa akan datang peperangan besar, yang menentukan semua masa depan semua makhluk di bumi. Termasuk para Len’ Arna.

Iroaél pun melangkah menjauh dari tepi puncak gunung, dan duduk bersila di depan Gerbang Air.

Tidak lama lagi, akan terjadi sesuatu yang besar dan mengerikan. Dia hanya bisa diam dan membiarkan semua terjadi. Harapan Iroaél, agar salah satu dari pihak yang bertikai, bisa melihat dan meredam pertempuran. Sehingga bisa tercipta perdamaian pada akhirnya.

Jika memang begitu, maka bumi Khâli akan bisa terselamatkan.

Jangan sampai, kehancuran terjadi seperti yang pernah dilakukan oleh para Pelanthum Irior.

Karena datangnya keempat roh itu, ketika terlibat dengan peperangan di bumi, maka kehadiran mereka bak lonceng kematian bagi semua makhluk. Itulah sebabnya, Avinlár meminta Iroaél untuk segera menemukan mereka.

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!