Untuk FADHIL
Kesempatan Kevin
Pagi-pagi hujan turun dengan sangat deras membuat Keyla malas untuk pergi ke sekolah, dia masih menatap rintikan hujan dari jendela kamarnya.
“Keyla kamu gak berangkat ke sekolah?” tanya Adiba melihat anaknya yang masih diam di kamar.
Keyla mendengus mendengar pertanyaan Bundanya, “Bagaimana mau berangkat Bun? Di luar hujan deras,” jawabnya.
Tiba-tiba Bi Ajeng masuk ke dalam kamarnya Keyla, "Permisi Non, di luar ada Den Kevin,” ujar Bi Ajeng sambil tersenyum.
"Oke Bi, terima kasih." Keyla tersenyum mendengarnya dan langsung menghampiri cowok itu di bawah, Adiba ikut turun dengan Keyla untuk menemui Kevin.
“Kevin!” teriak Keyla terlihat jelas wajahnya yang begitu senang melihat kehadiran cowok itu.
Kevin pun membuka tangannya lebar-lebar siap menyambut pelukan Keyla kepadanya namun, dugaannya salah Keyla berhenti tepat di depannya.
“Huhf kepedean banget,” celetuk Keyla sambil terkekeh dengan tangan kanan yang menutupi mulutnya
Kevin mencubit pipi Keyla dengan gemas membuat cewek di depannya mengaduh kesakitan dan menatapnya dengan tatapan tajam.
“Auw sakit tahu, duh pipiku jadi merah,” keluh Keyla sambil mengelus-elus pipinya yang terasa sedikit sakit.
Dengan perlahan Kevin ikut mengelus-elus pipi Keyla dengan lembut hingga akhirnya di hentikan dengan hadirnya Adiba.
“Kheem.” Adiba berdehem membuat Kevin kaget dan menoleh sambil tersenyum.
“Pagi Tante,” ujar Kevin sambil tersenyum dan mencium tangannya dengan sopan.
Adila mengusap rambut Keyla yang di ikat satu dengan pita yang melekat di rambutnya membuatnya tampil begitu cantik.
“Kok tamunya gak di suruh masuk sih sayang?” ujar Adiba mengerutkan keningnya menatap putrinya.
Keyla tersenyum, “Eh ayo masuk tapi Ayah lagi gak ada di rumah,” ujar Keyla sambil meledek Kevin yang sering ke rumah untuk mengobrol dengan Ayahnya.
Adiba menatap Keyla, membuat cewek itu tersenyum. “Yuk masuk!”
“Gak usah Tante, saya ke sini untuk menjemput Keyla agar berangkat ke sekolah bareng,” tukas Kevin.
“Kan masih hujan, udah nanti aja sih berangkatnya.” Keyla memandang ke arah luar yang masih di guyur hujan.
“Gue bawa mobil kok,” sahut Kevin sambil mengerlingkan matanya.
“Ya sudah sana buruan berangkat bareng Nak Kevin!” timpal Adiba yang ikut memaksa Keyla untuk berangkat sekolah.
Keyla mendengus kesal padahal dia ingin tidak berangkat sekolah dengan beralasan hujan deras dan tidak ada yang ngantar, ternyata kedatangan Kevin membuatnya harus pergi.
“Okey deh, aku berangkat dulu ya Bun,” ucap Keyla sambil mencium tangan Bundanya dan tersenyum.
Kevin pun berjalan duluan dan membukaan pintu untuk Keyla, kemudian menutupnya dan berjalan untuk masuk ke pintu sebelahnya tempat untuknya mengemudi.
“Untung ada gue, kan lo bisa berangkat sekolah,” celetuk Kevin dengan sarkatis tanpa melirik cewek di sebelahnya.
Keyla mengulum bibirnya mendengar perkataan Kevin yang memang sedang menyindirnya.
“Iya terima kasih banyak ya Kevin yang tampan,” ujar Keyla yang terkesan di paksa.
Kevin tertawa puas dia pun melirik Keyla yang terlihat cemberut sambil menatap luar jendela. Keyla menyukai hujan tapi tidak suka jika hujannya terlalu lebat apalagi ada kilatan petir.
“Key, gimana hubungan lo sama Fadhil?” tanya Kevin, Keyla tidak pernah cerita banyak hal tentang hubungannya dengan cowok itu hal itu membuatnya penasaran.
Keyla menoleh dan menyandarkan kepalanya sambil menatap lurus jalanan.
“Ya begitu,” jawab Keyla yang dia sendiri pun merasa bingung dengan kedekatannya dengan Fadhil yang memang tanpa status.
Kevin menatap Keyla yang masih asik menatap jalanan, “Belum jadian?”
Keyla menggelengkan kepalanya ambigu ketakutan akan kehilangan itu selalu ada saat Fadhil mendekati Laura atau cewek lainnya dan rasa cemburu itu kerap menghancurkan hatinya dan harapannya.
“Bagus kalau begitu,” ujar Kevin sambil tersenyum, hatinya merasa senang mendengar bahwa Keyla dan Fadhil belum pacaran membuatnya punya kesempatan untuk masuk ke dalam hidup Keyla.
Dengan cepat Keyla menoleh, "Kok bagus sih?" katanya kesal.
Kevin menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal, "Ya bagus gitu kalau kalian belum jadian."
Keyla diam tidak menanggapi omongan Kevin yang terkesan aneh, kini hatinya mulai kembali resah dengan perasaannya. Mobil Kevin pun melaju dengan pelan karena jalanan sedikit macet begitulah jika hari senin.
“Gue sangat kenal Fadhil jauh sebelum dia pindah ke sekolah,” gumam Kevin dengan pelan tergambar masa-masa dia bersama dengan Fadhil.
Dia tidak bisa bercerita dengan siapa pun akan rahasianya selama ini bahkan bagaimana perasaannya saat takdir mempertemukannya kembali.
“Maksud lo?” tanya Keyla yang mendengar perkataan Kevin yang sangat pelan.
Kevin menatap Keyla yang berada di sampingnya kini ke dua matanya bertemu pada satu titik membuatnya sadar bahwa Keyla mempunyai bola mata berwarna coklat yang indah.
“Lo akan tahu pada waktunya Key,” ujar Kevin dingin.
“Huhf, kebiasaan banget kalau ngomong suka bikin orang penasaran.” Keyla mendengus kesal, Kevin selalu berkata dengan teka-teki yang tak mampu dia uraikan.
Mobil Kevin pun sudah memasuki gerbang sekolah, Kevin membunyikan klaksonnya kepada Pak Saptam sekolah sambil tersenyum di luar masih gerimis membuat Kevin harus mengeluarkan payungnya.
“Nih pakai payungnya!” ujar Kevin sambil memberikan payung pelangi kepada Keyla.
“Ayo keluar bareng, nanti lo ke hujanan gimana?” sahut Keyla.
Kevin memang suka mengorbankan dirinya demi Keyla tapi, Keyla tidak akan membiarkan Kevin kehujanan sendirian apalagi dia telah menololong Kevin tersenyum hangat, “Ya sudah gue turun duluan ya,” ujarnya.
Keyla pun mengangguk menyiakan perkataan cowok itu, Kevin pun memutari mobilnya dan berhenti di pintu depan dan membukaannya untuk cewek yang sudah lama dia sukai.
“Yuk buruan nanti baju lo basah,” jelas Kevin lalu menutup pintu mobilnya dengan kasar dan pergi untuk berteduh.
Rok Keyla basah terkena cipratan hujan Kevin pun membantunya dan memberikan Keyla jaketnya kepada cewek itu, tanpa mereka sadari ada seseorang yang diam-diam mengambil foto mesra Kevin dan Keyla yang saling bertatapan dan perhatian
Keyla berjalan menuju kelasnya yang ada di lantai tiga berbeda dengan kelas Kevin yang berada di lantai dua, saat Keyla sudah sampai di kelasnya ternyata dia sudah di tunggu oleh ke tiga temannya.
“Baru dateng Key?” Ratna orang pertama kali yang meleparkan pertanyaan kepadanya.
“Iya seharusnya gue gak masuk ke sekolah tapi, Kevin datang ke rumah buat jemput gue,” tukas Keyla sambil meletakan tasnya di atas meja.
“Key, itu jaket Kevin ya?” tanya April yang mengaku fansnya Kevin.
Keyla mengangguk dan menatap kembali jaket yang dia kenakan itu yang mampu menghangatkan tubuhnya
“Gue pinjem dong Key!” ujar April dengan nelangsa.
Hal itu membuat Keyla tertawa yang benar saja dia akan memberikan jaket Kevin kepada April tanpa sepengetahuan yang punya
“Eh gila aja ya lo Pril mana boleh sama Kevin kalau lo yang makai,” celetuk Anna sambil tersenyum kecut.
Bella terkekeh, “Sabar ya Pril, mungkin lain waktu lo bisa kok makai jaketnya Kevin atau mungkin Fadhil,” sahutnya sambil tersenyum
Semuanya pun tertawa, siapa yang bisa milih ke dua cowok keren di sekolah ini menjadi teman kelasnya saja sudah lebih dari cukup meski tidak satu ruangan itu tidak masalah yang penting Kevin dan Fadhil teman kelasnya yang bisa saja bisa tour bersama dan berfoto dengan ke duanya.
Hari ini adalah pelajaran Bu Luna, seperti biasa Jaya dan Adit selalu membuat kerusuhan dengan bercanda dengan Guru itu yang memang sedang patah hati karena di tinggal nikah oleh Pak Rafi, entahlah mungkin candaan Jaya dan kawan-kawannya terbilang tidak sopan meski menghibur teman kelasnya bahkan Bu Luna sendiri yang berhasil tertawa di buatnya
“Tenang Bu, Allah sudah menyiapkan yang terbaik buat Ibu,” ujar Adit dengan gerakan tangannya yang sok bijak.
“Jika akhirnya kamu tidak bisa bersama dengan orang yang sering kau sebut namanya dalam doamu mungkin kamu akan di satukan dengan orang yang diam-diam sering menyebut namamu dalam doa malamnya,” timpal Riko dengan perkataannya yang puitis dan bijak.
"Kalian berdua mencoba menghibur Ibu nih ceritanya?" ujar Bu Luna sambil tersenyum memandang kedua muridnya.
"Maaf ya Bu, mereka memang gitu sok tahu padahal kan Bu Luna sedang baik-baik aja ya kan Bu?" April menyahut dari arah belakang.
Bu Luna tersenyum menanggapi omongan anak-anak muridnya, ternyata hubungannya dengan pak Rafi hanya diketahui oleh sebagian orang saja meski awalnya dia kaget mendengar Riko dan Jaya yang mencoba menghiburnya, dari mana mereka tahu jika dirinya patah hati?
"Ya udah kerjakan tugasnya nanti pulang sekolah kumpulkan di ruangan Ibu ya!" pinta Bu Luna sebelum pergi meninggalkan kelas itu.