Untuk FADHIL

Rasa Cinta Berubah Benci

Bella membawa Keyla dalam pelukannya dia juga ikut merasa sedih melihat sahabatnya ini kembali menangis.

“Gue mengerti Key, lo yang sabar ya!” ujar Bella.

Keyla menarik napasnya dan mengembuskannya kembali, “Entahlah gue juga bingung tapi sekarang gue benci dan gak mau ketemu dia.”

“Kebencian itu akan hadir saat hati seseorang sedang terluka Key.” Bella mulai mengeluarkan kata-katanya. 

Keyla menatap temannya itu dengan mata yang berbinar, “Gue takut akan merasakan sakitnya kehilangan Bell, jadi sebelum gue ditinggalkan, gue mau menghapus nama dia dari hati gue dulu,” ujar Keyla.

“Jika lo percaya sama Fadhil maka semuanya akan baik-baik saja Key,” tukas Bella sambil memandang Keyla dia yakin bahwa Fadhil sayang dengan Keyla.

Keyla menggeleng, “Rasa percaya gue mulai pudar Bell, sudahlah mending kita lanjutkan nontonnya,” sergahnya mencoba menghindari pembahasan mengenai dirinya dan Fadhil.

Terdengar suara ketukan pintu kamar Keyla yang ternyata itu Bi Ajeng yang mengantarkan minuman untuknya.

“Non Keyla ini minumannya,” ujar Bi Ajeng sembari meletakan jus kesukaan Keyla di atas meja hias.

“Makasih ya Bi.”

Keyla memang majikan yang ramah menurut Bi Ajeng, dia tidak pernah memarahi pembantu rumahnya sekali pun karena menurutnya teguran pun sudah cukup mengapa harus marah?

“Udah lo gak usah nangis lagi, nanti mata lo nambah bengkak!” tukas Bella sambil mengusap rambut Keyla yang tergerai.

Keyla tersenyum berusaha tegar, dia kembali menyalakan drama yang sedang dia tonton, sesekali dia tertawa lepas hingga memenuhi ruangan.

“Sayang kamu sudah pulang?” tanya Adiba sambil tersenyum hangat melihat anaknya.

Keyla sontak langsung beranjak dari tempat tidur dan memeluk Bundanya, “Iya Bun, Bunda habis pergi ke mana?” tanyanya sembari melepaskan pelukannya.

“Bunda habis ketemu klien sebentar, kamu sudah sarapan?”

Keyla menggeleng sambil menekan bibir bawahnya, Adiba yang mengusap lembut rambut anak perempuannya ini dengan kasih sayang.

“Sore Bunda,” sapa Bella sambil mencium tangan Adiba.

Adiba tersenyum ramah, “Sore juga Bella.”

“Ya udah Bunda akan siapkan makanan untuk kalian okey!” ujar Bunda dengan ceria.

Keyla tersenyum menunjukan gigi ratanya begitu pun Bella yang nampak senang karena akan makan masakan Bundanya Keyla.

“Bell, lo akan menginap kan?” tanya Keyla memastikan.

Bella terdiam, “Kurang tahu deh Key,” jawabnya sambil berjalan dan duduk di pinggir tempat tidur.

Keyla ikut menghampirinya, “Kok kurang tahu? Bukannya lo udah izin sama Nyokap lo gimana sih katanya mau menginap,” gerutu Keyla, bibirnya nampak manyun saat mengambek.

Bella tertawa melihatnya, “Iya gue bakal nginap kok,” ujarnya sambil tertawa.

Keyla dengan iseng menggelitiki Bella hingga membuat Bella kegelian dan meneteskan air matanya.

“Ampun Key,” ujar Bella sambil tertawa karena tak tahan dengan gelitikan Keyla.

Dengan senang Keyla belum menghentikan permainannya yang sudah membuat Bella tidak berdaya.

“Key, please cukup gue gak tahan nanti gue gak enak makan lagi,” celetuk Bella saat Keyla menghentikan permainannya.

Keyla berdecak pinggang, “Lagian awas aja kalau ngerjain gue lagi gak akan gue ampuni.”

“Permisi Non, makanan sudah siap!” ujar Bi Ajeng

"Oke siap bi." Keyla dan Bella pun turun ke ruang makan yang berada di lantai bawah namun, tiba-tiba ponsel Bella berdering.

“Iya Hallo,” sapanya lembut sekali.

Keyla sudah menduga bahwa itu telepon dari Riko, karena suara Bella sengaja di lembutin.

“Gue lagi di rumah Keyla.”

Bella menatap Keyla seketika saat mendengar kabar dari cowok itu, “Okey nanti kita lanjutkan lagi ceritanya ya!”

Bella langsung menutup sambungan dan memasukan kembali ponselnya ke dalam saku.

“Telepon dari siapa Bell?” tanya Keyla penasaran dan menatapnya penuh curiga.

Bella menggeleng, “Dari Ratna,” jawabnya. Dugaan Keyla ternyata salah.

Akhirnya Keyla dan Bella makan bersama yang lauknya terasa nikmat tapi entah mengapa nafsu makan Keyla jadi terganggu sehingga dia hanya makan sedikit.

****

Fadhil terbangun saat sinar mentari mengenai wajahnya membuat cowok itu merasa terganggu oleh sinarnya, saat dia mencoba untuk bangun tiba-tiba kepalanya terasa sangat berat yang membuatnya jatuh kembali di tempat tidur.

“Duh, kok kepala gue sakit banget ya?” gerutunya sembari memegang kepalanya.

Fadhil berusaha mengingat kembali apa yang telah terjadi pada dirinya namun hal itu semakin membuat kepalanya terasa sakit. Pandangannya masih terlihat buram.

Fadhil mengucek matanya dan menatap sekeliling ruangan, “Lah ini kan bukan kamar gue?” ujarnya kebingungan.

Fadhil berusaha mengingat apa yang terjadi pada dirinya dan di manakah dirinya berada sekarang? Hal itu membuatnya menambah sakit dengan kesal Fadhil kembali memejamkan matanya.

“Pagi bro!” ujar seseorang yang Fadhil kenal suaranya.

“Gue lagi di rumah siapa ini?” tanya Fadhil masih belum mengingatnya.

Riko datang dengan memakai hoodie polos berwarna hitam dan dia duduk di samping Fadhil.

“Lo lagi di rumah gue Fadh, keadaan lo masih belum sadar sepenuhnya jadi istirahatlah dulu ajh,” jelas Riko sambil menarik selimut untuk menutupi tubuh Fadhil.

Fadhil berusaha bangkit dan tidak ingin berbaring lagi, “Sebenarnya apa yang udah terjadi dengan gue?” tanyanya dengan kesal.

Riko menenangkan Fadhil, “Sabar bro! Gue akan jelasin semuanya kalau lo itu semalam mabuk dan gue gak bisa bawa lo pulang ke rumah lo sendiri dalam keadaan lo yang sedang mabuk parak bahkan semalam tubuh lo itu mengalami dorp suhu badan lo naik,” jelas Riko.

Fadhil mencoba mengingatnya, “ Terus bagaimana dengan Papah gue?”

Riko tersenyum, “Lo tenang aja gue udah urus Bokap dan Nyokap lo, semalam gue bilang kalau lo ketiduran di rumah gue.”

Fadhil menepuk bahu Riko dengan senyumnya yang terbit, “Thanks ya bro! Lo emang the best banget dah.”

“Udah lo istirahat aja dulu di sini, gue mau nyiapin makan buat sarapan,” ucap Riko dan bangkit dari duduknya.

Fadhil menatap cowok itu, “Gue udah membaik kok, gue akan mandi dulu nanti gue akan nyusul lo di dapur,” ungkapnya.

Riko menganggkat bahunya ke atas sudah menyerahkan sepenuhnya kepada Fadhil karena percuma saja jika di larang cowok itu tidak akan mau mendengarkannya.

Saat Riko turun ke bawah Fadhil pun beranjak dari tempat tidur dan meraih handuk lalu menghilang di balik pintu kamar mandi, tubuhnya memang terasa sangat capek dan kepalanya pun masih terasa berat, Fadhil merendamkan dirinya di bathtub yang airnya terasa hangat.

Sedikit demi sedikit ingatan Fadhil kembali, dia mengingat sedikit kejadian semalam saat Adit mengajaknya ke diskotik dan di sana dia sudah beberapa kali minum wine yang ada di depannya Fadhil merasa bodoh karena sudah meminum wine sebanyak itu hal itu tentu saja belum pernah terjadi kepadanya.

“Arghhh, apa yang udah gue lakuin?” keluhnya pada diri sendiri.

Kesadaran itu membuat Fadhil merasa betapa hancurnya  dia semalam, dengan geram dia mengacak-acak rambutnya hari ini dia berniat menemui Keyla untuk menyelesaikan masalahnya.

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!