Untuk FADHIL

Menemui Kevin

Setelah pembicaraan itu, Keyla kembali ke kelasnya sendirian meski Fadhil telah menawarkan diri untuk mengantar Keyla hingga ke dalam kelasnya, tetapi tetap saja Keyla menolak dengan alasan dia ingin sendiri dulu. Dan Fadhil sebagai cowok yang pengertian menuruti keinginan Keyla.

Sedangkan Keyla kini sedang berjalan menuju kelasnya sambil melamun. Penjelasan Fadhil tadi benar-benar masih tidak bisa dicerna oleh pikirannya. Selama Fadhil menjelaskan pun dia tidak banyak bereaksi karena dia bingung harus bagaimana, jadi dia memilih diam dan langsung pergi dari situ setelah mendengar semua penjelasan Fadhil.

Sebenarnya Keyla melihat ketulusan pada wajah Fadhil dia juga mengerti tentang perasaan cowok itu. Antara bingung, cemas dan menyesal menjadi satu membuat Keyla nyaris menangis bahkan saat Fadhil meminta pendapat Keyla tentang apa yang harus dia lakukan agar hubungan mereka tetap baik-baik saja.

Keyla juga bingung.

"Key!" Panggil Ana saat Keyla memasuki kelas.

Lamunan Keyla terhenti ketika mendengar suara salah satu sahabatnya itu. Matanya tertuju pada tiga orang perempuan yang sedang asik memakan cemilan sambil menonton drama Korea di laptop.

Keyla pun berjalan mendekati teman-temannya itu, menarik kursi milik Raya dan bergabung dengan mereka.

"Lo dari mana? Kita cariin di kantin gak ada," ucap Raya yang masih fokus menonton drama di laptop milik Ana.

"Gue tadi pergi ke halaman belakang sama Fadhil," jawab Keyla.

Bella yang berada di sebelah Keyla lantas tersenyum mengejek.

"Ciee yang pacaran, berduaan di halaman belakang," goda Bella membuat Keyla tersenyum simpul. Mereka tidak tahu saja apa yang baru saja terjadi.

Keyla menatap serius ketiga temannya itu. Apakah Keyla harus cerita pada mereka? Bisa saja, kan mereka memiliki solusi untuk masalahnya dan Fadhil ini. Ah, tapi ini tentang perjodohan Fadhil, lagian juga ini masalah hubungan dia dan Fadhil.

"Apa? Kenapa lo liatnya sampai begitu? Hati-hati nanti lo suka sama gue," celetuk Ana kembali membuyarkan lamunan Keyla.

"Suka sama lo? Gue masih waras kali," balas Keyla.

Sudahlah. Sebaiknya teman-temannya ini tidak tahu. Biarkan dirinya dan Fadhil yang menyelesaikan masalah ini.

***

Bel pulang telah berbunyi sejak beberapa menit yang lalu, tetapi Fadhil masih betah berada di halaman belakang sendirian. Untung saja dia orangnya pemberani, jadi sendirian pun tidak membuatnya takut.

Fadhil kini sedang sibuk memainkan ponsel pintar miliknya itu sambil tiduran di kursi panjang halaman belakang. Jari jempolnya naik turun menggulir layar ponsel yang sedang menampilkan aktivitas media sosialnya hingga tangannya terhenti pada sebuah postingan instagram yang menampilkan foto Kevin.

Cowok itu memposting sebuah foto yang menampilkan bagian bahunya yang tidak terbalut baju.

Alis Fadhil berkerut, matanya memperhatikan foto itu dengan saksama, lebih tepatnya memperhatikan luka yang ada di pundak Kevin. Luka itu sama dengan luka yang dimiliki oleh teman masa kecil Fadhil saat dia jatuh dari sepeda dulu.

Apakah memang benar bahwa selama ini Kevin itu adalah teman masa kecilnya?

Fadhil segera berdiri dari duduknya, dia menyimpan ponsel pintar itu ke dalam saku celananya dan segera meninggalkan halaman belakang sekolah itu.

Pikiran tentang perjodohan antara dirinya dan Laura masih belum selesai, hubungannya dengan Keyla juga entah bagaimana, dan sekarang rasa penasaran tentang Kevin juga memenuhi pikirannya. Sungguh, Fadhil tidak pernah sepusing ini sebelumnya.

Langkah panjang cowok itu membawanya ke kelas Kevin, tetapi sayangnya sosok yang dicari sudah tidak ada disana. Fadhil segera pergi meninggalkan kelas yang telah kosong itu dan menuju lapangan sekolah, dugaannya jika Kevin sedang berada disana ternyata benar.

Dari kejauhan Fadhil melihat Kevin yang sedang asik bermain futsal bersama teman-teman satu ekskul dengannya. Tanpa pikir panjang Fadhil langsung menemui Kevin, tidak peduli meski dirinya mendapat tatapan tidak senang dari siswa yang lain karena Fadhil yang langsung masuk ke tengah lapangan begitu saja dan menghentikan permainan mereka.

Kevin yang melihat kedatangan Fadhil lantas mengerutkan alisnya bingung.

"Kevin, gue mau ngomong sama lo," ucap Fadhil ketika dia telah berdiri di depan cowok itu.

"Mau ngomong apa?" tanya Kevin.

Fadhil hendak meraih tangan Kevin, ingin membawanya keluar dari lapangan, tetapi cowok itu menolak.

"Kalau mau ngomong disini aja," tolak Kevin.

Fadhil menarik napas panjang, terserah Kevin saja. Jika dia mau bicara disini maka Fadhil pun tidak keberatan.

"Jujur sama gue, siapa nama panjang lo? Dan apakah kita pernah dekat sebelumnya?" tanya Fadhil.

"Ada urusan apa lo nanya nama panjang gue? Kalau gue gak mau kasih tau, lo mau apa?"

"Kev, tolong jawab gue."

"Gak, sorry, gue gak bisa jawab."

Mendengar perkataan Kevin membuat Fadhil marah dan kecewa, cowok itu selalu terlihat menghindari Fadhil bahkan enggan menjawab pertanyaannya membuat Fadhil semakin penasaran dan bertanya-tanya apakah dia teman masa kecilnya atau bukan.

Kevin pergi dari hadapan Fadhil. Dia tidak niat lagi untuk melanjutkan permainannya dan memilih untuk pulang. Setelah berpamitan pada teman-temannya dia langsung menuju parkiran tempat motornya berada dan segera melajukan motor itu menuju rumahnya tanpa menyadari jika sedari tadi Fadhil mengikutinya dari belakang.

Jam menunjukkan hampir pukul lima sore dan jalanan masih sangat ramai, laju motor itu sesekali melambat karena kemacetan yang terjadi. Selama hampir dua puluh menit membelah jalanan, akhirnya Kevin sampai juga di rumahnya. Rumah yang tidak terlalu besar juga tidak terlalu kecil.

Saat hendak memasuki pekarangan rumah, Kevin baru menyadari jika sedari tadi Fadhil mengikutinya hingga ke rumahnya.

Kevin mematikan motornya, dan turun dari motor itu lalu berjalan mendekati mobil Fadhil yang berada di belakangnya.

Melihat Kevin yang menghampiri mobilnya membuat Fadhil segara turun dari mobil itu.

"Lo, ngapain ngikutin gue sampe ke rumah gue?" tanya Kevin dengan nada tidak senang.

"Lo, gak jawab pertanyaan gue, jadi gue ngikutin lo sampe ke sini," jawab Fadhil tanpa rasa bersalah dan memang kenyataannya dia tidak salah. Yang salah Kevin karena tidak memberinya jawaban.

"Gue sudah bilang sama lo kalau gue gak bakal jawab pertanyaan lo itu. Sekarang mendingan lo pulang, gue gak terima tamu," usir Kevin.

Dia langsung berbalik dan menaiki motornya lagi lalu menjalan kan motor itu masuk ke pekarangan rumahnya. Tidak lupa Kevin menutup pagar agar Fadhil tidak ikut masuk ke dalam rumahnya.

Fadhil masih berdiam di depan rumah Kevin, sebegitu sulitnya mendapatkan jawaban dari Kevin, sekarang apa lagi yang harus Fadhil lakukan agar bisa mendapat jawaban atas pertanyaannya?

Untuk kesekian kalinya haru ini Fadhil menarik napas panjang, jika Kevin tidak bisa memberinya jawaban yang dia inginkan dan masih bersih keras untuk bermain kucing-kucingan dengannya maka Fadhil akan mencari sendiri jawabannya agar rasa penasarannya bisa terbayarkan.

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!