Wajah Serupa Takdir Tak Sama
Ancaman Saudara Kembar
Garis kuning kepolisian dan segel dinas perizinan yang melintang di pintu kaca A-Line Boutique & Mart tampak seperti luka menganga di tengah kegelapan malam. Cahaya lampu jalan yang remang-remang memantul di permukaan lantai marmer yang kini tak berpenghuni. Baru kemarin tempat ini adalah simbol kemewahan dan obsesi, kini ia hanyalah monumen kegagalan yang sunyi.
Arya berdiri di tepi trotoar, bahunya merosot. Ponsel di sakunya bergetar tanpa henti—panggilan dari dewan direksi, dari pengacara, dan tentu saja, dari calon ayah mertuanya yang baru saja mencabut seluruh dukungan dana sebagai bentuk "hukuman".
“Semuanya hilang dalam hitungan jam,” gumam Arya. Suaranya hilang ditelan deru angin malam. Ia menoleh pada Alina yang berdiri di sampingnya, masih mengenakan seragam kasir yang kini tertutup jaket tipis. “Maafkan aku, Alina. Aku ingin memberimu tempat berlindung, tapi aku malah menyeretmu ke tengah reruntuhan.”
Alina tidak menoleh. Matanya tetap tertuju pada mobil sport merah di seberang jalan yang perlahan mulai bergerak meninggalkan lokasi, seolah sang pemilik sudah puas menonton pertunjukan sirkus yang ia ciptakan.
“Bapak tahu apa kesalahan terbesar Bapak?” suara Alina terdengar sangat tenang, hampir dingin.
Arya menoleh lesu. “Mempercayai bahwa uang bisa menyelesaikan segalanya?”
“Bukan,” Alina akhirnya menatap Arya. “Kesalahan Bapak adalah mengira bahwa wanita seperti Alya akan membiarkan mainannya direbut tanpa membakar seluruh taman bermainnya. Bapak meremehkan rasa sakit hati seorang wanita yang merasa memiliki segalanya.”
Alina melangkah mendekati garis segel, menyentuh plastik kuning itu dengan ujung jarinya.
“Pak Hadi,” panggil Alina pelan.
Pria tua itu muncul dari kegelapan gang di samping toko, wajahnya sembab namun matanya waspada. “Iya, Nak? Semua barang di gudang belakang aman. Petugas tadi hanya menyegel pintu depan dan area display utama. Mereka tidak tahu ada pintu akses kecil melalui ventilasi gudang yang tembus ke lorong belakang.”
“Bagus,” Alina berbalik menghadap Arya. “Pak Arya, kalau Bapak mau menyerah sekarang, silakan pergi ke rumah Alya, berlutut, dan minta maaf. Dia mungkin akan mengembalikan martabat Bapak sebagai CEO.”
Arya tersentak. “Aku tidak akan melakukan itu.”
“Kalau begitu, berhenti meratapi gedung ini. Ikuti saya.”
Mereka masuk melalui celah sempit di belakang bangunan yang tertutup tumpukan palet kayu. Di dalam gudang yang gelap dan pengap, hanya ada satu lampu bohlam kuning yang menyala. Di sana, di atas meja kerja kayu yang sudah tua, terdapat tumpukan berkas yang sempat diselamatkan Alina sebelum penyegelan dilakukan.
“Apa ini?” tanya Arya bingung.
“Laporan pengadaan barang yang Bapak tandatangani terburu-buru minggu lalu,” Alina menggeser selembar kertas ke depan Arya. “Ingat saat Bapak bilang ingin merombak toko ini dalam waktu tiga hari? Bapak membiarkan divisi pengadaan menggunakan vendor-vendor pilihan Alya untuk mempercepat proses, bukan?”
Arya mengerutkan kening, membaca detail di kertas itu. Matanya membelalak. “Angka-angka ini… ini mark-up gila-gilaan. Dan perusahaan vendor ini… *Shinta Mandiri*? Itu nama tengah Alya.”
“Alya tidak hanya ingin menghancurkan Bapak, dia ingin merampok Bapak secara legal,” Alina menjelaskan dengan nada datar. “Dia memasukkan vendor fiktif untuk renovasi ini. Uang dari perusahaan Bapak mengalir ke rekening pribadinya melalui skema renovasi minimarket ini. Dia sengaja melaporkan toko ini ke dinas perizinan agar terjadi penyegelan, sehingga audit internal Bapak tidak akan sempat memeriksa hasil kerjanya karena tokonya sudah dianggap 'bermasalah'.”
Arya terduduk di kursi plastik yang reyot. “Dia merancang ini semua… bahkan sebelum dia tahu kamu ada di sini?”
“Tidak,” potong Alina. “Dia merancang ini sejak Bapak mulai terlihat tidak bisa ia kendalikan. Kehadiran saya hanya mempercepat eksekusinya.”
“Lalu sekarang apa? Aku sudah jatuh, Alina. Papanya menarik modal, reputasiku hancur, dan toko ini tidak bisa beroperasi.”
Alina mendekat, meletakkan tangannya di atas tumpukan berkas itu. Cahaya lampu bohlam membuat bayangannya tampak besar di dinding gudang.
“Bapak mungkin jatuh, tapi saya tidak. Saya sudah terbiasa di bawah, Pak. Dan dari bawah, kita bisa melihat retakan di fondasi mereka yang tidak bisa mereka lihat dari atas.”
Alina menatap Arya dengan tatapan yang membuat pria itu merasa kerdil.
“Besok pagi, saya akan menemui Alya. Bukan sebagai Alina yang lemah, tapi sebagai cermin yang paling ia takuti.”
Keesokan harinya, di kantor megah keluarga Wijaya, Alya sedang menikmati kemenangan kecilnya dengan menyesap kopi mahal. Ia sudah merencanakan langkah selanjutnya: membiarkan Arya menderita selama beberapa hari, lalu muncul sebagai "penyelamat" dengan syarat pernikahan dipercepat.
Pintu ruangannya terbuka tanpa ketukan.
“Aku bilang jangan ganggu aku kalau tidak ada janji—” Alya menghentikan kalimatnya.
Alina berdiri di sana. Ia tidak memakai seragam kasir. Ia mengenakan kemeja putih bersih dan celana kain hitam sederhana, namun caranya berdiri begitu tegak, begitu mirip dengan cara ibu mereka berdiri di foto masa lalu yang Alya temukan.
“Mau apa kamu ke sini? Mau minta uang pesangon?” Alya tertawa remeh. “Atau mau mengemis agar aku tidak menjebloskan pacar barumu itu ke penjara karena izin bangunan fiktif?”
Alina berjalan mendekat, setiap langkah sepatunya yang murah terdengar seperti dentum genderang perang di telinga Alya. Ia meletakkan sebuah amplop cokelat di meja kerja Alya.
“Aku ke sini untuk mengembalikan ini,” ucap Alina tenang.
Alya membuka amplop itu, mengharapkan surat permohonan maaf. Namun wajahnya memucat seketika saat melihat salinan transaksi rekening vendor *Shinta Mandiri* dan bukti aliran dana ke rekening luar negeri atas namanya.
“Dari mana kamu dapat ini?” suara Alya bergetar.
“Kamu meremehkan asisten operasional, Alya. Tugasku di kantor Arya dulu bukan hanya membersihkan meja, tapi memastikan setiap sampah kertas dihancurkan. Sayangnya, kamu terlalu ceroboh meninggalkan draf kontrak vendor di laci meja Arya saat kamu datang mengamuk tempo hari.”
Alina mencondongkan tubuhnya, menatap mata kembarannya dengan jarak yang sangat dekat.
“Papa tahu tentang ini? Papa yang sangat memuja kejujuran dalam bisnis itu? Bagaimana menurutmu jika dia tahu putri kesayangannya mencuri dari tunangannya sendiri untuk membangun 'dana darurat' jika suatu saat ia dicampakkan?”
“Kamu… kamu tidak akan berani,” desis Alya.
“Aku tidak punya beban, Alya. Aku sudah kehilangan pekerjaan, tempat tinggal, dan harga diri karena ulahmu. Orang yang tidak punya apa-apa adalah orang yang paling berbahaya untuk dilawan.”
Alina berbalik, berjalan menuju pintu, lalu berhenti sejenak tanpa menoleh.
“Satu hal lagi. Cabut semua tuntutan pada toko Pak Hadi dan bersihkan nama Arya dalam dua puluh empat jam. Jika tidak, bukan hanya Papa yang tahu, tapi seluruh media ekonomi akan mendapatkan salinan ini.”
“Alina!” teriak Alya. “Kenapa kamu membelanya? Dia hanya memanfaatkanmu!”
Alina menoleh sedikit, memberikan senyum yang membuat Alya merinding. “Aku tidak membelanya. Aku sedang menyelamatkan diriku sendiri. Karena di dunia ini, Alya, hanya ada satu orang yang boleh menghancurkan hidupku, dan itu bukan kamu.”
Alina keluar dari gedung bertingkat itu dengan napas yang akhirnya terasa lega. Di parkiran bawah, Arya sudah menunggu di samping mobilnya yang kini tampak berdebu.
“Bagaimana?” tanya Arya cemas.
Alina hanya memberikan map cokelat yang sudah kosong padanya. “Dia akan membereskan kekacauan ini. Tapi jangan harap hubungan kalian akan sama lagi.”
“Aku tidak peduli tentang itu,” Arya melangkah maju, hendak meraih tangan Alina, namun gadis itu menariknya pelan.
“Jangan sekarang, Pak Arya. Bapak harus belajar berdiri tanpa bantuan modal orang lain dulu. Dan saya… saya harus kembali ke minimarket. Pak Hadi bilang ada stok susu yang harus masuk sore ini.”
“Tapi tokonya masih disegel!”
Alina tersenyum tipis, kali ini senyum itu terasa seperti Alina yang dulu, yang sederhana namun tangguh. “Segel itu hanya plastik, Pak. Keadilan yang saya bawa tadi jauh lebih tajam dari gunting manapun.”
Alina berjalan pergi menuju halte bus, meninggalkan Arya yang masih terpaku. Ia tahu, ketenangan ini mungkin hanya sementara. Alya akan kembali dengan rencana yang lebih licik, dan takdir mungkin akan menyeret mereka ke lubang yang lebih dalam.
Namun sore itu, saat Alina duduk di dalam bus yang sesak, ia menatap pantulan wajahnya di kaca jendela. Ia bukan lagi Alina yang hanya bisa pasrah. Ia adalah Alina yang menyadari bahwa wajah yang identik dengan musuhnya bukan hanya kutukan, tapi juga senjata yang paling mematikan.
“Permainan baru saja dimulai, Alya,” bisiknya pada bayangannya sendiri.
Di kejauhan, lampu minimarket A-Line—yang kini terasa seperti nama untuk dirinya sendiri—tampak berkedip satu kali, seolah memberi tanda bahwa kegelapan tidak akan selamanya berkuasa.