Wajah Serupa Takdir Tak Sama
Di Balik Cahaya Temaram
“Kenapa Ibu tidak pernah bilang kalau aku punya cermin yang hidup di dunia lain?”
Pertanyaan itu meluncur begitu saja saat Alina meletakkan secangkir teh hangat di depan Shinta. Mereka kini berada di dalam kontrakan sempit yang tersembunyi di balik gang sempit. Cahaya lampu bohlam lima watt yang mulai berkedip-kedip memberikan suasana suram pada dinding yang mengelupas.
Shinta terbatuk pelan, tangannya yang kasar dan pecah-pecah karena sabun cuci selama puluhan tahun tampak gemetar saat memegang cangkir. Ia menghindari tatapan Alina.
“Ibu hanya ingin kamu tumbuh tanpa bayang-bayang, Nak.”
“Tanpa bayang-bayang? Atau tanpa kebenaran?” Alina duduk di lantai, bersila di hadapan ibunya. “Wanita itu—Alya—dia punya wajahku, Bu. Tapi dia punya segala hal yang tidak pernah aku punya. Berlian, kekuasaan, dan pria yang sekarang mengejarku hanya karena aku mirip dengannya.”
Shinta menghela napas panjang, matanya menerawang ke langit-langit kayu yang rapuh. “Wijaya… dia pria yang memuja kesempurnaan. Saat kamu dan Alya lahir, dia melihat kalian bukan sebagai manusia, tapi sebagai ahli waris yang harus dibentuk sesuai keinginannya.”
“Lalu kenapa Ibu hanya membawa aku? Kenapa Alya ditinggal?”
Suara Alina sedikit meninggi. Ada rasa sesak yang tiba-tiba menghimpit dadanya. Pikiran bahwa ia memiliki saudara yang tumbuh dalam kemewahan sementara ibunya harus menderita sebagai buruh cuci membuatnya merasa bersalah sekaligus marah.
“Karena Ibu tidak punya pilihan!” Shinta mulai menangis, air matanya jatuh ke dalam teh yang belum sempat diminum. “Wijaya tahu Ibu ingin pergi. Dia mengunci gerbang. Ibu hanya sempat menarikmu dari boks bayi. Ibu ingin kembali untuk Alya, tapi penjaga sudah mengepung rumah. Ibu harus lari, Alina. Jika Ibu tertangkap, Wijaya akan mengambilmu juga dan membuang Ibu ke jalanan tanpa sisa.”
Alina terdiam. Ia melihat bahu ibunya yang melorot, beban masa lalu itu tampak lebih berat daripada keranjang cucian manapun.
“Jadi, kita bersembunyi selama dua puluh lima tahun hanya karena ketakutan?”
“Bukan ketakutan, tapi keselamatan,” bisik Shinta. “Wijaya tidak pernah mencari Ibu karena dia benci kegagalan. Baginya, Ibu adalah aib yang hilang. Tapi jika dia tahu kamu tumbuh menjadi wanita yang cerdas dan berani seperti ini, dia akan menganggapmu sebagai 'properti' yang harus diambil kembali.”
Alina mengepalkan tangannya. Properti. Kata itu terasa lebih dingin daripada lantai semen tempat ia duduk.
Di sisi lain kota, di dalam kamar yang luasnya mungkin sepuluh kali lipat kontrakan Alina, Alya berdiri di depan cermin besar. Ia menatap wajahnya sendiri, namun yang ia lihat justru bayangan Alina yang sedang tersenyum lembut pada seorang wanita tua.
“Ibu…” gumam Alya pelan. Nama itu terasa asing di lidahnya. Tajam dan menyakitkan.
Ia berjalan menuju meja rias, mengambil sebuah botol parfum mahal dan melemparkannya ke arah dinding. *Prang!* Cairan beraroma mawar itu tumpah, namun baunya tak mampu menutupi rasa hampa di dadanya.
“Siska!” teriak Alya.
Asisten pribadinya masuk dengan kepala menunduk. “Iya, Nona?”
“Kenapa detektif yang kubayar belum juga menemukan di mana Ibu Shinta tinggal? Aku sudah memberi mereka alamat minimarket itu! Harusnya mudah membuntuti si kasir itu pulang!”
“Maaf, Nona. Alina sangat lihai. Dia sering berganti angkutan umum dan masuk ke gang-gang yang tidak bisa dilalui mobil. Tapi…”
“Tapi apa?!”
“Ada kabar bahwa Pak Wijaya juga sedang bergerak. Sepertinya Tuan besar sudah mengetahui keberadaan Ibu Shinta lebih dulu.”
Wajah Alya memucat. Ia mencengkeram pinggiran meja hingga kuku-kuku manjanya tertekuk. Rasa iri membakar ulu hatinya. Selama ini, ia menganggap ibunya sudah meninggal karena itulah yang dikatakan ayahnya. Sekarang, mengetahui bahwa ibunya masih hidup dan memberikan seluruh kasih sayangnya pada Alina, membuat Alya merasa seperti anak buangan di rumahnya sendiri.
“Dia memeluknya…” bisik Alya lirih, suaranya bergetar. “Aku melihatnya di rekaman CCTV minimarket tempo hari. Ibu memeluk Alina seolah dia adalah satu-satunya hal berharga di dunia ini. Kenapa bukan aku? Kenapa aku harus tumbuh dengan ayah yang hanya bicara soal saham dan laba?”
Alya menyambar kunci mobilnya di atas meja.
“Nona, mau ke mana? Ini sudah hampir tengah malam!” Siska mencoba mengejar.
“Aku ingin melihat wajahnya,” jawab Alya tanpa menoleh. “Aku ingin melihat wanita yang tega meninggalkanku sendirian di neraka ini selama dua puluh lima tahun.”
Malam semakin larut. Gerimis mulai membasahi gang sempit menuju rumah Alina. Pak Hadi, yang merasa bertanggung jawab atas keselamatan karyawannya, masih berjaga di dalam mobilnya yang diparkir agak jauh. Namun, ia tidak menyadari ada sebuah mobil sedan mewah yang meluncur perlahan tanpa lampu di belakangnya.
Di dalam kontrakan, Alina sedang menyelimuti ibunya yang akhirnya tertidur karena kelelahan menangis. Ia mematikan lampu bohlam dan duduk di dekat jendela kecil, menatap rintik hujan.
Tiba-tiba, telinganya menangkap suara langkah kaki di atas genangan air di luar. Langkah yang tidak teratur, bukan seperti langkah petugas ronda.
Alina berdiri, jantungnya berdegup kencang. Ia mengambil sebuah sapu kayu di sudut ruangan sebagai senjata darurat.
*Tok... tok... tok...*
Ketukan itu sangat pelan, namun terasa begitu mendesak.
Alina mendekat ke pintu kayu yang sudah lapuk itu. “Siapa?”
Tidak ada jawaban. Hanya suara napas yang memburu dari balik pintu.
Alina memberanikan diri membuka sedikit celah pintu. Matanya membelalak. Di sana, berdiri seorang wanita dengan gaun sutra yang kini basah kuyup karena hujan. Rambutnya berantakan, dan wajahnya penuh dengan sisa air mata yang bercampur dengan *maskara*.
“Di mana dia?” tanya suara itu, parau dan penuh luka.
“Alya?” Alina terperangah. “Bagaimana kamu bisa—”
Alya mendorong pintu dengan kasar, kekuatannya yang muncul dari rasa frustrasi membuat Alina mundur beberapa langkah. Alya masuk ke dalam ruangan sempit itu, matanya liar memandang sekeliling—pada piring plastik di rak, pada tumpukan baju cucian, dan akhirnya pada sosok wanita tua yang tertidur di atas kasur lantai yang tipis.
Alya mematung. Seluruh amarahnya mendadak menguap, digantikan oleh rasa sesak yang luar biasa. Ia melangkah mendekati Shinta, tangannya yang gemetar terjulur ingin menyentuh pipi ibunya.
“Jangan sentuh dia,” bisik Alina tegas, menghalangi jalan Alya.
“Dia ibuku juga, Alina!” Alya mendesis, air matanya kembali tumpah. “Kamu punya dia selama dua puluh lima tahun! Kamu punya pelukannya setiap kali kamu takut! Kamu tahu bagaimana rasanya dicintai, sementara aku… aku hanya punya uang yang tidak bisa memelukku!”
“Kamu tidak mengerti, Alya! Ibu lari untuk menyelamatkan hidup! Dia ingin membawamu, tapi—”
“Tapi dia memilihmu!” teriak Alya tertahan. “Dia selalu memilihmu!”
Suara keributan itu membuat Shinta terbangun. Ia mengerjapkan mata, menatap dua sosok di hadapannya dalam keremangan cahaya malam.
“Alina…?” Shinta duduk dengan susah payah. “Kenapa lampunya dimatikan? Dan siapa…”
Shinta terdiam saat melihat Alya. Matanya membelalak lebar. Ia mengenali sorot mata itu. Sorot mata bayi yang ia tinggalkan di boks bayi dua dekade lalu.
“Alya?” suara Shinta nyaris tak terdengar.
Alya jatuh berlutut di samping kasur lantai itu. “Kenapa, Bu? Kenapa hanya Alina?”
Sebelum Shinta sempat menjawab atau memeluk putrinya yang hilang itu, tiba-tiba terdengar suara rem mobil yang sangat keras di depan gang. Lampu sorot yang sangat terang menembus celah-celah dinding kayu kontrakan, menyilaukan mereka bertiga.
Dari pengeras suara mobil tersebut, sebuah suara berat yang sangat berwibawa namun dingin menggema ke seluruh gang.
“Alina, Alya… keluar sekarang. Papa tidak suka menjemput barang miliknya di tempat sekumuh ini.”
Ketiganya membeku. Wijaya telah sampai. Dan dia tidak datang sendirian. Puluhan bayangan pria berseragam hitam tampak mengepung rumah kecil itu dari segala penjuru.
Alina menatap Alya, lalu menatap ibunya yang mulai gemetar hebat. Ia menyadari satu hal: malam ini, rahasia mereka bukan lagi sekadar luka lama, tapi sebuah jebakan maut yang baru saja tertutup rapat.
“Ibu, Alya… lari ke pintu belakang sekarang!” teriak Alina.
Namun, saat ia berbalik menuju pintu belakang, pintu itu sudah didobrak dari luar oleh dua orang pria berbadan besar.
“Tidak ada yang pergi malam ini,” ucap salah satu pria itu sambil menodongkan senjata. “Tuan Besar ingin kalian semua ikut untuk 'makan malam' keluarga.”
Alina berdiri di depan ibu dan saudaranya, melindungi mereka dengan tubuhnya sendiri, sementara cahaya lampu sorot semakin menyilaukan, seolah-olah dunia mereka benar-benar sedang kiamat.