Wajah Serupa Takdir Tak Sama

Demi Ibu

“Sejak kapan tempat sampah ini jadi kandang singa?”

Suara tawa mengejek dari salah satu pria berjas hitam itu memecah ketegangan. Ia menimang-nimang tongkat taktis di tangannya, menatap remeh ke arah Alina yang berdiri tegak di tengah ruangan. Di belakang Alina, Shinta menangis ketakutan sambil memeluk lengan Alya yang masih membeku.

“Ibu, Alya, dengarkan aku,” bisik Alina tanpa mengalihkan pandangan dari para penyusup. “Lari ke pintu belakang. Ada celah di bawah rak piring yang tembus ke gudang sebelah. Pak Hadi menunggu di sana. Jangan menoleh, jangan berhenti.”

“Tapi kamu, Alina—” suara Alya bergetar, egonya runtuh melihat moncong senjata yang mengarah ke arah mereka.

“Sekarang!” bentakan Alina bukan lagi suara kasir yang ramah, melainkan perintah yang tak bisa dibantah.

Begitu Shinta dan Alya bergerak menghilang ke kegelapan dapur, pria yang memegang senjata maju selangkah. “Tuan Besar bilang kalian semua harus ikut. Kalau satu lari, yang tinggal harus menanggung sakitnya.”

Pria itu mengulurkan tangan kasarnya hendak mencengkeram bahu Alina. Namun, dalam sepersekian detik, udara di ruangan sempit itu seolah bergeser.

*Plak! Buk!*

Tanpa ada yang sempat melihat gerakannya, Alina menangkap pergelangan tangan pria itu, memutarnya dengan sudut yang mustahil, dan mendaratkan satu tendangan *gejlig* tepat di ulu hati. Pria bertubuh dua kali lipat darinya itu terjerembap ke belakang, menabrak meja kayu hingga hancur berkeping-keping.

“Satu,” ucap Alina dingin. Ia merentangkan kedua kakinya, memasang kuda-kuda rendah. Tubuhnya yang mungil kini tampak begitu kokoh, otot-otot lengannya yang selama ini tersembunyi di balik kemeja longgar tampak mengeras.

Pria kedua, yang memegang tongkat taktis, tertegun. “Sialan, dia pesilat!”

“Sabuk putih mungkin bisa kamu lawan,” Alina menggeser kakinya, menciptakan bunyi gesekan halus di lantai semen. “Tapi kamu baru saja memancing keluar pemegang sabuk tertinggi dari Perguruan Harimau Putih.”

Di luar, di dalam kegelapan gang yang becek, Alya menyeret ibunya dengan napas tersengal-sengal. Ia bisa mendengar suara hantaman keras dan teriakan kesakitan dari dalam kontrakan.

“Kita harus bantu dia, Alya! Adikmu dalam bahaya!” Shinta meronta, mencoba kembali ke rumah.

“Ibu tidak dengar? Dia menyuruh kita lari!” Alya berteriak, matanya liar mencari mobil Pak Hadi. “Dia... dia bukan Alina yang kukenal. Caranya berdiri tadi... itu bukan cara orang biasa.”

Tepat saat mereka mencapai ujung gang, Pak Hadi muncul dari balik bayangan, mengayunkan senter. “Sini! Masuk ke mobil cepat!”

Alya mendorong ibunya masuk ke kursi belakang, lalu ia sendiri berdiri di pintu mobil, menatap kembali ke arah rumah petak yang kini dikepung lampu sorot mobil ayahnya. Hatinya berkecamuk. Ia benci Alina, ia iri pada Alina, tapi melihat Alina bertarung sendirian melawan orang-orang ayahnya demi melindunginya... sesuatu di dalam diri Alya retak.

“Pak Hadi, dia bisa menang?” tanya Alya lirih.

Pak Hadi menghidupkan mesin, wajahnya tegang. “Alina itu anak yang hidup di jalanan sejak kecil, Nona. Dia belajar bela diri bukan untuk pamer, tapi untuk bertahan hidup. Tapi mereka punya senjata.”

Kembali ke dalam rumah, suasana berubah menjadi medan tempur yang brutal. Tiga pria lainnya merangsek masuk secara bersamaan. Salah satunya mengayunkan kursi plastik ke arah kepala Alina.

Alina bergerak seperti bayangan. Ia merunduk, melakukan sapuan kaki bawah yang mematikan. Dua pria langsung kehilangan keseimbangan dan jatuh berdebam. Sebelum mereka sempat bangkit, Alina melakukan lompatan *tiger spring*, mendaratkan sikunya di tengkuk pria ketiga hingga pingsan seketika.

Hidup keras di pinggiran kota telah menempa Alina. Ia bukan pesilat yang berlatih di gedung ber-AC. Ia adalah praktisi yang terbiasa berkelahi dengan preman pasar demi menjaga dagangan ibunya atau melindungi dirinya sendiri saat pulang kerja larut malam. Setiap gerakannya efisien, mematikan, dan tanpa ampun.

“Cukup!”

Sebuah suara berat menghentikan gerakan Alina yang baru saja akan mematahkan lengan pria terakhir. Pak Wijaya berdiri di ambang pintu yang hancur. Ia tidak memegang senjata. Ia hanya berdiri di sana, memegang tongkat berkepala perak, menatap kehancuran di dalam ruangan itu dengan senyum miring.

“Luar biasa,” gumam Pak Wijaya. “Alya menghabiskan ratusan juta untuk kelas karate privat dan dia bahkan tidak bisa memukul lurus. Sementara kamu... kamu menghajar lima orang terlatihku tanpa berkeringat.”

Alina berdiri tegak, napasnya sedikit memburu namun matanya tetap tajam mengunci mata ayahnya. “Panggil mereka kembali, atau saya pastikan tidak ada satu pun dari mereka yang bisa jalan pulang malam ini.”

“Darah Wijaya memang tidak pernah berbohong,” Pak Wijaya melangkah masuk, mengabaikan anak buahnya yang mengerang di lantai. “Kamu punya api yang aku cari selama ini, Alina. Kamu adalah versi diriku yang lebih murni. Tidak manja, tidak cengeng.”

“Saya bukan bagian dari Anda,” desis Alina. “Saya adalah anak dari wanita yang Anda buang. Dan saya tidak akan membiarkan Anda menyentuhnya lagi.”

Pak Wijaya tertawa, suara tawanya kering dan dingin. “Ibumu dan Alya sudah lolos. Aku tahu. Aku membiarkan mereka pergi karena aku hanya menginginkanmu sekarang. Kamu adalah investasi yang jauh lebih menarik daripada toko minimarket rongsokan itu.”

Alina mengepalkan tangannya. “Saya bukan barang investasi.”

“Semua orang punya harga, Alina. Termasuk ketenangan ibumu,” Pak Wijaya mengeluarkan selembar cek kosong dan meletakkannya di atas meja yang tersisa. “Ikut denganku, dan ibumu akan mendapatkan perawatan medis terbaik, rumah yang layak, dan perlindungan seumur hidup. Tolak aku, dan aku akan memastikan setiap sudut kota ini menjadi neraka bagi wanita tua itu.”

Alina terdiam. Tangannya yang masih gemetar karena adrenalin kini mengepal hingga buku jarinya memutih. Ini adalah pertarungan yang tidak bisa ia menangkan dengan silat. Ini adalah jebakan moral yang sudah dirancang dengan sangat rapi.

“Apa yang Anda inginkan?” tanya Alina, suaranya parau.

“Gantikan posisi Alya di dewan direksi untuk proyek ekspansi bulan depan. Tunjukkan pada dunia bahwa Wijaya punya pewaris yang tangguh. Setelah proyek itu selesai, kamu bebas kembali jadi kasir jika kamu mau. Tapi aku bertaruh... sekali kamu merasakan kekuasaan, kamu tidak akan pernah mau menyentuh mesin kasir itu lagi.”

Di kejauhan, di dalam mobil Pak Hadi yang melaju membelah malam, Alya menatap keluar jendela. Ia melihat pesan masuk di ponselnya dari nomor yang tak dikenal.

*“Dia setuju. Sekarang kamu bukan lagi satu-satunya 'putri' di rumah ini, Alya. Bersiaplah kehilangan mahkotamu.”*

Alya menjatuhkan ponselnya ke lantai mobil. Ia menoleh ke arah ibunya yang tertidur lelap karena syok di sampingnya. Ia merasa menang karena berhasil lolos, namun ia merasa kalah telak karena ia tahu, Alina baru saja menjual jiwanya demi menyelamatkan mereka.

“Kenapa kamu harus selalu jadi pahlawan, Alina?” bisik Alya benci, namun air mata mulai mengalir di pipinya.

Alina melangkah keluar dari rumah petaknya yang hancur. Ia tidak menoleh lagi. Di depan, deretan mobil hitam sudah menunggunya seperti barisan peti mati. Ia masuk ke dalam mobil Pak Wijaya, duduk di kursi belakang yang dingin dan beraroma kulit mahal.

Pak Wijaya menatapnya dari samping. “Pilihan yang bijak.”

Alina tidak menjawab. Ia menatap telapak tangannya yang lecet karena pertarungan tadi. Ia telah memenangkan perkelahian fisik, namun ia tahu ia baru saja masuk ke dalam kandang singa yang sebenarnya.

Mobil mulai melaju, meninggalkan gang sempit itu menuju pusat kota yang gemerlap. Saat mobil melewati minimarket *A-Line* yang gelap, Alina melihat bayangan dirinya di kaca spion. Ia bukan lagi kasir yang ramah. Ia adalah prajurit yang sedang menyamar masuk ke jantung musuh.

Tiba-tiba, ponsel di saku Alina bergetar. Sebuah pesan singkat dari Arya:

*“Aku tahu apa yang terjadi. Jangan lakukan ini sendirian. Aku punya kartu as yang bisa menghancurkan ayahmu.”*

Alina mematikan ponselnya. Ia menyandarkan kepala di kursi. Ia tidak butuh Arya. Ia tidak butuh siapa pun. Jika Pak Wijaya ingin melihat "api" di dalam dirinya, maka ia akan memberikan kebakaran besar yang akan menghanguskan seluruh kerajaan Wijaya dari dalam.

Mobil hitam itu terus melaju, menelan Alina ke dalam kemewahan yang mematikan, sementara di belakang sana, rahasia besar tentang siapa sebenarnya dalang di balik perpisahan orang tuanya mulai terkuak dari sebuah berkas tua yang tertinggal di lantai kontrakan yang hancur. Berkas yang kini dipungut oleh sesosok pria misterius yang sejak tadi mengintai dari kegelapan.

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!