Wajah Serupa Takdir Tak Sama
Bara di Balik Sutra
“Hentikan kegilaan ini, Alya! Kamu mempermalukan nama Wijaya!”
Suara menggelegar Pak Wijaya merobek kebisingan api yang mulai melahap gorden sutra di sayap barat kediaman mereka. Di tengah kekacauan para penjaga yang berusaha memadamkan api dan menahan Arya, Wijaya melangkah maju. Wajahnya tidak menunjukkan ketakutan, melainkan rasa jijik yang amat sangat.
Alya berdiri gemetar dengan jeriken kosong yang jatuh dari tangannya. Air mata mengalir deras, merusak riasan mahalnya. “Papa hanya peduli pada nama itu! Papa tidak peduli padaku! Papa lebih memilih kasir sialan ini!”
Wijaya mendekat, lalu dengan satu gerakan cepat, ia melayangkan tamparan keras ke pipi Alya. *Plak!* Suaranya bergema lebih nyaring dari deru api.
“Elegan, Alya. Aku mendidikmu untuk menjadi ratu, bukan menjadi pecundang yang bermain api seperti anak kecil!” desis Wijaya. Matanya kemudian beralih pada Alina yang masih dalam posisi siaga, napasnya memburu setelah menelan cip memori itu. “Lihat kembaranmu. Dia dikepung senjata, dia terpojok, tapi dia tidak kehilangan akal sehatnya. Dia bertaruh dengan nyawanya sendiri untuk informasi yang dia anggap berharga. Itu yang namanya kelas.”
Alya memegang pipinya yang panas, menatap ayahnya dengan rasa tidak percaya. “Dia... dia mencuri dari Papa! Dia menyelidiki Papa!”
“Dan dia melakukannya dengan cerdas,” sahut Wijaya dingin. “Sedangkan kamu? Kamu hanya bisa menghancurkan apa yang sudah aku bangun.”
Wijaya memberi isyarat pada kepala pelayan. “Bawa Alya ke kamarnya. Kunci dari luar. Jangan biarkan dia keluar sampai emosinya stabil. Dan kau, Alina... ikut ke ruang kerjaku. Sekarang.”
Malam itu, setelah api berhasil dipadamkan dan ketegangan mereda, suasana rumah terasa seperti makam yang sunyi. Namun, di dalam hati Alya, ada badai yang lebih hebat dari kebakaran tadi.
Ia berhasil menyelinap keluar melalui pintu penghubung rahasia yang ia ketahui sejak kecil. Tujuannya hanya satu: tempat di mana ibunya, Shinta, disembunyikan. Ia butuh pelukan. Ia butuh dibilang bahwa ia lebih berharga dari Alina.
Alya sampai di rumah aman di pinggiran kota itu dengan napas tersengal. Ia mendobrak pintu dan menemukan Shinta sedang duduk di ruang tamu kecil, menjahit baju yang robek.
“Ibu!” Alya menghambur ke pelukan Shinta, menangis sejadi-jadinya.
Shinta terkejut, namun ia mengelus rambut Alya dengan lembut. “Alya? Kenapa kamu ke sini malam-malam begini? Kamu basah kuyup, Nak.”
“Papa memukulku, Bu... Papa membela Alina. Semuanya sekarang tentang Alina. Aku benci dia! Kenapa Ibu membawa dia saat itu? Kenapa bukan aku?”
Shinta terdiam sejenak. Ia melepaskan pelukannya perlahan, menatap wajah Alya yang penuh amarah dan kecemburuan. Shinta menghela napas panjang, sebuah helaan napas yang membuat Alya merasa gelisah.
“Alya,” suara Shinta tenang, namun mengandung beban yang berat. “Ibu menyayangimu karena kamu adalah darah daging Ibu. Tapi Ibu mengerti kenapa ayahmu bersikap seperti itu.”
Alya menyipitkan mata. “Maksud Ibu?”
“Selama beberapa hari Alina bersamaku sebelum kamu datang, dia tidak pernah sekalipun mengeluh tentang kemiskinan yang kami jalani. Dia bekerja dari subuh hingga larut malam, tangannya kasar karena sabun cuci, tapi dia selalu menyapa Ibu dengan lembut. Dia tangguh, Alya. Dia tidak butuh gaun mahal untuk merasa berdaya.”
Shinta memegang tangan Alya yang halus dan penuh perhiasan. “Sedangkan kamu... kamu datang ke sini hanya untuk menuntut kasih sayang tanpa tahu cara memberi. Kamu menyalahkan dunia atas ketidakbahagiaanmu. Alina menghadapi dunia yang kejam dengan kepala tegak dan sopan santun yang tidak pernah hilang. Itulah yang membuat dia bersinar, bahkan di dalam lumpur sekalipun.”
“Jadi Ibu juga membela dia?” Alya menarik tangannya kasar. “Ibu membandingkan aku dengan dia? Aku tumbuh tanpa Ibu! Wajar kalau aku seperti ini!”
“Ibu tidak membandingkan, Nak. Ibu hanya bicara kenyataan,” Shinta menatap Alya dengan iba. “Sifatmu yang keras dan licik itu... itu sangat mirip dengan ayahmu. Dan itulah yang akan menghancurkanmu. Alina punya hati yang luas, meski hidupnya sempit. Itulah kenapa semua orang akhirnya berpihak padanya.”
Alya berdiri dengan sentakan. “Cukup! Aku ke sini karena aku kesepian, tapi ternyata Ibu sama saja dengan Papa! Kalian semua terpesona dengan akting 'gadis desa' yang dia mainkan!”
Alya berlari keluar, mengabaikan panggilan ibunya. Di dalam mobilnya, ia memukul setir dengan histeris. Rasa iri itu kini telah bermutasi menjadi dendam yang pekat. Jika ibunya saja lebih memuji Alina, maka tidak ada lagi tempat bagi Alya di dunia ini kecuali ia memusnahkan sumber cahayanya.
Kembali ke kediaman Wijaya, Alina berdiri di depan meja kerja ayahnya. Cip memori di dalam perutnya mulai terasa seperti beban fisik yang nyata.
“Kamu tahu, Alina,” Wijaya memutar-mutar gelas wiskinya. “Aku bisa saja menyuruh dokter untuk membedah perutmu malam ini juga.”
“Lakukan saja,” tantang Alina. “Tapi Bapak akan kehilangan satu-satunya pewaris yang Bapak anggap 'elegan' ini. Dan Bapak akan terjebak dengan Alya yang barusan mencoba membakar rumah Bapak.”
Wijaya tertawa kecil, suara tawa yang penuh pengakuan. “Itulah poinnya. Kamu tahu nilai tawar pribadimu. Kamu menggunakannya sebagai tameng.”
“Saya ingin satu hal, Pak,” ujar Alina tegas.
“Apa?”
“Kebebasan untuk Ibu. Biarkan dia tinggal di mana pun dia mau tanpa pengawasan orang-orang Bapak. Dan berhenti mencoba menjadikanku senjata untuk menghancurkan musuh Bapak.”
Wijaya berdiri, berjalan mendekati jendela yang menghadap ke arah kota. “Dunia bisnis itu seperti silat, Alina. Sekali kamu masuk ke gelanggang, kamu tidak bisa keluar hanya dengan minta izin. Kamu hanya bisa keluar kalau lawanmu sudah jatuh, atau kamu yang mati.”
Wijaya berbalik, matanya berkilat. “Cip yang kamu telan itu... sebenarnya aku sudah tahu isinya. Itu adalah rencana pemusnahan aset kakekmu. Aku sengaja membiarkan Arya menemukannya agar aku bisa melihat sejauh mana loyalitasmu akan diuji.”
Alina tertegun. *Semuanya adalah ujian?*
“Sekarang kamu sudah lulus,” lanjut Wijaya. “Besok pagi, siapkan dirimu. Kita akan ke kantor pusat. Kamu akan duduk di sebelahku sebagai Wakil Direktur Utama. Dan soal Alya... biarkan dia belajar dari kegagalannya sendiri.”
Pagi hari berikutnya, suasana kantor pusat Wijaya Group guncang. Alina turun dari mobil mewah dengan setelan jas kerja yang dipesan khusus. Rambutnya disanggul rapi, memperlihatkan rahangnya yang tegas. Di sampingnya, Wijaya berjalan dengan bangga.
Namun, kejutan menunggu di lobi.
Alya berdiri di sana, dikelilingi oleh sejumlah wartawan. Wajahnya tidak lagi sembab. Ia tersenyum manis, senyum paling licik yang pernah Alina lihat. Di tangannya, ia memegang sebuah dokumen tua yang tampak sangat familiar.
“Selamat pagi, Papa. Selamat pagi, Alina,” ucap Alya dengan suara yang dikontrol dengan sempurna. “Papa benar, aku harus lebih 'elegan'. Jadi, aku memutuskan untuk membagikan rahasia kecil keluarga kita kepada publik. Tentang bagaimana Wijaya Group dibangun di atas darah dan air mata keluarga Ibu Shinta.”
Para wartawan mulai menyerbu dengan pertanyaan dan lampu kilat kamera.
Wijaya mematung. Untuk pertama kalinya, Alina melihat raut panik di wajah ayahnya.
Alya mendekati Alina, berbisik tepat di telinganya. “Kamu mungkin punya kasih sayang Ibu, dan kamu mungkin punya pengakuan Papa. Tapi aku punya tombol kehancuran kerajaan ini. Kalau aku tenggelam, kita semua tenggelam bersama, 'Saudariku sayang'.”
Alina menatap Alya. Ia menyadari bahwa Alya tidak lagi sekadar cemburu. Saudaranya itu telah benar-benar berubah menjadi monster yang diciptakan oleh ayahnya sendiri.
Di tengah hiruk-pikuk kilatan kamera, Alina merasakan perutnya melilit. Cip memori yang ia telan seolah menjadi bom waktu yang siap meledak, sementara di depan matanya, kerajaan yang baru saja akan ia masuki mulai retak berkeping-keping karena ulah cerminannya sendiri.
“Ini belum berakhir, Al,” bisik Alina balik, suaranya sangat rendah hingga hanya mereka berdua yang dengar. “Karena pesilat tidak pernah kalah di ronde pertama.”
Tiba-tiba, seorang pria asing dengan seragam kejaksaan melangkah masuk ke lobi, memecah kerumunan.
“Pak Wijaya? Anda di bawah penangkapan atas dugaan pencucian uang dan penghilangan aset secara paksa tahun 1999.”
Dunia seakan berhenti berputar. Alina melihat ayahnya diborgol di depan matanya sendiri, sementara Alya tersenyum penuh kemenangan di balik kerumunan wartawan. Namun, yang membuat jantung Alina berhenti adalah saat pria jaksa itu menoleh padanya.
“Dan Nona Alina... kami butuh Anda sebagai saksi kunci. Atau mungkin... sebagai tersangka tambahan?”
Alina menatap pintu keluar yang kini tertutup oleh kerumunan. Sangkar emasnya baru saja runtuh, dan kini ia terjebak di dalam reruntuhan yang siap menguburnya hidup-hidup.