Wajah Serupa Takdir Tak Sama
Syarat Berdarah
“Satu tanda tangan, Alina. Dan seluruh kerajaan ini akan berlutut di bawah kakimu.”
Suara Arya terdengar seperti lonceng kematian di telinga Alina. Mereka berdiri di balkon perpustakaan yang menghadap ke halaman belakang yang luas. Di bawah sana, lampu-lampu taman yang mewah bersinar terang, namun di mata Alina, cahaya itu tampak seperti mata-mata yang sedang mengintai setiap geraknya.
“Bapak bicara seolah-olah ini adalah hadiah ulang tahun,” sahut Alina dingin. Ia menatap dokumen yang dibawa Arya—salinan draf pengalihan aset yang baru saja ditandatangani Wijaya sore tadi. “Apa syaratnya? Pak Wijaya tidak pernah memberikan gula-gula tanpa racun di dalamnya.”
Arya menarik napas panjang, matanya menatap Alina dengan tatapan iba yang sangat dibenci gadis itu. “Dia ingin kamu memimpin unit pembersihan aset di Jawa Barat. Lahan yang dulu milik kakekmu. Dia ingin kamu yang menandatangani surat penggusuran paksa terhadap warga yang masih bertahan di sana—termasuk panti asuhan yang dulu pernah dibantu oleh ibumu.”
Alina membeku. Jantungnya berdegup kencang, menghantam rongga dadanya hingga terasa sakit. Ini bukan sekadar bisnis. Ini adalah penghinaan tingkat tinggi. Wijaya ingin Alina menghancurkan warisan moral ibunya dengan tangannya sendiri sebagai bukti loyalitas mutlak.
“Dia ingin aku menjadi iblis yang sama dengan dirinya,” bisik Alina parau.
“Bukan hanya itu,” Arya membalik halaman dokumen tersebut. “Jika kamu menolak atau gagal mengeksekusi penggusuran itu dalam tiga puluh hari, seluruh aset yang dijanjikan akan dialihkan kembali ke yayasan yang dikelola oleh Alya, dan ibumu... dia akan kehilangan perlindungan hukum atas kasus masa lalunya. Wijaya akan menyerahkan bukti bahwa ibumu lari membawa dokumen perusahaan ke pihak berwajib.”
Alina tertawa getir. Tawa yang terdengar sangat menyakitkan. “Luar biasa. Dia menjadikanku pemegang saham utama sekaligus algojo bagi ibuku sendiri.”
Malam itu, Alina tidak bisa memejamkan mata. Ia duduk di lantai kamarnya, bukan di atas kasur *king size* yang empuk. Ia butuh merasakan kerasnya lantai untuk mengingatkannya pada siapa dirinya sebenarnya.
Tiba-tiba, pintu kamarnya diketuk dengan kasar. Tanpa menunggu jawaban, Alya masuk dengan wajah yang tampak kacau. Rambutnya berantakan, dan ia membawa botol minuman keras di tangannya.
“Selamat, Nona Direktur Utama,” igau Alya dengan suara serak. Ia menjatuhkan diri di sofa sutra, menatap Alina dengan mata merah. “Papa benar-benar melakukannya. Dia membuangku seperti sampah hanya untuk kasir sepertimu.”
Alina tidak bergeming. “Kamu pikir ini kemenangan, Alya? Kamu pikir aku menginginkan kursi berdarah itu?”
“Tentu saja kamu mau! Semua orang mau!” Alya tertawa histeris. “Jangan sok suci, Alina. Kita berdua ini cuma bidak. Tapi bedanya, kamu bidak yang disayang, sedangkan aku bidak yang mau dimakan.”
Alya merangkak mendekati Alina, aroma alkohol menyengat dari napasnya. “Kamu tahu kenapa Ibu lebih sayang padamu? Karena dia tidak pernah melihatmu saat kamu sedang tamak seperti ini. Dia cuma tahu Alina yang kasir, bukan Alina yang sedang menghitung harta Papa.”
“Ibu sayang padaku karena aku ada di sana saat dia tidak punya apa-apa!” bentak Alina, akhirnya emosinya meledak. “Sedangkan kamu? Kamu punya segalanya tapi kamu tidak pernah puas. Kamu bahkan tidak pernah mencoba mencari Ibu sebelum aku muncul, kan?”
Alya terdiam. Botol di tangannya gemetar. “Aku... aku takut pada Papa, Alina. Kamu tidak tahu bagaimana rasanya tumbuh besar dan selalu diberitahu bahwa ibumu adalah pengkhianat. Aku benci dia karena dia meninggalkanku, tapi aku lebih benci diriku sendiri karena aku merindukannya setiap malam.”
Keheningan yang menyesakkan menyelimuti ruangan itu. Untuk pertama kalinya, Alina melihat kerentanan yang nyata di balik topeng kesombongan Alya. Mereka adalah dua sisi dari keping koin yang sama—sama-sama hancur, hanya dengan cara yang berbeda.
“Dengarkan aku, Al,” Alina memegang bahu saudaranya. “Papa sedang menjebak kita berdua. Dia memberiku kekuasaan ini agar aku menjadi musuhmu, dan agar aku menghancurkan nama baik Ibu. Kita harus berhenti saling cakar.”
Alya menepis tangan Alina, namun tidak dengan kemarahan, melainkan dengan keputusasaan. “Sudah terlambat. Papa sudah mengatur semuanya. Besok pagi, pengumuman resmi akan dilakukan. Dan jika kamu tidak melakukannya, kita berdua akan tamat.”
Keesokan harinya, di kantor pusat Wijaya Group yang megah, suasana sangat tegang. Para pemegang saham dan wartawan sudah berkumpul di aula utama. Wijaya berdiri di podium dengan wibawa yang luar biasa, seolah ia adalah raja yang sedang memamerkan permata barunya.
“Hari ini, saya menyerahkan tongkat estafet kepada putri saya, Alina Wijaya,” ucap Wijaya dengan suara menggelegar.
Alina melangkah maju. Ia mengenakan setelan jas hitam yang sangat tajam. Wajahnya datar, sejuk, namun matanya berkilat penuh tekad. Saat ia berdiri di samping Wijaya, ia bisa merasakan aura kemenangan ayahnya yang menyesakkan.
“Silakan, Alina. Berikan pidato pertamamu sebagai pemilik baru lahan di Jawa Barat,” bisik Wijaya, matanya menyipit penuh ancaman.
Alina menarik napas panjang. Ia menatap deretan kamera dan wajah-wajah haus kekuasaan di depannya. Di sudut ruangan, ia melihat Arya yang menatapnya dengan cemas, dan Alya yang berdiri dengan wajah pucat.
“Terima kasih, Pak Wijaya,” suara Alina terdengar tenang dan jernih melalui mikrofon. “Benar bahwa mulai hari ini, lahan di Jawa Barat berada di bawah otoritas penuh saya. Dan sebagai tindakan pertama saya sebagai pemilik tunggal...”
Alina berhenti sejenak. Ruangan itu menjadi sunyi senyap, hingga suara tetesan air pun bisa terdengar.
“Saya mengumumkan bahwa proyek penggusuran dan pembangunan kawasan industri di lahan tersebut secara resmi... **Dibatalkan**.”
Guncangan hebat melanda aula itu. Para wartawan mulai berebut maju, lampu kilat kamera menyambar-nyambar seperti badai petir. Wijaya mematung, wajahnya yang semula merah karena bangga berubah menjadi putih pucat, lalu merah padam karena murka yang luar biasa.
“Alina! Apa yang kamu lakukan?!” desis Wijaya, tangannya mencengkeram lengan Alina dengan sangat keras.
Alina menoleh, menatap ayahnya dengan keberanian yang belum pernah ia tunjukkan sebelumnya. “Saya sedang melakukan bisnis, Pak. Secara hukum, lahan itu milik saya. Dan secara analisis ekonomi, membangun panti asuhan dan pusat pemberdayaan tani di sana akan memberikan citra perusahaan yang jauh lebih stabil daripada konflik agraria yang berkepanjangan.”
“Kamu menghancurkan kesepakatan dengan investor!” bentak Wijaya.
“Bukan menghancurkan, tapi mengalihkan,” Alina mengeluarkan sebuah map dari balik jasnya. “Saya sudah menandatangani kontrak kerjasama baru dengan konsorsium independen semalam—yang dipimpin oleh Arya. Kami akan menjadikan lahan itu sebagai kawasan *agro-tourism* milik warga. Nilai saham kita akan naik karena sentimen positif publik.”
Alya, yang berada di kerumunan, menatap Alina dengan mulut ternganga. Ia tidak menyangka Alina akan senekat itu.
Wijaya mendekatkan wajahnya ke telinga Alina. “Kamu baru saja menandatangani surat kematian ibumu, Alina. Aku akan menyerahkan berkas pengkhianatannya ke kepolisian sekarang juga.”
Alina tersenyum tipis—senyuman yang membuat Wijaya tersentak. “Silakan, Pak. Tapi sebelum Bapak melakukannya, mungkin Bapak ingin melihat layar besar di belakang Bapak.”
Layar raksasa di aula itu mendadak berganti. Bukan lagi menampilkan logo Wijaya Group, melainkan sebuah rekaman video tersembunyi. Di sana, terlihat Wijaya sedang berbicara dengan pengacaranya tentang rencana sabotase rem mobil Shinta dua puluh lima tahun yang lalu.
“Itu adalah percobaan pembunuhan berencana, Pak,” ucap Alina tenang di tengah kerumunan yang semakin histeris. “Rekaman itu baru saja terunggah secara otomatis ke peladen kepolisian dan lima media nasional terbesar. Sekarang, bukan Ibu yang akan dipenjara... tapi Anda.”
Wijaya mundur selangkah, kakinya goyah. Ia menatap sekeliling, namun para pengawal yang biasanya melindunginya kini justru menunduk, tidak berani melakukan apa-apa.
Tiba-tiba, pintu aula didobrak. Puluhan aparat kepolisian masuk dengan senjata lengkap.
“Pak Wijaya, Anda ditahan atas dugaan percobaan pembunuhan dan manipulasi aset negara,” ucap petugas tersebut.
Di tengah kekacauan itu, Alina merasa kakinya lemas. Ia telah memenangkan pertempuran, namun hatinya terasa kosong. Ia melihat ayahnya digiring keluar, dan untuk sesaat, mata mereka bertemu. Tidak ada penyesalan di mata Wijaya, hanya ada kebencian yang murni.
Saat aula mulai sepi, Alya mendekati Alina. Ia tidak marah, ia tidak berteriak. Ia hanya berdiri di sana dengan air mata yang mengalir di pipinya.
“Kamu benar-benar melakukannya,” bisik Alya. “Kamu menghancurkan Papa.”
“Aku tidak menghancurkannya, Al. Dia yang menghancurkan dirinya sendiri sejak lama,” sahut Alina lelah.
“Lalu sekarang... apa?”
Alina menatap kalung perak di tangannya. “Sekarang, kita bawa Ibu pulang ke rumah yang sebenarnya.”
Namun, saat Alina hendak melangkah keluar, Arya berlari mendekat dengan wajah panik. Ia memegang ponsel yang menampilkan sebuah siaran langsung dari rumah aman Shinta.
“Alina! Cepat! Seseorang baru saja membakar rumah aman itu sebelum polisi sampai!”
Darah Alina seakan membeku. Ia tidak membuang waktu, ia berlari sekencang mungkin menuju pintu keluar, mengabaikan segala kemewahan di sekelilingnya yang kini terasa seperti abu yang berterbangan.
Di layar ponsel yang tergeletak di lantai, terlihat sesosok pria dengan jaket hitam sedang berdiri di depan kobaran api rumah aman Shinta, memegang sebuah pemantik emas yang sangat dikenal Alina sebagai milik salah satu tangan kanan terpercaya Wijaya yang belum tertangkap.