Wajah Serupa Takdir Tak Sama
Labirin Muslihat
“Tender ini bukan tentang siapa yang paling murah, Alina. Ini tentang siapa yang paling bisa dipercaya untuk menyimpan rahasia di balik beton pelabuhan.”
Suara Wijaya terngiang di telinga Alina saat ia melangkah masuk ke Grand Ballroom Hotel Mulia, tempat pertemuan tertutup para kandidat utama proyek Pelabuhan Merdeka. Suasana ruangan itu kental dengan aroma cerutu mahal, parfum desainer, dan ketegangan yang nyaris bisa diraba. Lima konsorsium raksasa berkumpul, namun mata semua orang tertuju pada dua meja utama: Wijaya Group dan Nusantara Corp.
Alina mengenakan kebaya modern berwarna hitam legam dengan aksen emas di pergelangan tangan—sebuah perpaduan antara keanggunan tradisional dan ketajaman korporat. Ia berdiri tegak, memindai ruangan dengan mata yang tajam. Di sampingnya, Alya mengekor dengan wajah yang terlalu pucat, jemarinya tak berhenti memainkan tas jinjingnya.
"Jangan mempermalukan aku hari ini, Al," bisik Alina tanpa menoleh. "Aku tahu kamu sudah menghubungi Nusantara Corp semalam."
Alya tersentak, langkahnya goyah sejenak. "A-apa maksudmu? Jangan menuduh sembarangan!"
"Aku tidak menuduh. Aku menyatakan fakta," Alina berhenti tepat di depan meja nomor satu. "Simpan pengkhianatanmu untuk nanti. Sekarang, pasang wajah pemenang kalau kamu masih ingin memakai nama Wijaya di belakang namamu."
Di ujung ruangan, berdiri sosok pria yang menjadi penghalang terbesar Alina: Baskoro, CEO Nusantara Corp. Pria itu masih muda, namun reputasinya sebagai "Hiena Bisnis" sudah mendunia. Ia tidak pernah kalah dalam tender infrastruktur selama tiga tahun terakhir.
Alina melangkah mendekati Baskoro. Ini adalah trik pertama yang ia pelajari dari jalanan: *hadapi predator di sarangnya sebelum dia sempat mengintai.*
"Pak Baskoro," Alina mengulurkan tangan, memberikan senyum yang telah ia kalibrasi secara sempurna—tidak terlalu lebar hingga terlihat lemah, tidak terlalu kaku hingga terlihat takut.
Baskoro menyambut uluran tangan itu, genggamannya kuat. "Nona Alina Wijaya. Saya dengar Anda adalah 'senjata rahasia' baru Pak Wijaya. Menarik melihat seorang ahli bela diri mencoba bertarung di ring yang penuh dengan angka dan regulasi."
"Prinsipnya sama, Pak," sahut Alina tenang. "Di ring silat, kita mencari titik lemah sendi lawan. Di ring ini, kita mencari titik lemah dalam rantai pasok. Dan saya rasa, Nusantara Corp sedang mengalami masalah serius dengan kenaikan harga baja global yang tidak terduga, bukan?"
Senyum Baskoro sedikit memudar. Itu adalah serangan telak. "Informasi yang bagus. Tapi di proyek pelabuhan ini, koneksi politik jauh lebih berharga daripada efisiensi harga baja."
Pertemuan singkat itu hanyalah pembukaan. Selama dua jam berikutnya, Alina menggunakan seluruh kemampuannya untuk melakukan *social engineering*. Ia mendekati para pejabat kementerian yang menjadi dewan juri, menggunakan teknik *mirroring*—menyamakan frekuensi bicara, bahasa tubuh, hingga minat mereka untuk membangun kenyamanan instan.
Ia mendekati Pak Sulaiman, sang ketua komite tender, yang dikenal sangat konservatif. Alina tidak bicara soal teknologi digital atau efisiensi, ia bicara tentang "integritas nasional" dan "warisan untuk anak cucu"—narasi yang ia tahu akan menyentuh sisi emosional pria tua itu.
Namun, Baskoro tidak tinggal diam. Di sisi lain ruangan, Alina melihat Baskoro sedang berbisik dengan asisten Pak Sulaiman, menyerahkan sebuah map tipis yang terlihat sangat mencurigakan.
"Sial," umpat Alina pelan saat ia kembali ke sudut ruangan.
Ia menyadari bahwa trik psikologisnya tidak akan cukup. Baskoro bermain di area abu-abu yang lebih dalam. Nusantara Corp telah mengunci dukungan dari faksi militer yang menguasai lahan di sekitar pelabuhan. Tanpa izin mereka, pembangunan pelabuhan akan terhambat oleh protes "keamanan".
Alina membuka laptopnya, meninjau kembali data penawaran yang telah ia susun. Alya, yang duduk di sampingnya, tampak gelisah. Alina tahu bahwa draf yang ada di laptopnya mungkin sudah bocor ke tangan Baskoro melalui Alya.
"Kamu memberikan data itu padanya, kan?" tanya Alina dingin.
Alya menoleh, matanya berkaca-kaca antara takut dan dendam. "Mereka menjanjikanku posisi yang lebih baik, Alina! Papa tidak pernah menghargaiku! Aku lelah menjadi bayanganmu!"
Alina menutup laptopnya perlahan. Ia tidak marah, justru merasa kasihan. "Kamu bodoh, Alya. Kamu memberikan mereka data penawaran kita yang *asli*, tapi kamu lupa mengecek folder tersembunyi di dalamnya."
"Apa maksudmu?"
Alina tidak menjawab. Ia melihat Baskoro sedang mempresentasikan poin-poin penawarannya di depan komite secara informal. Baskoro terlihat sangat percaya diri, menyebutkan angka-angka yang persis dengan apa yang ada di draf "bocoran" dari Alya.
Namun, saat itulah Alina melihat sebuah celah kecil. Celah yang sangat tipis, nyaris tak terlihat bagi orang awam.
Dalam presentasinya, Baskoro menyebutkan koordinat pembangunan dermaga utama yang menurutnya paling efisien secara biaya—koordinat yang ia dapatkan dari draf "palsu" yang sengaja Alina tinggalkan untuk dicuri Alya.
"Pak Sulaiman," potong Alina dengan suara yang jernih, menghentikan pembicaraan Baskoro. "Mohon maaf jika saya menyela. Namun, koordinat yang disebutkan Pak Baskoro berada tepat di atas jalur migrasi terumbu karang langka dan situs purbakala bawah laut yang baru saja ditemukan oleh tim riset independen minggu lalu."
Seluruh ruangan mendadak sunyi. Baskoro menoleh tajam ke arah Alina, wajahnya berubah merah padam.
"Situs purbakala apa? Itu tidak ada dalam peta geologi pemerintah!" protes Baskoro.
"Benar, Pak. Karena laporannya baru saja diterbitkan pagi ini oleh LSM lingkungan hidup internasional," Alina menyerahkan sebuah tablet kepada Pak Sulaiman. "Kebetulan, Wijaya Group telah berkomitmen untuk menjadikan situs tersebut sebagai museum bawah laut yang terintegrasi dengan pelabuhan. Ini akan menaikkan nilai pariwisata sekaligus menjaga kelestarian lingkungan. Sebuah poin yang mungkin terlewatkan oleh Nusantara Corp yang terlalu fokus pada... pemotongan biaya."
Pak Sulaiman menyesuaikan kacamatanya, mengamati data di tablet tersebut dengan saksama. "Menarik. Sangat menarik. Sebuah pelabuhan yang menghargai sejarah. Ini sesuai dengan visi 'Integritas Nasional' yang kita bicarakan tadi, Nona Alina."
Meskipun mendapat poin positif, Alina tahu perjuangan belum berakhir. Baskoro masih memiliki kartu as berupa dukungan faksi keamanan lahan. Tanpa dukungan itu, aspek operasional Wijaya Group akan dianggap berisiko tinggi.
Saat jam istirahat, Alina menyelinap keluar menuju area parkir. Ia menghubungi Alex di pulau asri menggunakan telepon satelit yang tidak bisa disadap.
"Alex, aku butuh bantuanmu. Hubungi teman-teman lama kita di serikat pekerja pelabuhan. Aku butuh pernyataan dukungan massa dalam waktu dua jam. Bilang pada mereka, Nusantara Corp berencana mengganti seluruh tenaga kerja lokal dengan sistem otomatisasi total."
"Itu berbahaya, Alina. Kamu memancing kerusuhan?" suara Alex terdengar khawatir.
"Bukan kerusuhan, tapi tekanan publik. Aku butuh celah ini untuk masuk ke meja negosiasi terakhir. Cepat, Lex!"
Alina kembali ke dalam ruangan dengan napas sedikit memburu. Ia melihat Baskoro sedang menelepon seseorang dengan marah, kemungkinan besar menyadari bahwa ia telah dijebak dengan data koordinat palsu.
Alya mendekati Alina, wajahnya penuh ketakutan. "Alina... Baskoro sangat marah. Dia bilang kalau kita tidak menarik diri dari tender ini, dia akan membongkar foto Ibu sekarang juga ke media massa. Dia sudah punya salinannya dari ponselku yang kau retak tempo hari."
Alina berhenti melangkah. Jantungnya berdegup kencang. Ia tidak menyangka Baskoro akan bermain serendah itu.
Celah kecil yang ia ciptakan lewat isu lingkungan kini terancam tertutup oleh skandal pribadi yang mematikan. Pak Sulaiman sangat menjunjung tinggi moralitas; jika ia tahu Wijaya Group menyembunyikan "kematian palsu" Shinta, tender ini akan langsung dicoret.
"Ternyata dia benar-benar hiena," bisik Alina.
Pengumuman pemenang tender akan dilakukan dalam satu jam lagi. Wijaya Group unggul dalam poin konsep lingkungan dan sosial, namun Nusantara Corp masih memimpin dalam poin stabilitas keamanan lahan dan dukungan politik.
Alina berdiri di tengah aula, menatap Baskoro yang tersenyum penuh kemenangan sambil memegang ponselnya, siap mengirimkan pesan yang akan menghancurkan hidup Alina dan Shinta.
Ia belum menang. Posisinya masih di ujung tanduk. Satu langkah salah, dan seluruh upayanya untuk menyelamatkan ibunya akan hancur menjadi debu bersama ambisi Wijaya.
"Ini belum selesai, Baskoro," gumam Alina, tangannya merogoh saku, mencari sesuatu yang dikirimkan Alex melalui kurir rahasia sepuluh menit yang lalu—sebuah bukti transfer gelap antara Nusantara Corp dan salah satu anggota komite tender.
Ini adalah pertaruhan terakhir. Siapa yang akan meledak lebih dulu sebelum palu diketuk?
Tepat saat Pak Sulaiman hendak naik ke podium untuk mengumumkan pemenang, lampu ballroom mendadak padam. Di layar proyektor besar, muncul sebuah video siaran langsung dari depan gedung kementerian—ribuan pekerja pelabuhan sedang berdemonstrasi menolak Nusantara Corp.