Wajah Serupa Takdir Tak Sama
Jabatan Baru
“Kursi ini ternyata tidak seempuk kelihatannya, ya, Pak Wijaya?”
Alina menggeser kursi kulit besar di kepala meja rapat, menimbulkan suara decit halus yang memecah keheningan mencekam di ruangan lantai 42 itu. Ia duduk dengan punggung tegak, sementara di sebelahnya, Wijaya duduk di kursi biasa—bukan lagi kursi pimpinan. Pria tua itu hanya diam, jemarinya mengetuk meja marmer dengan ritme yang sulit diartikan.
“Sepuluh menit, Alina,” gumam Wijaya tanpa menoleh. “Dalam sepuluh menit, mereka akan datang. Dan mereka bukan pelayan minimarketmu. Mereka adalah hiu yang sudah memakan ribuan nyawa di bursa saham.”
“Saya sudah terbiasa menghadapi tikus selokan, Pak. Hiu hanyalah ikan yang lebih besar, bukan?” Alina melirik jam tangannya. “Masuk!”
Pintu otomatis terbuka. Dua belas direktur masuk dengan langkah berat. Mereka saling pandang saat melihat sosok gadis muda dengan kemeja putih sederhana namun tajam duduk di tempat yang biasanya diisi oleh Wijaya.
“Selamat pagi, Nona Alina,” sapa Pak Heru, Direktur Operasional yang perutnya buncit karena terlalu banyak jamuan makan malam mewah. “Saya dengar ada perubahan kepemilikan aset. Tapi tentu saja, kami berasumsi operasional tetap di bawah kendali kami, bukan?”
Alina tersenyum, tapi matanya tetap sedingin es. “Asumsi adalah langkah pertama menuju kegagalan, Pak Heru. Silakan duduk. Semuanya.”
Setelah semua orang duduk, Alina tidak membuka laptop atau membagikan berkas. Ia hanya menatap mereka satu per satu selama hampir satu menit penuh.
“Pak Danu, Direktur Pemasaran,” Alina memulainya dengan suara rendah namun jernih. “Bisa jelaskan kenapa biaya *branding* kita naik 40% tahun lalu, tapi pertumbuhan pasar kita stagnan?”
Pak Danu berdehem, membenarkan letak dasinya yang mahal. “Ah, itu… pasar sedang lesu, Nona. Kita butuh penetrasi lebih dalam. Anda mungkin belum paham dinamika makroekonomi.”
“Saya paham dinamika pencucian uang, Pak Danu,” potong Alina telak. “Biaya itu mengalir ke agensi periklanan milik sepupu Anda. Mulai jam dua siang nanti, meja Anda harus sudah kosong. Surat pemecatan Anda sudah ada di HRD.”
Seluruh ruangan mendadak sunyi. Wijaya sedikit memiringkan kepalanya, matanya berkilat melihat ketegasan putrinya.
“Anda tidak bisa melakukan itu!” teriak Pak Danu sambil berdiri. “Saya sudah di sini sejak perusahaan ini masih di ruko kecil!”
“Dan Anda sudah mencuri dari ruko itu sejak hari pertama,” sahut Alina tenang. “Keamanan, tolong antar Pak Danu keluar.”
Dua pria bertubuh tegap—anak buah Alex yang kini berseragam rapi—masuk dan menggiring Danu yang masih memaki-maki.
“Ada lagi yang ingin membahas masa lalu?” tanya Alina sambil menatap direktur lainnya. “Karena saya di sini untuk membahas masa depan.”
Pak Heru berkeringat dingin, ia mencoba mencairkan suasana. “Nona Alina, kami ini profesional. Jika ada kesalahan kecil, bisa kita bicarakan baik-baik. Jangan terlalu emosional.”
“Profesional? Mari kita bicara soal profesionalisme,” Alina melemparkan sebuah map tipis ke depan Pak Heru. “Tiga vendor logistik yang Anda pilih adalah perusahaan cangkang. Mereka tidak punya truk, mereka hanya memotong komisi. Anda tahu berapa kerugian perusahaan karena 'kesalahan kecil' Anda? Dua ratus miliar rupiah.”
Pak Heru terdiam, mulutnya menganga seperti ikan kekurangan oksigen.
“Pak Heru, Anda menyusul Pak Danu. Sekarang,” perintah Alina.
“Alina,” Wijaya bersuara untuk pertama kalinya, suaranya parau. “Mereka punya jaringan. Jika kamu memecat mereka sekaligus, perusahaan bisa lumpuh.”
Alina menoleh pada ayahnya. “Perusahaan ini tidak lumpuh, Pak. Ia hanya sedang membersihkan kanker. Dan saya sudah punya penggantinya.”
Alina menekan tombol di meja. Pintu kembali terbuka. Tiga anak muda masuk dengan pakaian yang jauh lebih kasual, membawa laptop dan tablet.
“Perkenalkan. Siska, ahli sistem audit dari firma internasional. Rendy, pakar logistik yang membesarkan *start-up* pengiriman terbesar di Asia. Dan Pak Hadi… Anda tentu ingat Pak Hadi, kan?”
Pak Hadi masuk dengan kemeja batik rapi, wajahnya tampak lebih segar.
“Hadi?” Wijaya mengerutkan kening. “Mantan manajer gudang yang aku pecat sepuluh tahun lalu?”
“Manajer gudang yang jujur yang Bapak pecat karena dia menolak menandatangani laporan fiktif Pak Heru,” koreksi Alina. “Mulai hari ini, Pak Hadi adalah Direktur Operasional yang baru. Dia tahu setiap jengkal gudang kita, lebih baik daripada Pak Heru yang hanya tahu menu di restoran bintang lima.”
Pak Hadi mengangguk hormat pada Wijaya. “Selamat pagi, Tuan Besar. Senang melihat Anda masih sehat.”
Wijaya hanya bisa bersandar di kursinya. Di dalam hatinya, sebuah rasa bangga yang aneh mulai membuncah. Ia melihat bagaimana Alina memegang kendali. Tidak ada keraguan, tidak ada rasa takut. Gadis ini bukan sedang bermain rumah-rumahan; ia sedang melakukan bedah jantung pada kerajaan bisnisnya.
“Untuk kalian yang tersisa,” Alina kembali menatap direktur yang masih duduk gemetar. “Sistem absen manual dihapus. Sistem tunjangan tanpa laporan kinerja dihapus. Mulai besok, semua transaksi di atas sepuluh juta harus melalui verifikasi digital yang dikelola oleh tim Siska. Ada pertanyaan?”
“Tapi… tapi prosedur itu akan memperlambat kerja kami,” keluh Ibu Sari, Direktur Keuangan.
“Hanya memperlambat pencurian, Bu Sari. Bukan kerja,” sahut Alina tajam. “Jika Ibu keberatan, pintu keluar masih terbuka lebar. Saya lebih suka bekerja dengan tim kecil yang jujur daripada tim besar yang isinya rayap semua.”
Ibu Sari menunduk, tidak berani membantah.
“Rapat selesai. Pak Hadi, tolong ambil alih ruang operasional. Siska, kunci semua akses akun Danu dan Heru. Rendy, hubungi vendor lama, batalkan kontrak mereka dan gunakan sistem barumu,” perintah Alina bertubi-tubi.
Satu per satu orang meninggalkan ruangan hingga hanya tersisa Alina dan Wijaya. Keheningan kembali menyelimuti mereka, namun kali ini terasa berbeda. Ada rasa hormat yang tidak terucapkan dari sang ayah.
“Kamu benar-benar melakukannya, ya?” bisik Wijaya. “Kamu menghancurkan 'orang-orangku' dalam waktu kurang dari satu jam.”
“Orang-orang Bapak adalah parasit, Pak. Mereka tidak mencintai perusahaan ini. Mereka hanya mencintai uang Bapak,” Alina membereskan beberapa kertas di depannya. “Saya membangun kembali apa yang Bapak biarkan rusak.”
Wijaya berdiri, berjalan perlahan menuju jendela besar yang menghadap kota Jakarta. “Dulu aku berpikir Alya adalah penerusku karena dia mirip denganku dalam hal gaya hidup. Ternyata aku salah besar.”
Alina berdiri di samping ayahnya. “Bapak mencari cermin, padahal Bapak butuh fondasi.”
“Bagaimana dengan Alya?” tanya Wijaya. “Kamu benar-benar mengirimnya ke gudang?”
“Dia butuh belajar bahwa hidup bukan tentang filter Instagram,” jawab Alina. “Dia sedang belajar menata stok barang di bawah bimbingan anak buah Pak Hadi. Jika dia bisa bertahan satu bulan, saya akan mempertimbangkan posisi lain untuknya.”
Wijaya terkekeh pelan, tawa yang tulus. “Kamu lebih kejam dariku, Alina. Tapi kamu lebih adil.”
“Keadilan memang sering terasa kejam bagi mereka yang terbiasa curang, Pak.”
Ponsel Alina bergetar. Sebuah pesan dari Alex.
“Ibu sudah sampai di apartemen rahasia. Dia aman. Alya sedang marah-marah di gudang, tapi dia mulai bekerja.”
Alina menyimpan ponselnya. Ia menatap pantulan dirinya di kaca jendela. Gadis kasir itu sudah tidak ada. Yang ada hanyalah wanita yang kini memegang kendali atas ribuan nasib karyawan.
“Pak Wijaya,” panggil Alina.
“Ya?”
“Besok jangan terlambat datang ke kantor. Bapak punya jadwal sebagai penasihat teknis untuk proyek pelabuhan. Dan tolong, jangan pakai dasi sutra itu lagi. Terlalu mencolok untuk orang yang sudah tidak punya saham mayoritas.”
Wijaya tertegun, lalu mengangguk pelan. “Baik, Direktur Utama.”
Saat Alina melangkah keluar dari ruang rapat, para staf di koridor membungkuk hormat dengan rasa segan yang nyata. Ia berjalan menuju ruangannya sendiri—ruangan yang kini sudah dibersihkan dari pernak-pernik mewah ayahnya dan diganti dengan meja kayu yang fungsional.
Namun, saat ia membuka laci mejanya, ia menemukan sebuah amplop hitam tanpa nama. Di dalamnya hanya ada selembar kertas kecil dengan tulisan tangan yang sangat rapi:
“Selamat atas pembersihan besarnya. Tapi hati-hati, Alina. Rayap yang terusir biasanya akan mencari rumah baru untuk dibakar. Nusantara Corp menunggumu di lobi bawah dalam sepuluh menit. Tanpa janji, tanpa pengawal.”
Alina meremas kertas itu. Ia menatap pintu ruangannya. Pertempuran di dalam kantor mungkin sudah ia menangkan, tapi naga-naga di luar sana baru saja mulai lapar.
“Alex,” ucap Alina melalui jam tangan pintarnya. “Siapkan motor di pintu belakang. Hiu di lobi bawah ingin bertemu, dan saya ingin memberinya umpan yang tepat.”
Tanpa ragu, Alina melepas sepatunya, menggantinya dengan sepatu sneakers hitam yang selalu ia simpan di tas, dan menghilang melalui pintu darurat. Hari pertamanya belum berakhir, dan malam ini, Jakarta akan melihat bahwa pewaris Wijaya Corp bukan hanya tahu cara memimpin rapat, tapi juga tahu cara bertarung di kegelapan.