Wajah Serupa Takdir Tak Sama

Angin Malam

 

“Kamu gila, ya? Jam sepuluh malam dan kamu masih nongkrong di dermaga bongkar muat?”

Alya mendongak dari atas sebuah peti kayu palet. Arya berdiri di sana, melonggarkan dasinya yang sudah miring sejak sore, memegang dua cup kopi instan dari minimarket seberang jalan. Angin malam pelabuhan Tanjung Priok yang lengket dan berbau garam menerpa rambut Alya yang diikat asal-asalan.

“Pintu sistem digitalnya baru mengunci otomatis jam sebelas, Kak,” sahut Alya sambil menerima cup plastik hangat itu. “Kalau aku pulang sekarang, siapa yang mau memastikan sisa boks baut dari gudang barat masuk ke kontainer audit?”

“Ada satpam, ada Pak Hadi, ada sistem!” Arya duduk di peti sebelah Alya, mendesah panjang saat melepas sepatunya setengah jalan. “Kamu ini baru seminggu magang tapi kelakuan sudah seperti pemilik saham mayoritas.”

“Aku memang pemilik saham, Kak. Bedanya, sekarang aku tahu berapa beratnya satu boks besi yang menghasilkan dividen itu.”

Arya terkekeh, menyesap kopi murahnya. “Alina meneleponku tiga kali semenjak magrib. Dia cemas.”

“Cemas karena aku belum pulang, atau cemas karena laporanku belum masuk ke mejanya?”

“Dua-duanya. Kamu tahu sendiri kembaranmu itu tidak pandai merangkai kata-kata manis. Dia cuma bilang, ‘Pastikan Alya tidak pingsan di atas tumpukan baja’.”

Alya tertawa pelan, memandangi uap kopi yang langsung hilang disapu angin laut. “Bilang padanya, aku pernah menahan lapar di bawah terik matahari Chiang Mai sampai kepalaku berputar. Bau solar dan angin malam ini belum ada apa-apanya.”

Suasana dermaga luar Wijaya Corp malam itu sepi, hanya diterangi beberapa lampu sorot kuning yang tinggi. Di kejauhan, lampu-lampu kapal kargo berkedip-kedip seperti bintang yang jatuh ke laut. Bunyi gesekan rantai jangkar dan ombak kecil yang menghantam beton menjadi latar suara yang monoton.

“Kak,” panggil Alya setelah beberapa menit mereka terdiam.

“Hmm?”

“Papa... benar-benar tidak menghubungi Mas Haryo lagi setelah kejadian kemarin?”

Arya memutar cup kopinya. “Papa yang menandatangani surat penyerahan berkasnya ke kepolisian, Al. Aku ada di ruangannya waktu itu.”

Alya tertegun. “Papa sendiri?”

“Iya. Tangannya agak gemetar waktu memegang pulpen, tapi beliau tidak ragu. Setelah itu, beliau melihat ke luar jendela lama sekali.” Arya menoleh pada Alya. “Beliau bilang padaku, ‘Alya benar. Aku terlalu lama melihat ke atas sampai lupa lantai bawahnya sudah keropos’.”

Alya menunduk, ujung sepatunya yang berdebu mengetuk-ngetuk lantai semen. “Aku tidak bermaksud membuat Papa sedih. Aku cuma... tidak mau Wijaya Corp hancur dari dalam.”

“Beliau tidak sedih, Al. Beliau sadar. Dan itu karena kamu.”

Langkah kaki yang berat dan terseret memecah obrolan mereka. Pak Hadi berjalan mendekat, memegang sebuah handuk kecil yang ia gunakan untuk menyeka lehernya yang gempal.

“Eh, Mas Arya belum pulang?” sapa Pak Hadi, ikut bersandar pada tiang besi.

“Menemani Nona Muda yang mogok pulang ini, Pak,” seloroh Arya.

Pak Hadi tertawa, menyerahkan sebuah map tipis kepada Alya. “Ini surat jalan terakhir untuk malam ini, Al. Semua bersih. Tidak ada selisih, tidak ada inisial siluman.”

Alya memeriksa lembaran itu di bawah cahaya lampu sorot. “Terima kasih, Pak Hadi. Maaf ya, gara-gara aku, bapak jadi harus ikut lembur seminggu ini.”

“Jangan bicara begitu. Justru kami yang berterima kasih,” Pak Hadi menatap lurus ke arah laut. “Selama bertahun-tahun, bagian logistik ini selalu dianggap tempat buangan. Dianggap sarang tikus. Baru sekarang kami merasa pekerjaan kami dihargai karena ada orang dari ‘atas’ yang mau duduk di sini.”

Alya tersenyum tipis. “Saya bukan orang atas, Pak. Saya cuma buruh magang yang kebetulan punya nama belakang Wijaya.”

“Tapi nyali Anda tidak bohong, Nona. Mas Haryo itu ditakuti di sini. Melihat Anda menunjuk mukanya kemarin... wah, orang-orang gudang langsung bersorak dalam hati.”

“Lain kali kalau ada yang macam-macam lagi, langsung kunci saja pintunya dari luar, Pak,” canda Alya, membuat Pak Hadi terkekeh sebelum berpamitan untuk mengunci gerbang utama.

Jam menunjukkan pukul sebelas kurang sepuluh menit. Suara alarm tanda sistem digital mengunci mulai terdengar samar dari arah ruang administrasi.

“Ayo pulang,” ajak Arya, berdiri sambil memakai kembali sepatunya. “Mobilku sudah siap di depan.”

“Kakak duluan saja. Aku mau jalan kaki sampai gerbang depan.”

Arya mengernyit. “Malam-malam begini? Jalan kaki di area kontainer?”

“Aku cuma mau merasakan dinginnya, Kak. Menikmati langkah kakiku sendiri tanpa perlu buru-buru mengejar target.” Alya berdiri, menyerahkan cup plastik kosongnya ke tangan Arya. “Tolong buang ya. Terima kasih kopinya.”

Arya menghela napas, menggelengkan kepala melihat keras kepalanya Alya yang kini seratus persen mirip dengan Alina. “Jangan lewat jalur gelap. Di sebelah barat ada perbaikan jalan.”

“Siap, Kapten.”

Alya melangkah perlahan menyusuri koridor luar gudang. Angin laut malam ini terasa membasuh seluruh sisa lelahnya. Saat ia melewati area taman kecil di dekat pos satpam, matanya menangkap sesuatu di bawah lampu taman yang temaram.

Sebuah pot tanah liat berukuran sedang duduk di atas undakan batu. Di dalamnya, sebatang tanaman anggrek hutan dengan kelopak ungu pucat yang masih kuncup bergoyang pelan ditiup angin. Di dekat pot, ada secarik kertas kecil yang tertindih batu.

Alya mendekat, berjongkok, lalu mengambil kertas itu. Tulisan tangan di atasnya rapi, tegas, dan tanpa basa-basi:

“Rendy bilang ini jenis yang paling tahan banting di cuaca Jakarta. Selamat mekar di lantai dasar. - Alina”

Alya mendekap kertas kecil itu di dadanya. Air matanya hampir menetes, namun ia menahannya sambil tersenyum lebar. Ia menatap kuncup anggrek itu, lalu berbisik pelan, “Kita sama-sama tangguh, kan? Kita lihat siapa yang akan mekar lebih indah nanti.”

Ponsel di saku celananya bergetar. Sebuah nomor internasional tanpa nama muncul di layar. Alya menggeser tombol hijau, lalu menempelkannya ke telinga.

“Halo?”

“Bagaimana bau asap knalpot Jakarta? Lebih buruk dari kotoran sapi milik Paman Somchai?”

Suara berat, santai, dan menyebalkan itu terdengar di seberang sana. Kai.

Alya spontan tertawa, air mata yang ditahannya tadi akhirnya runtuh juga karena rasa haru yang membuncah. “Kai! Kamu tahu tidak, aku baru saja menangkap satu rayap besar di sini!”

“Oh ya? Baguslah. Berarti cermin yang kuberi kemarin tidak pecah di jalan.”

“Tidak akan pernah pecah, Kai,” sahut Alya, menatap langit Jakarta yang kemerahan tanpa bintang. “Aku sedang melihat anggrek dari Alina sekarang. Dia mengirimkannya ke sini.”

“Dia tahu kamu butuh teman yang sama-sama keras kepala,” Kai terdengar terkekeh di seberang sana. “Sudah dulu, ya. Ayam-ayam di belakang sudah ribut minta makan. Jangan lupa minum air yang banyak, Nona Magang.”

“Kai, tunggu!”

“Apa lagi?”

Alya menarik napas dalam-dalam, merasakan udara malam yang merasuk ke dadanya. “Terima kasih.”

“Sama-sama. Selesaikan pekerjaanmu di sana.”

Sambungan terputus. Alya menurunkan ponselnya, tersenyum menatap pot anggrek di depannya. Langkah kakinya ke depan gerbang malam itu terasa jauh lebih ringan. Ia tahu, jalannya menuju puncak Wijaya Corp masih panjang dan penuh dengan kerikil tajam, tapi malam ini, di bawah dinginnya angin pelabuhan, Alya akhirnya menemukan apa yang selama ini ia cari: dirinya sendiri yang seutuhnya.

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!