Wajah Serupa Takdir Tak Sama
Seberang Laut
“Kalau kelakuan perwakilan PT Angkasa Raya sekaku ini, aku bersumpah lebih memilih membersihkan kotoran babi Paman Somchai daripada duduk di ruangan ini satu menit lagi, Arya!”
Alya mengempaskan tubuhnya ke kursi lipat di pojok ruang arsip divisi komplain yang remang-remang. Map biru muda dari Bu Ratna terbuka di pangkuannya, memperlihatkan lembaran surel berbahasa Inggris hukum yang rumit. Bau kertas tua dan mesin fotokopi yang panas memenuhi ruangan sempit itu.
Arya, yang baru saja menutup pintu rapat-rapat, bersandar pada lemari besi sambil melonggarkan kerah kemejanya. “Sst! Kecilkan suaramu, Al. Mr. Collins dan tim hukumnya masih ada di ruang sidang sebelah. Bu Ratna bisa kena serangan jantung kalau mendengar staf magangnya menyamakan vendor internasional dengan peternakan di Thailand.”
“Tapi mereka keterlaluan, Kak! Mereka menahan pasokan suku cadang turbin kita di pelabuhan Singapura hanya karena masalah salah ketik di klausul asuransi. Salah ketik dua huruf, Kak! L-T jadi L-D!”
“Itu Limited Liability jadi Liquidated Damages, Alya. Dalam hukum dagang internasional, dua huruf itu selisihnya puluhan juta dolar.” Arya menyodorkan sebotol air dingin ke arah Alya. “Bu Ratna saja tadi sampai keringat dingin menghadapi argumen tim hukum mereka.”
Alya meneguk airnya dengan cepat, lalu menghapus sisa air di bibirnya dengan punggung tangan. “Bu Ratna terlalu defensif. Beliau terus-menerus memakai tameng birokrasi lama kita. Itu tidak akan mempan buat orang seperti Mr. Collins.”
“Lalu kamu mau pakai cara apa? Menantang mereka duel?”
“Aku mau pakai cara Chiang Mai.” Alya berdiri, merapikan kemeja katunnya yang mulai kusut di bagian siku. “Buka kembali ruang sidangnya, Kak. Aku yang akan bicara.”
Suasana di dalam ruang sidang utama divisi komplain terasa sangat kaku. Meja jati panjang di tengah ruangan dipenuhi oleh gawai, laptop yang menyala, dan cangkir-cangkir kopi yang sudah dingin. Mr. Collins, pria paruh baya berambut pirang dengan setelan jas abu-abu necis, sedang sibuk mengetik di ponselnya sementara tiga pengacaranya berbisik-bisik dengan wajah tegang.
Bu Ratna duduk di ujung meja, wajahnya tampak pucat dan jemarinya terus-menerus memutar pulpen dengan gelisah.
“Maaf mengganggu waktu Anda, Mr. Collins,” Alya melangkah masuk tanpa ragu, langsung mengambil posisi di sebelah Bu Ratna.
Mr. Collins mendongak, menatap Alya dari atas ke bawah dengan tatapan meremehkan yang sangat kentara. “Dan Anda adalah...?”
“Alya, dari divisi penanganan klaim khusus,” jawab Alya dalam bahasa Inggris yang fasih, renyah, dan tanpa aksen ragu—warisan dari tahun-tahunnya berbelanja di Paris dan London dulu. “Saya sudah membaca revisi klausul Liquidated Damages yang tim Anda ajukan.”
Salah satu pengacara Mr. Collins, seorang pria lokal berkacamata tebal, langsung menyahut. “Sesuai pasal akreditasi pelabuhan, jika Wijaya Corp tidak bisa menyelesaikan verifikasi fisik dalam waktu dua puluh empat jam, kontrak ini batal demi hukum.”
“Betul, secara tertulis memang begitu,” Alya meletakkan map birunya di tengah meja, lalu mendorongnya perlahan ke hadapan Mr. Collins. “Tapi mari kita lihat fakta di lapangan. Di halaman tiga, kapal kargo Anda sudah bersandar di dermaga Tanjung Priok sejak pukul empat subuh tadi. Petugas lapangan kami—Pak Hadi—sudah memeriksa kontainer Anda secara manual.”
Mr. Collins menaikkan sebelah alisnya. “Lalu? Masalahnya ada pada dokumen legalitas keuangan kalian yang belum ditandatangani oleh Direktur Utama.”
“Dokumen itu sudah ditandatangani digital oleh Alina Wijaya lima menit yang lalu,” Alya mengetuk layar ponselnya, memperlihatkan notifikasi sistem yang menyala hijau. “Sumbatannya bukan di lantai empat puluh dua kami, Mr. Collins. Sumbatannya ada pada bank penjamin Anda di Singapura yang belum merilis kode kliring karena hari ini adalah hari libur lokal di sana.”
Ruangan itu mendadak hening. Pengacara Mr. Collins buru-buru memeriksa laptopnya, lalu berbisik panik ke telinga bosnya.
Bu Ratna menatap Alya dengan mata terbelalak, lalu berbisik dengan bahasa lokal yang sangat pelan. “Alya, kamu tahu dari mana soal hari libur bank di Singapura?”
“Aku sering gagal belanja tas di Orchard Road setiap tanggal ini karena bank swasta mereka tutup untuk perayaan lokal, Bu,” bisik Alya kembali dengan kedipan mata jenaka. “Gengsi masa lalu terkadang ada gunanya juga.”
Mr. Collins berdeham, wajah angkuhnya kini sedikit bergeser menjadi ekspresi tidak nyaman. “Baik, Nona Alya. Katakanlah bank kami sedang tutup. Tapi barang kami tidak bisa diturunkan tanpa jaminan fisik dari pihak kalian.”
Alya condong ke depan, melipat kedua tangannya di atas meja jati. “Bagaimana kalau kita membuat kesepakatan jembatan? Wijaya Corp akan merilis jaminan korporat darurat dalam lima belas menit ke syahbandar pelabuhan. Kontainer Anda bisa dibongkar sekarang juga, dan tim Anda tidak perlu membayar denda sewa dermaga harian yang nilainya ribuan dolar itu. Sebagai gantinya, Anda menandatangani pengalihan hak kelola suku cadang untuk proyek pelabuhan fase dua kepada tim Pak Hadi.”
Mr. Collins menatap Alya lekat-lekat, mencoba mencari celah keraguan di wajah gadis kemeja katun itu. Namun, yang ia temukan hanyalah sepasang mata yang dingin, tenang, dan penuh percaya diri.
“Anda... sangat berbeda dengan gaya negosiasi Wijaya Corp yang biasanya kaku,” ucap Mr. Collins, senyum tipis mulai muncul di wajahnya. “Jaminan korporat itu harus ditandatangani oleh Alina sendiri. Apa Anda yakin bisa mendapatkannya dalam lima belas menit?”
Alya berdiri, memberikan anggukan hormat yang elegan. “Alina adalah saudari kembar saya, Mr. Collins. Dia mempercayai keputusan saya di lantai dasar ini sama seperti dia mempercayai angka di bursa sahamnya. Arya, tolong cetak draf kesepakatannya sekarang.”
Arya yang berdiri di dekat pintu langsung bergerak cepat ke arah mesin cetak. Bu Ratna hanya bisa melongo, pulpen di tangannya akhirnya jatuh ke atas meja dengan bunyi klitik.
Pukul sepuluh malam, lobi belakang lantai dasar sudah sangat sepi. Lampu-lampu kubikel sudah padam, menyisakan cahaya temaram dari koridor utama. Alya duduk di atas mejanya, mengayun-ayunkan kakinya yang dibalut sepatu flat murah yang ujungnya sudah agak terkelupas.
Bu Ratna berjalan mendekat, membawa dua cup kopi instan hangat dari mesin otomatis. Ia memberikan satu cup ke tangan Alya tanpa mengucapkan sepatah kata pun.
“Terima kasih, Bu,” ucap Alya, menerima cup itu dengan kedua tangan.
Bu Ratna menyesap kopinya, matanya menatap pot anggrek hutan di dekat jendela yang kelopaknya kini sudah terbuka sempurna, mengeluarkan aroma wangi yang samar. “Kamu tahu, Al? Hari ini adalah pertama kalinya dalam lima tahun saya melihat perwakilan vendor internasional itu meminta maaf saat keluar dari ruangan ini.”
Alya tersenyum, memandangi uap kopi. “Mereka tidak minta maaf pada saya, Bu. Mereka menghormati ketegasan kita.”
“Saya salah menilaimu di hari pertama,” Bu Ratna menoleh, menatap wajah lelah Alya dengan pandangan yang kini sepenuhnya hangat. “Saya pikir kamu cuma anak orang kaya yang sedang bermain-main mencari pengalaman agar terlihat keren di media sosial.”
“Saya memang pernah begitu, Bu. Dulu, semua hal harus ada fotonya, harus masuk koran. Tapi di Chiang Mai, saya belajar kalau berbagi dari hati dan bekerja dengan jujur itu dampaknya jauh lebih dalam di sini,” Alya menunjuk dadanya sendiri, persis seperti yang dilakukan Kai dulu di pasar kaget desa.
Bu Ratna menepuk bahu Alya dengan pelan—sebuah gestur yang sangat langka dari sang Macan Kebayoran. “Pertahankan itu, Al. Lantai atas gedung ini butuh orang-orang yang hatinya tidak mudah silau oleh lampu neon.”
Setelah Bu Ratna pamit pulang, Alya berjalan mendekati jendela kaca besar. Ia mengeluarkan ponselnya, berniat mengirimkan pesan singkat ke nomor internasional milik Kai untuk menceritakan kemenangannya hari ini. Namun, sebuah panggilan masuk dari Alina memotong niatnya.
Alya menggeser tombol hijau. “Halo, Alina?”
“Kerja yang sangat bagus untuk PT Angkasa Raya, Al,” suara Alina di seberang telepon terdengar lelah namun ada nada lega yang sangat jelas. “Papa melihat draf jaminan korporat yang kamu ajukan tadi. Beliau tersenyum sepanjang malam.”
Alya ikut tersenyum, menyandarkan kepalanya ke bingkai jendela yang dingin. “Aku cuma tidak mau membiarkan dua huruf di kertas menghancurkan kerja keras orang-orang di pelabuhan, Lin.”
“Besok sore ada makan malam keluarga di rumah utama. Papa meminta kamu datang. Beliau ingin mendengar ceritamu tentang divisi komplain.”
Alya terdiam sejenak, menatap bayangan dirinya di kaca. Kemejanya agak dekil, rambutnya berantakan, dan wajahnya lelah. Namun, matanya berkilat penuh kehidupan. “Aku akan datang, Lin. Tapi aku tidak akan pakai gaun mewah pemberian Papa yang dulu.”
“Lalu kamu mau pakai apa?”
“Aku mau pakai kemeja katun ini. Aku ingin Papa melihat bahwa putrinya yang sekarang adalah seseorang yang bangga dengan debu dan keringat dari lantai dasar jabatannya.”
Alina terkekeh pelan di seberang sana. “Aku akan menyiapkan menu makanan yang banyak untukmu. Arya bilang porsi makanmu sekarang sudah seperti kuli pelabuhan.”
“Hei! Aku makan banyak karena tubuhku benar-benar membutuhkannya, tahu!” bela Alya sambil tertawa lepas, suaranya menggema di ruangan divisi komplain yang sepi.
Setelah menutup telepon, Alya menatap kuncup anggrek hutan di dekatnya yang terus mekar dengan anggun di antara tumpukan map-map kerja. Di luar sana, malam Jakarta bergerak cepat dengan segala keramaiannya, tetapi di dalam hatinya, Alya telah menemukan titik nol yang kokoh. Ia tidak lagi berlari mengejar pengakuan orang lain; ia telah melangkah dengan kakinya sendiri, siap menyambut fajar baru di hutan beton yang kini tak lagi terasa menakutkan.