Wajah Serupa Takdir Tak Sama
Jejak Kelicikan
“Kamu pikir dengan membawa nama besar Papa, aku akan takut dan memberikan kunci brankas dokumen ini padamu, Alya?”
Suara berat nan sinis itu bergema di dalam ruang arsip digital lantai dasar yang pengap. Hendra, manajer pengadaan lapangan senior dengan kemeja safari ketat dan perut buncit, berdiri menghalangi jalan Alya. Di sela-sela kubikel yang remang-remang, aroma kertas cetak usang dan mesin pendingin ruangan yang mendengung pelan menciptakan atmosfer yang mencekik.
Alya, yang malam itu mengenakan kemeja katun abu-abu dengan lengan digulung sebatas siku, tidak mundur selangkah pun. “Aku tidak butuh kunci brankas fisikmu, Pak Hendra. Aku cuma butuh kamu menggeser tubuhmu sepuluh senti ke kanan agar aku bisa mencabut diska lepas dari server utama.”
Hendra terkekeh, wajahnya yang berminyak berkilat di bawah lampu neon yang berkedip. “Jangan berlagak jadi pahlawan kesiangan di sini. Kamu itu cuma anak magang yang kebetulan punya marga Wijaya. Tahu apa soal pelumas rantai pasokan?”
“Aku tahu kalau harga satuan ban truk kontainer di laporanmu dinaikkan tiga puluh persen dari harga vendor asli,” sahut Alya, suaranya tenang namun setajam silet. “Dan aku tahu selisihnya tidak masuk ke kas perusahaan, melainkan ke rekening pihak ketiga dengan inisial ‘H-N-D’.”
Wajah Hendra mendadak berubah pias. Tangannya yang memegang rokok elektrik mulai bergetar. “Kamu... jangan asal bicara! Mana buktinya? Haryo saja yang pintar bisa kutendang dari sini, apalagi bocah kemarin sore sepertimu!”
“Buktinya ada di tangan Pak Hadi sekarang,” Alya maju selangkah, menatap langsung ke dalam mata Hendra yang gelisah. “Jadi, mau bergeser sendiri atau perlu kupanggilkan satpam pelabuhan untuk mengawalmu keluar?”
Di luar ruangan, Sinta sudah menunggu dengan cemas sambil memeluk erat sebuah komputer jinjing tua. Begitu Alya keluar dari ruang arsip, Sinta langsung menarik lengan adiknya itu menuju pojok tangga darurat.
“Al, kamu gila, ya? Hendra itu punya jaringan kuat di serikat buruh pelabuhan lama!” bisik Sinta dengan mata melotot. “Kalau dia merajuk, operasional alat berat bisa mandek besok pagi!”
Alya melepas sarung tangan kainnya, lalu menyeka peluh di dahinya. “Alat berat tidak akan mandek, Sin. Pak Joko dan anak-anak Trans Jawa sudah berjanji di warung Cak Mul kemarin kalau mereka ada di pihak kita. Serikat buruh tidak akan bergerak hanya untuk membela seorang koruptor tingkat lapangan.”
“Tapi berkas fisik manifes pembandingnya belum lengkap, Al. Kita masih butuh nota asli dari sub-vendor di Tangerang.”
“Nota aslinya sudah aman,” sebuah suara berat memotong pembicaran mereka.
Arya muncul dari balik pintu darurat, dasinya sudah lepas dan kancing teratas kemejanya terbuka. Ia melemparkan sebuah amplop cokelat tebal ke pangkuan Sinta. “Aku harus berkendara menembus kemacetan jalur pantura dua jam penuh hanya untuk mengambil kertas-kertas sialan ini dari gudang Tangerang.”
Alya tersenyum lebar, menepuk bahu kakaknya. “Terima kasih, Kak Arya. Kamu memang kurir terbaik Wijaya Corp.”
“Kurir? Enak saja! Ini namanya diplomasi tingkat tinggi operasional,” gerutu Arya sambil bersandar pada railing tangga. “Lalu sekarang bagaimana? Alina sudah menunggumu di lantai empat puluh dua. Rapat dengan dewan komisaris dimajukan jam delapan malam ini.”
“Kita naik sekarang,” ucap Alya mantap. “Bawa semua bom kertas ini ke atas.”
Lift khusus direksi meluncur cepat ke atas, meninggalkan kebisingan lantai dasar. Begitu pintu berdenting terbuka di lantai empat puluh dua, suasana langsung berubah drastis. Lantai marmer putih yang mengilat bersih, wewangian aromaterapi melati yang menenangkan, dan keheningan yang mewah menyambut mereka.
Di dalam ruang rapat pleno, Alina sedang duduk di kursi kebesarannya, dikelilingi oleh tiga komisaris utama berambut putih. Di sebelah kanan meja, Hendra rupanya sudah tiba lebih dulu dengan wajah yang dibuat seolah-olah menjadi korban.
“Nah, ini dia Nona Muda kita!” seru Pak Tan, komisaris senior, begitu melihat Alya masuk dengan kemeja abu-abunya yang sedikit berdebu di bagian saku. “Hendra baru saja melapor kalau Anda melakukan intimidasi dan tuduhan tanpa dasar di ruang arsip bawah.”
Alya berjalan mendekat, meletakkan tas kanvasnya di atas meja kaca yang mewah tanpa permisi. “Tuduhan saya selalu punya dasar, Pak Tan. Berbeda dengan laporan pengadaan milik Pak Hendra yang dasarnya fiktif.”
Hendra langsung berdiri, memukul meja. “Nona Alina! Tolong tertibkan adik Anda! Saya sudah mengabdi di perusahaan ini selama lima belas tahun, sejak lantai gedung ini masih berupa tanah! Berani-beraninya dia menuduh saya merampok uang perusahaan!”
Alina tidak bergeming. Ia melirik Alya, memberikan kode dengan anggukan kepala yang sangat tipis. “Alya, tunjukkan datanya. Jangan buang waktu para komisaris.”
Alya membuka laptop Sinta, lalu menghubungkannya ke proyektor besar. Layar menampilkan tabel perbandingan dua warna yang sangat kontras—merah untuk angka laporan Hendra, hijau untuk nota asli dari Tangerang yang dibawa Arya.
“Silakan dilihat, Pak Tan, Papa,” Alya menunjuk layar dengan pulpennya. “Selama tiga tahun terakhir, PT Wijaya Logistik membayar biaya perawatan hidrolik sebesar dua kali lipat dari harga pasar. Pak Hendra sengaja membuat perusahaan cangkang bernama ‘Karya Mandiri’ untuk menampung selisih dana tersebut.”
Hendra mulai berkeringat deras, kemeja safarinya tampak basah di bagian punggung. “Itu... itu karena biaya pengiriman darurat malam hari! Vendor lokal tidak mau bergerak kalau tidak ada uang pelicin!”
“Uang pelicin?” Arya menyela sambil maju ke depan meja. “Saya sudah mengonfirmasi langsung kepada pemilik bengkel pusat di Tangerang, Pak Hendra. Mereka tidak pernah menerima uang pelicin sepeser pun. Malah, mereka mengeluh karena Wijaya Corp selalu telat membayar tagihan hingga tiga bulan.”
Ruangan rapat mendadak senyap seperti kuburan. Pak Tan memakai kacamatanya, memeriksa lembaran dokumen fisik yang disodorkan Sinta dengan dahi berkerut dalam.
“Hendra,” suara Wijaya yang sejak tadi diam di ujung meja akhirnya terdengar, berat dan berwibawa. “Apa penjelasanmu soal rekening Karya Mandiri yang terdaftar atas nama istri mudamu?”
Hendra lemas. Lututnya seolah kehilangan tulang hingga ia terduduk kembali di kursinya dengan wajah pucat pasi. “Pak Wijaya... saya... saya cuma mengambil apa yang menjadi hak saya atas lembur malam selama ini...”
“Kamu boleh menjelaskan hakmu itu di depan penyidik kepolisian besok pagi,” potong Alina dingin tanpa emosi sedikit pun. “Arya, panggil tim hukum dan minta sekuriti kawal Pak Hendra ke ruang tunggu bawah.”
Begitu Hendra digiring keluar ruangan dengan kepala tertunduk, Pak Tan melepaskan kacamatanya, lalu menatap Alya dengan pandangan yang sepenuhnya berubah—tidak ada lagi nada meremehkan.
“Luar biasa,” gumam Pak Tan sambil menggeleng-gelengkan kepala. “Anak magang lantai dasar bisa memotong kanker yang sudah menjalar selama tiga tahun di divisi pengadaan. Wijaya, putrimu yang satu ini benar-benar punya mata seekor elang.”
Wijaya tersenyum tipis, matanya berbinar penuh kebanggaan saat menatap kemeja abu-abu Alya yang kotor. “Dia tidak pakai mata elang, Tan. Dia cuma pakai sepasang sepatu yang mau menginjak lantai dasar berlumpur.”
Pukul sepuluh malam, rapat besar itu akhirnya usai. Para komisaris sudah pulang, meninggalkan tiga bersaudara Wijaya di dalam ruangan yang kini terasa lebih lega. Alina bersandar di kursinya, melepaskan sepatu hak tingginya dengan desahan panjang.
“Jadi, janjimu soal sate kambing Cak Mul itu masih berlaku, Al?” tanya Alina sambil memijat pergelangan kakinya.
Alya yang sedang merapikan kabel proyektor terkekeh. “Tentu saja berlaku. Tapi lihat bajumu, Lin. Apa kamu yakin mau duduk di kursi plastik dengan blazer sutra itu?”
Alina mengambil kemeja flanel kotak-kotak milik Arya yang tergeletak di sofa, lalu memakainya sebagai luaran. “Begini sudah cukup ramah lapangan, kan?”
Arya tertawa lepas, merangkul kedua adiknya menuju pintu keluar lift. “Ayo jalan. Aku yang bayar malam ini, anggap saja sebagai perayaan karena kita berhasil membersihkan satu lagi rayap di menara gading ini.”
Saat mereka berjalan melintasi koridor lobi lantai dasar yang sudah sepi, Alya sempat berhenti di depan kubikel kerjanya. Di sudut meja, pot anggrek hutan pemberian Alina tampak berdiri kokoh. Kelopak ungunya kini sudah mekar sempurna, memancarkan keindahan yang tenang di tengah-tengah kesunyian malam kantor.
Alya merogoh saku celananya, mendapati ponselnya bergetar pendek. Sebuah pesan dari nomor internasional masuk.
“Kudengar dari pelabuhan kalau kursi kerja seorang manajer senior baru saja patah karena ulahmu. Selamat, Nona Magang. Cerminmu sekarang benar-benar bersih tanpa noda. - Kai”
Alya tersenyum simpul, jemarinya dengan cepat mengetik balasan di bawah temaram lampu lobi:
“Kursinya tidak patah, Kai, cuma pemiliknya yang salah memilih tempat duduk. Besok subuh aku akan kembali ke sini, menjaga agar menara ini tidak runtuh lagi dari bawah. Jaga ayam-ayammu dengan baik di sana.”
Alya memasukkan ponselnya kembali, lalu berlari kecil menyusul Alina dan Arya yang sudah melambaikan tangan di pintu gerbang luar. Angin malam Jakarta bertiup kencang, membawa debu dan aroma kota yang sibuk, namun langkah kaki Alya malam itu terasa begitu ringan dan pasti. Ia tahu, perjuangannya di lantai dasar belum sepenuhnya usai, tetapi malam ini, ia telah membuktikan bahwa kekuatan sejati sebuah korporasi tidak terletak pada ketinggian lantainya, melainkan pada kejujuran pondasi yang menopangnya.