Wajah Serupa Takdir Tak Sama
Fajar Baru
“Kalau kamu masih nekat memakai sepatu flat yang ujungnya terkelupas itu ke ruang pelantikan, Al, aku bersumpah akan menyuruh sekuriti mengunci pintu lift darurat!”
Alina berdiri di depan meja kerja baru Alya, berkacak pinggang dengan gaun kerja formal berwarna navy yang sangat elegan. Meski suaranya terdengar galak, ada binar jenaka yang tidak bisa disembunyikan dari sepasang matanya. Di ruangan baru lantai empat puluh dua ini, bau cat segar dan aroma kopi arabika dari mesin espreso otomatis menggantikan bau minyak tanah dan solar yang biasa menemani mereka di lantai dasar.
Alya, yang sedang duduk di kursi manajer barunya yang empuk, tertawa lepas sambil mengangkat sebelah kakinya, menunjukkan sepatu kainnya yang memang sudah pudar warnanya. “Sepatu ini jimat keberuntunganku, Lin. Pak Joko bilang, selama sepatu ini masih dipakai, armada Trans Jawa tidak akan pernah telat mengirim baja ke pelabuhan.”
“Jimat atau tidak, hari ini kamu resmi dilantik jadi Vice President Operasional, Adikku Sayang,” Alina melangkah mendekat, lalu meletakkan sepasang sepatu hak tinggi kulit hitam yang masih baru di atas meja kayu ek milik Alya. “Pakai ini. Hanya untuk acara seremonial dengan Papa dan dewan komisaris tiga puluh menit lagi. Setelah itu, kamu bebas mau nyeker atau pakai sandal jepit.”
Alya menatap sepatu baru itu, lalu menghela napas pasrah. “Baiklah, demi wibawa Direktur Utama kita yang cantik ini. Tapi janji, ya, setelah pelantikan selesai, temani aku ke bawah.”
“Mau ngapain lagi ke bawah? Berkas pengadaan kan sudah seratus persen bersih?” Alina menaikkan sebelah alisnya.
“Mau pamitan dengan Bu Ratna dan Sinta. Aku belum sempat menaruh stoples keripik pisang perpisahan di meja mereka.”
Pintu ruangan terbuka pelan, menampilkan sosok Arya yang masuk dengan setelan jas rapi dan rambut yang ditata klimis. Wajahnya tampak jauh lebih segar, tidak ada lagi gurat stres akibat kejaran manifes macet yang biasa menghantuinya bulan lalu.
“Wah, dua Srikandi Wijaya sudah siap rupanya,” ujar Arya sambil bersandar di dekat bingkai pintu kaca yang menghadap langsung ke pemandangan gedung pencakar langit Jakarta pagi itu. “Papa sudah duduk di ruang pleno. Pak Tan juga sudah datang membawa dokumen serah terima jabatan.”
Alya berdiri, perlahan memasukkan kakinya ke dalam sepatu hak tinggi pemberian Alina. “Bagaimana suasana di bawah, Kak Arya? Sinta tidak kewalahan tanpa aku, kan?”
“Kewalahan? Malah sebaliknya, Al,” Arya terkekeh, melangkah mendekat untuk merapikan kerah kemeja putih Alya yang sedikit miring. “Sinta sekarang jadi idola baru di lantai dasar karena dia memakai metode humas lapangan yang kamu ajarkan. Kemarin dia bahkan berhasil meredakan amukan vendor kabel hanya dengan segelas es teh manis buatan Cak Mul.”
Alina tersenyum puas, melipat tangannya di dada. “Itu artinya sistem yang kita bangun dari bawah sudah berjalan sendiri tanpa perlu kita awasi dua puluh empat jam. Rayap-rayapnya sudah bersih, sistem digitalnya sudah ramah kamera ponsel jadul. Sempurna.”
“Semua ini tidak akan terjadi kalau kita tidak nekat makan sate di pangkalan truk hari itu, Lin,” bisik Alya hangat, menepuk lengan kembarannya.
Rangkaian acara pelantikan di ruang pleno berlangsung dengan sangat khidmat, namun jauh dari kesan kaku yang biasa mendominasi lantai tertinggi gedung itu. Saat Wijaya menyematkan pin emas tanda jabatan di kerah kemeja Alya, pria tua itu tidak lagi memandang putrinya sebagai anak perempuan yang gagal dan harus diasingkan ke Thailand.
“Papa tidak pernah menyangka, jalan memutar yang kamu ambil lewat Chiang Mai justru membawa fondasi terbaik untuk perusahaan ini, Al,” ucap Wijaya, suaranya terdengar agak serak menahan haru di depan para pemegang saham.
Alya menjabat tangan ayahnya dengan mantap, genggaman yang kuat dan penuh percaya diri. “Jalan memutar itu membuat saya tahu rasanya berdiri di tanah yang nyata, Pa. Terima kasih sudah mempercayai prosesnya.”
Pak Tan yang duduk di deretan depan bertepuk tangan paling keras, diikuti oleh riuh rendah seluruh anggota dewan komisaris. Konflik besar yang sempat mengancam keutuhan keluarga dan kestabilan Wijaya Corp beberapa bulan lalu kini benar-benar telah meleleh, menyisakan fajar baru yang bersih dan kokoh.
Satu jam kemudian, ketegangan seremonial itu telah sepenuhnya menguap. Alya benar-benar menepati janjinya. Begitu acara selesai, ia langsung melepas sepatu hak tingginya, menggantinya dengan sepatu flat lamanya, lalu menarik Alina turun menggunakan lift menuju divisi komplain lantai dasar.
Suasana di lantai dasar masih sama—bising oleh dering telepon dan kesibukan staf—namun atmosfernya terasa jauh lebih ceria dan hidup.
“Astaga, Nona Vice President kita datang nyeker!” seru Sinta begitu melihat Alya melangkah masuk ke pembatas kubikel sambil menjinjing sepatu hak tingginya di tangan kanan.
Bu Ratna yang sedang memeriksa berkas di mejanya langsung mendongak. Kacamata bertali rantainya merosot ke ujung hidung. “Alya! Sudah jadi bos di atas kok kelakuannya masih seperti anak magang minggu pertama!”
Alya tertawa, berjalan mendekat dan langsung meletakkan sebuah stoples besar berisi keripik pisang cokelat di atas meja Bu Ratna. “Ini jatah logistik darurat untuk Macan Kebayoran kita. Biar kalau ada vendor yang ngamuk lagi, Ibu tidak perlu berteriak pakai urat leher.”
Bu Ratna tertegun menatap stoples itu, lalu perlahan seulas senyum tulus—senyuman yang belum pernah dilihat oleh siapa pun di ruangan itu selama lima tahun terakhir—mengembang di wajah tuanya. Ia berdiri, lalu memeluk Alya dengan sangat erat.
“Terima kasih, Al. Ruangan ini pasti sepi tanpa suara ketikan komputer tabungmu yang berisik itu,” bisik Bu Ratna pelan.
“Aku cuma pindah lantai, Bu. Kalau ada berkas yang sumbat lagi, telepon saja nomor pribadiku. Aku akan langsung turun pakai lift darurat,” janji Alya sambil membalas pelukan hangat itu.
Sinta ikut mendekat, menjabat tangan Alina dan Alya bergantian. “Kompak terus, ya, Dua Kembar Wijaya. Jangan biarkan orang-orang di atas sana membuat kalian kaku lagi.”
“Kami tidak akan kaku, Sin. Kami sudah punya sertifikat kelulusan dari pangkalan truk Pak Joko,” sahut Alina sambil mengedipkan sebelah matanya, membuat Sinta dan Bu Ratna tertawa lepas.
Sore harinya, matahari Jakarta mulai tenggelam di balik cakrawala, memancarkan warna jingga keemasan yang indah menembus dinding kaca ruang kerja baru Alya di lantai empat puluh dua. Ruangan itu kini terasa sangat menenangkan. Di sudut meja dekat jendela, pot anggrek hutan pemberian Alina diletakkan di posisi terbaik, kelopak ungu mudanya tampak berkilau diterpa cahaya senja yang hangat.
Alya berdiri di tepi jendela, memandangi kesibukan jalanan ibu kota di bawah sana dengan perasaan damai yang belum pernah ia rasakan seumur hidupnya. Tidak ada lagi rasa bersalah, tidak ada lagi dendam, dan tidak ada lagi ketakutan akan masa depan.
Ponselnya di atas meja kayu ek bergetar panjang. Sebuah panggilan video masuk dari nomor internasional Thailand. Alya segera menggeser layar dan mendapati wajah Kai yang sedang duduk di teras pondok bambunya, latar belakangnya menampilkan pemandangan kebun jeruk yang hijau dan asri di bawah langit Chiang Mai yang mulai meredup.
“Halo, Nona Vice President. Kudengar pelantikanmu berjalan lancar tanpa ada insiden sepatu tertinggal?” tanya Kai di seberang sana, senyum tipisnya yang khas menghiasi wajahnya yang ramah.
Alya tertawa, mendekatkan ponselnya ke arah pot anggrek di sudut meja. “Lihat ini, Kai. Anggrek hutanmu sekarang punya ruang kerja sendiri di lantai tertinggi Jakarta. Dia mekar dengan sangat sempurna di sini.”
Kai menatap gambar anggrek itu di layarnya, lalu binar bangga yang sangat dalam terpancar dari matanya. “Dia mekar karena akarnya kuat, Al. Sama sepertimu. Kamu sudah berhasil menyelesaikan semua benang kusut di menaramu.”
“Iya, Kai. Semua masalah sudah selesai. Ibu sudah tersenyum, Alina sudah bisa tertawa di warung sate, dan Papa... Papa akhirnya melihatku sebagai Alya yang utuh,” ucap Alya, suaranya bergetar oleh rasa syukur yang mendalam. “Terima kasih sudah menjadi titik nol tempatku belajar berjalan kembali.”
“Jangan berterima kasih padaku, Al. Kebun jeruk ini hanya memberi ruang, kamulah yang memilih untuk tumbuh,” Kai mengubah posisi duduknya, menatap lurus ke kamera ponselnya. “Oh ya, bulan depan aku ada rencana mengirimkan sampel jeruk organik baru ke Jakarta untuk riset pasar. Apa Vice President Operasional Wijaya Corp punya waktu untuk meninjau proyek kecilku?”
Alya tertegun sejenak, lalu sebuah senyuman paling manis dan tulus merekah di wajahnya. “Untuk seorang petani jeruk dari Chiang Mai yang sudah menyelamatkan jiwaku? Aku akan mengosongkan seluruh jadwal rapat di lantai empat puluh dua ini, Kai. Datanglah, aku akan menjemputmu di bandara dengan kemeja katun terbaikku.”
“Sampai jumpa di Jakarta, Alya.”
“Sampai jumpa di titik nol yang baru, Kai.”
Sambungan terputus. Alya menurunkan ponselnya, kembali menatap pemandangan kota di luar jendela yang kini mulai dihiasi oleh kerlap-kerlip lampu malam yang indah. Di ruangan yang tinggi ini, ia tidak lagi merasa kesepian atau asing. Ia telah menemukan kembali dirinya, saudarinya, dan keluarganya melalui jalan yang berdebu di lantai dasar. Dengan hati yang bersih dan keyakinan yang kokoh, Alya tahu bahwa babak baru hidupnya akan berjalan dengan sangat indah. Badai telah sepenuhnya berlalu, meninggalkan langit malam yang cerah dan masa depan yang siap ia lukis dengan tangannya sendiri.