Wajah Serupa Takdir Tak Sama
Kontrak Jebakan
“Tanda tangan di sini, Alina. Ini hanya pembaruan kontrak karena kepemilikan toko sudah beralih.”
Pak Hadi menyodorkan selembar kertas di atas meja kayu kecil di ruang belakang. Wajah pria tua itu tampak cerah, kontras dengan mendung yang tiba-tiba menggelayuti perasaan Alina.
“Beralih? Maksud Bapak, toko ini dijual?” Alina menatap kertas itu tanpa minat. Jemarinya yang ramping mempermainkan ujung pulpen.
“Bukan sekadar dijual, Nak. Investor baru ini mau merombak total. Minimarket kita akan jadi yang terbesar di lingkungan ini. Kamu tidak akan lagi kerja di gudang sempit. Gajimu naik tiga kali lipat. Bayangkan!” Pak Hadi menepuk bahu Alina semangat. “Bapak tetap jadi manajer operasional di sini, tapi kita sekarang punya bos besar.”
Alina membaca baris demi baris dokumen itu. Matanya menyipit saat sampai pada poin kompensasi dan durasi kerja. “Kontrak dua tahun? Dan penaltinya… seratus juta kalau saya mengundurkan diri sebelum masa kontrak habis?”
“Itu prosedur standar perusahaan besar, Alina. Mereka mau memastikan karyawan yang jujur dan cekatan seperti kamu tidak lari ke kompetitor. Ayolah, ini kesempatanmu menabung.”
Alina ragu. Namun, bayangan tagihan kontrakan dan kebutuhan ibunya di desa yang kian mendesak membuatnya terpojok. Ia menghela napas, lalu membubuhkan tanda tangannya.
“Bagus! Besok renovasi dimulai. Kamu libur tiga puluh hari, tapi gaji tetap jalan. Proses renovasi dilakukan dengan cepat agar kamu bisa bekerja lagi.”
Alina tersenyum tipis. *Mungkin ini memang keberuntungan,* batinnya mencoba menghibur diri.
Tiga puluh hari kemudian, Alina berdiri terpaku di depan toko. Papan nama "Hadi Mart" yang sederhana telah berganti dengan neon box elegan bertuliskan "A-Line Boutique & Mart". Bangunan itu diperluas, dinding kacanya berkilau, dan interiornya terlihat seperti minimarket kelas atas di kawasan SCBD.
Ia melangkah masuk. Aroma lavender yang lembut menyambutnya. Wangi yang sangat ia kenal. Wangi yang membuatnya merinding.
“Selamat pagi, Alina.”
Alina mematung. Di tengah ruangan yang luas itu, berdiri seorang pria dengan setelan jas abu-abu gelap, tanpa dasi, tangan dimasukkan ke saku celana. Senyumnya tipis, namun matanya mengunci pergerakan Alina.
“Pak Arya?” Suara Alina nyaris hilang.
“Panggil saya Bos sekarang. Karena secara teknis, saya pemilik tempat ini. Dan kamu… adalah aset paling berharga saya.”
Alina berjalan cepat mendekati Arya, mengabaikan Pak Hadi yang tampak bingung di sudut ruangan. “Apa-apaan ini? Bapak membeli tempat ini hanya untuk menjebak saya?”
“Menjebak? Itu kata yang kasar,” Arya melangkah maju, memperkecil jarak hingga Alina bisa mencium aroma maskulin yang bercampur dengan lavender. “Aku menyebutnya… menciptakan lingkungan kerja yang layak untukmu. Kamu bilang ingin ketenangan, bukan? Di sini, tidak akan ada pelanggan yang membentakmu soal harga dua belas ribu. Karena di sini, pelanggan yang masuk harus punya kelas.”
“Saya mau keluar. Sekarang juga!”
“Silakan.” Arya mengangkat bahu santai. “Tapi pastikan kamu punya seratus juta tunai sebelum melangkah keluar dari pintu kaca itu. Kontrak yang kamu tanda tangani kemarin sudah sah secara hukum.”
Alina mengepalkan tangan hingga kuku-kukunya memutih. “Bapak licik.”
“Aku hanya gigih, Alina. Aku butuh kamu di dekatku. Kantor terasa mati tanpa kehadiranmu.”
“Bapak punya tunangan! Bapak punya Alya!” bisik Alina tajam, matanya mulai berkaca-kaca karena amarah.
“Alya adalah urusan bisnis,” sahut Arya dingin. “Kamu… adalah urusan hati. Dan jangan pernah menyamakan dirimu dengan dia lagi. Kalian memang punya wajah yang sama, tapi jiwanya beda jauh.”
Alina membuang muka. Ia merasa seperti burung dalam sangkar emas yang baru saja dipesan khusus untuknya.
Di tempat lain, sebuah butik mewah di pusat kota menjadi saksi amukan Alya. Ia melempar sebuah gaun ke arah asistennya.
“Warnanya salah! Aku mau merah darah, bukan merah jambu sampah seperti ini!” teriak Alya.
Ia mendudukkan diri di sofa kulit, napasnya memburu. Pikirannya tidak tenang sejak Arya jarang mengangkat teleponnya. Setiap kali ditanya, Arya selalu beralasan sedang mengurus ekspansi bisnis baru.
“Siska!” panggil Alya pada asisten pribadinya.
“I-iya, Nona Alya?”
“Cari tahu di mana Arya setiap sore. Dia bilang sedang mengerjakan proyek di pinggiran kota. Aku mau lokasi akuratnya dalam satu jam.”
“Baik, Nona.”
Alya mengambil potongan foto bayi yang tempo hari ia temukan. Ia menatap wajah bayi yang merupakan kembarannya itu dengan kebencian mendalam.
“Alina… nama yang kampungan,” gumam Alya. “Kalau benar kamu yang membuat Arya berubah, aku pastikan kamu akan memohon-mohon untuk dikembalikan ke tempat sampah asalmu.”
Malam itu di *A-Line Boutique & Mart*, suasana terasa sunyi namun tegang. Pak Hadi sudah pulang lebih dulu, menyisakan Alina yang sedang menghitung stok barang di bawah pengawasan Arya yang duduk di meja kasir sambil menyesap kopi.
“Pulanglah, Pak. Pekerjaan saya sudah selesai,” ucap Alina tanpa menoleh.
“Aku menunggumu selesai. Aku akan mengantarmu.”
“Tidak perlu. Saya bisa naik angkot.”
Arya berdiri, berjalan mendekati Alina yang sedang merapikan rak kosmetik. Ia meraih tangan Alina, menghentikan gerakan gadis itu. “Kenapa kamu begitu keras kepala? Aku hanya ingin menjagamu.”
Alina menyentakkan tangannya. “Menjaga saya dari apa? Dari dunia? Atau dari tunangan Bapak sendiri? Pak Arya, Bapak memperlakukan saya seolah-olah saya ini barang koleksi. Bapak membeli toko ini, mengikat saya dengan kontrak gila… Apa Bapak pernah tanya apa yang saya inginkan?”
“Aku tahu apa yang kamu butuhkan, Alina! Kamu butuh keamanan, kamu butuh uang untuk ibumu, kamu butuh perlindungan dari mulut tajam Alya!”
“Yang saya butuhkan adalah dihormati sebagai manusia!” suara Alina meninggi. “Bukan sebagai pengganti Alya saat Bapak bosan dengan kepalsuannya!”
Hening seketika. Arya menatap Alina dalam-dalam. Kemarahan di mata gadis itu tampak begitu nyata, begitu jujur. Sesuatu yang tidak pernah ia temukan pada diri Alya.
“Kamu bukan pengganti, Alina,” bisik Arya pelan, suaranya kini melunak. “Justru Alya-lah yang selama ini menjadi bayang-bayangmu di pikiranku. Sejak pertama kali aku melihatmu membersihkan ruanganku dulu, aku tahu… dialah yang salah, dan kamu yang seharusnya ada di sisiku.”
Alina terpaku. Kalimat itu seharusnya terdengar romantis, namun baginya, itu terdengar seperti lonceng kematian.
Tiba-tiba, suara decit ban mobil terdengar di depan toko. Sebuah mobil sport merah berhenti dengan kasar. Alina dan Arya menoleh ke arah pintu secara bersamaan.
“Siapa itu malam-malam begini?” gumam Arya.
Jantung Alina berdegup kencang saat melihat sosok wanita yang turun dari mobil itu. Gaun merah, rambut pirang tertata rapi, dan la
ngkah kaki yang angkuh.
“Alya…” desis Alina.