Wanita Kedua

Tidak Boleh Masuk

Kini penyakit Lela sudah demikian parah. Kanker rahim yang dideritanya sudah menggerogoti tubuh. Menyebar ke organ-organ lain bahkan sampai ke paru-paru. Kemoterapi yang dia jalani tidak menyembuhkan sama sekali, hanya menghambat penyebaran agar tidak semakin meluas. Tubuh wanita itu juga semakin kurus karena makanan yang masuk ke dalam lambung terus menerus dimuntahkan kembali. 

Efek kemoterapi dan radiasi membuat rambutnya rontok hingga tak tersisa. Namun ketegaran dan keikhlasannya dalam menerima takdir ini sangat luar biasa. Bahkan dia masih terlihat kuat meski suaminya tak lagi fokus pada dirinya karena ada wanita lain yang harus diberi waktu dan perhatian yang sama. Bahkan porsinya bmlebih banyak dengan wanita yang berstatus madunya itu lantaran ada anak yang selama ini sangat didambakan oleh sang suami dan mertuanya. 

Jika ditanya kenapa Lela begitu iklhas berbagi suami dengan wanita lain yang lebih muda dan cantik, jawabnya karena dia sadar diri. Sebagai wanita dia sudah tak bisa menjadi istri yang sesungguhnya. Untuk melayani kebutuhan fisik dan biologis suaminya dia pun tak mampu. Sedangkan dia tahu bahwa lelaki tak akan mampu bertahan lebih dari tiga bulan. 

Di liriknya laki-laki yang sudah menjadi imamnya selama beberapa tahun ini dengan perasaan campur aduk. Dia sangat berharap setelah kepergiannya nanti Damar bisa merokok kebahagiaan yang sempurna dengan Tiara dan anak-anaknya kelak. Meski terkadang terbersih terasa cemburu karena dia tak mampu melahirkan anak seperti wanita-wanita lain tapi lagi-lagi Lela menepis perasaan itu dan menerima takdir yang telah Allah tetapkan dengan lapang dada.

Setiap kali dia hampir putus Asa ia selalu mengingat firman Allah bahwa Allah tidak akan pernah menguji hamba-Nya di luar batas kemampuan. Dia juga yakin bahwa setiap ujian yang diterima akan menggugurkan dosa-dosanya.

"Sayang, kenapa tidak tidur? Apa ada yang kamu rasakan? Bagian mana yang sakit biar mas panggilkan dokter, ya?" Damar terlihat panik melihat bulir-bulir bening meleleh di sudut mata Lela. 

"Tidak mas tidak ada yang sakit. Aku baik-baik saja." Wanita yang terbaring lemah itu mengulas senyum terbaiknya agar sang suami tidak lagi khawatir.

"Kalau tidak apa-apa kenapa menangis? Katakan apa yang kamu rasakan? Apa selama ini aku kurang adil terhadap kalian berdua? Apa kamu merasa terdzolimi dengan rumah tangga kita ini?" 

Lela menggeleng lemah lalu tangannya mencoba untuk meraih dengan suaminya dan ia genggam dengan erat. 

"Tidak Mas. Kamu adalah lelaki sempurna Yang pernah kumiliki. Kamu juga tidak zalim kepada kami. Kalaupun saat ini Tiara masih marah dan merasa terkhianati karena dia belum tahu faktanya dan hanya melihat dari satu sisi saja. Aku yakin lambat lawan dia juga pasti bisa menerima seperti aku menerima pernikahan ini."

"Sayang?"

"Aku bahagia bisa melihatmu bahagia, Mas. Kalau aku bisa pergi dengan tenang karena kamu berada di tangan wanita yang tepat." Lela tak memberi kesempatan kepada suaminya untuk berbicara.

Damar terus menggeleng-gelengkan kepalanya dengan mata berkaca-kaca. Sungguh sebenarnya dia tidak ingin berada pada posisi ini. Sebagai pria tentu dia merasa bersalah melihat wanita yang menjadi cinta pertama sekaligus yang menemaninya dari nol harus terbaring dalam kondisi seperti ini. Parahnya lagi wanita ini harus menerima kenyataan bahwa suaminya menikah lagi dengan wanita lain. 

Namun bagi Damar semua itu dia lakukan karena terpaksa. Lyla yang dulu memaksanya untuk menikah lagi setelah tahu kalau dirinya divonis kanker rahim stadium 3. Dokter juga memvonis kalau sang istri tidak akan bisa punya anak karena rahimnya sudah rusak digerogoti oleh sel kanker. Lelah juga yang memilihkan Tiara untuk menjadi istrinya tanpa sepengetahuan dari Tiara sendiri. 

Berbulan-bulan Lela menyelidiki latar belakang Tiara. Baru setelah yakin kalau wanita itu bisa menjadi istri yang baik untuk suaminya maka ia merencanakan pertemuan-pertemuan dengan lelaki itu. Didukung oleh mertuanya yang memang meminta Putra semata wayangnya itu untuk menikah lagi dengan mendapatkan keturunan. 

"Tidak, Sayang. Cukup! Nggak usah membicarakan hal ini lagi. Aku nggak mau membuatmu semakin sakit dengan memikirkan rumah tangga kita."

"Sekarang aku merasa lebih tenang, Mas. Kelak jika sampai waktuku untuk pergi tolong jangan tangisi aku Mas. Aku ingin melihat senyum bahagia darimu bukan tangis kesedihan yang mengantarkan jenazahku nanti." 

Lela mengatakan kalimat itu dengan begitu ringan seolah kematian sudah berada di depan mata. Berbanding terbalik dengan Damar yang merasakan ribuan jarum seolah menghujani jantungnya. Tentu saja dia belum siap untuk ditinggalkan wanita tercintanya. Meski dia tahu waktu itu akan tiba karena setiap makhluk yang bernyawa pasti akan kembali kepada-Nya. Namun waktu kebersamaan dengan Lela baru beberapa tahun saja. 

"Cukup, Sayang. Jangan katakan itu. Percaya sama Karunia Allah, kamu pasti sembuh. Kita upayakan sampai maksimal sembari tetap berprasangka baik pada-Nya." Damar menciumi tangan Lela yang kurus dengan tulang-tulang menonjol seolah-olah tak ada dagingnya sama sekali.

"Tidak, Mas. Aku belum selesai berbicara. Aku takut waktuku nggak lama lagi." Lela berusaha untuk duduk tapi tidak mampu. Bahkan sekadar untuk menekuk kakinya saja rasanya sangat sakit dan nafasnya megap-megap. 

Damar bisa melihat keseriusan di mata sang istri. Meski setiap kata yang keluar dari mulut Lela seperti belati yang mengerat-ngerat lapisan hatinya, Damar tetap berusaha untuk mendengarkan. Kali ini ia menuruti kata-kata sang istri dan hanya menjadi pendengar tanpa menyela ucapannya. 

"Mas tahu di dunia ini aku hanya memilikimu sebagai keluarga. Jika aku sudah kembali pada-Nya nanti, tolong berikan sebagian asetku untuk anakmu. Perusahaan yang kamu kelola saat ini sudah aku alihnamakan atas namamu. Rumah dan seluruh isinya, tolong sumbangkan pada panti asuhan Pelita Umat. Sedangkan tanah yang di seberang jalan wakafkan untuk membangun pesantren." Nafas Lela memburu. Meski sudah menggunakan selang oksigen, tapi dadanya mendadak sesak. 

"Sudah, Sayang. Kamu sudah terlalu lama berbicara. Istirahatlah!" Damar berdiri lalu membetulkan selimut yang menutupi sebagian tubuh Lela. 

"Untuk biaya pengobatanku ke depan, ambilkan dari tabunganku. ATM-nya ada di dalam dompet hitam yang biasa kubawa. PINnya tanggal pernikahan kita." 

Damar sudah tak kuat lagi mendengar wasiat dari sang istri. Dia takut setelah istrinya mengatakan semua, waktunya untuk menikmati hidup ini benar-benar tinggal sebentar.

Saking khawatirnya pada Lela, Damar sampai lupa jika dirinya tadi meninggalkan Tiara dalam keadaan yang tidak baik-baik saja. Dia pergi dengan tergesa-gesa tanpa sempat pamit pada wanita yang telah melahirkan buah hati mereka. 

Tiba-tiba alat perekam detak jantung berbunyi nyaring. Damar terbelalak menyaksikannya. Beruntung otaknya masih bisa berpikir dalam kondisi seperti ini sehingga dengan segera dia memencet tombol pemanggil. Beberapa detik kemudian tim medis berdatangan. Damar menyingkir untuk memberi akses pada mereka menjalankan tugasnya. 

Dalam hati Damar terus berdoa semoga Allah memberi keajaiban pada wanita yang ia cintai itu.

"Ya Allah, beri hamba kesempatan untuk membahagiakannya. Beri dia kesempatan hidup lebih lama," do'a Damar dalam hati.

"Mohon maaf, Pak. Kami harus memindahkannya ke ruang ICU. Kesadaran pasien menurun 50 persen," ucap perawat sembari membuka pintu lebar-lebar agar brankar bisa melewatinya. 

Damar ikut berlari di belakang perawat yang mendorong brankar berisi Lela dengan pikiran kalut. Ia menyesal membiarkan wanita yang dicintainya berbicara banyak tadi. 

"Anda tidak boleh masuk, Pak!" 

Damar berhenti di depan ruang ICU dengan perasaan tak menentu. Mengusap wajahnya kasar ia mengingat setiap ucapan Lela yang seperti pertanda. 

"Tidak. Lela pasti kuat bertahan. Selama ini dia mampu melawan penyakitnya. Kali ini dia juga pasti bisa melewati masa kritisnya," gumam Damar. 

Tiba-tiba ia merasakan pundaknya ditepuk oleh seseorang membuatnya terlonjak.

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!