Wanita Kedua
Andai Kamu Jadi Aku
Spontan Tiara menoleh dan menatap Dina dengan tajam.
Ucapan sahabatnya itu bagai belati yang menusuk langsung ke ulu hati. Sekuat tenaga dia mencoba untuk mengibati luka dalam hati, tapi kenapa sahabatnya seolah menabur garam di atasnya dengan meminta dirinya berdamai. Apa itu artinya dia harus menerima pengkhianatan suaminya?
"Andai kamu berada di posisiku, Din." Tiara berdiri lalu meninggalkan sahabatnya seorang diri tanpa berniat memintanya masuk.
Dina terhenyak mendengar kalimat yang terucap dari bibir sahabatnya. Dia tahu Tiara sedang terluka tapi kenapa dia justru menambah luka itu? Sahabat macam apa dirinya?
Baru saja Dina berdiri dan hendak mengejar Tiara tiba-tiba sebuah mobil berhenti di halaman rumah. Damar dengan wajah kusut dan rambut acak-acakan turun dari mobil. Lingkar hitam di kedua matanya terlihat sangat jelas membuktikan kalau pria itu tidak tidur semalaman.
"Kenapa tidak masuk, Din?" tanya Damar.
"Kisah kita bicara sebentar, Mar?" Dina menjawab pertanyaan Damar dengan pertanyaan.
Sebenarnya Damar ingin sekali segera mengguyur tubuhnya dengan air agar letih yang mendarah segera sirna. Lalu menemui istri dan Putri kecilnya untuk bercengkrama dengan mereka. Namun tak sopan rasanya jika dia mengabaikan permintaan dari sahabat istrinya itu. Mungkin Dina bisa membantu memberi pengertian pada Tiara.
"Maaf kalau aku lancang. Bukan berniat untuk mencampuri urusan rumah tangga kalian. Tapi Tiara adalah sahabatku, sahabat terbaikku dari kecil hingga sekarang. Bahkan kami sudah seperti saudara kandung. Jika salah satu diantara kami sedang sakit atau merasakan kesedihan maka yang lainnya juga ikut merasakannya.
Tia adalah wanita yang lembut dengan perasaan yang sangat sensitif. Sebelum menikah denganmu Dia adalah wanita karir yang sedang mencapai puncak kejayaan. Dia juga sangat diratukan oleh keluarganya. Namun demi membina rumah tangga denganmu Tiara rela melepaskan semua itu berharap bisa membangun kebahagiaannya sendiri. Namun nyatanya kau sudah menorehkan luka yang teramat dalam pada Tiara." Dina masih berdiri karena tak ingin duduk bersebelahan dengan pria itu.
Tanpa Tiara tahu dianya juga merasa sakit hati ketika sahabatnya itu disakiti sedemikian rupa. Tanda cetak takut dosa sudah ia bawa kabur Tiara dari suaminya agar tak lagi melihat air mata berjatuhan di pipi mulusnya.
Hanya helaan nafas berat yang keluar dari mulut Damar. Hingga saat ini pria itu masih belum mengatakan apapun. Inginnya dia menyelesaikan urusan rumah tangganya itu tanpa melibatkan orang lain.
"Aku tahu, Din. Aku tahu sudah begitu banyak luka yang kutorehkan di hatinya." Setelah mengatakan itu Damar memilih masuk ke dalam rumah meninggalkan Dina tanpa penjelasan.
"Sayang," panggil Damar.
Jika dulu hatinya bergetar setiap kali mendengar panggilan sayang itu meluncur dari bibir suaminya, sekarang Tiara justru semakin muak. Panggilan itu mengingatkan dia pada wanita lain yang juga berstatus istri bagi Damar. Hingga saat ini Tiara masih belum berminat untuk bertanya alasan suamiya menikah lagi. Hatinya terlalu sakit untuk menerima kenyataan.
Damar berjalan mendekat lalu duduk di samping sang istri. Membawa tubuh Tiara yang terlihat semakin kurus ke dalam dekapannya. Tak ada penolakan juga tak ada reaksi apapun dari Tiara. Wanita itu bergeming saat suaminya sengaja memeluk dengan erat.
"Maafkan Mas. Semua ini terjadi karena sudah takdir." Damar berbicara dengan lembut sembari mengelus punggung sang istri lembut.
"Takdir kamu bilang, Mas? Apa saat mau menikah lagi kamu tidak bisa memilih? Jangan berbicara takdir hanya untuk menutupi kebohonganmu, Mas!" teriak Tiara dalam hati.
Andai Tiara biasa berteriak di hadapan suaminya saat ini. Mengeluarkan semua unek-unek yang membuat dadanya sesak, pasti dia akan memaki-maki lelaki yang dulu pernah ia kagumi. Sayangnya Tiara hanya bisa meneriaki suaminya dalam hati karena takut akan mendatangkan murka Allah karena telah meninggikan suara di hadapan suami.
Semarah-marahnya Tiara, ia masih berusaha untuk menjaga suaranya agar tidak menggelegar. Kecuali saat ketemu langsung dengan madunya waktu itu. Dia benar-benar dikuasai oleh amarah hingga lupa dengan adabnya.
"Kenapa kamu diam saya, Sayang. Bicaralah! Maki-maki mas kalau perlu. Tapi jangan diamkan mas seperti ini, Sayang," lirih Damar.
Pria berparas tampan itu merasakan dadanya seperti dihujani oleh ribuan anak panah melihat kesedihan sang istri. Namun dia juga tak bisa berbuat apa-apa saat ini selain berkata jujur. Ia tak mau kehilangan salah satu dari istrinya karena masing-masing memiliki tempat tersendiri di ruang hatinya.
"Emangnya aku harus ngomong apa, Mas? Bukankah semua sudah terjadi? Kamu memiliki wanita lain selain aku dan itu ... fakta!" Tiara mencoba lepas dari dekapan suaminya tapi pria itu justru mempererat kungkungannya seolah tak ingin sedetik pun jauh dari wanita yang sudah memberinya seorang putri kecil untuknya.
Damar benar-benar tak ingin kehilangan Tiara. Cintanya pada wanita yang telah membersamai selama dua tahun ini sudah begitu besar bahkan mengakar dalam hatinya.
"Maaf." Lagi-lagi hanya kata itu yang meluncur dari mulut Damar. Padahal Tiara sangat ingin mendengar penjelasan lain dari bibirnya.
"Kenapa kamu tega, Mas? Apa satu wanita saja tidak cukup untuk mendampingimu? Apa aku terlalu buruk menjadi seorang istri hingga kamu mencari yang lain?" tanya Tiara dengan bahu bergetar.
Damar bisa merasakan kesedihan yang dirasakan oleh Tiara. Namun dia juga tak mungkin menceritakan yang sesungguhnya. Dengan karakter Tiara yang seperti ini, Damar yakin jika dirinya mengatakan ya g sesungguhnya kalau Tiara adalah istri kedua, pasti dia akan memilih pergi dari kehidupannya. Dan Damar tak ingin hal itu terjadi.
"Mas punya alasan tersendiri, Sayang."
"Maka katakan alasannya ahatbaku nggak seperti orang bodoh yang nggak tahu apa-apa!" potong Tiara cepat.
"Katakan saja alasannya agar aku tidak menerka-nerka, Mas. Asal kamu tahu aku benci dengan pemikiranku yang terlalu berburuk sangka padamu!" Nafas Tiara memburu. Dadanya naik turun tak beraturan. Namun ia masih mampu mengatur intonasi suaranya agar tidak naik.
Air mata yang ia tbendung mati-matian nyatanya tetap berdesakan ingin keluar. Tiara benci dirinya yang terlalu lemah. Sungguh ia benci!
Damar menggeleng tak kuasa untuk mengatakan apapun. Di balik tubuh Tiara tangan lelaki itu terkepal kuat. Rasa sesal dan kasihan bergulung-gulung di dalam dadanya mendesak ingin meminta pelampiasan.
"Kamu pukul saja mas sesuka hatimu, Tiara. Tapi jangan pernah menangis karena kelakuan mas. Kamu terlalu berharap untuk lelaki seperti mas ini. Mas salah. Mas benar-benar sudah menyakitimu. Bahkan ribuan kali pun mas meminta maaf, rasanya belum mampu menebus kesalahan mas karena telah membuat air matamu berjatuhan." Damar menciumi puncak kepala Tiara.
Satu per satu kristal bening menetes dari sudut netra lelaki itu. Andai waktu bisa diputar kembali, Damar ingin mengulang moment indah bersama Tiara.