Wanita Kedua
Permintaan Terakhir
"Please, Mas. Tolong penuhi permintaan terakhirku," ucap Lela dengan suara sangat lemah tapi Tiara masih bisa mendengarnya.
Beruntung posisi suaminya membelakangi pintu dan lelah sepertinya sedang fokus pada Damar sehingga tidak mengetahui kalau Tiara sudah berdiri di balik pintu yang sedikit terbuka.
Damar menggeleng dengan bahu terus bergetar. Sesekali isap tangis lolos dari mulut lelaki tersebut membuat hati Tiara semakin berdenyut-denyut menyaksikannya. Siapapun pasti akan merasa sakit jika berada di posisi Tiara saat ini. Terlebih di depan matanya suami yang ia bangga-banggakan telah menangisi wanita lain yang juga berstatus istri.
"Tidak sayang aku tidak akan pernah meninggalkanmu. Begitupun dengan Tiara. Kalian berdua memiliki tempat masing-masing di hatiku. Tolong jangan memaksaku untuk berbuat zalim kepada salah satu diantara kalian," sahud Damar dengan suara bergetar.
Tanpa terasa air mata Tiara terus melaju berdesakan keluar bersama dengan rintihan luka yang semakin menganga.
"Tapi masa depanmu bersama dengan Tiara mas bukan denganku. Tiara masih memiliki masa depan yang panjang dan kalian akan hidup bahagia bersama dengan anak-anak kalian nanti. Tapi aku bahkan aku tidak tahu apakah besok aku masih bisa bernafas."
Tenggorokan Tiara semakin tercekat mendengar ucapan Lela yang begitu menyayat hati. Iya merasa begitu buruk karena terlalu egois ingin memiliki Damar seorang diri. Sedangkan Lela yang jelas-jelas saat ini lebih membutuhkan suaminya memilih untuk mundur dan memohon-mohon agar suaminya meninggalkan dirinya. Padahal jika itu wanita lain mungkin tidak akan melepaskan suaminya dan meminta untuk menghabiskan detik-detik umurnya dengan lelaki yang sangat dicintai. Dan Lela bisa melakukan itu andai dia mau. Namun nyatanya justru Lela melakukan sebaliknya.
"Ya Allah apa aku terlalu jahat karena berpikiran buruk tentang wanita itu? Apa aku terlalu jahat jika ingin menjadi satu-satunya istri Mas Damar?" Batin Tiara semakin bergejolak mendengar kalimat lelah yang penuh ketulusan.
"Tidak, sayang tidak! Kamu boleh meminta apa saja asal jangan memintaku untuk meninggalkanmu. Kamu tetap istriku apapun yang terjadi. Please fokuslah pada kesembuhanmu dan jangan memikirkan apapun," pinta Damar.
Seperti benda tajam menggores hati Tiara mendengar permintaan suaminya pada wanita yang terbaring lemah di atas ranjang itu. Dia tahu situasi saat ini memang tidak memungkinkan suaminya untuk meninggalkan Lela. Namun mendengar kalimat itu keluar dari mulut suaminya hati Tiara tetap saja hancur.
"Mas, waktuku sudah tidak lama lagi di dunia ini. Percuma kamu mempertahankan aku. Karena kamu akan tetap kehilangan aku. Kamu justru akan kehilangan dua istrimu sekaligus kalau tetap bersikeras untuk mempertahankanku di sisimu, Mas. Lebih baik kamu lepaskan aku dan hiduplah bersama Tiara dan anak-anakmu."
Tiara sudah tak sanggup lagi mendengarkan percakapan mereka sehingga memilih untuk menyingkir sejenak agar hatinya bisa sedikit tenang. Nanti jika suaminya sudah pergi dia akan berbicara dengan madunya itu.
Dengan sangat hati-hati Tiara menutup pintu kembali lalu berjalan gontai menuju lorong sepi yang berada di samping kanannya. Dia terus berjalan hingga menemukan tangga darurat. Karena letak ruang rawat Lela berada di lantai 5 maka semua orang memilih untuk menggunakan lift jika naik turun lantai itu.
Tangga darurat dalam keadaan sepi dan itu sangat menguntungkan Tiara untuk menenangkan diri. Di tempat itu tangis wanita itu semakin menjadi-jadi. Meski keadaannya cukup sepi tapi Tiara tidak mau suara tangisnya menggema sehingga menyebabkan orang lain mendengarnya.
"Ya Allah, apa yang harus kulakukan? Haruskah aku pergi dan mengalah dari wanita itu? Aku tak mau menjadi wanita serakah yang tak punya hati, Ya Allah." Tiara menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan.
Cukup lama Tiara menumpahkan semua gundah di tempat itu hingga sebuah getaran dari ponselnya membangun kesadarannya kembali. Ia segera merogoh tas selempang yang ia pakai dan mengeluarkan ponsel pintar pemberian suaminya itu.
"Assalamualaikum, Ma. Ada apa?"
"..."
"Sekarang, Ma? I-iya. Tiara segera ke sana!"
Setelah menutup panggilan, Tiara gegas berjalan mencari lift. Lalu masuk ke dalam kotak bergerak itu menuju lantai dasar.
"Nggak biasanya Mama memintaku ke rumahnya. Pasti ada hal penting yang akan dibicarakan," batin Tiara.
"Mau turun nggak, Mbak?" tanya seseorang mengagetkan Tiara yang tengah melamun.
Rupanya lift sudah berhenti di lantai dasar dan Tiara tidak menyadari hal itu.
"I-iya. Terima kasih," ucap Tiara.
"Jangan melamun terus, Mbak. Bahaya!" ujar pria itu lagi membuat wajah Tiara menjadi keruh mendengarnya.
"Dasar sok kenal," gerutu Tiara sambil berjalan menuju parkiran.
"Emang kenal!"
"Eh?"
***
Tiara menatap sosok pria yang saat ini tengah berjalan menuju arah yang sama dengannya. Untuk sesaat otaknya berpikir apakah benar dia mengenal pria itu.
"Kamu benar-benar lupa sama aku?" tanya pria berwajah blesteran itu.
Sebenarnya Tiara malas meladeni pria tersebut. Pasalnya saat ini dia sedang terburu-buru memenuhi panggilan mama mertuanya. Ditambah lagi suasana hatinya yang tengah kacau membuat ia enggan untuk menanggapi pria tersebut.
"Maaf," ucap Tiara singkat lalu pergi menuju ke arah mobilnya sendiri.
Pria itu hendak mengejar Tiara tapi melihat gelagat wanita berhijab itu yang sedang terburu-buru dan tampak tak ingin diganggu ia memilih untuk mengurungkan niatnya. Toh dia yakin suatu saat bisa pertama kembali.
Tak butuh waktu lama bagi Tiara untuk melajukan mobilnya di jalanan yang cukup ramai karena waktu yang menunjukkan jam istirahat para pekerja kantor. Namun sebisa mungkin Tiara tetap fokus pada jalanan meski pikirannya terus terang ini yang dengan ucapan Lela yang ia dengar barusan.
"Kenapa Mbak Lela selalu mendorong Mas Damar untuk menjauhinya? Bukankah seharusnya dia senang karena Mas Damar selalu berada di sisinya?" Berbagai pertanyaan saling tumpang tindih di dalam otak Tiara yang semrawut.
"Mungkinkah selama ini aku yang terlalu berburuk sangka pada wanita itu? Kalau dia ingin menguasai Mas Damar seorang diri bukankah seharusnya dia meminta untuk meninggalkanku bukan sebaliknya? Padahal dia punya cukup kuat alasan untuk meminta Mas Damar berada di sisinya."
Semakin Tiara berpikir semakin membuat kepalanya mau pecah. Belum lagi hatinya yang mendadak ngilu membayangkan dirinya berada di posisi sang madu.
"Ya Allah, bukankah sangat egois kalau aku seperti ini? Beri petunjukmu ya Allah!"
Tiara terus aja berbicara sendiri mengungkapkan apa yang ada di dalam pikirannya.
Tiga puluh menit kemudian Tiara menghentikan mobilnya di depan sebuah rumah mewah yang merupakan kediaman mertuanya.
Mama Wina sudah berdiri di teras dengan senyum mengembang. Menanti kedatangan sang menantu tercinta karena ada hal penting yang ingin dia sampaikan.
"Assalamualaikum, Ma. Mama apa kabar?" sapa Tiara sembari mencium takzim tangan mertuanya.
"Wa'alaikumsalam, Nak. Alhamdulillah kabar Mama baik. Bagaimana denganmu? Kamu tampak begitu pucat. Apa kamu sedang sakit? Mana cucu Mama?"