Wanita Kedua

Tampak Menyedihkan

Hembusan nafas kasar terdengar dari mulut lelaki yang memiliki dua istri tersebut. Dia sangat merindukan saat-saat Tiara menyambut paginya dengan senyum merekah dan ucapan selamat pagi. Wajah wanita itu akan terlihat berseri-seri saat melayani suaminya. Namun kini semua itu sudah tak bisa dirasakan Damar lagi sejak ketahuan kalau dirinya memiliki istri lain selain Tiara. 

Tak ingin terlihat semakin menyedihkan karena meski memiliki dua istri tapi serasa jomblo yang harus melakukan semuanya sendiri, Damar gegas memakai pakaian formalnya. Dan bagian yang paling susah adalah saat dia harus memasang dasi sendiri. Selama ini Tiara yang akan memasangkannya, dan dirinya akan menggoda wanita tersebut hingga wajahnya memerah. Kini, dia harus memakainya sendiri meski kesulitan membuat simpulnya. 

Selesai bersiap, Damar menuju ke ruang makan. Lagi-lagi tak ada Tiara yang menunggu seperti sebelumnya. Semua sarapan plus bekal makan siang sudah tersedia di meja makan. Namun sosok yang ia rindukan tak menampakkan batang hidungnya sama sekali. 

Dengan perasaan berat, Damar duduk dan menyantap sarapan pagi sendirian. Tatapannya kosong dengan pikiran melanglang buana ke mana-mana. Di satu sisi ia memikirkan kondisi Lela yang ia tinggal sejak kemarin, juga memikirkan permintaan wanita pertama yang ia cintai itu. Di sisi lain pikirannya terus berkelana pada saat-saat bahagia bersama Tiara. Semua kenangan dan pemikiran itu saling tumpang tindih di dalam otaknya membuat kepala terasa cenat-cenut.

Selesai sarapan, Damar berdiri hendak berangkat. Namun kepalanya celingukan mencari sosok sang istri yang belum juga nampak. 

"Bik, istri saya di mana?" tanya Damar pada bibik yang membantu mengurus rumah Damar.

"Ibu ada di kamar nona kecil, Pak."

Damar kembali menghela nafas panjang. Dia tahu sang istri sengaja menghindarinya. Namun dia tak bisa terus menerus seperti ini. Melihat jam yang melingkar di tangannya, ia gegas berjalan menuju ke kamar malaikat kecilnya. Tak peduli jika mendapat penolakan lagi dari sang istri. Dia tetap harus menuntaskan permasalahan ini agar tidak semakin berlarut-larut.

Sesampainya di depan kamar Ara, Damar membuka pintu yang tidak terkunci. Dilihatnya sang istri tengah bercanda dengan malaikat kecil mereka. Bahkan saking asiknya, Tiara tak menyadari kehadiran sang suami. Atu mungkin sengaja pura-pura tidak tahu. Entahlah, Damar tak peduli. Yang ia tahu, saat ini dirinya bisa melihat tawa itu lagi. Tawa yang akhir-akhir ini sangat mahal untuknya. 

"Ma, Papa cariin ternyata di sini." Damar mendekat. Mereka sepakat jika di hadapan putri mereka panggilannya berubah menjadi papa dan mama agar Ara terbiasa juga. 

Tiara hanya menoleh sekilas tanpa mengucap sepatah kata pun. Langkah Damar semakin dekat. Ia lalu mengangkat Ara ke dalam gendongannya. Menempelkan hidung mancung itu ke hidung mungil Ara. Tawa riang bocah kecil itu terdengar begitu menggemaskan. 

Tiara pura-pura menyibukkan diri dengan membereskan boneka Ara yang berserakan tanpa menoleh sedikitpun ke arah suaminya. Meski dalam hati tergulung rindu, tapi egonya tak mau mengaku. 

"Ma, Papa berangkat dulu, ya?" pamit Damar setelah puas bermain dengan Ara. 

Tiara hanya mengangguk. Lalu menerima uluran tangan suaminya meski terlihat enggan. Saat Damar menempelkan bibirnya ke kening, wanita berhijab itu langsung memalingkan wajahnya ke samping hingga kecupan itu mengenai atas telinga. 

Damar menghela nafas panjang mencoba untuk memanjangkan sabar. 

***

Ketika mobil Damar terdengar menjauh, Tiara gegas ke kamarnya. Menarik koper besar yang tersimpan di ruang ganti lalu memasukkan baju-bajunya ke dalam koper tersebut. Tak lupa skin care dan beberapa benda penting turut masuk ke dalam koper tersebut. Sementara keperluan putrinya sudah ia siapkan semalam saat dirinya tidur di kamar sang buah hati. 

Setelah siap semua, ia meletakkan sepucuk surat di atas meja rias, tempat yang paling mudah terlihat oleh suaminya. Lalu berjalan keluar sembari menarik koper tersebut. Saat langkahnya mencapai pintu, Tiara berbalik dan memindai seluruh penjuru kamarnya. Ada rasa sesak saat akan meninggalkan kamar yang penuh kenangan manis ini. 

"Sabar, Tiara kamu pasti bisa. Ini demi kemanusiaan," batin Tiara menguatkan.

"Ibu yakin mau pergi?" tanya bibik yang membantu di rumah ini. 

"Iya, Bik."

Terlihat raut kasihan di wajah wanita yang sudah dianggap keluarga itu. 

"Apa tidak bisa dipertimbangkan lalu, Bu? Kasihan nona kecil kalau harus terpisah dari papanya," ucap Bibik mencoba untuk menahan kepergian Tiara. 

"Tidak, Bik. Wanita itu jauh lebih membutuhkan Mas Damar saat ini. Jika aku tetap berada di sini, aku khawatir kesehatan wanita itu akan semakin terganggu. Dia hanya punya Mas Damar di dunia ini. Sedangkan aku masih punya Ara yang akan menemaniku ke manapun aku pergi." 

Air mata yang sudah mati-matian ditahan, akhirnya berdesakan keluar saat berpelukan dengan bibik. Meskipun berat, keputusan ini Tiara ambil dengan penuh pertimbangan. Sejak bertemu dengan mertua dan Lela kemarin, Tiara merasa semakin bersalah. Terlebih usia Lela sudah tak akan lama lagi. 

"Tolong jangan katakan pada Mas Damar kemana aku pergi ya, Bik. Aku yakin dia juga akan langsung ke rumah sakit sepulang dari kantor."

Setelah pamitan dengan penuh keharuan itu, Tiara segera memasuki taksi online yang sudah ia pesan. Sengaja ia tak membawa mobilnya agar tidak mudah dilacak keberadaannya oleh sang suami. Bahkan dia juga meninggalkan ponselnya di kamar agar tidak bisa dihubungi. Setiap itulah Tiara untuk pergi. 

Di kantor, Damar baru saja selesai meeting. Pria itu gegas ke ruangannya dan membuka ponsel yang sengaja ia non aktifkan saat rapat berlangsung. Ada beberapa panggilan dari rumah sakit yang membuatnya ketar-ketir. Biasanya kalau pihak rumah sakit sudah menghubungi, artinya ada sesuatu yang terjadi pada istrinya, Lela. 

Dengan gerakan cepat Damar meraih kunci mobil di atas meja lalu gegas pergi meninggalkan ruangannya sembari memberi pesan pada sang asisten. 

"Kenapa kamu ke sini lagi, Mas?" tanya Lela yang melihat kedatangan Damar dengan raut khawatir. 

"Bagaimana kondisimu? Kenapa tidak mau dikemo lagi?" tanya Damar tanpa menjawab pertanyaan Lela.

Wanita itu tersenyum, lalu menatap suaminya dengan tatapan sendu. 

"Untuk apa? Kemo nggak kemo sama aja. Aku tetap akan mati, kan?" 

Ada yang terkoyak di dalam hati Damar ketika mendengar kalimat pasrah itu. Sungguh, meski dia sudah memiliki Tiara, tapi rasa cintanya pada Lela juga masih sama. 

"Jangan bicara begitu. Kita tetap harus berusaha, Sayang. Ayo kita lakukan kemo lagi. Aku akan menemanimu sampai selesai," ujar Damar. 

"Tidak, Mas. Aku sudah lelah. Aku mau istirahat saja. Ingat pesanku kemarin ya, Mas. Aku menunggunya."

"Pesan apa?" Damar memicingkan mata. 

Sungguh lelaki itu tak ingat pesan apa yg dimaksud oleh sang istri. 

Lela menarik nafas panjang yang terdengar begitu berat. Lalu dengan senyum tersungging ia berucap, " talak aku sekarang, Mas!"

"Apa?!" 

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!