Wanita Kedua

Rahasia Masa Lalu

Kegelapan di halaman kediaman Hardian terasa seperti cairan pekat yang menelan segalanya. Kiara mencengkeram syal biru laut di bahunya—satu-satunya jangkar yang membuatnya tetap berpijak. Di dalam mobil, tangisan Ara semakin histeris, menyobek kesunyian malam yang mencekam.

"Damar, buka pintunya! Ara!" suara Kiara melengking, kehilangan ketenangan yang baru saja ia bangun di meja makan tadi.

Damar dengan sigap menekan remot kontrol, suara klik kunci pintu mobil terdengar seperti letusan senjata di telinga mereka. Begitu pintu terbuka, Kiara menyambar Ara ke pelukannya. Tubuh mungil itu gemetar hebat, keringat dingin membasahi pelipisnya.

"Sst, Mama di sini, Nak. Mama di sini," bisik Kiara, namun matanya tetap tertuju pada balkon lantai dua yang gelap. Bayangan itu telah lenyap.

"Kita harus pergi dari sini. Sekarang," desis Damar. Ia melompat ke kursi kemudi, memutar kunci kontak hingga mesin menderu. Ban mobil mencicit di atas aspal saat Damar memacu kendaraan keluar dari gerbang besi raksasa itu.

Di kursi penumpang, Kiara tidak melepaskan pandangannya dari layar ponsel Damar yang masih menyala, menampilkan pesan anonim yang mengerikan itu. Periksa kembali catatan medis Lela...

"Mas, apa maksud pesan itu? Lela sakit kanker rahim stadium akhir, bukan? Dokter spesialis terbaik yang menanganinya," suara Kiara bergetar, mencoba mencari logika di tengah badai kecurigaan.

Damar mencengkeram kemudi hingga buku jarinya memutih. "Secara medis, ya. Tapi ada beberapa hari di akhir hayatnya di mana kondisinya merosot terlalu tajam. Dokter bilang itu komplikasi biasa. Tapi pesan ini..." ia memutus kalimatnya, rahangnya mengeras. "Jika ada yang menyentuh Lela, aku bersumpah akan menghancurkan mereka dengan tanganku sendiri."

Transformasi Sang Nyonya Baru

Tiga hari setelah malam yang kelam itu, Kiara tidak lagi menjadi wanita yang hanya menunggu di sudut kamar. Ia berdiri di ruang kerja pribadi Lela di apartemen mereka, dikelilingi oleh tumpukan berkas legal dan laporan audit Global Group.

Ia telah memutuskan: duka tidak akan membuatnya lemah. Amanah Lela bukan sekadar harta, tapi tanggung jawab untuk menjaga warisan yang ingin dihancurkan oleh Reno.

"Non, ini kopi hitamnya," Bi Sumi meletakkan cangkir di meja. "Non belum tidur sejak semalam. Den Damar akan marah jika melihat Non seperti ini."

Kiara tersenyum tipis, matanya yang sembab namun tajam menatap tumpukan dokumen. "Aku tidak punya waktu untuk tidur, Bi. Reno mulai menggerakkan pion-pionnya di bursa saham. Jika aku tidak paham bagaimana mekanisme wali saham ini bekerja, aku akan membiarkan Ara kehilangan masa depannya."

Ia menyesap kopi pahit itu, merasakan kafein membakar kantuknya. Di bahunya, syal biru itu selalu tersampir. Ia merasa seolah Lela sedang membisikkan kekuatan di telinganya.

"Bi," panggil Kiara tiba-tiba. "Bibi tahu siapa yang merawat Mbak Lela di hari-hari terakhirnya di rumah? Selain suster pribadi?"

Bi Sumi tampak ragu, tangannya meremas ujung celemek. "Ada... ada seorang asisten baru yang dibawa oleh Pak Reno, katanya untuk membantu administrasi pengobatan. Tapi dia hanya bekerja sebentar, lalu menghilang setelah pemakaman."

Jantung Kiara mencelos. "Siapa namanya?"

"Siska, kalau tidak salah. Tapi dia selalu memakai masker, katanya sedang flu berat."

Kiara mencatat nama itu di buku agendanya. Sebuah kepingan teka-teki mulai jatuh ke tempatnya.

Konfrontasi di Podium Tertinggi

Kesempatan untuk menunjukkan taring datang lebih cepat dari perkiraan. Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) Luar Biasa diadakan untuk menentukan nasib kepemimpinan Damar. Reno, dengan segala kelicikannya, telah mengumpulkan beberapa pemegang saham minoritas untuk menggulingkan saudaranya.

Lobi hotel bintang lima tempat rapat diadakan dipenuhi oleh wartawan. Ketika mobil hitam Damar berhenti, puluhan lampu kilat kamera menyambar.

Damar keluar lebih dulu, lalu ia mengulurkan tangan. Kiara muncul, tampak anggun dengan blazer putih tulang yang tajam dan celana bahan senada. Ia tidak menunduk. Ia menatap setiap lensa kamera dengan keberanian yang tenang.

Di dalam ruang rapat, Reno sudah menunggu dengan senyum miring. "Wah, datang bersama pengasuh bayinya? Sangat menyentuh, Damar. Tapi ini meja bisnis, bukan taman bermain."

Kiara berjalan melewati Reno, tidak berhenti sedikit pun, dan langsung duduk di kursi utama di sebelah kursi Presdir—kursi yang seharusnya milik Lela.

"Benar, ini meja bisnis, Reno," sahut Kiara dingin tanpa menoleh. "Itulah sebabnya aku heran mengapa kau masih di sini. Bukankah laporan audit internal tentang penggelapan dana di proyek pelabuhan sudah sampai ke tangan Dewan Komisaris?"

Wajah Reno menegang. "Itu fitnah murahan!"

"Fitnah?" Kiara mengeluarkan sebuah flashdisk dari tasnya. "Di sini ada rekaman pembicaraanmu dengan kontraktor fiktif itu. Dan oh, hampir lupa. Aku juga menemukan catatan bahwa kau mencoba menjaminkan sebagian saham milik Ara tanpa izin wali sah. Itu masuk kategori penipuan berat."

Damar berdiri di samping Kiara, meletakkan tangan di bahu istrinya. "Pilihannya sederhana, Reno. Kau keluar dari ruangan ini, mengundurkan diri dari seluruh struktur organisasi, atau aku membiarkan pengacara kami melaporkanmu ke Polda sekarang juga."

Tuan Hardian, yang duduk di ujung meja, memperhatikan interaksi itu dengan saksama. Ia melihat bagaimana Kiara tidak hanya membela suaminya, tapi juga melindungi hak cucunya dengan ketepatan seorang singa betina.

"Reno," suara berat Tuan Hardian memecah ketegangan. "Keluar. Kau memalukan nama Hardian."

Dengan wajah merah padam dan napas memburu, Reno menyambar tasnya. Sebelum keluar, ia membungkuk kecil di dekat telinga Kiara, membisikkan sesuatu yang hanya bisa didengar oleh wanita itu.

"Kau pikir kau menang karena Lela memilihmu? Kau hanyalah alat bayar utang, Kiara. Tanya pada suamimu, siapa sebenarnya ayahmu bagi keluarga Lela."

Rahasia di Balik Kotak Beludru

Kata-kata Reno menghantui Kiara sepanjang perjalanan pulang. Alat bayar utang. Siapa sebenarnya ayahmu bagi keluarga Lela.

Malam itu, saat Damar sedang menidurkan Ara, Kiara kembali ke kamar lama Lela. Ia merasa ada sesuatu yang terlewatkan. Ia mulai membuka laci-laci yang sebelumnya tidak ia sentuh. Di bagian paling belakang lemari pakaian, tersembunyi di balik tumpukan kain satin, ia menemukan sebuah kotak kayu jati kecil dengan ukiran kuno.

Kotak itu tidak dikunci. Di dalamnya terdapat sebuah kalung bertahtakan batu zamrud yang tampak sangat tua, dan sebuah amplop coklat kusam yang aromanya sudah berubah menjadi bau kertas tua.

Kiara membuka amplop itu. Isinya bukan surat medis, melainkan lembaran-lembaran surat kontrak kerja sama tahun 1990-an dan beberapa foto tua yang sudah menguning.

Di salah satu foto, ia melihat ayahnya—seorang pria sederhana yang ia ingat sebagai petani di desa—berdiri di samping seorang pria gagah yang sangat mirip dengan Lela. Mereka berdua tersenyum di depan sebuah gedung yang sedang dibangun.

Kiara membaca dokumen di bawah foto itu. Napasnya tercekat.

> "Perjanjian Hibah Nyawa dan Aset: Sebagai bentuk penebusan dosa atas kecelakaan kerja yang menyebabkan Bapak Danuar (Ayah Kiara) kehilangan masa depannya demi menyelamatkan nyawa Bapak Anggraini (Ayah Lela)..."

Kiara terus membaca, baris demi baris, hingga ia menemukan kenyataan yang lebih mengejutkan. Ayah Lela ternyata adalah penyebab kecelakaan tragis yang membuat keluarga Kiara jatuh miskin dan terusir dari kota puluhan tahun lalu. Ayah Lela yang mabuk saat menyetir telah menabrak bengkel ayah Kiara, namun karena kekuasaan keluarga Anggraini, kasus itu ditutup rapat.

Namun, Lela tahu. Lela menyimpan rasa bersalah ayahnya selama bertahun-tahun.

Di lembar terakhir, ada catatan tulisan tangan Lela yang rapi namun lemah:

"Kiara, jika kau membaca ini, artinya aku sudah tidak ada. Aku mencarimu selama lima tahun. Bukan karena Damar mencintaimu, tapi karena aku berhutang seluruh hidupku dan kekayaanku padamu. Ayahku menghancurkan keluargamu, dan ini adalah satu-satunya cara bagiku untuk mengembalikan apa yang seharusnya menjadi milikmu. Damar adalah pria terbaik yang pernah kumiliki, dan memberikan dia padamu bukan hanya soal cinta, tapi soal keadilan yang tertunda."

Air mata Kiara jatuh membasahi kertas itu. Jadi, pernikahan ini, warisan ini... semuanya adalah skenario penebusan dosa?

Tiba-tiba, lampu kamar itu berkedip-kedip lalu padam.

Kiara terpaku di tempat. Di kegelapan, ia mendengar suara langkah kaki pelan di koridor. Bukan langkah kaki Damar yang berat dan tegas. Ini adalah langkah kaki yang ringan, hampir seperti melayang.

Sret... sret...

Suara sesuatu yang diseret di atas lantai marmer.

Kiara meraih ponselnya, menyalakan lampu flash. Cahaya putih itu menyorot ke arah pintu yang terbuka sedikit. Di sana, berdiri seorang wanita dengan pakaian perawat serba putih, wajahnya tertutup masker medis, namun matanya... mata itu sangat dingin dan penuh kebencian.

Di tangan wanita itu, terdapat sebuah suntikan dengan cairan bening di dalamnya.

"Kau seharusnya tidak perlu tahu sebanyak itu, Kiara," suara wanita itu serak, terdengar seperti gesekan amplas. "Lela meninggal dengan tenang karena dia penurut. Tapi kau... kau terlalu banyak bicara."

Kiara melangkah mundur, punggungnya menabrak lemari. "Siapa kau? Siska?"

Wanita itu tertawa, suara tawa yang kering. Ia melepas maskernya, menunjukkan wajah yang terbakar sebagian, bekas luka lama yang mengerikan. "Siska hanyalah nama fiktif. Tapi rasa sakit karena keluargamu merenggut ayahku... itu nyata."

Tepat saat wanita itu hendak menerjang, sebuah suara ledakan kecil terdengar dari arah ruang tengah, diikuti oleh teriakan Damar yang memanggil nama Kiara dengan nada panik.

"Kiara! Jangan sentuh apa pun! Ada gas yang bocor!"

Pandangan Kiara mulai mengabur. Bau menyengat gas memenuhi ruangan. Di depannya, wanita misterius itu menyeringai, mengeluarkan sebuah korek api gas dari sakunya.

"Mari kita lihat," bisik wanita itu, "apakah kau bisa bertahan lebih lama dari Lela."

Klik.

Api kecil muncul di ujung korek.

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!