Wanita Kedua

Identitas Palsu

Kotak merah marun itu terasa sedingin es di telapak tangan Kiara. Di bawah lampu kristal ruang tamu yang berpijar keemasan, kunci kuno di dalamnya berkilat menantang, seolah-olah merupakan gigi dari raksasa masa lalu yang siap mengunyah ketenangan yang baru saja mereka raih.

Damar mendekat, wajahnya yang semula tenang kini berubah tegang saat membaca catatan pendek itu. "Tulisan ini... tidak mungkin."

"Ini gaya tulisan Mbak Lela, Mas. Aku hafal lekukan huruf 'K' dan 'R'-nya dari surat-surat yang kubaca di kamarnya," suara Kiara bergetar. Ia menatap koordinat lokasi yang tertera di sana. Pelabuhan Tanjung Priok, Sektor 7. "Siapa yang bisa meniru tulisan ini begitu sempurna?"

"Atau pertanyaannya adalah," Damar mengambil kunci itu, memutar-mutarnya di bawah cahaya, "apa yang sebenarnya disembunyikan Lela sampai dia merasa perlu menggunakan cara seperti ini dari balik kubur?"

Malam itu, tidur Kiara tidak nyenyak. Ia bermimpi tentang ayahnya yang berlari di tengah hujan badai, dikejar oleh bayangan raksasa berbentuk traktor konstruksi. Setiap kali ayahnya berteriak minta tolong, suara yang keluar justru suara Lela yang membisikkan satu kata: Lari.

Keesokan paginya, tanpa menunggu instruksi dari kepolisian yang masih sibuk mengurus berkas Reno, Damar memutuskan untuk membawa Kiara menuju koordinat tersebut. Mereka tidak menggunakan mobil mewah yang biasa; Damar memilih jip tua yang lebih tangguh dan kurang mencolok.

Pelabuhan Tanjung Priok diselimuti kabut tipis dan aroma garam yang tajam bercampur solar. Sektor 7 adalah deretan gudang-gudang tua peninggalan era kolonial yang sebagian besar sudah ditinggalkan karena sengketa lahan.

"Mas, aku punya firasat buruk," bisik Kiara saat jip mereka berhenti di depan sebuah gudang dengan pintu besi berkarat bernomor '094'.

"Tetap di belakangku, Kiara. Dan pegang ponselmu, jika aku memberi kode, langsung hubungi tim pengamanan kita," Damar mengeluarkan sebuah senter berkekuatan tinggi dan memasukkan kunci kuno itu ke lubang gembok besar yang merantai pintu.

KREK.

Gembok itu terbuka dengan suara gesekan logam yang memilukan. Pintu besi itu bergeser, memperlihatkan kegelapan yang pengap dan debu yang menari-nari di udara.

Cahaya senter Damar menyapu ruangan. Gudang itu tidak kosong. Di tengah ruangan, terdapat sebuah kontainer kecil yang dimodifikasi menjadi ruang kerja kedap suara. Di dinding kontainer itu, tertempel puluhan kliping koran tua dan peta pembangunan pelabuhan tahun 1994.

Kiara melangkah masuk, kakinya gemetar. Ia mendekati meja kerja yang tertata rapi, seolah-olah seseorang baru saja meninggalkannya beberapa menit lalu. Di atas meja, terdapat sebuah map hitam bertuliskan: PROYEK HITAM: REKLAMASI DAN PENGHILANGAN.

"Mas, lihat ini," Kiara membuka map itu.

Isinya bukan hanya dokumen teknis. Ada foto-foto satelit kasar dan daftar nama pekerja yang dinyatakan 'hilang dalam kecelakaan kerja'. Di urutan paling atas, tertulis nama ayahnya: Danuar – Saksi Kunci Penimbunan Limbah Ilegal.

"Ayahku bukan hanya saksi kecelakaan mobil, Mas," bisik Kiara, air matanya mulai jatuh. "Dia melihat mereka menimbun limbah kimia berbahaya di bawah fondasi pelabuhan ini. Ayah Lela... dia bukan cuma menabrak bengkel ayahku. Dia sengaja menghancurkan bengkel itu untuk membungkam ayahku karena ayahku memegang bukti foto penimbunan ini."

Damar memeriksa laci meja dan menemukan sebuah alat perekam suara tua. Ia menekan tombol play.

Suara statis terdengar sejenak, diikuti oleh suara wanita yang tenang namun penuh beban. Suara Lela.

> "Jika kau mendengar ini, Kiara, berarti kau sudah cukup kuat untuk menghadapi kebenaran. Ayahku bukan orang baik. Dia adalah bagian dari sindikat yang menghancurkan lingkungan dan nyawa manusia demi keuntungan Global Group di masa lalu. Aku tidak sakit karena takdir, Kiara. Aku sakit karena mereka meracuniku pelan-pelan saat aku mulai bertanya terlalu banyak tentang Proyek 1994. Sarah bukan satu-satunya yang ingin aku mati. Ada orang lain di dewan komisaris... seseorang yang bahkan lebih dekat dari Reno."

 

Tiba-tiba, suara tepuk tangan pelan terdengar dari sudut gelap gudang.

 

"Sangat dramatis, bukan? Lela selalu punya selera untuk hal-hal yang berbau teatrikal."

Sesosok pria keluar dari balik tumpukan peti kayu. Cahaya senter Damar langsung mengarah ke wajahnya. Kiara tersentak, hampir menjatuhkan map di tangannya.

Tuan Hardian.

Pria tua itu berdiri dengan tongkat peraknya, namun wajah kaku yang biasanya ia tunjukkan kini digantikan oleh senyuman dingin yang mengerikan. Di belakangnya, berdiri dua pria berbadan tegap dengan pakaian hitam.

"Ayah?" Damar bersuara, nadanya antara tidak percaya dan kemarahan yang meluap. "Apa yang Ayah lakukan di sini?"

"Menyelesaikan apa yang seharusnya selesai tiga puluh tahun lalu, Damar," Tuan Hardian melangkah maju, ketukan tongkatnya di lantai beton terdengar seperti lonceng kematian. "Ayah Lela hanyalah pion. Akulah arsitek dari Proyek 1994. Global Group dibangun di atas tanah yang kusegel dengan rahasia. Danuar, ayah istrimu itu, adalah pria yang terlalu jujur untuk kebaikannya sendiri."

"Jadi Ayah yang membunuh Lela?" Damar melangkah maju, menghalangi Kiara, namun para pengawal Hardian langsung menodongkan senjata.

"Aku tidak membunuhnya. Aku hanya... membiarkannya layu," Tuan Hardian mengangkat bahu dengan acuh tak acuh. "Dia terlalu mirip ibunya, penuh dengan moralitas yang tidak berguna. Dia ingin memberikan sahamnya pada anakmu, Kiara, agar kau punya kekuatan untuk membongkar berkas ini. Lela pikir dia bisa menebus dosa masa laluku dengan menjadikanmu ratu di perusahaanku. Sungguh ironis."

Kiara menatap mertuanya dengan kemuakan yang mendalam. "Kau membiarkan menantumu sendiri mati perlahan hanya demi menutupi limbah di bawah tanah ini?"

"Bisnis adalah tentang apa yang terkubur, Kiara. Bukan apa yang terlihat di permukaan," Tuan Hardian memberi isyarat pada anak buahnya. "Ambil map itu. Dan pastikan mereka tidak keluar dari gudang ini."

Situasi berubah menjadi mencekam. Damar tidak tinggal diam. Ia menarik sebuah tuas di samping kontainer yang ternyata adalah sistem alarm darurat yang telah disiapkan Lela sebelumnya.

NGUIIIIING!

Suara sirene memekakkan telinga memenuhi gudang, bersamaan dengan menyalanya lampu-lampu sorot darurat yang membutakan. Dalam sepersekian detik kekacauan itu, Damar menarik Kiara ke balik kontainer besi.

"Lari ke pintu belakang, Kiara! Aku akan menahan mereka!" seru Damar di tengah kebisingan.

"Tidak, Mas! Aku tidak akan meninggalkanmu!"

"Bawa map itu! Itu satu-satunya bukti untuk menghancurkan dia dan membersihkan nama ayahmu! Pergi!" Damar mendorong Kiara dengan keras ke arah lorong sempit di belakang kontainer.

Kiara berlari dengan sisa tenaganya, memeluk map hitam itu seolah itu adalah nyawanya sendiri. Di belakangnya, ia mendengar suara hantaman fisik dan teriakan amarah Tuan Hardian.

Ia berhasil mencapai pintu belakang yang tersembunyi, namun saat ia membukanya, ia tidak menemukan jalan keluar yang aman. Ia justru berdiri di tepi dermaga tua yang langsung menghadap ke laut lepas yang gelap.

Dan di sana, di atas sebuah sekoci yang tertambat, duduk seorang wanita dengan jubah hitam yang menutupi kepala. Wanita itu menoleh perlahan.

Wajahnya pucat, kurus, namun matanya memancarkan kecerdasan yang sama dengan foto-foto yang pernah Kiara lihat.

"Mbak... Lela?" bisik Kiara, suaranya hilang ditelan angin laut.

Wanita itu tersenyum tipis, sebuah senyum yang penuh rahasia. Ia meletakkan jari telunjuk di bibirnya, memberi isyarat agar Kiara diam, lalu menunjuk ke arah sebuah tas kecil di samping sekoci.

"Waktumu tidak banyak, Kiara," suara itu halus, nyaris seperti halusinasi. "Pilihannya sekarang: kau ikut denganku dan menghilang selamanya dari radar Hardian, atau kau kembali ke sana dan mempertaruhkan nyawa Damar untuk keadilan yang mungkin tidak akan pernah menang."

Tepat saat itu, suara tembakan meletus dari dalam gudang.

Kiara membeku. Jantungnya berasa berhenti berdetak. Damar. Map di tangannya terasa sangat berat. Di satu sisi ada kebenaran untuk ayahnya, di sisi lain ada keselamatan suaminya, dan di depannya... ada sosok yang seharusnya sudah mati, menawarkan jalan keluar yang mustahil.

"Siapa kau sebenarnya?" teriak Kiara di tengah isak tangisnya.

Sosok itu berdiri, embusan angin membuka tudung kepalanya, memperlihatkan wajah yang memang menyerupai Lela, namun dengan bekas luka operasi plastik yang belum sempurna di sepanjang garis rahangnya.

"Aku adalah hantu yang diciptakan oleh keserakan Hardian. Dan sekarang, pilihannya ada di tanganmu, Kiara. Darah atau kebenaran?"

Dari dalam gudang, Tuan Hardian keluar dengan napas tersengal, memegang senjata yang masih berasap, sementara para pengawalnya menyeret tubuh Damar yang lemas ke arah dermaga.

"Serahkan map itu, Kiara! Atau suamimu akan menyusul ayahnya ke dasar pelabuhan ini!" raung Tuan Hardian.

Kiara berdiri di antara dua pilihan maut. Di belakangnya, laut yang menelan rahasia. Di depannya, iblis yang membangun kerajaan di atas air mata keluarganya.

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!