Wanita Kedua
Tanah Terlarang
Deru mesin jip tua itu membelah kesunyian jalanan pinggiran kota yang rusak parah. Lampu depan mobil sesekali menangkap bayangan papan penunjuk jalan yang berkarat: Kawasan Industri Terpadu Sektor 9 – Dilarang Masuk. Udara di dalam kabin terasa semakin berat, bukan hanya karena polusi, tapi karena ketegangan yang nyaris meledak di antara Damar dan Kiara.
"Mas, remnya... kau terlalu cepat," Kiara mencengkeram pegangan di atas pintu, matanya terpaku pada jarum speedometer yang terus menanjak.
"Kita tidak punya banyak waktu, Kiara," sahut Damar tanpa menoleh. Rahangnya mengeras. "Jika pesan itu benar, maka selama ini aku berduka untuk alasan yang salah. Ibuku... dia tidak meninggal karena sakit jantung biasa."
"Tapi dokter itu—Dokter Aris—dia sudah menjadi orang kepercayaan keluarga kalian selama puluhan tahun. Kenapa dia harus berkhianat sekarang? Apa untungnya bagi dia?"
Damar membanting setir menghindari lubang besar. "Hardian tidak punya teman, Kiara. Dia punya kaki tangan yang diikat dengan uang dan rasa takut. Saat Hardian mati, ikatan itu lepas. Aris mungkin merasa tidak lagi mendapatkan bagiannya, atau dia ingin menghapus saksi kunci sebelum dia kabur."
Mereka sampai di gerbang utama Sektor 9. Sebuah kompleks pabrik kimia terbengkalai yang dikelilingi pagar kawat berduri setinggi tiga meter. Di tengah kegelapan, sebuah bangunan silinder raksasa tampak mendominasi cakrawala, dengan lampu suar merah berkedip di puncaknya seperti mata raksasa yang mengawasi.
Damar menghentikan mobilnya tepat di depan gerbang yang sudah terbuka paksa. Ia meraih senter besar dan sepucuk pistol yang ia ambil dari laci dasbor—peninggalan ayahnya yang tak pernah ia sangka akan ia gunakan.
"Mas, tunggu!" Kiara menahan lengan Damar saat pria itu hendak turun. "Ini jebakan. Kau tahu itu, kan? Foto itu, ledakan kecil tadi... mereka memancingmu."
"Aku tahu," Damar menatap mata Kiara, lalu mengusap pipinya pelan. "Tapi ini tentang ibuku. Jika aku tidak turun sekarang, hantu-hantu ini akan terus mengikuti kita sampai ke liang lahat. Tetaplah di mobil. Jika dalam lima belas menit aku tidak kembali, nyalakan mesin dan lari ke pos polisi terdekat. Jangan menoleh."
"Tidak! Aku ikut," Kiara bersikeras, suaranya naik satu oktav. "Lela bilang aku punya kekuatan. Aku tidak akan membiarkanmu menghadapi kegelapan ini sendirian lagi."
Damar menghela napas, ia tahu tidak ada gunanya berdebat dengan Kiara yang keras kepala. "Tetap di belakangku. Jangan menyentuh apa pun. Udara di sini mungkin mengandung merkuri tinggi."
Mereka melangkah masuk ke dalam area pabrik. Aroma logam berkarat dan asam menyengat hidung. Langkah kaki mereka bergema di atas lantai beton yang retak. Di ujung lorong panjang yang menuju ke arah tangki utama, mereka melihat cahaya remang-remang dari sebuah ruangan kaca—bekas laboratorium kendali.
Di sana, Dokter Aris duduk dengan tenang di sebuah kursi putar, membelakangi pintu. Di depannya, layar-layar monitor tua menampilkan grafik yang berdenyut aneh.
"Kau tepat waktu, Damar," suara Aris terdengar melalui pengeras suara yang pecah, menciptakan efek gema yang mengerikan. "Kau selalu menjadi anak yang patuh. Tidak seperti Reno yang hanya tahu cara menghabiskan uang."
Damar menodongkan pistolnya. "Di mana botol itu, Aris? Dan apa maksudmu dengan pesan itu?"
Aris memutar kursinya perlahan. Wajahnya yang dulu ramah kini tampak tirus dan liar. Di tangannya, ia memegang sebuah botol kaca kecil berisi cairan bening. "Ibumu adalah wanita yang terlalu baik. Dia tahu tentang limbah di bawah Sektor 7 jauh sebelum orang lain. Dia ingin melaporkan suaminya sendiri ke otoritas pusat."
Kiara menutup mulutnya, ngeri. "Jadi Tuan Hardian... membunuh istrinya sendiri?"
"Hardian tidak punya keberanian untuk itu," Aris tertawa kecil, suara tawa yang kering. "Dia hanya memintaku untuk 'menenangkannya'. Suplemen agar dia tidak terlalu cemas. Tapi dosisnya... yah, biarlah itu menjadi rahasia medis antara aku dan almarhumah."
"Kau bajingan!" Damar melangkah maju, tapi Aris mengangkat botol itu tinggi-tinggi.
"Jangan mendekat! Satu langkah lagi, dan botol ini pecah. Di dalamnya bukan racun biasa, Damar. Ini adalah katalis. Jika ini menyentuh udara yang sudah jenuh dengan uap kimia di ruangan ini, tempat ini akan menjadi kembang api terbesar yang pernah dilihat kota ini."
Langkah Damar terhenti. Ia bisa melihat uap tipis keluar dari pipa-pipa yang bocor di sekitar mereka.
"Apa maumu, Aris? Uang? Saham?" tanya Kiara, mencoba mengalihkan perhatian.
"Aku mau hidup! Dan aku butuh paspor Elena yang kau bawa," Aris menunjuk ke arah tas Kiara. "Aku tahu Lela memberikannya padamu. Itu paspor tanpa sidik jari yang terdaftar secara resmi di sistem bayangan. Dengan itu, aku bisa hilang selamanya."
"Bagaimana kau tahu tentang Elena?" Kiara bertanya, tangannya perlahan merogoh tasnya.
"Karena aku yang mengoperasi wajahnya!" Aris berteriak. "Aku yang membantunya 'mati'! Dia pikir dia bisa melarikan diri dariku setelah semua yang kulakukan? Tidak. Elena adalah mahakaryaku, dan sekarang dia berutang hidup padaku."
Tiba-tiba, sebuah suara gesekan logam terdengar dari kegelapan di atas mereka. Sebuah bayangan melompat dari pipa ventilasi, mendarat dengan suara gedebuk yang keras di belakang Dokter Aris.
"Kau bicara terlalu banyak, Aris," sebuah suara wanita yang dingin dan familiar memecah suasana.
Elena—atau Lela—berdiri di sana, masih dengan kemeja putihnya yang kini bercak oli. Ia memegang sebuah kabel baja yang tampak seperti jerat.
"Lela?" gumam Damar, matanya membelalak. "Kau... kau tidak pergi ke pelabuhan?"
"Aku tidak bisa pergi sebelum membersihkan sampah yang satu ini," Elena menatap Aris dengan kebencian yang murni. "Dia tidak hanya mengoperasiku, Damar. Dia menanamkan pelacak di bawah kulit rahangku. Dia ingin menjualku kembali ke rekan bisnis ayahmu sebagai 'trofi' yang bangkit dari kubur."
Aris tampak gemetar. Ia mundur hingga punggungnya menempel pada panel kontrol. "Jangan mendekat, Lela! Aku akan memecahkan botol ini!"
"Pecahkan saja," tantang Elena sambil melangkah maju. "Aku sudah mati sekali. Apakah kau pikir aku takut mati untuk kedua kalinya? Tapi kau... kau sangat takut mati, bukan? Kau ingin pasporku karena kau dikejar oleh hutang judi pada sindikat yang lebih kejam dari ayahku."
Dalam kepanikan, Aris mencoba melempar botol itu ke lantai. Namun, dengan gerakan yang sangat cepat, Kiara melemparkan tasnya ke arah tangan Aris. Tas itu menghantam botol sebelum sempat terlepas sepenuhnya, membuatnya terpental ke arah meja empuk dan tidak pecah.
Damar langsung menerjang Aris, menjatuhkannya ke lantai. Di saat yang sama, Elena menarik kabel baja di tangannya, tapi bukan untuk menjerat Aris, melainkan untuk mengunci pintu otomatis laboratorium.
"Sistem pendingin tangki di bawah kita sudah kumatikan sejak sepuluh menit yang lalu," Elena berkata dengan nada yang sangat tenang, seolah sedang membicarakan cuaca. "Dalam lima menit, tekanan gas akan mencapai titik kritis. Tempat ini akan runtuh ke dalam tanah, mengubur semua limbah kimia dan semua rahasia kotor keluarga Hardian selamanya."
"Lela, apa yang kau lakukan?" teriak Damar sambil memegang Aris yang meronta. "Kita harus keluar!"
"Kalian punya waktu untuk lari," Elena menunjuk ke arah pintu darurat kecil di sudut ruangan yang baru saja terbuka. "Tapi Aris harus tetap di sini. Dan aku... aku tidak punya tempat lagi di dunia yang hidup, Damar."
"Tidak! Kau ikut dengan kami!" Kiara mencoba mendekati Elena.
Elena tersenyum, senyuman yang paling tulus yang pernah dilihat Kiara. "Jaga Damar, Kiara. Jaga Global Group. Jadilah cahaya yang tidak pernah bisa diberikan keluarga ini."
Elena menekan sebuah tombol di panel kontrol, dan pintu darurat itu mulai menutup perlahan. "Lari!"
Damar menarik Kiara, memaksa istrinya menuju pintu kecil itu sementara Aris meraung-raung mencoba melepaskan diri dari kunci pintu utama yang macet. Sesaat sebelum pintu darurat tertutup rapat, Damar menatap Elena untuk terakhir kalinya. Wanita itu berdiri membelakangi mereka, menatap ke arah tangki raksasa yang mulai bergetar hebat.
Mereka berlari sekuat tenaga melewati lorong-lorong sempit saat seluruh bangunan mulai berguncang. Suara gemuruh dari perut bumi terdengar seperti raungan monster yang terbangun. Tepat saat mereka melompat keluar dari gerbang pagar kawat, sebuah ledakan hebat yang teredam mengguncang tanah di bawah kaki mereka.
Bukan ledakan api yang menjulang tinggi, melainkan tanah yang ambles. Bangunan utama Sektor 9 seolah ditelan oleh bumi, menciptakan lubang raksasa yang mengisap segala sesuatu di sekitarnya. Asap putih mengepul dari reruntuhan, menutupi sisa-sisa laboratorium itu.
Damar terduduk di tanah, napasnya tersengal. Ia merangkul Kiara yang menangis sesenggukan di bahunya. Mereka melihat ke arah lubang raksasa itu dalam diam. Sektor 9 telah menjadi kuburan massal bagi rahasia, pengkhianatan, dan wanita yang pernah menjadi bagian dari hidup mereka.
Matahari mulai terbit di ufuk timur, menyinari debu-debu yang beterbangan. Kota di kejauhan mulai terbangun, tidak menyadari bahwa sebuah perang suci baru saja berakhir di pinggirannya.
Damar merogoh saku celananya, menemukan foto polaroid yang tadi diremukkannya. Ia membukanya perlahan. Namun, matanya menyipit saat melihat detail yang terlewatkan sebelumnya.
Di latar belakang foto itu, di balik bayangan mereka di kantor, bukan hanya ada satu orang. Ada orang lain yang berdiri di bayang-bayang pintu, memegang sebuah radio panggil. Seseorang dengan seragam yang sangat ia kenal.
Damar mendongak, menatap ke arah jipnya yang terparkir. Ia melihat sebuah mobil polisi mendekat dengan sirine yang tidak dinyalakan.
"Kiara," bisik Damar, suaranya kembali dingin. "Perang ini belum benar-benar berakhir."
Dari dalam mobil polisi yang berhenti itu, keluar seorang perwira tinggi yang selama ini memimpin penyelidikan kasus Hardian. Ia tersenyum tipis sambil memegang sebuah map yang identik dengan map hitam milik Kiara.
"Tuan Damar, Nyonya Kiara," sapa perwira itu. "Terima kasih sudah membereskan kekacauan di Sektor 9. Sekarang, bisakah kita bicara tentang bagian keuntungan yang dijanjikan ayahmu dalam kontrak... 'cadangan'?"
Kiara membeku. Ia baru menyadari bahwa selama ini mereka bukan hanya melawan satu keluarga, melainkan sebuah sistem yang sudah membusuk hingga ke akarnya.
Apa yang akan dilakukan Damar ketika ia menyadari bahwa orang yang seharusnya menegakkan hukum adalah orang yang memegang kunci terakhir dari kebohongan ayahnya?