Wanita Kedua

Kehidupan Baru

Lantai kayu di kedai kopi kecil itu berderit setiap kali Damar melangkah, sebuah suara yang jauh lebih merdu di telinganya ketimbang denting lift marmer di gedung Global Group. Aroma kopi Gayo yang baru dipanggang memenuhi ruangan, mengusir sisa-sisa bau logam dan asam yang seolah telah mengerak di ingatannya selama berbulan-bulan.

Di luar, hujan rintik-rintik membasahi jalanan aspal Bandung yang tenang. Tidak ada raungan sirine, tidak ada jip tua yang dipacu gila-gilaan. Hanya ada suara gesekan penghapus kaca dari mobil-mobil yang melintas santai.

"Mas, pesanan meja nomor empat sudah siap?" Suara Kiara memecah lamunannya.

Damar menoleh. Istrinya berdiri di balik meja bar, mengenakan celemek kain berwarna cokelat tua. Rambutnya diikat asal, dan ada sedikit noda susu di pipinya. Ia tampak jauh lebih muda, seolah beban sepuluh tahun telah diangkat dari pundaknya dalam semalam.

"Tinggal menuangkan susunya," jawab Damar sambil meraih milk jug. Tangannya yang dulu gemetar saat memegang pistol, kini stabil saat melukis pola rosetta di atas permukaan latte.

Sudah tiga bulan sejak debu di Sektor 9 mengendap. Dunia bisnis masih membicarakan kejatuhan spektakuler Global Group—bagaimana sebuah imperium raksasa bisa mencair begitu cepat akibat skandal lingkungan dan korupsi sistemik. Namun bagi Damar dan Kiara, berita itu terasa seperti dongeng dari negeri yang sangat jauh.

"Yudha resmi dinyatakan tersangka pagi ini," bisik Kiara saat Damar meletakkan nampan di dekatnya. Ia melirik layar ponsel yang tergeletak di samping mesin kasir. "Berita utama. Jaksa menemukan aliran dana dari akun bayangan yang terkunci oleh virus itu. Dia tidak bisa mengelak lagi."

Damar berhenti sejenak, menatap uap yang mengepul dari cangkir kopi. "Dia terlalu sombong. Dia pikir dia memegang kendali karena dia punya lencana. Dia lupa bahwa di dunia ayahku, kesetiaan hanya bertahan selama ceknya bisa dicairkan."

"Dan Elena?" Kiara bertanya, suaranya merendah. Itu adalah pertanyaan yang selalu mereka ajukan setiap kali ketenangan mulai terasa nyata.

"Belum ada tanda-tanda. Tim evakuasi hanya menemukan sisa-sisa laboratorium yang hancur total. Tekanan gas di bawah sana menghancurkan segalanya hingga menjadi serpihan." Damar menghela napas, matanya menerawang ke arah jendela yang berembun. "Mungkin itu yang dia inginkan. Menghilang tanpa meninggalkan sepotong tulang pun untuk dipelajari."

Seorang pelanggan masuk, membawa embusan angin dingin dan suara gemerincing lonceng di pintu. Damar kembali sibuk dengan mesin kopinya, sementara Kiara melayani dengan senyum yang tidak lagi dipaksakan untuk kamera wartawan.

Sore itu, saat kedai mulai sepi, seorang pria tua dengan jaket hujan abu-abu masuk dan duduk di pojok ruangan. Ia tidak memesan kopi, hanya duduk diam sambil menatap keluar jendela. Damar memperhatikannya dari kejauhan. Ada sesuatu yang janggal pada gerakan pria itu—terlalu waspada, terlalu kaku.

"Ada yang bisa saya bantu, Pak?" Kiara mendekati meja itu dengan ramah.

Pria itu mendongak. Wajahnya asing, penuh kerutan yang dalam, namun matanya memiliki binar yang tajam. Ia meletakkan sebuah amplop cokelat kecil yang sudah agak basah di atas meja.

"Seseorang menitipkan ini untuk pemilik tempat ini," suara pria itu serak, seperti orang yang jarang bicara. "Dia bilang, utang nyawa sudah lunas, tapi utang janji baru saja dimulai."

Sebelum Kiara sempat bertanya lebih lanjut, pria itu berdiri dan melangkah keluar ke tengah hujan. Damar segera menghampiri istrinya. Mereka menatap amplop itu seolah-olah benda itu bisa meledak kapan saja.

Dengan tangan sedikit gemetar, Damar membuka perekat amplop tersebut. Di dalamnya bukan berisi uang atau dokumen hukum, melainkan selembar tiket kapal feri tujuan Singapura yang sudah kedaluwarsa—tiket milik Elena yang dulu sempat hilang—dan sebuah kunci kecil dengan gantungan berbentuk bunga melati perak.

Di balik tiket itu, ada tulisan tangan yang sangat halus:

“Bunga melati hanya mekar di tempat yang bersih. Jaga taman kalian.”

Kiara menutup mulutnya dengan tangan. "Dia masih hidup."

Damar memegang kunci kecil itu erat-getar di telapak tangannya. "Bukan hanya hidup, Kiara. Dia sedang mengawasi kita. Pastikan kita tidak membuat kesalahan yang sama dengan ayahku."

Konflik yang dulu membakar hidup mereka kini telah meredup menjadi bara kecil yang hangat. Ketegangan yang mencekik leher telah berubah menjadi kewaspadaan yang sehat. Mereka tidak lagi berlari dari hantu, melainkan hidup berdampingan dengan bayang-bayang itu, memastikan bahwa kegelapan tidak akan pernah merayap masuk kembali.

Malam itu, setelah kedai ditutup, Damar dan Kiara duduk di teras lantai atas rumah kecil mereka di atas kedai. Mereka memandang lampu-lampu kota Bandung yang berkedip seperti permata yang tumpah.

"Mas," Kiara menyandarkan kepalanya di bahu Damar. "Apa kau merindukan kantor itu? Ruangan besar di lantai lima puluh itu?"

Damar merangkul bahu istrinya, merasakan detak jantung Kiara yang tenang. "Di sana, aku melihat dunia dari atas, tapi aku tidak pernah merasa memilikinya. Di sini, aku hanya melihat jalanan kecil, tapi aku merasa ada di rumah."

Ia mengambil kunci melati perak itu dari sakunya, lalu melemparkannya ke dalam kotak kayu kecil tempat mereka menyimpan kenangan-kenangan pahit—foto polaroid yang rusak, bros milik ibunya, dan sisa-sisa kontrak Global Group yang sudah tidak berlaku.

"Besok kita harus memperbaiki atap bagian belakang," kata Damar, mengubah topik dengan nada yang jauh lebih ringan. "Tukang kayu bilang kayunya sudah mulai lapuk."

Kiara tertawa kecil, suara yang jernih dan penuh harapan. "Dan kita butuh lebih banyak pasokan biji kopi. Pelanggan menyukai racikan barumu."

Di bawah cahaya bulan yang tertutup awan, mereka berdua menyadari bahwa kemenangan sejati bukan terletak pada kehancuran musuh, melainkan pada kemampuan untuk mencintai kehidupan yang sederhana setelah melewati badai yang menghancurkan. Sektor 9 mungkin telah terkubur, tapi di atas tanah yang baru, mereka sedang menanam sesuatu yang tidak akan pernah bisa dihancurkan oleh uang atau rasa takut.

Damar mematikan lampu teras. Kegelapan menyelimuti mereka, namun kali ini, kegelapan itu terasa seperti selimut yang nyaman, bukan lagi sebuah ancaman.

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!