Wanita Penghibur untuk Suamiku

Rencana yang Sulit

"Terima kasih, Bram ...," sahut Naura, sembari melemparkan kepalanya di bahu Bram. Kemudian membalas pelukan lelaki di hadapannya itu.
 
Bram dengan tersenyum menerima perlakuan Naura, ia memejamkan pelopak matanya. Lagi-lagi dirinya mengucap syukur untuk Sang Ilahi. 
 
Zoya pun yang menyaksikan kedua sahabatnya berpelukan, senang sekaligus haru. Senang mereka bisa bersama lagi seperti sedia kala, tanpa ada rasa kaku di antara keduanya dan perasaan haru yang melihat Bram, masih sangat mencintai Naura. 
 
"Oke, sekarang kau udah tenang kan, Nau? Kita bisa jalan sekarang ya?" tanya Bram dan Naura hanya mengangguk cepat.
 
Mobil Bram melaju sangat tenang, mereka masih terpaku dengan fikiran masing-masing. Keadaan saat ini sangat hening, sehening kegelapan di dalam gua yang buntu.
 
 
Sesampainya di parkiran Apartement, Bram menurunkan Naura keluar dari dalam mobil. Dengan perlahan berjalan ke arah koridor menuju lift. Di sepanjang koridor, Naura hanya menunduk pilu dengan kesedihan yang amat sangat di hatinya. Meski kedua sahabatnya selalu mengatakan jangan bersedih.
 
Namun, tidak dapat dipungkiri dirinya saat ini rapuh. Sangat rapuh! 
 
"Mas, aku hanya ingin kau tahu, Aku masih sangat mencintaimu ...."
 
Naura meneteskan kembali air matanya ....
 
Bram hanya memutar kedua bola matanya dengan malas, melihat Naura menangis lagi demi suaminya. Setiap tetesan air mata yang terjatuh dari pelupuk matanya, hati Bram sangat teriris melihatnya. 
 
Bagaimana tidak? 
 
Dirinya sangat mencintai Naura, tidak pernah satu kalipun Bram menyakiti Naura. Apa lagi harus menjatuhkan air mata dari mata cantiknya.
 
Dulu ... tidak sehari pun Bram berhenti untuk membahagiakan Naura, tetapi sekarang? Dengan teganya pria itu datang membawa kesakitan! "Brengsek!" Bram mengumpat dalam hati. 
 
Ditambah lagi baru saja Bram tahu bahwa selama pernikahan mereka, Naura selalu diperlakukan semena-mena oleh keluarga Abdi.   Hal itu menambah kegemuruhan di dalam dadanya. Bram meremas kuat pegangan kursi roda itu. 
 
Zoya yang menyadari Bram, yang sudah berubah wajah menjadi seram itu langsung menepuk bahunya dari belakang. "Kau kenapa?" ucap Zoya pelan dengan alis yang terangkat.
 
"Aku dendam!" ucap Bram, kemudian lift terbuka lebar dan mereka segera turun dengan langkah yang bersamaan. 
 
Sesampainya di kamar, Bram menidurkan Naura ke ranjangnya. "Nau, aku ingin kau istirahat terlebih dulu," ujar Bram, Naura tidak menjawab apapun. Naura hanya memalingkan wajahnya ke arah lain. 
 
Bram hanya tersenyum, lalu membuka sepatu Naura dengan pelan. Setelah Bram melihat Naura terlelap, dia menarik Zoya dengan kencang keluar dari dalam kamar. 
 
"Arh! Sakit tau." Zoya mendengus kesal.
 
Bram mengerutkan dahi. "Kau kan ketua karate, segitu aja kau kesakitan!" sahut Bram.
 
"Terus kalau aku ketua karate, aku bisa tahan banting gitu? Tahan dengan segala cuaca? Atau sekalian jadi wonder women?" Zoya lagi-lagi kesal dengan pria di sampingnya ini. 
 
Bram memutar bola matanya malas, meladeni Zoya. "Oke sekarang gini, Zoy ... apa rencana kita buat ngelawan keluarga suaminya Naura?" Bram kini merubah mimik wajahnya dengan tatapan serius.
 
"Menurutku ya, Naura harus membuat suaminya cemburu, merasa kehilangan ... dan baru buat dia menderita atas ke salahannya di masa lalu." 
 
Bram mengerutkan dahi dengan jari telunjuk yang menekan dahinya, mencoba mencerna perkataan Zoya yang baru saja ia lontarkan.    
 
Pletak! Tiba-tiba Zoya menjitak kepala Bram.
 
"Aww!" Bram mengerang.
 
"Kamu nyambung nggak sih?!"
 
"Aku nyambung, Zoy. Tapi yang aku nggak habis fikir. Gimana caranya ngebuat Abdi menderita? Lalu bagaimana dengan keluarganya? Apa kita harus membalaskan semuanya ke Abdi? Itu terdengar nggak adil sih!" ucap Bram dengan rentetan pertanyaan.
 
Zoya meremas rambutnya dan melemparkan tubuhnya ke lantai, dirinya kini menekuk kedua kaki memasang raut wajah yang datar. 
 
Bram berdiri di hadapannya dengan menyamakan tinggi mereka. "Kau kenapa? Pusing? Atau sebenarnya tidak ada jalan keluar?" tanya Bram. Zoya menggeleng dengan sangat cepat.
 
"Bukan itu, aku hanya meratapi nasip sahabatku. Kasihan dia ...." Zoya menundukkan kepalanya.
 
Kini Bram mendudukkan tubuhnya di samping Zoya, "Kita berdua tau kan? Naura adalah gadis periang?" tanya Bram ke arah Zoya dan Zoya lagi-lagi hanya membalas dengan anggukkan.
 
"Dan sekarang Naura seolah kehilangan semua hidupnya!" ucap Bram dengan nada pelan.
 
"Kamu dendam?" tanya Zoya sembari menoleh ke arah Bram.
 
"Sangat! Kau tau, aku sangat mencintai Naura?" tanya Bram sambil menatap Zoya serius.
 
"Oke, Bram. Kalau gitu ... gimana kalau kita buat rencana berpura-pura kau berpacaran dengan Naura?" 
 
"Harh! Terdengar begitu sakit." Bram menyenderkan kepalanya pada dinding.
 
"Mau nggak? Sampingkan perasaanmu dulu Dan berlagalah menjadi sahabat yang baik untuk sekarang." Zoya mencebik bibirnya.
 
"Cih kamu tau apa? Kau kan jomblo! Bagaimana kau tau tentang perasaan orang?!" Bram menggerutu.
 
 Zoya terlihat sangat malas untuk bertukar pendapat, dengan pria di sampingnya. "Ntar aja deh ya ... kita omongin waktu Naura bangun," ucap Zoya  datar.
 
Masing-masing dari mereka hanya menyenderkan kepala ke arah dinding, terhanyut  dalam masalah Naura yang begitu terjal. Mereka harus berfikir keras untuk semuanya. Zoya meremas rambutnya dengan pusing. 
 
Bram melirik Zoya, dengan perlahan memutar bola matanya. "Kau dendam?" tanya  Bram dengan pertanyaan yang sama dilontarkan Zoya tadi.
 
Zoya mengangguk  perlahan. "Sama sepertimu. Sangat dendam! Aku yang bertahun-tahun mencari dirinya. Dan sekarang mendapati sahabatku sudah terkulai lemah, dengan air mata yang tak ada hentinya. Sakit Bram!" ucap Zoya wajahnya dattar mengarah ke depan.
 
Bram meremas bahu sahabatnya itu, dia tahu betul bagaimana perasaannya saat ini. "Kau tau, Bram ... bagiku Naura adalah adikku, bukan lagi sahabat. Jadi saat mereka menyakiti Naura, itu sama halnya mereka menyakitiku juga," ucap Zoya, sembari perlahan-lahan menurunkan kepalanya untuk menunduk di antara kedua kedua kaki.
 
Bram tidak menjawab sepatah kata pun, Bram tahu ... Zoya adalah gadis yang tidak banyak bicara dalam segi hal apapun. Baik untuk pertemanan maupun percintaan. Kemudian jika kali ini Zoya berbicara tiada henti, itu artinya hatinya sedang tidak bisa lagi dia kendalikan. 
 
Bram menelan ludahnya, berbicara dengan perlahan. "Apa kau mencintai Naura? Sama hal nya denganku?" tanya Bram dengan memutarkan kepalanya ke arah Zoya kembali. 
 
Plak!
 
 Zoya menampar Bram dengan kencang sangat gemas. "Kamu kira aku ada kelainan?" bentak Zoya. 
 
"Habisnya ... kata-katamu seolah kau sedang memikirkan pasanganmu sendiri. Apa lagi sampai sekarang kau jomblo kan? Nggak memutus kemungkinan jika kau punya kelainan!" 
 
"Hah! Pantesan Bram, Naura itu lebih memilih  menikah bersama Abdi. Kau bodoh nya minta ampun! Kok bisa ya jadi Dokter?" 
 
"Bicaramu jangan begitu dong, Zoy. Itu kelewatan!" Bram mendengus.
 
"Ah udahlah yuk masuk, males aku lama-lama berduaan denganmu. Bikin pengen menghancurkan dunia!" Zoya tersenyum kecil.
 
Sontak Bram langsung tersedak mendengarnya diiringi dengan tawaan yang garing. "Menghancurkan dunia? Menghancurkan hati seorang pria saja kau tak pernah, Zoy. Mau sok-sokan menghancurkan dunia!" ujar Bram, yang akhirnya mereka tertawa geli secara bersamaan.
 
 
 
 
 
 

 

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!