Abdi hanya mengabaikan pembicaraan itu, lalu duduk di hadapan Naura. Kemudian Bram dengan cepat segera berpamitan pada Naura. "Nau, aku pulang ya, kumohon jaga dirimu baik-baik," ucap Bram sembari mengusap jemari Naura.
"Ingin rasanya Aku memelukmu Naura ... menciummu dengan hangat lalu membelai rambutmu penuh kehangatan, sebagai tanda bahwa Aku mencintaimu. Jaga dirimu, Aku selalu menemanimu selamanya."
Kurang lebih begitulah isi kepala Bram jika ingin di lontarkan satu persatu, kini giliran Zoya mendekati Naura dan langsung memeluknya. "Aku izin pamit pulang ya ... Nau," ucap Zoya pelan dengan raut wajah yang sangat buruk dari sebelumnya.
Bram dan Zoya melangkah bersamaan, meninggalkan Naura yang tengah duduk di sofa. Kini dirinya harus bagaimana menghadapi mereka? "Ah! Tuhan! Bantulah diri ini."
Aqila melangkah ke arahnya dan duduk bersanding pada tubuh Naura dengan kaki yang terangkat satu terlipat. Bagaikan Nyonya besar di rumah ini. Naura benci melihat itu.
"Jangan menatapku seperti itu, nanti Mas Abdi marah loh ...," ujar Aqila dengan santai tersenyum ke arah Abdi.
Naura menatap heran suaminya, kemudian melemparkan pandangan tajam ke arah Aqila "Maksutmu? Suamiku lebih membela kamu, di banding Aku istrinya sendiri?" Naura berdecak tersenyum miring.
"Sayang ... kumohon sudahlah, jangan begitu. Aku senang kamu akhirnya pulang." Abdi menggenggam jemari Naura lembut.
"Sudahlah ... Mas, jangan berlaga manis dirimu di depanku. Aku benci melihatnya. Bawa aku ke kamarku, Aku ingin bernostalgia setelah beberapa hari meninggalkannya," ucap wanita yang kini telah kehilangan rasa simpati pada suaminya sendiri.
Abdi menelan ludahnya kasar, kini matanya dan Aqila saling menatap. Seolah bingung akan sesuatu. "Oke ... Nau, tapi kamu tunggu sebentar ya di sini. Mas mau beresin kamar sebentar, biasalahh ... kau kan tau Nau. Mas gak enak kalo berantakan," ucap Abdi gugup, wajahnya kini memerah.
"Dengan tega dirimu mengatakan kasurnya berantakan di depan Aku, istrimu! Emang nggak punya otak ini laki." Naura menahan kesal di dadanya, tetapi kekesalan itu dia tepis demi sebuah rencana balas dendam.
"Sudahlah, bawakan Aku kesana sekarang!" Naura dengan tegas berbicara, karena Naura pun tahu pasti ada sesuatu hal yang terjadi.
"Nggak ... Nau, sebentar saja!" ucap Abdi berlari kecil, ke arah tangga sembari menarik tangan Aqila.
Naura yang merasa ada sesuatu hal yang terjadi, mengikuti mereka dari belakang. Dan dirinya pun tahu, dia tidak akan mungkin menaiki tangga dengan tubuh yang memakai kursi roda.
Akhirnya ia memutuskan untuk turun dari kursi roda, perlahan merangkak ke arah tangga. Ibu mertuanya yang melihatnya hanya berdecit, bukan iba melainkan jijik melihat menantunya sangat memperihatinkan.
Anak tangga demi anak tangga terlewati oleh Naura, kini dirinya berada tepat di sisi tepi atas tangga. Dan memergoki suami dan wanita simpanannya sibuk berlarian dari arah gudang ke kamar. Untuk memindahkan beberapa barang.
"Eh, tunggu dulu ...,"
"Itu bukannya barangku?"
"Lalu ...."
"Astaga!"
"Oh ... begitu rupanya ya, Mas? Kau berbohong demi apa? Demi menutupi ke busukanmu? Aku semakin muak Mas melihatmu," ucap Naura menahan rasa kesal dan kecewa yang sudah menyelimuti.
"Bukan! Bukan begitu, Nau. Mas mohon jangan salah paham ya."
"Iya ... mbak, yang mindahin barang semua ini. Itu Aku, mbak. Aku kira mbak Naura nggak akan balik lagi." Aqila menimpali perkataan Abdi seolah ingin menjadi pahlawan. Agar terlihat lebih baik.
Naura memutar bola matanya dengan malas. Dirinya hanya terus merangkak saja ke arah kamar, melewati mereka berdua.
Ada perasaan malu sebenarnya, malu di saat dirinya merangkak tidak ada harga diri di depan ke dua orang yang amat sangat dirinya benci.
Dan perasaan kecewa, kecewa mengapa Mas Abdi membiarkan istrinya merangkak seperti pengemis di depannya. Namun terabaikan!
"Kau jahat, Mas!"
Air mata yang tiba-tiba menetes tidak tertahan dengan segera Naura hapus.
"Aku tidak ingin lagi menangis! Hanya karena sesuatu yang sudah terlanjur Aku membencinya!"
"Enyahlah kalian!" ucap Naura pelan sambil mengepalkan jemarinya kuat.
Di saat Naura memegang tepi ranjang, tubuh kecilnya kini di angkat oleh suaminya. Abdi membantunya untuk sekedar merebahkan tubuh istrinya itu ke atas ranjang.
Kemudian Abdi duduk di samping lengan kiri Naura, menatap Naura hangat dan mengelus rambutnya dengan lembut. "Nau ... gimana? Tentang pernikahanku dan Aqila, apa kamu setuju?" tanya Abdi hati-hati dan sangat pelan.
"Nggak! Dan nggak akan pernah setuju! Jangan harap." Naura memicingkan bibirnya.
"Tapi aku tetap akan menikahi Aqila."
"Beri Aku alasan satu saja, agar diriku Ikhlas?!" tanya Naura dengan pandangan yang sulit diartikan.
"Aku terlanjur mencintai Aqila dan mengkhawatirkan dirimu, Nau."
"Omong kosong!" sahut Naura tanpa perasaan sama sekali.
"Tidak ada pernikahan apa pun selama aku masih menjadi istrimu," bentak Naura dengan tegas.
Abdi mengehela napas kasar, lalu melangkah pergi meninggalkan ke dua wanita itu.
"Mbak, mbak kan sudah tidak ada lagi tenaga. Kenapa masih sombong?" cibir Aqila
"Tidak ada tenaga katamu? Kamu fikir aku menaiki tangga dengan terbang? Sudahlah kau pergi dari sini. Aku muak!"
Kemudian Aqila pun melangkah pergi dengan raut wajah yang sangat sebal. "Dia fikir dia siapa? Berlaga seperti Nyonya besar di rumah ini." Aqila menggerutu.
"Jaga bicaramu! Aku mendengarnya!" Naura berteriak, Aqila pun mempercepat laju langkahnya.
Di sisi lain ...
Bram dan Zoya termenung di sebuah tongkrongan kopi, Bram meremas rambutnya pusing dan menyenderkan kepalanya ke bahu Zoya.
"Kau khawatir?" tanya Bram pelan.
"Sangat!"
"Aku meniduri Naura subuh tadi," ucap Bram dengan tatapan datar mengarah ke depan
"Maksutmu?"
Dengan cepat Zoya menoleh ke arah Bram.
"Tidak perlu dijelaskan apa yang terjadi, Zoy. Kau pasti mengerti apa maksutku."
Zoya hanya bergeming sejenak, "Pantesan tadi pagi Naura sudah rapih." Zoya menundukkan kepalanya dengan perlahan. Menerka maksut Bram, apa yang sebenarnya yang ingin dirinya ucapkan. Sampai masalah begitu pun Bram katakan, padahalkan Zoya tidak ingin tahu menahu.
"Kau bingung? Mengapa aku berterus terang denganmu? Aku mengatakan ini bukan semata-mata karna kau sahabatku, Zoy. Aku tahu privasi juga. Tetapi aku rasa Naura tidak mencintai suaminya lagi," ujar Bram, Zoya hanya mengangguk dengan cepat seolah mengerti apa yang sedang Bram katakan.
"Dan aku yakin, kali ini Naura benar-benar telah merencanakan sesuatu. Kau lihat kan Zoy tatapannya sedari kemarin, jika kita mengatakan tentang keluarga suaminya, tatapannya seolah dingin menakutkan. Tatapan kebencian yang terpancar di mata Naura sangatlah kuat." Bram mengucapkan dengan pelan.
"Aku takut Naura gegabah, Bram. Aku takut Naura kalah dengan tindakan dirinya sendiri," ucap Zoya dengan kepala yang menunduk.
"Aku malah takut jika Naura melakukan tindakan di luar akal sehatnya dan dengan sadar malah membawanya masuk kedalam kesalahannya sendiri," sahut Bram masih menatap kosong ke depan.
Kini mereka saling menyenderkan kepalanya di kursi, menatap pilu dan memikirkan bagaimana caranya agar menolong Naura keluar dari masalahnya.