"Ini pasti ulahmu!" cerca mertuanya menatap tajam ke arah Naura yang baru saja datang.
Naura mengerutkan dahinya, seolah bingung apa yang saat ini telah terjadi. Wajahnya dibuat sendu memainkan peran menjadi wanita playing victim. "Aku tahu ibu membenciku, tapi ini bukan waktunya, Buk. Ibuk harus segera ke rumah sakit. Untuk tindakan secepatnya," ucap Naura yang sengaja dilembut-lembutkan. Padahal dirinya hanya ingin Ibu mertuanya meninggalkan dunia dengan cara yang tidak mudah.
"Buk, sudahlah ... nggak mungkin Naura melakukan ini semua."
Abdi mencoba menenangkan Ibunya yang sudah sangat lemah, karena kehilangan banyak darah. Dengan cepat Mas Abdi membopong Ibunya ke lantai bawah terburu-buru.
Kemudian dengan langkah yang ingin menyusul Abdi, Aqila menoleh dan membuang pandangan tajam terlebih dulu ke arah Naura. Seolah di benak dirinya menuduh Naura menjadi pelaku utama atas apa yang saat ini sedang terjadi.
Naura membalas tatapan itu dengan tajam. "Kenapa Lo natap gue begitu? Nggak sopan!" Naura memutar laju rodanya dengan cepat dan mendahului langkah jalan Aqila.
Naura terkekeh. "Baru segini saja Aku puasnya bukan main, apa lagi dengan hal yang lebih menarik."
*****
"Dok tolong ... Dok, tolong Ibu saya dok dia sudah sangat lemas," suara Abdi yang tersengal-sengal menemui Dokter jaga di UGD.
Dokter itu hanya tersenyum menyambut ke datangan Abdi berusaha tenang. "Iya ... Pak, Ibu bapak sudah di tindak oleh para perawat. Jika boleh tau sudah berapa jam Ibu bapak tertusuk paku, Pak? Karena ini darahnya sudah mulai mengering di dalam, seharusnya dibawa langsung saat kejadian. Jadi tidak meningkatkan resiko kekurangan darah dan tingginya infeksi luka," ucap Dokter itu panjang.
Abdi hanya menggeleng, dirinya tidak tahu apa yang harus ia jawab. Sedangkan dirinya baru saja pulang ke rumah.
Tetapi, mengapa tadi ibu bilang Nauralah yang membuatnya tertusuk paku?
Pikiran Abdi melayang aneh. "Apa Ibu sengaja ingin Naura dipojokkan dan akhirnya Aku menceraikan Naura? Apa Ibu senekat dan sejahat itu?"
****
"Pak, Buk, apa kalian tahu aku sangat merindukan kalian di setiap hariku?"
Dulu hari-hari Naura dihabiskan dengan belajar, nongkrong bersama teman dan kegiatan di luar lainnya.
Itu semualah yang menjadi penyesalan seumur hidupnya.
Seandainya waktu bisa diputar kembali, Naura sangat ingin menghabiskan waktunya bersama keluarganya.
Beberapa tahun ini banyak sudah Naura lewati hanya untuk mengobati rasa yang dulu pernah ada dalam hidup, rasa trauma karena kecelakan hebat menimpa keluarganya. Tidak ada satu pun keluarganya yang selamat, hanyalah ia seorang diri yang mengalami kecelakaan ringan. Tetapi apa mereka tahu ringannya di luar belum tentu di dalam ingatannya dapat terobati.
Naura menjadi saksi bisu keluarganya mengerang kesakitan, dalam kobaran bara api yang sesaat meledak setelah dirinya terlempar keluar dari dalam mobil. Karena untungnya Naura lupa saat itu memakai seat belt.
Masih teringat jelas jemari adiknya yang meronta di kaca mobil, meminta tolong! Namun terabaikan dan akhirnya meninggal dalam kesengsaraan.
Saat itu Naura ingin berlari kencang menolong seluruh anggota keluarganya. Tetapi, kerumunan warga menghentikan tubuhnya.
Namun, mereka pun tidak ada yang bisa menolong keluarga Naura, hanya menonton! Merekam dengan ponsel mereka! Seolah keluarganya adalah tontonan gratis yang layak mereka pertontonkan.
Dan nahas nya lagi pelaku tabrak lari itu tidak pernah di temukan sampai saat ini oleh polisi ....
Naura masih teringat jelas di dalam memori card kepalanya, pria muda yang ditumpangi dengan pelaku itu sempat menoleh ke belakang. Melihat Naura kemudian mobil itu melaju sangat kencang.
Kini Naura meringkuk dengan tangisan deras membasahi tubuhnya, Trauma yang sangat dalam ntah sampai kapan bisa terobati. Dirinya mencoba untuk membenamkan diri ke bantal dan perlahan tertidur dengan kesakit hatian.
Ibu datang melalui mimpi Naura, memeluknya dengan erat di penuhi awan putih. Dan berbisik ke telinga kanan Naura. "Nak ... relakanlah Ibu, Bapak dan Kami semua. Agar Kami tenang memulai kehidupan baru kami disini." Jemari Ibu mulai merenggang dari tubuh Naura, kemudian hilang di tutupi kabut awan.
Naura saat ini semakin menangis tersengal-sengal dan akhirnya terbangun dari tidurnya.
"Apa sebenarnya isyarat dari mimpi itu?"
"Apa Ibu benar-benar melihatku dari kejauhan?"
"Tuhan ...."
Terdengar langkah kaki dari arah balik pintu kamar Naura, kemudian perlahan masuk dari balik pintu. Suaminya mendekati Naura memegang lembut bahunya, saat ini tetesan air mata terjatuh dari bola mata pria tampan itu.
Naura dengan cepat membalikkan tubuhnya, "Kau kenapa, Mas?" Naura menatap heran suaminya.
"Mas mencintaimu ... Nau, sungguh!" Mas Abdi kini meletakkan kepalanya di genggaman jemarinya.
"Jangan pernah mengatakan apa pun lagi, Mas ...," jawab Naura enteng.
"Nau, Mas benar sangat mencintaimu. Sampai kapan pun," ucap Abdi sangat pelan.
"Cinta? Tanya dengan hatimu ... Mas, saat ini kau masih menjadi suamiku karna cinta atau karna ke egoisanmu semata?" Naura berdecak keras menatap suaminya.
Abdi menelan ludah dengan kasar, terdiam membatu tidak mampu lagi untuk berbicara apapun saat ini.
Benar yang dikatakan Naura, dirinya hanyalah memikirkan egonya sendiri saat ini. Abdi beranjak bangun dari duduknya melangkah dengan fikiran yang hampa.
Perasaannya kini dipenuhi dengan ke dua wanita yang penting bagi dirinya. Abdi sama sekali tidak ingin kehilangan siapapun di dalam dirinya termasuk Naura dan Aqila.
Apa lagi Naura meski dirinya tidak lagi sempurna, tetapi ... Naura tetaplah yang no satu di hidupnya. Tidak ada yang bisa menggantikan itu.
Abdi menoleh ke belakang melihat istrinya yang dulu ia puja-puja. Kini meringkuk dengan tubuh yang kurus tidak terlihat menarik sama sekali.
Kemudian Abdi melanjutkan langkahnya dengan perlahan, dirinya mendapati wanita yang memakai dress coklat pendek. Dengan tubuh berisi dan rambut coklat terurai! Yah itu Aqila selalu saja membuat kaum pria mana pun akan mabuk kepayang di buatnya.
Abdi menghampiri Aqila yang sedari tadi duduk berdua menemani Ibu Abdi, yang sebentar lagi wanita tua itu akan menjadi mertuanya. "Buk ... apa nggak sebaiknya Ibuk istirahat?" ucap Abdi dengan perlahan mengambil posisi duduk mendekati mereka.
"Ah Ibuk, lagi seru ngobrol dengan calon menantu Ibu. Akhirnya Ibuk merasakan adanya calon menantu."
"Buk, ibuk kan lagi sakit. Seharusnya memang istirahat," titah Aqila
"Okelah ... Nak, kalau kamu yang ngomong Ibuk mau ... kamu memang menantu kesayangan Ibuk."
Aqila memegang lengan calon mertuanya itu dengan lembut, senyuman lebar yang terpancar dari bibirnya.
Senyuman kemenangan mungkin? Menang telah lebih unggul dibandingkan Naura menantunya sendiri.
Ntahlah ... senyuman itu tidak jelas tergambarkan dari bibir Aqila, yang jelas saat ini Aqila menikmati dirinya sebagai calon madu yang diharapkan oleh calon mertuanya.