Wanita Penghibur untuk Suamiku

Kecemburuan

Terdengar hentakan langkah kasar menuju ke arah Naura, seketika Naura menutupi dirinya dengan selimut. 

 
"Nau, mas cuma mau nanya ... apa benar kamu yang udah ngebakar rambut Naura semalam?" tanya pria kesayangannya itu.
 
Naura hanya menatap Abdi dengan wajah yang memelas dan iba, "Bagaimana caranya, Mas? Gimana caranya aku ngebakar rambut Aqila dengan keadaan diriku yang seperti ini?" sanggahnya.
 
Abdi menutup wajah dengan kedua tangannya, menghela napas ... hidupnya kini seperti angin yang bertiup kencang. Terombang ambing tak jelas arah akan berhenti. 
 
Berantakan dan hancur berkeping keping.
 
"Apa Naura tahu? Bahwa gosip perselingkuhanku sudah sampai ke antero Negeri. Seorang CEO AKLI grup tidak ada lagi harga dirinya di mata semua orang yang mengenalnya."
 
"Jangan berkilah Naura! Jelas sudah kau membenciku kan? Jadi siapa lagi kalau bukan kamu?" teriak Aqila yang membuat kaget pria di hadapannya itu.
 
Naura menatapnya dengan tegas. "Aku katamu? Bagaimana bisa, jadi aku? Sedangkan kalian pulang saja dan dari mana aja, aku nggak tau. Terus sekarang kamu nyalahin aku?" Naura menggeleng sembari meremas dadanya, berlaga seperti tidak tahu apa-apa.
 
"Kamu keterlaluan ... Qil, Mas nggak nyangka. Kamu bisa ngebentak istriku, sebegitunya," ujar Abdi dengan cepat memeluk istrinya, agar pikirnya Naura bisa menenangkan diri sejenak.
 
Naura hanya diam tergugu. Menikmati pelukan dari sang suami, meski dengan hati yang tidak merasakan apa pun lagi. Ia memutar kedua bola matanya ke arah wanita yang kini terduduk di ujung sofa, dengan kaki yang terangkat satu dan isapan rokok di tangannya. Naura melempar senyuman sinis ke arahnya. 
 
'Hanya dengan kehilangan rambut saja, kau bisa sehancur ini?' Naura terkekeh dari dalam hati.
 
"Lihatlah Aqila betapa lemahnya dirimu?"
 
"Kau hanya menggunakan tubuhmu untuk menarik para lelaki, tetapi kau lupa di saat sudah menikah. Para lelaki itu akan bosan dengan kau sodorkan tubuhmu terus menerus. Mereka juga membutuhkan otak wanita, untuk menjadikan partner kerja dan tumpuan hidupnya," batin Naura mencerca tiada henti. 
 
Abdi mendorong tubuh Naura dengan perlahan dan beranjak meninggalkan Naura. Melangkah pelan sembari menoleh ke belakang, memperhatikan Naura dengan sangat lembut.
 
Degh! 
 
Tatapan itu ....
 
Lagi-lagi Naura teringat tatapan dengan wajah datar itu, tatapan yang dulu pernah ia dapati sebelum Abdi mengenalnya.
 
Naura hanya mengalihkan wajahnya ke arah lain, agar Abdi tidak terus membuatnya semakin canggung.
 
Dengan lari sedikit terbirit-birit itu Aqila menyusul Abdi, sesampai nya di depan pintu Aqila sontak terhenti dengan cepat. Ia baru mengingat bahwa saat ini tubuhnya hanya di baluti dengan handuk berwarna putih bersih tanpa apa pun lagi.
 
Naura yang melihat tingkah laku Aqila saat ini seperti orang bodoh, hanya tertawa cekikikan dengan nada yang sedikit mengejek. 
 
Mendengar suara tawa dari mulut Naura, membuat Aqila tidak terima dan kehilangan akal. Segera ia mengambil pisau di meja sebelah tempat tidur Naura. 
 
Dengan mata pisau yang mengarah ke tubuh Naura, Aqila berjalan perlahan dan sangat lambat. "Aku hanya ingin kau mengaku Naura!" Aqila mendesis.
 
Naura dengan santainya menghadapi situasi saat ini. "Jika ingin mengancam, kau salah orang. Aku adalah orang yang tidak pernah takut akan kematian," jawab Naura tidak peduli.
 
Langkah kaki itu semakin dekat menghampiri Naura, "Kau menyembunyikan sesuatu? Jangan berpura-pura tergeletak bagaikan sampah yang tidak berguna. Larilah! Saat aku masih memberimu kesempatan," ucap Aqila sembari memberi goresan pisau ke dada Naura, Naura hanya membalas tatapan Aqila dengan tajam. 
 
Tanpa merintih atau mengerang kesakitan, Naura hanya mencoba untuk memperkuatkan dirinya. Karena Naura tahu asisten pribadinya yang kemarin tidak jadi menemui Naura, telah mengirimi pesan sekitar 2 menit yang lalu. Ia mengatakan bahwa dirinya telah sampai di depan kediaman ibu Naura dan Naura memperkirakan asisten itu kini tengah menaiki tangga ke arah kamarnya.
 
 
"Aaaaaaaaaaaaaaakkkk ...."
 
Perhitungan Naura sangat benar! Asisten itu berteriak sekencang mungkin. Saat dirinya baru saja membuka pintu dan mendapati Aqila yang tengah sibuk mengancam Naura dengan sebilah pisau di atasnya.
 
"Pak Abdi! Pak! Tolong, Pak!" teriak wanita paruh baya memakai seragam perawat serba putih-putih.
 
Aqila dengan cepat melemparkann pisaunya ke lantai, kini ia mengangkat kedua tangannya. "Aku tidak melakukan apapun. Sungguh!" ucapnya dengan gugup pada Abdi.
 
"Apa salah Naura padamu? Kau masih dendam dengan dirinya yang tidak terbukti apapun!" teriak Abdi kencang.
 
"Aku sangat benci dirinya! Aku tahu pasti dia yang menjebakku," umpat Aqila putus asa.
 
Abdi menatap dada Naura berdarah karena goresan pisau yang di buat oleh Aqila. 
 
"Apa ini? Lihat lah ... Qil, Kau baru saja ingin membunuh istriku!" tanyanya sambil membersihkan tetesan darah di tubuh istrinya.
 
"Mas aku mohon, percaya padaku." Aqila bergelayut di lengan Abdi dengan tangisan yang tersengal-sengal.
 
"Aku lebih dulu mengenal istriku dari pada kamu ... jadi bagaimana aku bisa lebih mempercayaimu. Sedangkan istriku pun terluka karna ulahmu!" ucap Abdi datar lalu menepiskan pegangan tangan Aqila.
 
Saat ini hati Naura benar-benar puas! Baru kali ini dirinya merasakan kemenangan yang begitu membuat dirinya amat sangat bahagia.
 
"Sakit, Mas ... perihh," rintih Naura sangat manja.
 
"Mas obatin ya, Sayang." 
 
"Mbak bisa ambilkan obat merah, di kotak p3k di samping pintu kamar ini," titah Abdi.
 
Asisten itu hanya membungkuk dan melangkah pergi mengambil obat merah yang diperintahkan oleh tuannya.
 
Aqila yang menyaksikan sepasang suami istri ini akur kembali di depan matanya, rasanya sangat geram! Ingin sekali kedua tangan nya itu menjambak rambut Naura dan membakarnya, sekaligus memotong tubuh Naura berkeping-keping agar tidak menjadi penggangu lagi untuk hubungannya dengan mas Abdi. 
 
Perasaan Aqila semakin menjadi setelah Abdi mencoba untuk mencumbu istrinya, ia memutar bola matanya dengan malas. Menyaksikan sepasang suami istri itu bermesraan sedari tadi, rasanya ... membuat isi perut Aqila bergejolak ingin keluar. Dengan hentakan kasar berirama ia melangkah dengan cepat ke luar pintu.
 
"Lah ... kok ya ngamok," celetuk asisten pribadi Naura yang tengah duduk setelah mengambil obat merah tadi ia langsung terburu-buru keluar, karena enggan mengganggu majikannya.
 
"Ape lu? Berani dengan gue?" Aqila melotot pada wanita paruh baya di depannya.
 
"Ya nggak toh, Mbak. Wong aku ini hanya seorang asisten yang ditugaskan membantu nyonya Naura. Mana berani dengan mbak yang baru saja mau ngebunuh majikanku," ucap asisten itu dengan polos.
 
"Jangan pernah ikut campur dengan urusanku!" bentak Aqila.
 
"Hiiiihhh ngeri neee," sahut asisten itu dengan bahu yang bergidik ngeri.
 
"Aaaaak!"
 
Aqila mengerang dengan mengacakkan rambutnya seperti orang gila. Kemudian terduduk dengan kesal di lantai. 
 
"Dasar kacung sama majikan, sama sama nyebelin! Kenapa nggak mati aja sih! Gue jijik banget ngeliatnya." umpat Aqila.
 
"Maaf, Mbak ... mau ganti baju? Itu handuknya mau melorot ntar gundukannya jatoh looooh."
 
"Apasih lu bisa diem nggak!" bentak Aqila sambil melotot.
 
Asisten itu berdelit kaget, niat hati ingin menolongi malah dibentak dengan keras. "Dasar nenek lampir." kini ia mendengus pelan.

 

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!