Wanita Penghibur untuk Suamiku

Aqila Sekarat

"Nau ada apa ini?" tanya Abdi dengan bola mata yang membulat yang baru saja datang menemui mereka.

 
Naura melepaskan pelukan Berlin dan beranjak dari duduknya, "Lihatlah rekaman video ini ... Mas." 
 
Dengan perasaan tegang, Naura memberi rekaman itu pada Abdi.
 
"Astaghfirullah!" teriak Abdi tatapan berubah sangat marah ia meremas ponsel di genggamannya.
 
"Cepat bersihkan Berlin ... Nau! Setelah itu kita segera ke Rumah Sakit, untuk memeriksakan kesehatannya," titah Abdi.
 
Naura hanya mengangguk cepat, penuh hati-hati Naura membersihkan tubuh Adik iparnya itu. Tidak jarang Berlin merintih kesakitan, jika Naura dengan tidak sengaja menyentuh luka memar di tubuhnya.
 
Luka memar itu bagaikan warna dari tubuh asli Berlin, bagaimana tidak. Warna tubuh asli Berlin kalah menonjol dengan luka memar di tubuhya. 
 
Dengan sifat Naura yang lembut ia tidak bisa menahan air matanya, melihat Adik dari suaminya diperlakukan bagaikan hewan buas yang menerkam majikannya sendiri.
 
Ntah harus kata-kata apa lagi yang ingin Naura ucapkan, seolah itu semua tiada arti. Mungkinkah ini balasan dari Sang Ilahi atas kematian keluarganya? Jika itu benar, ia sudah sangat memaafkan semua kesalahan mereka.
 
Melihat semua ini ... Naura memposisikan dirinya sebagai Abdi, kakak mana yang tidak hancur hatinya melihat Adik kandungnya sendiri seperti ini. Apa lagi dengan kerinduan yang dulu tidak bisa tersampaikan olehnya, karena larangan dari ibu tiri mereka.
 
Memang benar kata pepatah kerinduan yang sangat sakit adalah, saat rindu itu hanya bisa diucapkan oleh Alfatihah. 
 
Namun, saat ini pepatah itu tidak berlaku bagi suaminya, kerinduan itu sangat menyakitkan saat seseorang yang kita rindukan sangat ada di dekat kita, tetapi rindu itu tidak bisa diucapkan dan malah bertemu dengan keadaan yang sangat menyedihkan.
 
Naura memeluk Berlin erat, "Lin, sekarang Mbak adalah Mbak Berlin juga. Jangan takut ya ...," ucap Naura sangat lembut.
 
Kemudian terburu-buru Naura memanggil Abdi untuk membopong Berlin ke kamar utama. sesaat Berlin di bopong Abdi dan dengan cepat Abdi merebahkan Adiknya di atas kasur. Terlihat tetesan air mata jatuh dari pelupuk mata Berlin. "Terimakasih ... Bang, Mbak. Aku sudah sangat lupa rasanya tidur di atas kasur yang empuk," ucap Berlin yang baru saja merebahkan tubuhnya di atas ranjang, hal itu membuat Abdi menangis untuk kesekian kalinya.
 
"Abang akan belikan kasur yang sangat empuk untuk Adek, Abang." Air mata berlinang deras sembari Abdi menggenggam tangan Berlin.
 
"Mbak juga akan belikan baju yang sangat indah! Untuk Adek kesayangan Mbak ini!" ucap Naura yang tengah sibuk merapihkan rambut Berlin yang di gunting acak oleh Abdi.
 
"Terima kasih ... Mbak, aku sangat beruntung mempunyai kakak ipar sebaik mbak Naura," sahut Berlin meremas jemari Naura.
 
Naura memberi mewangian, handbody dan seluruh perawatan tubuh untuk Berlin. Tidak lupa Naura pun menghiasi wajah Berlin dengan sangat cantik. Sampai Berlin pun tiada hentinya menatap wajahnya di depan cermin dengan sangat puas.
 
"Taraaaa! Sudah jadi ratu kecantikan kita, yuk kita berangkat!" imbuh Naura dengan ke dua tangan yang menjulur ke depan mengarah pada Berlin.
 
Dengan tepuk tangan meriah Abdi menjawabnya. "Adik abang memang selalu cantik!" ucap Abdi.
 
Kini Berlin sudah sangat wangi memakai dress berwarna kuning bunga-bunga selutut, hasil dari Naura mengacak lemari Mbak Nengsi. Berlin terlihat sangat cantik, tidak ada yang menyangka bahwa dirinya baru saja menjalani hukuman pasung bertahun-tahun lamanya. Mungkin hanya luka memar itu saja yang tidak bisa dihilangkan.
 
Abdi hendak membopong Berlin ke mobil, tetapi tiba-tiba muncul ntah dari mana. Ibu tiri Abdi mencegah mereka! Dengan tarikan yang kuat Ibu menarik Berlin dari lengan Abdi. 
 
"Dia ini sakit jiwa, Di! Ingin kau bawa kemana Adikmu!" Ibu membentak Abdi dengan nada yang sangat kuat. 
 
"Ibu yang sakit jiwa! Jangan berlaga bodoh, Bu! Aku bisa kapan saja mengusir kalian dari sini. Saat ini semua harta yang ibu miliki adalah hasil dari keringatku! Bukan lagi dari suamimu!" Abdi berbicara dengan tangan yang menunjuk ke arah wajah Ibunya.
 
Ibu Abdi hanya berdiam membatu, bak petir di siang bolong bentakan itu tidak pernah ia dengar dari anak tiri kesayangannya itu.
 
"Kau sudah berani melawanku rupanya," ucap Ibu tersenyum sinis sembari memperhatikan mereka melangkah dengan bersamaan masuk ke dalam mobil. Ia meremas tangannya kuat dan melangkah masuk ke dalam rumah. 
 
****
 
Drrrtttt ....
 
Drrrrttt ... 
 
"Bram menelponku, Mas," ujar Naura sembari menunjukkan layar ponsel ke suaminya.
 
"Ya angkat loh, Nau." 
 
"Oke," jawab Naura singkat.
 
Naura mengangkat telpon itu dan dengan hati-hati, berharap kali ini Bram tidak membahas tentang kehamilan Naura. 
 
"Halo Bram." 
 
"Nau, kalian di mana? Ini aku sedang di ruangan ICU. Wanita penghibur suamimu baru saja dipindahkan ke ruangan ICU, keadaannya sekarang sekarat, Nau!" suara Bram, di sebrang sana terdengar sangat terasa paniknya.
 
Tiba-tiba ponsel itu direbut oleh Abdi. "Lakukan saja semampumu ... Bram, jika nyawanya tidak selamat. Aku siap membiayai semua biaya pemakamannya," ucap Abdi datar tanpa perasaan sama sekali. 
 
Tut! 
 
Panggilan itu di putus oleh Abdi ia kini meringis dengan senyuman picik, tatapannya mengarah kosong ke depan dengan bibir yang mencebik.
 
"Mas ... kita lagi di jalan loh. kamu maunya gimana, Mas? Dulu bukannya Mas ingin menikahinya. Sekarang, sudah jelas itu anakmu. Mengapa seolah mas mengabaikan?" imbuh Naura sangat pelan.
 
"Mas ingin membahagiakanmu ... Nau, mas ingin kita hidup bahagia tanpa ada orang tambahan lagi di pernikahan kita. Nau ngerti kan?" 
 
Mendengar jawaban itu, Naura dengan perlahan menunduk. Ntah apa lagi yang harus ia lakukan? Sebenarnya jauh dari lubuk hatinya. Ia sangat menginginkan rumah tangga yang utuh. 
 
Namun janin itu? Naura sangat menginginkannya, Naura ingin memeluk Anak benih dari suaminya itu.
 
"Aku pun nggak mau mbak, mas Abdi menikah lagi," celetuk Berlin.
 
Dengan bersamaan Abdi dan Naura menoleh ke belakang, mereka terperangah mendengar Berlin yang masih nyambung atas pembicaraan mereka.
 
Naura menatap Abdi, "kau tau mas, maksutku?" ucap Naura dengan menaikkan alis sebelahnya. 
 
"Sudah mas duga ... Nau, Berlin memang tidak gila!" Abdi meremas jemarinya kuat. Di hatinya kini sangat dipenuhi dendam.
 
Naura mengamati jari Abdi yang di genggam olehnya dengan kuat. Naura yakin, saat ini di dada suaminya penuh dengan rencana-rencana yang menggebu tiada henti.
 
Bip ....
 
Bip ....
 
Abdi memarkirkan mobilnya dan segera membopong Berlin ke Ruang UGD, Abdi meletakkan Berlin ke ranjang pasien. "Dek, kamu tunggu di sini sebentar ya, mas akan mengurusi data-datamu terlebih dulu. Dan mbak Naura ada urusan sebentar," ucap Abdi yang melangkah pergi dengan menggandeng lengan Naura.
 
"Abdi!" panggil Bram dengan melambaikan tangannya.
 
Abdi dan Naura menoleh ke arahnya, menemui Bram dengan langkah Abdi yang sok dibuat keren olehnya. 
 
"Kenapa?" sahut Abdi singkat.
 
"Aku ingin kau menemui wanita itu, sedari tadi manggilin namamu tuh!" sahut Bram mendengus.
 
"Siapa? Aqila maksutmu. Lah bukannya nggak boleh masuk ya?"
 
"Ini perintah dokter!" ucap Bram datar sembari memberi Abdi baju steril.
 
Abdi dan Naura memakai pakaian itu dan melangkah bersama masuk ke ruangan ICU. 
 
"Qil, ini Naura ...," bisik Naura di telinganya.
 
Dengan perlahan Aqila membuka pelopak matanya, mencari keberadaan wajah Abdi yang berada di belakang tubuh Naura. "Mas kau jahat ... aku mengandung anakmu, tapi kau malah memperlakukanku dengan sangat keji," ujar Aqila lemah tetesan air mata mengalir dari sana.

 

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!