Wanita Penghibur untuk Suamiku

Aku Masih Sanggup

Abdi berlari keruangan dokter dengan perasaan yang sulit untuk dijelaskan, sesampainya di dalam ruangan, Abdi yang emosinya masih tersulut menunjuk ke arah dokter spesialis Naura. "Kau apakan istriku? Bukannya sebelum operasi istriku baik-baik saja? Tapi sekarang Istriku tak bisa menggerakkan kakinya!" suara Abdi keras penuh tekanan.

 

Dokter pun akhirnya menjelaskan bahwa ia lupa memberitahu mereka efek samping saat sesudah melakukan tindakan operasi. Karena waktu itu keadaan Naura memburuk dan histeris setelah mendengar diagnosa penyakitnya.
 
Seketika Abdi tersungkur duduk di lantai, apa yang harus ia katakan pada Naura? Sedangkan untuk tindakan operasi ini, dirinyalah yang membujuk Naura untuk menyetujuinya. Berharap kesembuhan dengan sedikit usaha.
 
Namun kini? Naura lumpuh? Abdi meneteskan air matanya. "Dok, apa istriku bisa sembuh?" tanya Abdi  nanar, dokter membangunkan tubuhnya menepuk-nepuk bahu Abdi. "Sabar Pak, fisik Naura kuat! Saya yakin tak butuh waktu lama Naura akan sembuh dalam waktu lebih cepat!" Abdi hanya menunduk, mundur dan melangkah pergi. 
 
Pintu kamar Naura sudah di depan mata, Abdi perlahan masuk. Dengan air mata yang menetes. "Maafkan Mas, Nau. Mas yang memaksamu untuk operasi kan? Dan kata dokter kau lumpuh sementara karna efek operasi ini." Abdi menangis menggengam tangan Naura, perasaan bersalah semakin bergemuruh di dadanya. 
 
Naura hanya mengelus rambut suaminya itu, Naura tahu jika ia menangis semakin membuat suaminya merasakan perasaan bersalah. "Kenapa Mas menangis? Bukannya Mas tak masalah kan dengan bagaimana diriku? Katanya yang terpenting Aku ada bersama Mas." Naura mencoba menenangkan hati suaminya.
 
Abdi tetap menangis seraya menggenggam jari jemari Naura. "Mas sangat mencintaimu, Nau." Di kecupnya wanita yang kini terbaring lemah lengkap menggunakan baju Pasien berwarna biru, tetapi ... tetap seperti biasa Naura masih saja terlihat Cantik.
 
****
 
2 hari berlalu ....
 
"Ibuk Naura, Buk ... hari ini sudah boleh pulang ya. Bilang suaminya agar segera melakukan berkas pemulangan untuk Ibuk," ucap salah satu suster dan berlalu pergi.
 
Naura segera mengambil gawai di ponselnya dan tak sengaja gawai itu terjatuh ke lantai. Ia menghela napasnya berat kemudian berusaha mengambil.
 
Naura terjatuh.
 
Bragh!!!
 
"Argh!" Naura mengerang kesakitan ....
 
"Astaghfirullah, Buk. Ibu nggak apa-apa?" tanya dokter yang baru saja masuk ingin melakukan visit ke pulangan.
 
Degh! 
 
Naura tak berani menoleh ke atas, suara itu ia kenal. Suara mantan pacarnya Bram yang dulu Naura tinggalkan begitu saja, saat kematian keluarganya.
 
Naura tak bermaksut untuk menjauhi Bram, perasaan tak pantaslah yang membuat Naura pergi untuk kebahagiaan Bram.
 
Bram membantunya, memegang lengan Naura dan menidurkan Naura ke atas ranjang. Saat ini Naura berusaha menyembunyikan wajahnya. Tetapi sepertinya Naura kurang pintar, ia tetap saja ketahuan. "N-Naura!" panggil Bram, mulutnya ternganga bola matanya membulat seketika. 
 
Sontak ia langsung memegang wajah Naura.
 
"Bram," sahut Naura pelan, kini Bram memeluk Naura  erat. 
 
Argh! Naura mengerang kesakitan lalu Bram membaca map biru di tangannya, setelah itu mata Bram berubah menjadi Nanar. 
 
"Nau-ra ...." Bram terbata-bata, belum sempat Bram melanjutkan pembicaraan-nya. Abdi tiba-tiba masuk.
 
"Siang, Dok. Bagaimana keadaan istri saya?" tanya Abdi yang baru saja datang, mengejutkan ke duanya.
 
"Istri?" sahut Bram tak percaya.
 
"Iya, ini istri saya." Abdi mengrenyit.
 
"Ouhhhh." Bram berusaha menyadarkan dirinya, "Pak ini istri anda sudah diperbolehkan pulang, jangan lupa berkas-berkasnya diurus secepatnya ya, Pak." Bram mengatakan dengan gugup, lalu memeriksa jahitan Naura. 
 
"Cepat sehat ya, Buk," ucap Bram mengusap rambut Naura dan berlalu pergi.
 
Abdi yang melihat kejadian itu, memutarkan bola matanya ke arah pintu. Lalu menggerutu "Apaan sih dokter itu ngelus-ngelus rambut Kamu!" 
 
Hush huss ... tiup Abdi ke arah rambut Naura, katanya agar bekas dan bau tangan si dokter tidak menempel di rambut Naura! Naura hanya cekikikan melihat tingkah laku suaminya.
 
"Udah ih, urusin berkasku, Mas. Aku pengen pulang." Rengek Naura.
 
"Iya Sayang sabar ya ...." 
 
Abdi bergegas keluar, mengurus semua berkas yang harus di tanda tangani. Selesainya Abdi bersiap-siap membawa Naura pulang ke rumah.
 
****
 
Sesampainya di rumah, Naura digendong oleh Abdi ke lantai 2 kamar mereka. "Mas, aku berat ya?" tanya Naura pada suaminya yang sedang menaiki tangga, sambil membopong Naura. 
 
"Nggak Sayangkuh." 
 
Setibanya di dalam kamar, Naura dibaringkan lalu Abdi mencium bibir Naura. "Aku kangen, setiap melihatmu di atas ranjang kita, kamu terlihat seksi, Nau ...," bisik Abdi yang memakai jaket hitam kaos putih dan selalu wangi. 
 
"Ah masa?" Naura tersipu malu.
 
"Iya ... Sayang, kamu udah baikan? Mas kangen ...," desis Abdi pelan ke telinga kanan Naura, hembusan napas suaminya kini terasa panas. Naura yang merasa tubuhnya telah kembali pulih hanya mengangguk.
 
Abdi yang mendapat respon lampu hijau, segera melakukan adegan bak film vampir. Saat ini tak ada lagi yang lebih penting, selain kehadiran satu sama lainnya.
 
"Aku mencintaimu, Nau ... sungguh mencintaimu," bisik Abdi dengan keringat yang berjatuhan di atas tubuh Naura.
 
****
 
3 bulan berlalu
 
Tubuh Naura semakin ringkih, tak berdaya sama sekali, sehari-hari hanyalah Abdi yang membantunya mandi, makan, buang air kecil, buang air besar. Semuanya Abdi yang membantunya.
 
Bukan Abdi tak sanggup menyewakan asisten pribadi untuk Naura, tetapi Abdi tak ingin ruang pribadi miliknya tersentuh oleh orang lain.
 
Begitulah Abdi terlalu sangat mencintai Naura. Ia tahu hidup Naura bisa kapan saja terhenti dan itulah alasan utama Abdi ingin selalu di samping Naura di setiap menitnya.
 
Tetapi ... itu dulu sebelum semuanya berubah! Yah semua ini memang salah Naura! Naura lah yang menyebabkan suaminya, menjadi seorang laki-laki yang brengsek! Bejat dan mungkin juga bisa dikatakan Abdi telah berselingkuh! Menghianati Naura dan mengingkari semua janjinya!
 
Saat itu Naura mendengar suara rintihan dari dalam kamar mandi mereka, suara itu sangat pelan hampir tak terdengar.
 
Lalu, Naura mendengarkan dengan baik, benar  saja suara itu berasal dari suaminya.
 
Hatinya pedih! Naura merasa sama sekali tak berguna menjadi seorang istri. Hanya untuk melayani suaminya pun dirinya tak mampu! Air matanya menetes tertahan, kini Abdi akan keluar dari balik pintu. Naura langsung berpura-pura tidur kembali.
 
Cupp!
 
Kening Naura dikecup oleh Abdi dan berkata. "Nau, Aku sangat mencintaimu." Lalu Naura berpura-pura baru bangun dari tidurnya.
 
Naura melihat ke arah Abdi, kali ini Naura menatap dengan sangat dalam. Tatapan itu membuat Abdi bertanya. "Nau ... kamu kenapa? Ingin sesuatu?" 
 
Naura menggeleng.
 
"A-aku ingin me ... menyewakan wanita penghibur untukmu, Mas." Naura terbata-bata sedangkan Abdi terkejut mendengarnya.
 
"Hah! Kau gila, Nau? Jelas sudah Mas nggak mau,  Nau!" bentak Abdi, baru kali ini Abdi membentak istrinya. 
 
 Naura menangis, Naura merasa sudah benar-benar hanya menjadi beban suaminya. 
 
"Maaf, Nau. Mas nggak bermaksut marah. Mas hanya ingin Nau tau kalo itu nggak mungkin!"
 
"A-aku mohon, Mas ... anggap saja itu A-aku," ucap Naura memohon.
 
Abdi tak menjawab apa pun, Abdi keluar meninggalkan Naura. Abdi mengira bahwa Naura hanyalah berbasa-basi saja dan nanti juga akan reda dengan sendirinya.
 
Beberapa jam setelah Abdi kembali ke kamar, Naura tetap menangis. "Gi-gimana Mas? Sudah dapet wanitanya? Biar aku lega!" Rengek Naura.
 
Abdi tak menjawab, Abdi hanya tak habis fikir dengan fikiran Naura sampai ingin menyewakan dirinya seorang wanita penghibur? Untuk apa? Untuk memuaskan dirinya? Atau untuk menemaninya dirinya di rumah ini? Abdi pun tak tahu.
 
Memang beberapa akhir ini dirinya merasa begitu kesepian, tetapi itu semua ia tepis dengan hanya melihat istrinya bersih, sehat pun Abdi bahagia.
 
"Oke, Nau. Maksutmu bagaimana?" tanya Abdi
 
"Aku ingin menyewakanmu wanita penghibur, Mas. menemanimu sebagai penggantiku. Anggap saja itu hadiah dariku dan anggap saja dia itu aku!" jelas Naura lemah.
 
Abdi terenyuh mendengar alasan Naura, dengan keadaan seperti ini saja ia tetap memikirkan suaminya. 
 
"Kalo Mas nolak?" 
 
"A-aku sedih. Karna tak bisa menemanimu jika ada dia, Aku senang karna ada penggantiku." 
 
Naura berfikir inilah jalan satu-satunya, dari pada mencari istri lagi? Lebih baik hanya menyewa wanita sebentar saja, setidaknya sampai dirinya kembali pulih, semua itu Naura lakukan agar suaminya tak merasa kesepian lagi. 
 
"Oke, tapi Nau yang milih ya." Abdi mengiyakan.
 
Degh! 
 
Tiba-tiba hati Naura perih, sangat perih mendengar Abdi mengiyakan permintaannya itu. Aneh? Bukankah dirinyalah yang meminta suaminya menyewakan wanita penghibur sebagai pengganti dirinya.
 
Namun, saat Abdi mengiyakan, mengapa hati Naura terasa amat sakit?
 
"Huu-uhhh," Naura menghembuskan napas lalu menggeleng. "Mas aja yang milih. Sekarang ya," sahut Naura. 
 
"Oke," Abdi mengambil jaket dan bergegas keluar.
Air mata Naura menetes, apa keputusan-nya salah? Mengapa dirinya sesedih ini? Rasanya perasaan Naura sangat hancur menerima suaminya sebentar lagi bukan hanya miliknya, tetapi juga milik orang lain. 
 
"Oke ... tenang, tenang Naura ... ini hanya sementara." Naura menenangkan dirinya.
 
Berjam-jam lamanya akhirnya Abdi kembali, membawa wanita cantik, seksi dan juga bertubuh molek.
 
"Mas Abdi memang pandai jika harus memilah milih wanita," celetuk Naura di dalam hati.
 
"Kenalin ini istriku." 
 
Mas Abdi mengenalkanku pada wanita penghibur pilihannya, wanita itu berjalan ke arah Naura.
 
Dia benar-benar memancarkan aura memikat. Rambut panjangnya tergerai hingga pinggul, berkilau lembut di bawah sinar lampu, Mata almondnya yang besar dihiasi bulu mata lentik yang bergetar setiap kali ia mengerjap. 
 
Bibirnya merah merekah, seperti mawar segar yang mengundang. Tubuhnya yang ramping terlihat sempurna dibalut rok hitam ketat yang berhenti hanya sejari di atas pinggang, memperlihatkan lekuk pinggulnya yang menggoda. 
 
Bahunya yang jenjang dan kulitnya yang mulus seperti porselen melengkapi pesona tak tertolak.
 
Tiap gerakannya bagaikan irama halus yang memikat pandangan siapa saja.
 
 
 
"Salam kenal, Mbak. Namaku ... Aqila,"  sapanya dan Naura hanya tersenyum.
 
"Mas, tinggal dulu ya, Sayang," izin Abdi.
 
"Mau kemana, Mas? Jangan tinggalin Aku." Rengek Naura yang membuat Abdi bingung.
 
"Lalu?" tanya Abdi.
 
"Disini saja." Abdi semakin bingung mendengarnya. 
 
"Aqila nggak malu kan?" tanya Naura.
 
"Aku ini wanita penghibur, Mbak. Sudah tak ada lagi Malunya." 
 
Sontak perkataan itu membuat Abdi terkejut mendengarnya. Abdi tak bisa membayangkan dirinya harus melakukan hal itu depan istrinya.
 
Naura mengedipkan mata ke arah Aqila, seperti kode yang Abdi pun tak mengerti.
 
Namun, beda pada Aqila yang sepertinya sudah paham dengan kode tersebut.
 
Aqila mendorong Abdi ke sudut tembok, kini Abdi di permainkan. Satu persatu bajunya telah dilepaskan oleh Aqila dan Abdi masuk dalam buaian Aqila. 
 
Kini Abdi mulai menunjukkan Aksi itu ke Aqila, Abdi yang buas setelah berbulan-bulan lamanya menahan diri. 
 
Aqila mendesah kuat! Suara itu membuat hancur Naura! Naura kini seperti boneka di mata mereka, terlihat tapi diabaikan.
 
Air mata Naura yang menetes tak lagi Abdi hiraukan. 
Ingin rasanya Naura menghentikan adegan itu, hatinya sudah terlalu sakit menyaksikannya.
 
"Ya Tuhan! Apa Aku perempuan bodoh? Yang dengan sengaja menyuruh suamiku menyewa wanita penghibur dan menyaksikan mereka bersenggama di depanku?!" Naura menangisi kebodohannya.
 
****
 
1jam lamanya, wanita itu kini meringkuk di samping Naura. Jangan tanya lagi bagaimana perasaannya, sangat dan sangat jijik Naura melihat wanita itu! 
 
Emosinya tertahan, mau bagaimana pun ini semua salahnya, Naura menaruh garam di luka hatinya sendiri. Bodohkan? 
 
"Yuk, Aqila. Mas anterin pulang," Ajak Abdi.
 
"Lututku lemes, Mas ... gendong ke bawah ya." Rengek wanita itu.
 
Rasanya Naura ingin menjambak rambut wanita itu, kini Naura hanya memegang dadanya. Hatinya sakit sekali harus berbagi suami yang sangat ia cintai.
 
"Mas berjanjilah untuk selalu mencintaiku." Kata-kata itulah yang ingin Naura ucapkan. Tetapi, bibir ini seakan tak sanggup lagi berbicara. 
 
Air mata Naura menetes, matanya seakan perih melihat Abdi menggendong Aqila. Tanpa menghiraukan Naura apalagi sekedar berpamitan dengannya. 
 
Sekecil itukah perasaan Mas Abdi kepadanya? Hingga baru saja dirinya bermain Api sudah lupa akan Istrinya. 
Naura memikirkan memang kali ini dirinya yang salah, dan nanti setelah suaminya kembali, Naura akan melarang Abdi berhubungan dengan Aqila lagi. 
 
"Oke ... tenang, tenang Naura! Ingat Abdi sangat mencintaimu," Naura bergumam.
 
Tak lama setelah berjam-jam Naura menunggu kedatangan Abdi, akhirnya pulang juga. Kini Wajahnya persis seperti dulu saat sebelum Naura terbaring sakit. Wajah Abdi terlihat sangat fresh dan begitu sumringah.
 
Tubuh Abdi merebah di samping Naura, dengan sibuk membalas chatting di ponselnya. Terkadang juga Abdi tertawa kecil lalu tersenyum sendiri. 
 
"Mas? Lagi jatuh cinta dengan siapa? Aqila?" tanya Naura, hatinya seakan meletup-letup karena terbakar api cemburu.
 
"Ngawur! Ya ndak lah!" sahut Abdi  tersungut.
 
"Bagus deh, kalo gitu besok Mas Abdi jangan ketemu Aqila lagi ya." Naura lalu menyenderkan kepalanya di bahu Abdi.
 
"Hah? Mas nggak mau, Nau! Mas ini bukan bonekamu yang bisa kapan saja kau atur-atur!" sahut Abdi penuh penekanan.
 
Seketika ia bangkit dari tidur lalu melangkah ke arah pintu.
 
Brag! 
 
Pintu tertutup dengan kencang. Kini Naura hanya menganga syok! Melihat kelakuan suaminya. Bak petir di siang bolong baginya, setelah sekian lama pernikahan mereka baru inilah mereka bertengkar.
 
Naura menangis terisak, melihat sifat suaminya yang tiba-tiba berubah seketika. Seperti permainan koin yang hanya dilempar saja akan sangat cepat terjatuh, lalu berubah dari sisi kanan ke sisi kiri.
 
Naura meratapi nasip, penyesalan, air mata yang sekarang sudah tidak ada gunanya lagi! 
 
Naura pun juga tidak akan tahu bahwa sebenarnya ini hanyalah awal dari sedikit kesakitan yang ia akan rasakan nanti.

 

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!