Wanita Penghibur untuk Suamiku

Berkumpul Kembali

Berlin hanya menyaksikan mereka berpelukan penuh dengan tanda tanya, ia mendongak ke arah abangnya. Seolah bertanya apa yang sedang terjadi. 

 
Abangnya hanya membalas dengan elusan kepala yang lembut, Abdi tidak tahu harus menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi. Ia takut jika perkataannya malah membuat adiknya semakin histeris.
 
Berlin menahan napasnya beberapa detik, kemudian memutar rodanya ke arah Naura. "Demi Tuhan ... Mbak, Berlin nggak nyangka." Berlin menggeleng mencoba tidak emosi atas apa yang sedang terjadi.
 
"Maap ... Dek, mbak nggak cerita ke kamu. Karna mbak pikir. Itu belum waktunya kamu tau siapa mbak, jadi sekarang kamu membenci, Mbak?" sahut Naura tulus.
 
Berlin menatap Naura dengan tatapan nanar. "Mana mungkin, Mbak ... aku membenci kakak ipar sebaik dirimu. Aku hanya ingin meminta maaf atas apa yang terjadi pada keluargaku dulu," lirih Berlin perlahan.
 
Abdi berdiri mematung di belakang mereka, angin sepoy-sepoy yang menambah dingin relung hatinya. Lelaki itu menatap lurus ke arah Naura, fikirannya membuat pesan tersirat yang tidak terbaca oleh siapa pun.
 
"Inikah akhir dari penderitaan keluargaku, Tuhan?" gumam Abdi mengulum senyum manisnya.
 
Naura tersenyum ke arah Abdi, matanya membentuk senyuman kecil di bibirnya. Naura senang atas keadaan yang kembali pulih.
 
Bunda menarik tangan Naura ke dadanya, "Percayalah ...Nak, bunda akan selalu menyayangimu seperti anak bunda sendiri." 
 
Naura diam tidak menjawab, ia hanya terpaku ... menikmati ke harmonisan itu.
 
Naura merasa terharu atas apa yang dilakukan sang Bunda, inilah mertua yang sebenarnya. Bukan mereka, mereka yang selalu merendahkan Naura, menghinanya, bahkan mencaci maki Naura di hadapan halayak ramai. 
 
"Bun, kita pulang yuk," ajak Naura menggenggam jemari mertuanya.
 
Bunda mengangguk senang, percayalah saat ini Bunda tidak lagi seperti orang yang sedang terganggu mentalnya. Dia seakan mendadak pulih setelah melontarkan kata maaf pada Naura. 
 
Tiba-tiba Abdi menarik lengan Naura dan membawanya agak menjauh dari Bunda, "Nau, kalo Bunda dibawa pulang pasti Ibu akan mengganggu Bunda. Karna kemarin Bunda dan mbak Nengsih tidak bisa ditahan ke kantor polisi, karna kurang kuatnya bukti yang mengarah pada mereka," ucap Abdi panik.
 
"Jangan pernah memikirkan itu ... Mas, aku yang mengurus Bunda dan adikmu. Jadi siapa pun yang akan menyakiti mereka, akan berhadapan padaku." Naura menyeringai. 
 
Abdi melemparkan tatapan ragu, tetapi tatapan itu membuat Naura pergi meninggalkan Abdi dan mengajak Bunda ke kamarnya untuk berkemas-kemas.
 
Berlin yang saat ini duduk di kursi roda yang sedari tadi di pegangi oleh Abdi, dengan gerakan cepat Berlin menggenggam jemari Abdi. "Bang, kamu tau nggak? Saat ini aku senang dengan pilihanmu." Berlin mengatakan itu dengan tatapan yang masih mengarah lurus ke arah Bunda dan Naura. 
 
Abdi memutar bola matanya menoleh ke arah Berlin. "Abangmu inikan memang pintar." Abdi membanggakan dirinya sendiri.
 
"Terus kok bisa ketemu dengan salah satu korban dari papah?" mendengar ucapan Berlin, Abdi seketika tertegun. Menunduk bimbang. 
 
Melihat Abangnya yang tertunduk bingung atas ucapannya, Berlin langsung menepuk punggung telapak tangan Abdi. "Oke ... Bang, lain kali aja ya akan kudengarkan ceritamu sampai habis." Berlin memasang senyuman manis di bibirnya.
 
"Hayyo ngapain senyum-senyum?" ledek Naura menyapa Berlin. 
 
"Bang temenin Nau dulu yuk, mau ngurus kepulangan Bunda, Berlin temenin bunda dulu ya," titah Naura.
 
"Oke." sahut Berlin menggebu.
 
Abdi dan Naura kini melangkah bersamaan menyusuri koridor yang penuh dengan hiruk pikuk orang-orang berkebelakangan mental.
 
Abdi menggenggam jemari Naura hangat, kali ini ingin rasanya selalu seperti ini. Dirinya hanya butuh Naura. Tidak ada lagi yang lain. 
 
Bagi Abdi, Naura bukanlah hanya sekedar menjadi seorang istri. Namun juga Malaikat. Ia yakin Tuhanlah yang sengaja mempertemukan mereka untuk memperbaiki masalah yang sudah terlanjur kusut ini.
 
Hati siapa yang tidak senang melihat Bunda dan adiknya seakan pulih, setelah bertemu Naura. 
 
**** 
 
Semua berkas sudah dibereskan, dokter pun sudah memeriksa sang Bunda dan sangat terkejut atas perubahan pasiennya yang sangat signifikan. Malah dokter pun sempat mengatakan "Ini mukjizat!" Karena baru saja tadi pagi dilakukan periksaan rutin dan sang bunda dalam keadaan sama tidak ada perubahan apapun. Lalu sekarang? Hingga dokter pun menggeleng penuh ke ajaiban.
 
Tring ....
 
Sebuah pesan masuk dari Pak Kiki, "Pak maaf mengganggu, bapak dimana ya? Tadi saya ditelpon oleh pihak rumah sakit, jika kerabat teman bapak yang baru saja menjenguk. Itu mengamuk histeris. Sekarang saya sudah di rumah sakit, Pak." Abdi menghembuskan napasnya dengan kasar. Ia mematikan layar ponselnya dan memasukkan ponselnya ke saku celana tanpa lebih dulu membalas pesan itu.
 
Sebenarnya Abdi sangat malas, berurusan dengan Aqila lagi. Dia seperti wanita yang tidak tahu diri! Sudah diberi uang dengan dengan jumlah besar sebagai bayarannya. Masih saja meminta ini itu, di luar dari kontrak kerjanya.
 
Naura dengan cepat menyadari bahwa suaminya sedang tidak baik-baik saja. "Mas apa lagi?" bisik Naura. 
 
"Aqila." jawab Abdi singkat.
 
"Oke, setidaknya simpan mimik wajahmu sampai bunda dan Berlin tiba di rumah," ujar Naura yang memikirkan perasaan Bunda dan Berlin, ia tidak mau moment kebahagiaan ini rusak karena mood dari Abdi.
 
Di antara lainnya Nauralah yang paling bersemangat untuk kepulangan sang mertua, sekaligus menyambut sang mertua di rumah mereka.
 
"Liat tuh ... Bun, yang paling semangat mbak Naura tuh 
...," ledek Berlin yang menunjuk ke arah Naura yang berada di depannya. Dengan tentengan 2 tas besar dan 1 koper. Yang membuat Naura mempercepat laju langkahnya ke arah mobil.
 
"Yah namanya juga anak menantu kesayangan," sahut sang Bunda. Mendengar percakapan Bunda dan Berlin membuat hati Abdi kembali tenang. Abdi senang melihat percakapan ini, itu artinya Bunda dan Berlin sudah perlahan untuk mengenal hidup mereka kembali.
 
****
Sesampainya di rumah, Naura dengan gerakan terburu-buru keluar dari dalam mobil. Ia membukakan pintu mobil untuk sang mertua tercintanya itu dan mendorong Berlin untuk memasuki rumah mereka.
 
"Ini rumah barumu, Di? Gede ya, Bunda salut."
 
 Bunda dengan bangganya mengucapkan itu.
 
"Wahh iya ... gede banget ya ... Bun," sahut Berlin yang mengamati taman di sekitarnya.
 
"Loh emang kamu belum pernah kesini?" tanya bunda dengan heran. 
 
Abdi yang membulatkan matanya ke arah Berlin, sebagai isyarat jangan sampai Berlin mengatakan yang sebenarnya dan membuat Bunda malah semakin drop.
 
"Aku sibuk ... Bun, ngekos kemarin. Ini baru pulang. Terus jatuh," ucap Berlin berbohong.
 
"Kamu ini kebiasaan, bisa ngekost bertahun-tahun nggak pulang? Giliran pulang cuma merepotkan abangmu!" Bunda menggurutu sepanjang jalan.
 
Dan tidak seperti dulu, jika Bunda mereka mengomel pasti Berlin dan Abdi hanya mengeloyor pergi dan tidak menghiraukan apapun perkataannya.
 
Lantas sekarang ... 
 
Omelan itu seperti pujian bagi mereka, Abdi dan Berlin sangat senang mendengar omelan itu. Sampai tidak terasa air mata Abdi menetes dan dengan cepat mereka menghapusnya.
 
"Terimakasih Tuhan ...."
 
"Terimakasih ...."
 
"Kau telah mengembalikan semuanya kembali." 
 
Abdi tersenyum dalam tangis kebahagiaan.
 
 
 

 

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!