"Marni ... Boahh ... Loisem, ke sini sebentar," teriak Naura memanggil tiga asisten rumah tangganya itu.
"Iya nyonya ...," sahut mereka secara bersamaan, Mereka bertiga berlari kencang, takut ada pengumuman penting di rumah ini. Karena tidak seperti biasanya Naura memerlukan mereka.
Bagi mereka mempunyai majikan seperti, Tuan Abdi dan Nyonya Naura adalah sebuah anugerah di hidup mereka. Bagaimana tidak? Mereka bekerja seperti di rumah mereka sendiri. Naura tidak pernah sekalipun memberikan perintah yang memberatkan mereka. Selalu saja Naura kerjakan sendiri jika dirinya mampu.
Bagi Naura, ia mengerjakan pegawai di rumah ini. Karena dirinya suka berbagi dan senang jika di rumah banyak yang menemaninya.
"Oke Marni, Boah, Loisem ... kenalin ini Bundanya Pak Abdi dan ini adiknya Pak Abdi, namanya Berlin. Semua kebutuhan Bunda dan Berlin, tolong selalu disiapkan ya. Maaf jika ini membuat pekerjaan kalian makin berat," ujar Naura sembari menunjukkan Bunda dan Berlin.
Marni, Boah dan Loisem hanya mengangguk cepat tanpa jawaban apa pun dan tanpa perintah Nyonya besarnya itu. Mereka langsung membawa seluruh barang bawaan dari sang Ibunda.
"Yuk ... Non, bibi antar ke atas," ujar Marni sembari ingin mendorong kursi Roda Berlin.
Tetapi, saat Marni ingin mendorong kursi roda Berlin, lengan Marni langsung Naura tepis.
"Jangan ... Mar, biar suamiku saja ya. Lagian kalian nggak akan kuat ngangkat Berlin ke atas," sanggah Naura dengan kelembutan hatinya.
"Oke kalo gitu Bunda aja ya yang ikut mereka. Bunda juga mau cepat-cepat ngebersihin badan," ujar Bunda melangkah digandeng oleh Marni dan Boah.
Bunda melangkahkan kakinya menaiki anak tangga yang dilapisi karpet merah, dirinya seolah enggan menginjakkan kakinya di atas karpet ini. Takut jika ternyata karpet itu kotor karena ulah selop jepit lusuhnya, yang ntah ke berapa kalinya putus dan disambung lagi oleh Bunda dengan peniti.
"Kalian sudah lama bekerja di sini?" tanya Bunda yang ingin membuat suasana lebih santai.
"Kami semua baru beberapa bulan Nyonya," sahut Boah
"Betah nggak tinggal di sini?"
"Wah ya betah lah Nyonya, siapa yang nggak betah hidup bersama Tuan Abdi dan Nyonya Naura. Nyonya Naura orangnya baik banget. Kita kaya bukan punya majikan tapi kaya punya temen aja gitu Nyonya," sahut Marni dengan tingkah ceplosnya.
Mendengar semua jawaban para asisten Naura, Bunda semakin bangga pada kepribadian anak menantunya. Bunda semakin menyayanginya bukan karena ia adalah korban kecelakaan itu, melainkan dari pertama kali Bunda melihat Naura, Naura seperti mempunyai aura positif yang mampu mengubah kehidupan Abdi.
"Nyonya senyum-senyum aja? Bahagia ya punya menantu seperti Nyonya Naura. Udah cantik, pinter, mana baik banget lagi. Sampek-sampek nih ya Nyonya Tuan Abdi bawa selingkuhan ke rumah dan mereka tidur sekamar bertiga, Nyonya Naura tidak marah! Ehh ...," celetuk Marni yang keceplosan, ia kini menutup mulutnya sembari menahan sakitnya cubitan Boah di pinggangnya.
Jantung Marni kini berdegup kencang, ia takut dengan perkataannya ini membuat dirinya bisa dipecat langsung oleh Tuan Abdi. Padahal niat Marni hanya ingin mengakrabkan diri saja, sekarang bukannya akrab malah ucapannya membawa petaka.
Loisem yang di belakang mereka hanya menaikkan alisnya mengarah lurus ke arah Marni, seolah bertanya apa yang sedang mereka bincangkan.
Bunda menoleh seketika ke arah Marni dan dengan cepat wajahnya berubah menjadi bingung. "Selingkuhan? Maksutmu, anakku menyelingkuhi istrinya?" tanya Bunda serius sembari mendekati dahinya ke dahi Marni.
Marni yang diberikan pertanyaan begitu, hanya berdiam dan membatu. "Nyonyaa ... Marni mohon jangan kasih tau Tuan ya, kalau Marni yang ngasih tau." Marni menyatukan kedua tangannya.
"Oke," jawabnya singkat.
Namun, perasaan Bunda sakit mendengarnya, hatinya seperti ditusuk duri yang sangat tajam, setelah mengetahui anak lelaki satu-satunya menyelingkuhi menantu kesayangannya itu.
Dirinya bertanya-tanya, sehebat apa perempuan itu? Secantik apa dirinya? Sehingga membuat Abdi bisa jatuh kepelukannya dan berpaling dari Naura.
Tatapan sang Bunda mulai kosong, sekarang dirinya yang baru saja dinyatakan sembuh oleh dokter. Mulai memikirkan hal yang membuat dirinya seakan tidak sanggup untuk dicerna lagi.
"Nyonya, ini kamarnya. Kamar ini sudah selalu di bereskan hampir setiap hari. Jadi selalu rapih dan Nyonya tidak perlu lagi takut untuk tidur," ucap Loisem yang mempersilahkan Nyonya besar ini masuk ke kamar yang luasnya tidak bisa di lgambarkan.
Bunda mulai merebahkan dirinya terlebih dulu, niat untuk membersihkan tubuhnya ia urungkan. Dirinya hanya perlu menenangkan diri sejenak.
Tiba-tiba dari balik pintuk terdengar suara ketukan, di barengi masuknya Naura menemui mertuanya dengan secangkir susu hangat di tangannya.
"Bun, kok belum mandi? Nggak suka ya dengan kamar mandinya?" lirih Naura sembari menyajikan susu hangat untuk mertuanya.
"Nggak ... Nak, nggak! Bunda cuma mau nanya. Dari tadi Bunda kefikiran, apa bener Abdi menyelingkuhimu?" Bunda menatapnya serius.
"Ah ada-ada aja sih, Bun ... ya nggak lah! Itu si Aqila emang temen baik kami. Dia suka main kesini bahkan minep," ujar Naura sumringah, untung dirinya cepat menyadari yang dipertanyakan mertuanya itu adalah Aqila dan pasti yang memberitahu Bunda adalah Marni. Siapa lagi yang bisa lancang mengatakan itu semua, jika bukan dirinya sang dewi tukang ceplos, Naura menyebut Marni.
Bunda kembali tersenyum "Ouh ... namanya Aqila." Bunda mengangguk sambil menyeruput susu hangat buatan Naura. Kini dirinya yakin dengan ucapan Naura. Lagian mana bisa menantu sesempurna ini, Abdi bisa berpaling lagi. Rasanya tidak akam mungkin. Bunda menggeleng dengan susu hangat di tangannya, sembari melangkah ke arah kamar mandi.
Melihat mertuanya sudah mulai tenang, Naura dengan cepat melangkahkan laju kakinya ke arah kamar asistennya. Tanpa ketukan, tanpa sapaan dan tanpa apa pun. Naura menyelonong masuk ke kamar Trio macan di rumah ini.
"Mar, kamu ngasih tau bunda ya tentang mas Abdi? Ngapain sih ngadu-ngadu," ujar Naura sembari merebahkan tubuhnya ke ranjang.
"Maap Nyonya, aku keceplosan," sahut Marni sembari memijat lengan Naura.
"Lain kali jangan ngomong begitu ... Mar, kasian ntar Tuanmu bisa kena masalah," sahut Naura mencoba melelapkan dirinya. Rasanya sudah sangat lelah tubuh ini, sudah beberapa hari belum juga mengistirahatkan tubuhnya dengan tenang.
Tidak butuh waktu lama Marni memijatnya, Naura atau yang sering disebut Ibu Bidadari oleh ketiga asistennya itu tidur dengan pulas.
Ini bukan untuk pertama kalinya Naura tidur di kamar mereka, hampir setiap minggu Naura sering kali tertidur di kamar ini. Kamar yang sama luasnya seperti kamar di rumah majikan mereka, dilengkapi Ac, kulkas 1 pintu, sampai shower air hangat pun ada. Semua fasilitas memang sengaja dibuat Naura sama. Kata Naura biar mereka semakin betah bekerja.
Ketiga Asisten itu, kini mengamati majikan tercinta mereka dengan fikiran yang sama.
Sebenarnya dulu, mereka tidak tega melihat Naura hidup berdampingan dengan suaminya dan terabaikan.
"Eh kalau nenek lampir kesini lagi kita kerjain aja yuk," ucap Marni menggebu pada kedua temannya.