Wanita Penghibur untuk Suamiku

Datangnya Orang Tua Aqila

Tok ....

 
Tok ....
 
Tok ....
 
"Boah ... Marni, apa ada istriku di dalam?" panggil Abdi yang sudah bergegas ingin menemui Aqila di rumah sakit. Sebenarnya bisa saja dirinya pergi tanpa Naura,
 
Namun, ia takut jika orang yang mengamuk tadi adalah salah satu dari keluarga Aqila ... yang ingin meminta pertanggung jawaban dalam sebuah pernikahan.
 
Marni, Boah dan Loisem saling melempar pandangan. Kemudian Loisem dengan cepat beranjak dari duduknya, membukakan pintu untuk Tuan mereka.
 
"Maaf Tuan sebaiknya jangan berisik dulu, Ibu bidadari kami kelihatannya sangat lelah. Kami takut jika ia terbangun," ucap Loisem suaranya sangat pelan agar tidak menyinggung perasaan Tuannya.
 
"Loisem, saya dan ibu bidadari kalian itu ada urusan sebentar. Jadi tolong bangunkan ya!" Abdi mengatakan dengan sangat tegas.
 
Loisem yang merasa dirinya tidak ada hak apa pun, dengan cepat mengiyakan. Sebenarnya mereka sangat mengkhawatirkan keadaan Nyonya besarnya itu. Mereka takut jika sewaktu-waktu majikannya yang bagai Bidadari bagi mereka. Jatuh terbaring sakit kembali seperti dulu.
 
Seperti dulu dengan keadaan rumah yang sangat sepi. Tidak ada lagi bahan lelucon yang dibuat Nyonya tercinta mereka. Tuan Abdi selalu melarang mereka untuk berdekatan pada majikan sekaligus sahabat bagi mereka itu, mereka hanya bisa menatap Naura sedang terbaring sakit di ranjang tidak berdaya. 
 
Alasan Abdi cukup kuat, Naura saat itu sedang sangat down dengan fisiknya. Ia tidak bisa nerima kenyataan, bahkan ia malu jika orang lain menatap Naura dengan tatapan aneh.
 
Mereka hanya bisa mengintip lewat pintu, setidaknya memastikan jika Nyonya besar mereka baik-baik saja.
 
Itulah yang membuat para asisten Naura sangat takut, jika Naura jatuh sakit kembali.
 
Loisem melangkah lambat menghampiri Naura yang sedang terlelap dalam tidurnya. "Nyonya, dipanggil Tuan Abdi, buk ...," ucap Loisem sangat pelan memegang lengan Naura. 
 
"Erhhh ...," Naura meregangkan tangannya, sembari menatap Loisem dengan huyung.
 
"Ngape Lol? tanya Naura yang memanggik Loisem dengan sebutan LOL.
 
"Loi atuh, Buk. Bukan Lol ... itu di panggil bapak, Buk." 
 
"Arhh nggak ah, bagusan Lol. Iyakan Mar?" Naura dengan melangkah huyung mengarah lurus ke arah pintu.
 
"Ada apa lagi, Mas?" tanya Naura dengan menuangkan air mineral dingin.
 
"Mas ingin mengajakmu menemui Aqila ... Nau, kata satpam kita ada salah satu kerabat yang datang menjenguk Aqila dan mengamuk di sana." 
 
"Arh rasanya tubuhku sangat lelah, Mas." Naura melemparkan kepalanya di sofa, memejamkan pelupuk matanya penuh hikmat.
 
"Mas takut pada keluarga Aqila?" tanya Naura dengan pelupuk mata yang masih terpejam. 
 
"Mas nggak takut ... Nau, mas cuma mau kamu ada bersama mas. Untuk meyakinkan mereka kalau mas ini udah punya istri," jawab Abdi sambil menjajarkan tingginya dengan Naura. 
 
Naura membuka matanya perlahan, melempar tatapan yang sulit diartikan oleh Abdi. Sorot matanya yang lurus menghadap Abdi dalam.
 
"Oke baiklah." Naura melangkah sembari mengambil tas jinjingnya di sofa, lalu dengan cepat mengarah ke mobil.
 
Di dalam mobil pun hening, Naura sedang menghemat energinya untuk hal yang akan ia hadapi nanti.
 
"Seperti apa keluarga Aqila yang sebenarnya? Bagaimana jika mereka benar-benar ingin menikahkan Aqila pada Abdi. Apa hatiku rela demi janin di kandungan Aqila?" batin Naura bergejolak.
 
Ia menatap kosong mengarah ke jalanan, baru saja tadi hatinya bergembira setelah kedatangan sang mertua. Tetapi kali ini mengapa banyak perasaan bimbang.
 
"Nau ...," panggil Abdi 
 
"I-ia mas." Ia kembali memijak alam sadarnya.
 
"Apa yang Nau lamunkan?" tanya Abdi pelan
 
Naura hanya menggeleng dan menyenderkan kepalanya dengan malas di jendela. 
 
****
 
Setibanya di halaman parkir yang mengarah ke pintu rumah sakit, nampak pak Kiki sudah lama menunggu di sana. Ia berlari kencang ke arah Bosnya. "Pak, keluarga teman wanita bapak sudah lama menunggu di depan ruangan ICU." Dengan suara yang berat dan jantung yang berdegup kencang Pak Kiki menemui bosnya.
 
"Oke, kita masuk sekarang." 
 
Seorang pria tampan yang tampak paling disegani oleh seluruh perusahaan lain karena kepintarannya. Berjalan menggandeng istri tercinta, membuat pak Kiki segan untuk berjalan bersamaan. Dirinya hanya sanggup untuk mengekori Abdi dan Naura dari belakang.
 
Nampak dari kejauhan, seorang ibu dan satu orang lelaki paruh baya duduk gelisah di ruang tunggu. Melihat Abdi dan Naura datang, mereka beranjak dari duduknya.
Diliputi wajah yang maram pria paruh baya itu menghampiri Abdi dengan setengah berlari. 
 
Pria paruh baya itu berlari tanpa mempedulikan di sekitarnya, sampai Naura pun tertabrak dengan kencang. Tetapi, ia tetap tidak memperdulikan itu. 
 
Lalu dengan cepat jeritan pria itu terdengar, Naura memutar kepalanya kebelakang. Naura bingung harus bagaimana saat ini. Bahkan untuk bernapas pun dirinya lupa harus bagaimana.
 
"Dasar pria sialan, kau menghamili anakku. Lalu mencoba untuk membunuhnya dan dengan santainya sekarang kau membawa wanita jalang itu," teriak pria itu dengan emosi yang membludak.
 
Mendengar perkataan itu. Sontak mimik wajah Naura berubah, ia melangkah mundur ke belakang berhadapan langsung di depan pria itu.
 
 Sorotan mata yang tegas, tetapi ... masih terlihat anggun Naura menatap lurus mengarah padanya. "Aku istrinya, anakmu lah wanita jalang yang sebenarnya. Maaf jika kata-kataku menyakitkan, tetapi itulah nyatanya. Tadi kufikir aku bisa berbaik hati untuk suamiku menikahinya dan dengan ikhlas rela membagi suami demi anak yang di kandungnya. Tetapi melihat perlakuan kalian begini. Aku dengan berat hati harus membatalkan semuanya." Naura berbicara sangat tegas, Abdi pun semakin terpesona melihat aura sang istri. 
 
Belum sempat pria paruh baya itu menjawab. 
 
Naura dikejutkan pada gerakan tiba-tiba di kakinya. Seorang Ibu memakai baju lusuh tengah bergelayut di kaki Naura.
 
"Maafkan suamiku, Non. Maafkan ... kami hanya orang kecil yang hanya butuh keadilan. Izinkan suami Non, menikahi anakku ... Non. Aku mohon." 
 
Ibu itu meracau terus menerus seperti orang gila yang kehabisan akal.
 
Bagaikan hiasan patung permata Naura tetap berdiri tanpa melakukan apa pun. Seolah penampakan di hadapannya ini adalah hal yang biasa ia tonton.
 
Padahal jika ingin digambarkan perasaan Naura saat ini, dirinya ingin menangis memeluk Ibu yang bergelayut di kakinya. 
 
Tetapi ... demi menjaga harga diri sang suami, Naura dengan hati yang kuat harus tegap berdiri tanpa iba, bagaikan manusia yang tidak punya hati.
 
Untung dengan cepat pak Kiki melepaskan wanita paruh baya itu dari kaki Naura, seolah tidak kenal kata menyerah sang ibu tetap meracau dengan air mata yang berderai.
 
Naura hanya melempar pandangannya ke arah lain, tidak sedikitpun berani melihat wajah wanita itu. Dirinya saat ini pasti sedang tergambarkan oleh wanita paruh baya itu, wanita yang sangat sombong! Hanya untuk melihat pun dirinya tidak sudi.
 
Tetapi, demi Tuhan. Saat ini Naura tidak ingin menatap ke arah wanita itu, karena hatinya dipastikan tidak akan kuat. Pasti akan dengan sangat mudah air mata itu menetes dari pelupuk mata indah Naura. 
 
 
 

 

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!