Wanita Penghibur untuk Suamiku

Zona dan Kebahagiaannya

Sekilas Naura melihat raut wajah wanita itu yang sedang berdiri di depan cermin lebar di hadapannya. Dengan air mata yang berderai seolah tidak ada habisnya itu, ia menatap lurus mengarah ke Aqila yang masih terbaring lemah tidak berdaya dipenuhi kabel-kabel menggrubungi tubuhnya.

 
Terasa teriris pisau hati Naura saat ini, menyaksikan seorang Ibu yang menangisi anaknya tanpa mengenal kepribadian sang anak. Meski Aqila di luaran sana terkenal dengan sebutan wanita penghibur, wanita bayaran, bahkan wanita jalang sekali pun. Ia tetap seorang anak kesayangan Ibunya.
 
Naura melihat bagaimana besarnya kasih sayang seorang Ibu saat ini, hatinya terasa didorong untuk merasakan semua ke haruan.
 
Naura memutar kembali kepalanya ke arah pria tua yang sedang duduk dengan kedua tangan menutupi wajahnya. Naura tahu di balik tangan itu, pasti ada air mata deras mengalir di belakangnya.
 
Saat ini dirinya dan Abdi bagaikan orang linglung yang tidak tahu harus bagaimana, menonton adegan sedih seperti adegan Novel. Tetapi ... dengan terpaksanya mereka memasang raut wajah datar.
 
Bagaimana rasanya?
 
Pasti tidak enak.
 
Itulah yang Abdi dan Naura rasakan saat ini.
 
Tiga puluh menit berlalu keramnya kaki dengan hati yang dipaksa kuat. Membuat mereka semakin lelah dan memutuskan untuk pulang ke rumah. 
 
Sebelum Naura melangkahkan kakinya untuk pergi, Naura mencuri pandangan ke arah wanita paruh baya itu yang masih sibuk memandangi anaknya. Raut wajahnya mulai lelah, kulitnya pucat. Seperti orang yang baru saja membuang energi dengan sangat banyak.
 
****
 
Abdi dan Naura berjalan menyusuri koridor yang sepi dan hening, tidak seperti biasanya. Jalan Naura melangkah kencang tanpa ia sadari, Abdi yang sedari tadi membiarkan istrinya bergeming hanya bisa menatap lurus ke arah istri tercintanya itu.
 
Betapa beruntung dirinya memilik istri secantik dan sepintar Naura dengan rambut hitam sepunggung, matanya yang indah berwarna coklat dan wajahnya yang tetap cantik meski tanpa make up. 
 
Abdi tetap mengamati Naura seolah terpesona dengan aura istrinya, tetapi ... ntah apa yang ada di benak istrinya sekarang. Naura tampak melamun sedih.
 
Setibanya mereka di parkiran dengan gerakan tiba-tiba yang cukup mengagetkan Abdi, Naura menoleh ke belakang. Menghampiri security kantor mereka. 
 
"Pak, ibu dan bapak tadi sepertinya belum makan. Tolong belikan mereka makan, minum dan sedikit cemilan ya ... Pak. Jangan bilang jika ini pemberian dari saya." 
 
 Naura mengeluarkan uang sepuluh lembar berwarna merah ke tangan pak Kiki.
 
****
"Aaaaaaaaakh ...," Naura menangis terisak seperti anak bayi yang kekurangan kasih sayang.
 
Abdi yang kaget sontak langsung memutar kepalanya. "Lah kenapa, Nau?" Abdi menyorot menatap istrinya heran.
 
"Kamu tau mas, hatiku hancur! Aku masih kepikiran ibu tadi! Kamu tau, Mas? Perasaanku waktu ibu tadi memegang kaki Nau, aku rasanya mau pingsan," rengek Naura.
 
Mata indah itu menatap Abdi begitu menggemaskan, Abdi mengulum senyumnya dengan manis. Ia sadar Naura adalah tipe orang yang mudah sekali tersentuh. Jangankan untuk kejadian ini, hanya menonton serial upin ipin waktu kehilangan kain merahnya saja Naura menangis sesegukan.
 
Drrrttt ....
 
Drrttt ....
 
Getaran ponsel seolah membuyarkan tangisan Naura, ia mengusap matanya dan melihat layar ponsel yang menampilkan sebaris nama sahabatnya.
 
"Halo, Zoy?" 
 
"Nau dimana? Aku di Els coffe nih, aku tunggu sini ya. Aku kangen." Suara di seberang sana terdengar tergesa-gesa.
 
"Oke ... Zoy." Naura menutup sambungan teleponnya.
 
"Siapa sayang? Zoya? Temen kamu yang kemarin?" tanya Abdi.
 
Naura mengangguk dengan cepat. "Iya, dia ngajak ketemuan di els coffe deket rumah kita. Mas mau ikut?" sahut Naura.
 
"Ah ... nggak ah! Ngapain mas ikut? Ngobrolin urusan wanita. Mas pulang aja ya, mau istirahat. Mas capek banget nih," ujar Abdi sembari meluruskan pandangan ke depan.
 
Setibanya di depan kafe bertuliskan Els Coffe, Naura dengan dress biru muda dan tas jinjing berwarna salmon itu turun dari mobil suaminya yang tidak lama kembali melaju lagi meninggalkan Naura.
 
Naura masuk menyusuri sekitarnya, bola matanya sibuk mencari sahabatnya.
 
"Zoya!" panggil Naura melambaikan tangannya mengarah ke Zoya dan segera menghampiri dirinya.
 
Zoya dengan sumringah menyambut sahabat tercintanya. Perasaan rindu tidak terbatas di setiap harinya. 
 
"Eh Nau dari mana?" tanya Zoya.
 
"Dari rumah sakit, Zoy." 
 
"Eh ngapain? Ketemuan sama Bram?" tanya Zoya menatap Naura dengan tatapan serius.
 
"Dih gila! Ya nggak lah. Itu si Aqila, inget nggak? Wanita bayaran suamiku itu loh. Dia sakit, keadaannya sekarang lagi koma," sahut Naura.
 
Zoya membulatkan matanya. "Hah serius?" tanya Zoya. 
 
Naura mengangguk cepat. "Mana lagi hamil anak mas Abdi. Kasian banget," lirih Naura.
 
"Eh ngomong-ngomong kamu juga hamil kan, Nau?"
 
"Eh kita belum memesan minum ya? Kita pesan dulu kali ya biar enak ngobrolnya." Ia tergeragap dengan pertanyaan sahabatnya.
 
"Nau sudahlah, aku udah mesen kok. Bram udah ngomong semuanya ke aku. Itu benar anak Bram?" lanjutnya.
 
Naura menarik napas dan menghembuskannya perlahan, ia menyenderkan tubuhnya di kursi. "Aku pun bingung Zoy, ini anak siapa," sahut Naura menunduk sembari memegang perut kecilnya.
 
Mendengar jawaban Naura, Zoya menautkan alisnya. "Bingung gimana ... Nau?" tanya Zoya dengan tangan yang menggenggam jemari Naura.
 
"Aku bingung, kalo ini anak Bram kaya nggak mungkin aja gitu Zoy. Karna aku berhubungan sama Bram itu 2 hari sebelum aku positif hamil. Masa langsung hamil." Naura menyoroti mata Zoya dengan serius.
 
"Terus terakhir berhubungan badan dengan suamimu kapan?"
 
"Seingatku udah 3 bulan lebih, kami nggak berhubungan badan." sahut Naura pelan.
 
"Nah jadi bisa di pastikan lebih banyak kemungkinan, kamu mengandung anak Bram dan mungkin saja hormonmu lebih tinggi Nau, jadi lebih peka terhadap perubahan tubuh.
 
Naura semakin pusing mendengarnya, ia menutup kepalanya dengan kedua tangan. "Aku mengandung anak dari Bram, Zoy? Aku harus senang atau sedih?"
 
"Nau, kamu masih mencintai Bram?" Zoya mengubah posisi duduknya lebih mendekatkan diri pada Naura.
 
Naura mengangguk cepat. "Aku nggak mungkin ... Zoy, ngebuang perasaanku gitu aja. Setelah bertahun-tahun bersama. Terus dengan cepat aku ngehilangin semuanya." Saat ini Naura menatap dalam Zoya.
 
"Kamu tau ... Nau, setiap detiknya Bram selalu mikirin keberadaan kamu. Setiap hari bahkan setiap jam dia selalu ngechat kamu di nomor yang sama di saat terakhir kali kamu pakai. Kamu bayangin Nau bertahun-tahun! Dia tau no itu nggak aktif, tapi Bram selalu berdoa suatu saat kamu bisa ngaktifin nomor itu dan bisa ngabarin keberadaan kamu." Zoya menggenggam telapak tangan Naura dengan erat.
 
"Dan di saat Tuhan lagi berbaik hati, Tuhan kabulin semua doa-doa Bram. Tapi yang Bram dapat cuma kekecewaan. Asal kamu tau, Nau. Waktu di rumah sakit yang kamu ketemu Bram. Bram cerita ke aku, dia nangis! Kamu bayangin, ini Bram! Ini Bram, Nau! Laki yang kita tau jarang banget nangis selama ini. Dengan tangisan dan jeritan dia nelpon aku malem-malem. Cuma ngomongin dia ketemu kamu tapi udah punya suami!" Zoya mengucapkan penuh emosi.
 
"Kamu bayangin gimana sakitnya dia, kamu bayangin gimana kecewanya dia! Dan saat aku tau kamu hamil anaknya Bram. Maaf Nau aku bahagia. Bahagia kalau akhirnya Bram bisa menjadi seorang ayah dari anak yang di kandung oleh perempuan yang dia cinta," lanjut Zoya.
 
Kini tetesan air mata itu jatuh dari pelupuk mata indah Naura. "Aku memang salah Zoy," lirih Naura
 
 

 

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!