Wanita Penghibur untuk Suamiku

Perasaan dan Hati

Wanita paruh baya yang sangat nyentrik ini, menautkan alisnya ... ia mengamati mereka dari kejauhan, penasaran apa yang sebenarnya, Bram dan Naura lihat sampai mereka memasang ekspresi yang sangat mengejutkan.  

 
Tiba-tiba. Drep!!
 
Irna merebut ponsel dari tangan Naura.
 
"Mah, itu nggak sopan!" suara Bram penuh dengan tekanan.
 
Sssttt
 
Jari telunjuk Irna menutup bibir Bram. Ia melihat sebaris Nama Zoya yang Irna kenal sebagai sahabat mereka, di kotak masuk Naura.
 
'Aku memang bukan wanita yang pantas untuk cemburu dalam status kalian, tapi ... bisakah kalian sadar atas apa yang tengah kalian lakukan sekarang? 
 
Kalian seperti binatang yang tidak tahu diri, yang terus bermain tanpa mengenal batas norma kehidupan! 
 
Saat ini bersenang-senanglah, anggap saja kami hanya sekedar patung yang tidak punya hati apa lagi cinta.' 
 
  
Irna menggigit bibir bawahnya, lalu dengan sikap yang datar ia mengembalikan ponselnya pada Naura. 
 
Ia tidak bisa menjawab apa pun, atas pesan yang Zoya kirimkan pada Naura.
 
Bukankah memang begitu kan? Anak dan kekasihnya sekarang, sudah benar-benar melebihi batas nilai kehidupan. Mereka memang benar seperti binatang, persis seperti apa yang Zoya katakan.
 
Dan Irna sebagai seorang Ibu hanya bisa menyalahkan diri sendiri, demi kebahagiaan sang anak. 
 
Biarlah ...
 
Biar semua orang menghujatnya, telah melalaikan tugas sebagai seorang Ibu mengurus anaknya, ia tidak peduli.
 
Yang dia pedulikan saat ini, hanyalah perasaan Bram. Kebahagiaan Bram dan kehidupan Bram.
 
Irna menyadarkan dirinya sendiri dari lamunannya itu, tatapannya menyoroti Bram yang tengah menggenggam jemari Naura.
 
"Bram, lepaskan tanganmu dari genggaman itu." Ucap Irna dengan nada keras.
 
Kemudian Irna dengan langkah yang tergesa-gesa meninggalkan mereka, tanpa menoleh sedikit pun. 
 
Hatinya hancur berkeping-keping, ia menguatkann hatinya agar Bram tidak terluka. Tetapi, setelah melihat Zoya mengirimkan pesan itu. Fikirannya kembali menjadi bimbang.
 
*****
 
Bram dan Naura yang kini masih bergeming melihat tingkah laku aneh dari Irna, hanya mampu untuk saling melempar tatapan.
 
"Tante Irna ... kayanya nggak suka deh, Bram. Sama aku! Lagian Ibu mana sih yang mau anaknya bermain api!"
 
"Bukan, Nau. Mamah begitu pasti karna pesan dari Zoya tadi, coba deh aku nelpon Zoya sebentar." 
 
Bram mengambil ponsel dari dalam saku dan mencari sebaris nama Zoya di kontaknya. 
 
Tutt ...
 
Tutt ...
 
Tutt ...
 
Panggilan itu berdering, namun tidak juga menyambungkan. Setelah berkali-kali Bram menelepon Zoya, akhirnya panggilan itu tersambung juga.
 
"Halo," suara Zoya terdengar malas di seberang sana.
 
"Lu lagi di mana?" tanya Bram.
 
"Lagi di rumah, kenapa? Tumbenan nelpon!" 
 
"Gue cuma mau nanya, maksut kamu ngirim Whatsapp ke Naura kaya gitu. Kenapa?" tanya Bram meninggikan suaranya.
 
Panggilan itu bergeming beberapa detik, ntah apa yang sebenarnya Zoya fikirkan.
 
"Hahaha, Naura cerita? Segitunya banget ya? Sebenernya dia itu nganggep Gue apa sih? Kok Gue makin ennek dengan tingkahnya, udahlah mending suruh pergi lagi aja. Gue males!" ucap Zoya menggebu. 
 
Tut
 
Tut
 
Tut
 
Panggilan itu terputuskan oleh Zoya, kemudian satu notif pesan masuk dari Zoya di ponsel Bram.
 
'Jujur ... saat ini aku mencintaimu, aku tidak ingin menutupi apa pun itu! Karena aku yakin ... saat ini pun kamu pasti sudah tahu kan dari Naura, tentang perasaanku? Aku yakin itu. 
 
Aku selama ini memilih mencintai dalam diam, mengagumi dan memikirkanmu dalam otakku. Tanpa harus hatiku tahu ...
 
Dan sekarang, jika hati ini harus cemburu? Biarkan hatiku menikmati rasa cemburu itu dengan sendirinya.' 
 
Bram mengusap kasar wajahnya setelah melihat pesan dari Zoya, ada perasaan kaku yang baru saja singgah menghampiri benaknya. Kemudian tanpa membalas apa pun ia langsung menaruh ponselnya ke dalam saku.
 
Bram tidak ingin lagi Naura melihat pesan itu, apa lagi harus memikir hal yang terkadang tidak masuk di akal dan logika! 
 
"Bram? Apa kata Zoya," tanya Naura dengan nanar.
 
"Ntahlah ponselnya langsung mati." Ucap Bram sembari menaikkan bahunya.
 
Bram mendorong kursi roda Naura ke arah parkiran, kemudian Bram memencet tombol bergambar gembok terbuka di gantungan kunci mobilnya.
 
Bip
 
Bip
 
Berjarak beberapa meter dari kejauhan, sebuah mobil merah metalik tampak mengedipkan lampunya. Lalu Bram membantu Naura untuk menaiki mobil.
 
****
 
Naura menyenderkan kepalanya ke jendela kaca mobil seperti biasanya, ia sangat senang melakukan hal itu jika sedang dalam perjalanan.
 
Naura meraba perutnya dengan perasaan haru saat ini, "Bram, kau tau? Apa yang aku inginkan pada anak kita?" ucap Naura sembari menoleh ke arah Bram.
 
Bram balik menatap ke arah Naura, "Maksut dari bagaimana yang kamu inginkan itu apa, Nau?" sahut Bram menggenggam telapak tangan Naura.
 
"Aku hanya ingin, anakku tidak pernah tau siapa sebenarnya dirimu? Aku hanya ingin anakku tetap menganggap dirinya sebagai anak kandung dari papanya," Naura menundukkan kepalanya dengan perlahan.
 
Bram yang mendengar perkataan itu, langsung melepaskan genggaman Naura. "Aku sadar, Nau! Mungkin bagimu, aku hanyalah seorang pengganggu rumah tanggamu bersama Abdi. Mungkin bagimu, cita-citaku untuk memilikimu itu terdengar sangat mustahil. Tapi bagiku, itu tidak! Aku yakin, suatu saat kita akan berkumpul bersama ... dan anak-anakku akan memanggilku, Ayah! Dengan sangat lantang!" sahut Bram penuh dengan penekanan.
 
Naura menyoroti bola mata pria di sampingnya itu dengan tajam, ntahlah ... harus bagaimana lagi diri ini menyadarkan Bram, sudah berkali-kali rasanya ia Mengatakan tentang cinta mereka yang tidak akan pernah bersatu.
 
Tetapi ... Bram seolah tiada hentinya berjuang demi perasaannya, demi cinta semu yang tidak pernah bertepi sampai kapan pun.
 
Drrrtttt ... Drrtttt...
 
Getaran ponsel di saku Naura membuyarkan lamunannya, ia menatap layar ponselnya dan terlihat sebaris nama My Love Super.
 
Naura mengangkat panggilan Abdi dengan segera, "Halo, Mas!" lirih Naura.
 
"Nau, kau dimana? Bunda bilang kamu nggak ada di hotel," Abdi meninggikan suaranya di seberang panggilan.
 
"Aku habis kontrol kesehatan, Mas. Sembari sekalian USG tadi. Oh iya, anak kita kembar, Mas!" gumam Naura dengan menggebu.
 
"Ya Tuhan! Terimakasih, Nau. Aku pulang sekarang juga, kita USG ulang ya. Aku pengen ngeliat perkembangan anakku." Sahut Abdi dengan suara yang sangat menggebu di seberang sana. 
 
Dep!
 
Ponsel Naura terlihat kehabisan baterainya.
 
"Bram, Abdi katanya mau ngajak aku USG. Katanya mau ngeliat perkembangan anaknya juga, dia seneng banget tuh ... waktu aku kasih tau anaknya kembar!" ucap Naura sumringah dengan bola mata yang bersinar, seolah senang atas apa yang baru saja terjadi.
 
Bram menyoroti bola mata Naura dan menelan ludahnya kasar, lalu ia melemparkan senyuman mengarah ke depan. 
 
"Nau, di saat kita sedang membicarakan tentang kita. Raut wajahmu berubah menjadi sendu! Tetapi ... di saat kamu, membicarakan tentang Abdi. Raut wajahmu berubah seakan kamu senang dan bahagia atas perkataan itu!" Bram mengulum senyumnya dan mengusap wajahnya dengan kasar.
 
"Apa yang harus aku bahagiakan dengan cinta kita yang seperti ini, Bram? Jangankan untuk bahagia menyebut namamu di hatiku saja, itu rasanya tidak akan mungkin." Ucap Naura penuh dengan penekanan.
Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!