Wanita Penghibur untuk Suamiku

Perasaan Zoya

2 jam sudah ... Zoya mengamati foto mereka di layar ponselnya, kemudian dengan gerakan cepat ia beranjak dari tidur. Mengusap wajahnya kasar dengan kedua tangan yang menyapu seluruh air mata dari pipi tirusnya.

 
"Nggak! Aku nggak boleh kehilangan mereka. Hanya karna perasaanku saja yang salah! Oke ... sekarang, aku harus ketemu Bram. Menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi!" Zoya meremas ponselnya dan beranjak berdiri melangkah dengan perasaan ragu.
 
Zoya menarik napasnya berat, sudah ia duga akhirnya akan menjadi seperti ini. Ia melangkah gontai keluar kamar dengan wajah yang sangat kusut, wajahnya berantakan penuh dengan noda-noda tangisan. Matanya lebam dengan air mata yang masih menumpuk di pelupuknya.
 
Bip
 
Bip
 
Bip
 
Ia menekan gambar gembok di gantungan kunci mobilnya. Kemudian ia masuk dengan langkah yang tergesa-gesa.
 
Brak!
 
Pintu mobil itu di tutup kencang tanpa sadar, Zoya menyetir dengan tatapan kosong menatap ke arah jalan.
 
"Maafkan aku, Nau ..." lirih Zoya dengan air mata yang lagi-lagi mengalir deras di pipinya.
 
"Eh sebentar ..." Zoya terkejut saat ia meraba ke area dadanya.
 
Zoya lupa memakai pakaian dalam, kini Zoya hanya memakai kaos oblong putih pendek tanpa penutup dada. 
 
"Astaga!" ia berdecak kesal, bagaimana tidak rumah Bram sudah di depan matanyaa dan kini hanya karena sebuah pakaian dalam. Ia harus memutar balik arah lajunya.
 
"Hah!" Zoya menarik napas dan menghembuskannya dengan berat.
Zoya terus saja menerobos masuk dalam keadaan yang sangat kalut.
 
Ting tong ...
 
Ting tong ...
 
Zoya memencet bel dengan keadaan jantung yang berdegup kencang! Ritme napasnya pun tidak karuan.
 
Klek 
 
Pintu itu terbuka dengan wanita berambut blow coklat di belakangnya. "Tante, apa ada Bram di sini? Soalnya aku liat maps goole Bram sedang berada di rumah tante. Boleh izinkan aku bertemu dengan dirinya, Te?" tanya Zoya parau.
 
Irna mengamati Zoya dengan ke dua bola matanya yang sibuk melototi dari bawah ke atas teman wanita anaknya ini.
 
Dan Zoya yang sadar dirinya saat ini sedang di amati, langsung sergap menutupi buah dadanya dengan ke dua tangan yang melingkar.
 
Irna menelan ludahnya kasar, ia tahu teman wanita anaknya ini sudah di pastikan sedang tidak baik-baik saja. "Bram sedang ada di kamarnya, Zoy! Kamu boleh masuk langsung ke sana," ucap Irna dengan tubuh yang dimiringkan ke pintu. Seolah memberikan teman wanita anaknya ini segera masuk.
 
Zoya melangkah dengan cepat ke arah kamar Bram, tepat di depan pintu berwarna coklat ia berhenti. Ia menelan ludahnya kasar, aliran darahnya seolah berhenti. Saat ia berfikir bagaimana jika Bram memutuskan persahabatan mereka.
 
Tidak 
 
Tidak! 
 
Zoya menyadarkan dirinya sendiri ...
 
Tok
 
Tok 
 
Tok
 
"Siapa?" tanya Bram kasar, sangat nampak dengan nada suaranya saat ini. Bram benar-benar sangat tidak ingin diganggu.
 
"Aku ... Zoya." Sahut Zoya gemetar.
 
Tidak ada jawaban apa pun dari balik pintu itu, tetapi tiba-tiba ... 
 
Klek 
 
Pintu itu terbuka kasar dan lengan Zoya lansung ditarik Bram ke kamar, Bram melemparkan Zoya ke kasur dengan Bram berada di atas tubuhnya.
 
kini nampak jelas 2 buah gunung milik Zoya berhadapan langsung pada ke dua netra Bram, tetapi Bram sama sekali tidak mengamati itu. 
 
Mata Bram penuh dengan amarah, ia mencengkram dagu Zoya dengan kuat. "Kau menghancurkan hubunganku dengan Naura, Zoy! Kau tega! Demi sebuah perasaan yang baru saja kau rasakan! Kenapa harus aku, Zoy? Kenapa?" tanya Bram membentak.
 
Zoya membulatkan matanya, saat ini benar-benar tubuhnya kaku berada di bawah pria yang sangat ia cintai sedari dulu.
 
"Jawab, Zoy!" bentak Bram dengan nada yang sangat keras.
 
Zoya yang berada di bawah tekanan hanya bisa menangis tersedu. "Aku mencintaimu sedari dulu, Bram! Aku mencintaimu sebelum kau mencintai Naura! Jauh sebelum itu ... aku selalu memperhatikanmu, tetapi diriku hanya terabaikan dan tidak terlihat olehmu!" ucap Zoya dengan tubuh yang bergetar.
 
"Cih! Omong kosong! Kau begitu karna tidak ingin terlihat bersalah kan?" ujar Bram dengan menyunggingkan senyumnya.
 
Zoya hanya menggeleng, hatinya teramat perih saat ini. Haruskah ia diperlakukan bagaikan seorang wanita yang tidak ada harga dirinya seperti ini? Seakan dirinya mengemis cinta dari seorang pria yang jelas-jelas menolak dirinya dan masih sangat mencintai wanita lain! 
 
"Tidak, Bram! Sungguh ... aku mencintaimu, kamu ingat tentang kata-kata yang aku buatkan untukmu menyatakan cinta pada Naura saat itu? Sebenarnya, semua kata-kata itu adalah ... perasaanku yang sebenarnya." Zoya menangis tersengal-sengal, ia melemparkan wajahnya ke arah lain.
 
Kemudian dengan langkah yang terburu-buru, Bram beranjak melangkah ke arah laci di kamarnya. Ia membongkar seluruh laci itu dengan cepat.
 
Drep 
 
Ia menatap amplop putih yang di dalamnya kertas polio berisi kata-kata manis, yang dulu ia tujukan pada Naura. 
 
Bram membaca ulang secarik kertas di tangannya ... ia membaca dengan sangat teliti. Sampai ke dua bola mata Bram membulat dan berhenti pada kalimat yang membuat dirinya terenyuh. 
 
'Aku mungkin tidak selalu terlihat, tapi saat kamu menatapku ... aku pastikan tatapan itu tidak akan lagi beralih kemana pun sampai diri ini pergi.' 
 
Kertas itu Bram remas sekuat mungkin, ia robek dengan kasar ... lalu melempar robekan itu ke tubuh Zoya yang masih meringkuk di atas ranjang Bram.
 
"Kau mempermainkan perasaanku, Zoy!" bentak Bram.
 
Zoya yang jengah dirinya di perlakukan sangat hina oleh Bram, langsung beranjak dari tidurnya. 
 
Ia berdiri di hadapan Bram, menatap Bram dengan tatapan sangat tajam.
 
"Aku ... menutup rapat hatiku untuk pria mana pun, demi dirimu! Aku memilih berada di sampingmu sebagai seorang sahabat dan menghargai perasaanmu terhadap Naura, demi persahabatan kita! Tetapi apa? Apa yang kau lakukan saat ini terhadap diriku, Bram? Pantas kah ... kau menarik dan mencengkram diriku seperti wanita murahan di matamu? Hah! Pantas?" Zoya mencerca Bram kasar.
 
"Aku datang ke rumahmu bukan untuk mengemis cinta, Bram! Aku ingin meminta maaf, itu saja ... nggak lebih!" lanjut Zoya dengan mengusap air mata yang mengalir di pipinya.
 
Bram yang mulanya sangat berani membentak Zoya, sekarang mimik wajah berubah memasang raut wajah bersalah.
 
Ia melemparkan tubuhnya ke sofa meremas rambutnya dengan pusing, sebenarnya saat ini pun ... Bram tidak tahu dirinya harus apa? 
 
Dirinya hanya tidak habis fikir atas perasaan Zoya selama ini, yang ia kenal sebagai wanita mandiri tidak butuh siapa pun apa lagi lelaki di hidupnya. 
 
Saat mencari Naura waktu itu pun, Zoya turut andil dan bersemangat mencari kemana pun informasi tentang Naura bersama Bram.
 
Tetapi sekarang? 
 
Zoya yang dulu ia kenal berubah menjadi seseorang yang hancur karena percintaaan.
Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!