Sabtu, 08 Oktober 2020.
Tring!
Tring!
Alarm berbunyi menunjukkan pukul 07:00 WIB, Bram membuka matanya perlahan ... pagi ini adalah hari pertama dirinya menjadi kekasih wanita lain, selain Naura.
Hatinya seolah sakit, tetapi ... harus bagaimana lagi? Bumi dan semestanya tidak pernah merestui hubungan mereka, bahkan waktu dan keadaan pun seolah tidak pernah memihak pertemuan mereka.
Bram menutup matanya perlahan ... menarik napasnya kasar. "Nau, aku menyayangimu selalu ... sampai kapan pun itu." Ucap Bram sembari mengusap air matanya.
Ting ...
Ke dua bola mata Bram langsung beralih mengedarkan pencarian ponselnya, satu notif pesan Whatsapp dari Zoya terlihat.
"Sayang ... bangun! Ayo kita ajak Naura double date, kan kita belom ngasih tau si Naura tentang hubungan kita!" isi pesan Zoya.
Bram menaikkan alis kanannya, dengan ketikan malas ia membalas. "Harus sekarang? Aku belum siap untuk semua orang tau tentang hubungan kita," balas Bram.
Ting!
Balasan Zoya sangat cepat, nampaknya Zoya sangat menggebu dalam chattingan mereka. "Bram! Kamu masih mengharapkan Naura?" isi pesan Zoya dari seberang sana.
'Hah!'
Bram menghembuskan napasnya kasar ...
"Oke, atur denganmu! Aku mau siap-siap dulu." Balas Bram sembari melemparkan ponselnya ke ranjang.
Ia melangkah terhuyung ke arah kamar mandi, mengaca di depan cermin ... lalu meraup wajahnya dengan kasar.
"Aku bahagia kan? Menjalani hidup tanpa Naura kembali, bisa kan?" ujar Bram dengan mata yang berkaca-kaca menghadap ke arah cermin.
"Ayolah, Bram! Kamu laki kan? Naura aja kuat! Masa kamu nggak." Lanjut Bram tersenyum sendu dan masih menatap cermin kaca di hadapannya.
Di bawah air yang mengalir dari bawah shower, air matanya kembali terjatuh. Mengapa dia selemah ini? Dia lelaki, tetapi mengapa hatinya diciptakan seolah rapuh melebihi wanita.
***
1 jam kemudian ... Bram keluar dari kamarnya, dengan kemeja hijau pastel satin yang membuat Bram semakin menawan.
"Halo ... Mah, selamat pagi!" ucap Bram menyapa sang Mamah dengam raut wajah yang di buat seceria mungkin.
"Halooo ... good morning My Boy! Uhhh, mamah seneng akhirnya kamu bisa ngelupain Naura dan jadian sama Zoya! Uhhh ... ini baru anak mamah!" ucap Irna menggebu.
Degh!
Bram mendengarnya seolah merasakan sakit di bagian dada, "Aku pergi dulu ya, Mah! Bye." Ujar Bram sembari mencium pipi kanan dan kiri Irna.
Bram melangkah cepat ke arah pintu, ia bergegas masuk ke dalam mobil dan menyetir ke arah rumah Zoya.
Di sepanjang perjalanan, Bram melamuni takdir dirinya ... ini kah jalan yang harus ia tempuh? Berusaha melupakan seseorang yang ia sangat cintai ... lalu bersanding dengan wanita yang sama sekali hatinya tidak ingin menginginkannya.
Fikiran Bram seolah tidak ada habisnya memikirkan Naura ... hubungannya dan Zoya membuat dirinya malah semakin memikirkan Naura, bayangan Naura selalu menghantui dirinya ... Naura kini bagaikan candu di hidup Bram yang tidak bisa Bram hilangkan.
Citttt ...
Jlegar ... jlegar! Pandangan Bram mulai suram, kesadarannya mulai menurun.
"Aku mencintaimu, Bram ... sungguh!" ucap Naura dengan gaya genitnya.
Kini Bram memikirkan kembali, ingatannya yang dulu pernah ada. Ia mengingat kembali kenangan yang dulu pernah ada, bersama Naura.
Wiuuuwww ...
Wiuuuwwwww ..
Wiuwwwwww ...
Bram menyadarkan dirinya ... ia mencoba membuka matanya, kepalanya amat pusing saat ini. Ia menyipitkan matanya dengan susah payah, menoleh ke arah kanan lalu mengedarkan pandangannya ke arah lain.
Mobilnya?
Mobilnya terbakar ...
Orang-orang kini mengerubungi dirinya yang sedang berada di atas Brangkar, ia berusaha menyadarkan dirinya ... tetapi tidak ada yang bisa ia perbuat. Roh nya ikut tercabut dari tubuhnya, di iringi dengan denyut jantung yang melemah.
Dengan kedua bola mata Bram sendiri, ia melihat tubuhnya tergeletak tidak sadarkan diri!
"Apa aku mati? Hah! Bagaimana ini? Tapi kenapa tida ada malaikat sama sekali? Apa harus aku sendiri yang menyetorkan diri ke akhirat? Tapi bagaimana dan di mana jalannya? Oh Tuhan!" ucap Bram panik sembari terus menatap raganya yang terkulai lemah.
"Detak jantungnya sangat lemah, segera masukkan dia ke mobil! Beri dia penanganan secepat mungkin!" ucap salah satu perawat yang baru saja memeriksa tubuh Bram.
Bram terkejut mendengar perkataanya ...
"Hah? Terimakasih Tuhan! Ternyata aku masih hidup! Lalu bagaimana dengan tubuhku? Gimana cara masuknya? Astaga naga ... gue harus ikutin nih badan, kalo nggak bisa ilang badan gue, ntah kemana!" ucap Bram melangkah masuk dan duduk bersebelahan dengan raganya.
Ia mengamati tubuhnya dengan prihatin ...
"Yaelah Bram ... Bram ... udah cinta nggak bersatu, sekarat pula! Kalo mati ... sia-sia deh selama ini lu hidup berjuang dapet cintanya Naura." Ucap Bram yang masih menatap pilu tubuhnya.
Bip ...
Bip ...
Bip ...
Mobil Ambulance berhenti tepat di ruangan yang bertuliskan UGD, dengan Brangkar yang didorong cepat oleh para perawat.
Semua dokter memeriksa dan menggunakan alat TKG atau alat kejut detak jantung.
Drrt ...
Drrrt ...
Drrtt ...
Tubuh Bram bergetar hebat setiap alat itu digunakan pada Bram, ia seperti tersedot di ruang ntah apa lah itu. Bram tidak bisa menjelaskanya secara rinci.
Tit
Tit
Tit
Detak jantung Bram mulai normal, tetapi ... Bram masih dalam kondisi kritis. Ia tidak sadarkan diri meski telah digunakan dengan alat TKG atau alat kejut jantung.
"Detak jantungnya bagus, tetapi pasien masih dalam keadaan koma! Hubungi seluruh keluarganya, dia adalah dokter bernama Bram yang biasa di poli umum Rumah Sakit Mangun Kesumo. Cari tau data-datanya dan hubungi pihak Rumah Sakit Mangun Kesumo." Ucap dokter dengan para perawat yang berjaga.
Para perawat itu hanya mengangguk dan segera kembali pada tugasnya masing-masing.
Kemudian Bram termenung ... duduk dengan kedua tangan yang memangku wajahnya, ia duduk di ruangan tunggu pasien.
"Sebenernya kenapa mereka harus sebegitu sibuknya? Kan bisa ngeliat dompet gue, yakan? Eh ... tunggu? Astaga naga, dompet gue ketinggalan! Mengsedih banget ini hidup. Hp juga pake segala di pasword, kan jadi nggak bisa ngehasut dokter suruh nelpon Naura!" ucap Bram dengan segala keuringannya.
"Enak juga ya jadi hantu ... gue bisa ngeliat mereka tanpa mereka tau gue di mana," ucap Bram dengan senyuman yang menyungging.
Saat ini ia sedang memikirkan rencana mesumnya ... ntahlah mungkin dirinya tidak kenal rasa perasaan berdosa, atau takut akan kematian! Yang ia bisa rasakan adalah bagaimana rasanya nanti perasaannya, jika Naura menangisi dirinya yang sudah terkulai lemah tidak berdaya.
Pasti dirinya akan merasakan hati yang bahagia, karena melihat seorang wanita yang ia cintai menangis karena dirinya! Dan saat Naura pulang akan ia ikuti sampai kerumahnya, lalu bisa melihat Naura sepanjang hari tanpa Naura akan tahu keberadaannya ...
"Ah senangnya." Ucap Bram tersenyum puas.