Wanita Penghibur untuk Suamiku

Kecurigaan Abdi

Abdi Manggala, CEO terkenal tampan nan rupawan itu melangkah masuk dan berlenggang jalan ke arah kursi panas katanya. Ia menyebut kursi itu adalah kursi panas, karena setiap duduk di kursi itu pasti otaknya akan mendidih dan terus meletupkan fikiran sampai akhirnya ia bangun barulah fikirannya tenang.

 
Suasana di ruangan itu sunyi sepi ... tidak ada yang namanya pertemuan yang ia ceritakan pada Naura, meski hanya lewat sebuah kode yang semua orang pun tidak akan pernah tahu kode tersebut. 
 
Abdi menyenderkan kepalanya ke kursi dan meremas rambutnya dengan pusing ... tiba-tiba ia memicingkan senyumannya, memikirkan gelagat istrinya yang sangat benar-benar membuat dirinya curiga.
 
Bagaimana tidak? 
 
Naura dan Bram baru saja kepergok saling merangkul dalam satu mobil dengan keadaan wajah yang sangat haru. Meski alasan mereka masih dapat dicerna dalam akal sehat, tetapi tindakan Naura sekarang ... malah membuat Abdi semakin curiga.
 
Gerakan Naura seperti tertahan, gerakannya seperti menahan sesuatu dan takut jika harus dikeluarkan akan ketahuan! 
 
Layaknya seorang sahabat dekat, melihat sahabatnya terbaring lemah dengan kondisi kritis. Pasti akan sangat histeris! Lalu sekarang ... Naura? Naura melakukan sebaliknya. Naura seperti menahan itu semua karena dirinya. 
 
Itulah yang membuat Abdi mencurigai Naura, seharusnya jika tidak ada hubungan di antara Naura dan Bram. Naura tidak perlu menutupi perasaan sedihnya.
 
Karena perasaan itu semakin ditutupi ... semakin terlihat jelas raut wajah Naura dan Abdi membenci itu, karena itulah Abdi memilih mencari alasan menghindar sementara dari Naura. Memberi waktu Naura sejenak untuk meluapkan rasa sedih dan hancurnya perasaan itu.
 
Abdi yang duduk menyender di kursi panasnya, mengedarkan bola matanya ke sudut ruangan. Rasa bosan tengah meliputi perasaan ... Abdi merogoh sakunya dan mengeluarkan ponselnya, ia menycroll status Whatsappnya lalu bola matanya membulat saat melihat status Whatsapp Aqila di layar ponselnya.
 
Aqila membuat status dengan potret selembar foto USG dengan caption. "Alhamdulillah jagoan ... sehat selalu ya." Abdi menautkan alisnya ada sedikit perasaan senang di hatinya dan secara tidak sadar ia tersenyum melihat kata jagoan di status Aqila.
 
Mengapa hati Abdi seolah senang setelah melihat status itu, ia terbayang mendapatkan seorang putra dan putra itu akan menjaganya dan kuat seperti dirinya. Abdi menggambarkam senyuman lebar di wajahnya.
 
Tetapi ... secara tiba-tiba senyuman itu perlahan hilang, saat ia menyadari bahwa anak itu adalah anak dari seorang wanita penghibur murahan di kota ini! 
 
Bagaimana bisa putra itu menjadi kebanggaan dirinya? Bagaimana bisa putra itu bisa menggantikan dan meneruskan posisinya di dalam perusahaan ini? Untuk kelahirannya saja pasti sudah mencoreng nama baik keluarga.
 
Abdi sudah merencanakan untuk penyembunyian akan identitas anaknya itu, ia tidak mau publik tau jika ia memiliki anak dari seorang wanita penghibur.
 
Lalu Abdi menatap layar ponselnya ... mencari sebaris nama 'WANITA TIDAK TAHU DIRI' di kontaknya. "Sudah kutransfer 100 juta untuk keperluan putraku, jangan lupa perbanyaklah minum susu, buah dan sayur. Belilah vitamin apa pun yang bagus untuk kandunganmu. Aku tidak ingin anakku bodoh seperti ibunya!" Abdi mengirimkan pesan itu dengan ketikan yang sangat cepat.
 
Tring!
 
Notif pesan masuk di layar ponsel Abdi, rupanya Aqila sangat cepat membalas pesan itu.
 
"Akhirnya kau mengakui anakku? Kenapa? Saat mengetahui anakku adalah anak lelaki? Oke ... Terimakasih, atas transferannya. 3 bulan lagi aku akan melahirkan, jangan lupa datang di hari kelahiran anakmu! Kau ingin melihatnya kan? Kau tidak ingin anakmu kutukar dengan bayi yang lain kan? Jadi kumohon temani saat persalinanku nanti." isi balasan pesan tersebut.
 
Abdi menyunggingkan senyumannya ... lalu menggelengkan kepala sembari menatap layar ponselnya. "Cih dasar Wanita Murahan! Emang bener-bener udah dikasih hati malah mintanya nyawa! Dia fikir dia siapa? Berani mengatur dan mengancam seperti itu, sudah bagus aku nafkahi bukannya bersyukur malah nggak tau diri!" Abdi mengedikkan bahunya yang kekar, merasa muak dengan keadaan. Kalau bukan karena seorang putra yang ia kandung, rasanya tidak sudi berhadapan dengan seorang rendahan seperti dirinya.
 
Kemudian Abdi beranjak dadi duduknya, merogoh sakunya dan mengembalikan ponselnya ke dalam sakunya. Wajah Abdi kembali ceria memikirkan putra yang Aqila kandung akan segera lahir. Meski kelahirannya tidak pernah Abdi inginkan! Tetapi ... tetap saja, putra itu adalah putranya ... tidak ada yang bisa mengelakkan hal itu. 
 
Abdi berjalan ... ke arah sudut ruangan dengan raut wajah yang kembali gelisah, ia kembali memikirkan hubungan Naura dan Bram. Abdi tampak frustasi berkali-kali lipat. Kemudian dengan hati yang gusar ... ia kembali merogoh sakunya dan mengambil ponselnya. 
 
Abdi berkali-kali menghubungi Naura, tapi tidak pernah menyambung. "Kemana kamu Naura?"
 
 Abdi mengambil kunci mobilnya di atas meja, setelah itu ia keluar dari ruangannya. Abdi mengendarai mobil dengam kecepatan tinggi, ia bahkan tidak menyadari seberapa cepat mobil itu kini melaju. Yang ada di fikiran Abdi saat ini adalah Naura! Abdi benar-benar ingin tahu keberadaan Naura saat ini, ia benar-benar takut jika ada yang terjadi pada istri kesayangannya itu. 
 
Citt!
 
Suara rem mobil berdecit, Abdi segera turun dari mobilnya dan berlari ke arah halaman rumah dan melangkah sangat cepat ke arah pintu.
 
Pintu yang selalu terbuka sepanjang hari, tidak pernah tertutup jika tidak matahari terbenam.
 
"A-ada apa?" tanya Bunda terbata karena terkejut melihat Abdi yang berjalan cepat dan panik.
 
"Aku merindukan Naura, Bun." Jawab Abdi cepat dan langsung melangkah pergi meninggalkan Bunda.
 
Bunda yang melihat gelagat anaknya hanya menggelengkan kepalanya ke arah anaknya yang sedang menaiki tangga menuju kamar utama.
 
Abdi menaiki tangga dengan terburu-buru ritme napasnya seakan tidak beraturan, Abdi menerobos masuk ke pintu kamar mereka yang tidak terkunci. Sepertinya Naura saat ini benar-benar sangat kacau, sampai ia lupa untuk mengunci pintu tidak seperti biasanya.
 
Cahaya redup memberikan kesan remang-remang, Abdi mulai mencari saklar lampu yang berada tepat di sisi kiri pintu. 
 
Tek!
 
Cahaya mulai terang menderang, tetapi Abdi tidak mendapati Naura berada di kamarnya ... dia berusaha mencari keberadaan Naura dan tujuan satu-satunya adalah kamar mandi. 
 
Cklek!
 
Pintu kamar mandi pun terbuka. "Astaghfirullah, Naura!" Serunya terlonjak kaget. ia melihat Naura tengah tertidur di dalam bathtub dengan kesadaran yang tidak sepenuhnya sadar. Tubuhnya membiru kedinginan, ntah sejak kapan Naura merendamkan dirinya di bathtub.  
 
Lalu Abdi memapah Naura untuk segera menghangatkan tubuhnya, Abdi membaringkan Naura di ranjang memberinya selimut tebal dan membuka seluruh pakaiannya untuk segera menyalurkan kehangatan tubuhnya pada Naura.
 
Saat ini ... Bram masih setia bergeming dengan mata yang membengkak, karena sedari tadi menangis menyaksikan dan mendengarkan kata-kata terindah yang Naura lontarkan untuk dirinya.
Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!