Wanita Tanpa Rahim
Jangan Ambil Rahimku 16
Tiga bulan aku harus bolak-balik kerumah sakit dengan frekuensi seminggu dua sampai tiga kali. Dokter memberikan terapi uji coba selama tiga bulan. Katanya jika dalam tiga bulan ini tidak terjadi penyebaran, maka aku masih bisa promil dulu. Baru setelahnya melakukan operasi. Seperti mendapat angin segar mendengar pernyataan dokter. Maka dalam waktu tiga bulan ini kujalani semua nasehat dokter. Ikhtiyar langit pun tak putus kulakukan. Memohon agar Allah memberikan kesembuhan padaku sehingga harapan kami untuk mendapatkan buah hati bisa terwujud.
Namun terkadang manusia hanya mampu berencana dan berusaha, Allah-lah penentu segalanya. Tiga bulan telah kulampaui dengan berbagai rasa sakit yang mendera. Tiap hari rasa sakit ini makin bertambah saja. Tak ada lagi aktivitas di luar rumah. Tak ada kegiatan dakwah bersama jamaah. Semua kulakukan dengan berbaring. Ya, selama masa pengobatan ini, aku tak mampu lagi beraktivitas seperti biasa. Semua pekerjaan rumah diambil alih oleh mas Akmal. Pernah kuusulkan untuk mencari seorang ART saja agar dia tak kerepotan mengurusku dan mengurus pekerjaannya. Namun ia tak mau dengan alasan takut semua orang mngetahui penyakitku.
Hingga kini, tak ada seorang pun yang tahu jika aku sakit. Bahkan emak dan bapak. Abah dan Umi mungkin juga tak tahu. Entah semenjak kedatangan kami ke pondok dan mengetahui kondisi mbak Zahra waktu itu, tak ada lagi kabar dari beliau. Keinginannya untuk menjodohkan mas Akmal dengan mbak Zahra juga surut. Terbukti mas Akmal tak pernah menerima telepon lagi. Begitupun denganku.
“Dek, ada mbak Nina di luar. Kusuruh dia kesini atau Adek yang kubawa keluar?” ucap mas Akmal membuyarkan lamunanku.
“Kesini saja, Mas. Aku malu kalau mbak Nina tahu aku sudah tak mampu berjalan lagi,” lirihku. Kucoba memperbaiki penampilanku yang sedikit semrawut. Kupakai kerudung instan yang diberikan mas Akmal padaku sebelum keluar.
“Assalamu’alaikum, Aira, gimana kabarmu?”
Kuulas senyum terbaik untuk mbak Nina. Entah mengapa dadaku sesak melihat kehadirannya. Tiga purnama kuhabiskan waktu di kamar selain terapi kerumah sakit, membuatku tak pernah bertemu siapapun kecuali mas Akmal. Hanya para pasien yang dengan penderitaan yang sama yang selalu kutemui. Kami sering bertukar pengalaman dan saling menyemangati. Satu per satu diantara kami berpulang. Memenuhi panggilan sang Puasa Jagat untuk menghadap-Nya.
“Alhamdulillah baik, Mbak. Mbak Nina dari mana? Maaf ya, harus masuk ke kamar,” ucapku sambil menggeser sedikit tubuhku agar dia bisa duduk di tepi ranjang. Sedangkan mas Akmal kembali keluar menemui mas Akbar.
“Kenapa nggak pernah cerita? Kamu seperti ini kenapa diam saja?” kedua pipi mbak Nina sudah basah. Ia tergugu melihat kondisiku yang mengenaskan. “Saudara macam apa aku ini yang tak tahu saudaranya sedang sakit?” Dipeluknya aku. Kurasakan tubuh kami sama-sama terguncang. Menumpahkan air mata bersama. Cukup lama kami saling berpelukan, menyalurkan perasaan haru dan sakit bersama.
Air mataku yang sudah kering, kini tumpah lagi seperti air bah. Kuceritakan apa yang mengganjal di hatiku padanya. Karena hanya padanya aku bisa leluasa mengungkapkan segala yang tersembunyi di dasar hati ini.
“Aku—aku takut, Mbak. Takut jika banyak yang tahu akan menjadi bahan gunjingan. Terlalu berat aku menanggung semua ini, Mbak. Bagaimana kalau mas Akmal meninggalkanku?”
“Sstt, jangan memikirkan sesuatu yang belum terjadi. Akmal sudah cerita semua kemarin. Ia juga sakit melihatmu begini. Dia sudah berjanji pada kami, kalau dia tak akan pernah meninggalkanmu sendiri.”
“Tapi baagaimana kalau aku benar-benar tak mampu memberinya keturunan, Mbak?”
“Biarkan Allah yang menentukan yang terbaik buat kalian. Pernikahan itu bukan melulu soal keturunan, Ai. Jika Akmal bisa menerimamu dalam keadaan senang, ia juga harus mau menerimamu dalam kondisi kekuarangan. Aku yakin, Akmal adalah tipe lelaki yang setia. Lihatlah ketika ia ditawari menikah lagi dengan ning Zahra, dia justru mati-matian menolak, kan? Apa itu belum cukup menjadi bukti kesetiaannya?”
Kuhela napas panjang. Benar apa yang dikatakan mbak Nina. Mungkin aku hanya dibayangi rasa takut yang belum tentu terjadi. Mbak Nina mengusap air mataku yang terus mengalir tanpa mau dicegah. Netranya menatapku lekat dari ujung kepala hingga ujung kaki.
“Apa yang kamu rasakan sekarang, Ai?”
“Perutku ini nyeri banget mbak. Jika pas datang nyerinya, rasanya seperti ribuan belati ditusukkan dari perut hingga tembus ke pinggang. Sangat sakit. Kakiku juga tak bisa digerakkan. Jika digunakan berjalan, rasanya seperti mau pingsan. Ini adalah sakit yang terkuat yang pernah kurasakan. Bahkan sakitnya keguguran, masih kalah dengan sakitnya ini.”
“Astaghfirullah, sabar ya Ai. Insyaallah jika kamu ikhlas, akan menggugurkan dosa-dosa. Allah sedang membersihkan dirimu dari dosa-dosa masa lalu yang tidak bisa dibersihkan dengan istighfar.”
Kuanggukkan kepala. Rasanya hatiku seperti disiram air es. Dingin dan menyegarkan. Dua jam lebih kami habiskan untuk berbincang. Berbicara tentang agenda dakwah yang sudah beberapa bulan tak bisa kutunaikan. Juga rencana ke depan yang sebaiknya kulakukan. Mbak Nina memeberikan banyak motivasi sehingga aku mampu bangkit dari keterpurukan ini.
***
“Setelah tiga bulan kita observasi, ternyata kankernya berkembang cukup cepat,” ucap dokter Arif sambil melihat hasil MRI keduaku. Kedua netranya mengamati gambar itu dengan saksama.
Aku hanya bisa menahan napas mendengarkan penjelasan dokter yang kunilai sebagai kabar buruk itu. mas Akmal hannya diam mendengarkan penjelasan dokter. Sesekali tangannya mengusap tanganku yang tak lepas dari genggamannya.
“Besok operasi ya?”
Kupingku tetiba berdenging. Kupastikan apa yang kudengar tidak salah. “Apa, Dok?”
“Besok operasi. Tidak ada jalan lain. Tiga bulan waktu yang cukup untuk observasi. Ternyata obat yang saya berikan tidak cukup mampu untuk sekadar menghentikan laju perkembangannya.”
Kali ini tubuhku benar-benar luruh. Apa yang dikatakan dokter adalah benar. Bukan telingaku yang bermasalah. Bagaimana ini? Seketika darahku berhenti mengalir. Dadaku tersengal. Ribuan kunang-kunang berputar di sekitar kepalaku. Selanjutnya aku tak tahu lagi apa yang dibicarakan dokter dengan mas Akmal. Sedikit demi sedikit kesadaranku menurun. Hingga sebuah tepukan kecil membuatku tergeragap. Ah, rupanya aku hampir saja pingsan kembali.
Sebuah ruangan dengan dominasi warna putih kini menjadi tempat peraduanku. Malam ini aku aku tak bisa tidur. Sebuah selang sudah menancap di lengan kiriku. Berbagai pertanyaan berkelindan menunggu jawaban. Waktu seakan berjalan sangat lamban. Kucoba untuk memejamkan mata, tapi gagal. Pikiranku terus berkelana entah kemana. Hari ini niat kami datang ke rumah sakit ini hanya untuk kontrol. Siapa sangka ternyata aku harus operasi secepatnya.
Empat hari sebelum operasi dimulai, akku harus menjalani berbagai rangkaian test dengan dokter specialis yang berbeda. Kata dokter Arif jika salah satu dokter nggak ACC, maka operasi tak bisa dilakukan. Pertama-tama, dokter jantung. Lalu dokter paru-paru, dokter digestif, disusul dokter anestesi. Alhamdiulillah semua ACC, sehingga pada hari ke-lima, direncanakan untuk operasi.
Menunggu waktu itu tiba, perasaanku berubah-ubah. Kadang senang karena akan segera terbebas dari penyakit ini, kadang sedih karena akan kehilangan bagian terpenting dari seorang wanita, kadang takut jika opearinya gagal dan aku tak bisa menghirup udara kembali. Ah, untuk yang terakhir ini sebenarnya sudah kupasrahkan pada Sang Penggenggam jiwa.
Malam ini, mas Akmal diminta menemui dokter di ruangannya untuk menandatangani berkas-berkas persetujuan dan apalagi, entah aku tak tahu. Selain itu akan diberi penjelasan tentang prosedur operasinya. Tentu saja aku nggak mau ketinggalan. Aku harus tahu bagian mana saja yang akan diambil. Dan apa saja resikonya jika hal itu dilakukan. Maka dengan atau tanpa persetujuan dokter Arif, aku tetap ikut masuk ke ruangannya.
Kedua netra dokter Arif membelalak. Memandangku seolah tak percaya. Namun aku tak peduli. Mas Akmal tetap mendorong kursi rodaku untuk masuk ke ruangan kecil itu.
“Ibu, besok hari operasi Ibu, kenapa ikut kemari? Sebaiknya istrirahat saja di kamar biar besok badannya segar.”
Aku tahu dokter memintaku kembali ke kamar supaya aku tak ikut mendengar penjelasannya. Tapi aku sudah memohon pada mas Akmal tadi agar aku bisa ikut nimbrung. Ini tubuhku, dan aku yang akan menjalani operasi ini, kenapa aku dilarang tahu?
Setelah sedikit memaksa dan beradu argumen, akhirnya dokter mengizinkanku dengan syarat jika aku sudah tak sanggup mendengarkan, aku harus keluar dari ruangan itu.
“Jadi ini adalah operasi besar dan berbahaya. Lebih besar dari operasi besar,” ucap dokter lalu menjeda kalimatnya. Tatapannya tepat menusuk manikku. Namun aku tetap tenang meski dalam hati sudah ketar-ketir. “Ada 6 organ perkiraan yang akan diambil.”
Kini gantian bola mataku yang membelalak. Seakan hendak lepas dari sarangnya andai saja tidak ada otot yang mencengkeramnya dengan kuat.