Wanita Tanpa Rahim

Bahagia itu Milik Semua 22

Senyum merekah tak lepas dari Iqbal setelah mendapat restu dari Abah dan Ummi. Mereka sepakat acara pernikahan dilaksanakan seminggu lagi tanpa resepsi.

"Mi, tolong bawa Zahra kemari!" perintah Abah yang langsung diangguki sang istri. Mas Akmal tak henti-hentinya tersenyum melihat tingkah Iqbal yang tidak biasa. Sedikit-sedikit tersenyum sambil mengusap jenggotnya yang rapih. Mungkin saat ini hatinya berbunga-bunga. Wanita yang diidam-idamkan sebentar lagi menjadi istrinya. Bertahun-tahun ia berjuang memantaskan diri untuk menjadi imam mbak Zahra. Dan sekarang Allah telah menjawab doanya.

Aku berdoa dalam hati, semoga mbak Zahra bisa menerima. Rasanya setiap hari seperti menunggu eksekusi mati saat belum mendapat solusi ini. Bayangan mas Akmal harus menikah lagi, dan dia akan bahagia mendapat keturunan dari perempuan lain. Sementara aku tak mampu memberikannya. Sebenarnya aku tak boleh egois. Mengikat mas Akmal dengan kondisiku seperti ini. Tapi ... apa aku sanggup berbagi suami dengan wanita lain?

"Abah?"

"Iya, sayang. Sini, duduk dekat Abah," ucap Abah sambil membantu mbak Zahra duduk.

Netra Iqbal tak lepas dari mbak Zahra. Meski baru melihat kondisi mbak Zahra yang sekarang, tak ada sedikit pun raut kaget di wajahnya. Seolah ia sudah siap dengan apapun kondisi mbak Zahra.

Dengan hati-hati, Abah menyampaikan niatnya menikahkan dengan Iqbal. Ekspresi mbak Zahra berubah. Senyumnya memudar bersamaan dengan air matanya yang meleleh. Bibirnya bergetar diikuti pundaknya yang terguncang-guncang. Kedua telapak tangannya menutup wajah. Entah perasaan apa  yang sedang diluapkan saat ini. Kami hanya bisa menunggu tangisan itu reda.

Kulirik Iqbal dengan ekor mataku. Tatapannya berubah sendu menyaksikan gadis pujaannya menangis pilu. Entah apa yang sedang dirasakannya sekarang.

Abah memegang pundak sang putri, membuat gadis dengan bekas luka di wajah itu mendongak. Tatapan kosong itu terlihat sangat tersiksa. Hatiku ikut hancur melihat air matanya yang yang terus berlinang. Ada kesakitan yang sama terlihat dari sinar redup itu. Ya, perasaan kehilangan sesuatu yang sangat berharga dari tubuhnya. Dia kehilangan penglihatan, sementara aku kehilangan rahim.

"Bah, ap--pa mas Iqbal sudah tahu keadaanku?" ucapnya di sela-sela isakan. Tangannya sesekali menyusut buliran bening yang terus mengalir tanpa jeda itu.

"Ya, dia sudah tahu. Apa kamu bersedia, sayang?"

Abah mengelus puncak kepala gadia berkerudung itu dengan sayang. Seulas senyum terukir manis di bibir mbak Zahra. Hanya sekilas. Tapi aku tahu dia setuju.

"Zahra ... nggak sempurna, Bah. Bagaimana kalau mas Iqbal kecewa melihat keadaan Zahra sekarang? Zahra ... bukan lagi perempuan cerdas yang dikagumi banyak orang. Tapi sekarang Zahra hanya seorang gadis buta yang tak bisa apa-apa," lirihnya diiringi isakan. Sepertinya mbak Zahra nggak tahu jika Iqbal ada di hadapannya. Mendengar setiap untaian kata yang terucap dari bibir merah alaminya, Iqbal hanya tersenyum. Lalu menegakkan tubuhnya.

"Insyaallah saya terima semua kelebihan dan kekuranganmu, Ning."

Wajah mbak Zahra berubah pias mendengar ucapan Iqbal. Sesaat kemudian ia merapikan posisi duduknya dan membenahi kerudungnya yang mungkin dianggap berantakan. Meski hasilnya tetap sama. Lalu berbisik di telinga Abah. Entah apa yang dibicarakan. Sepertinya malu. Terlihat dari wajahnya yang memerah.

"Bagaimana, Sayang? Apa kamu mau menerima lamaran nak Iqbal?" tanya Ummi. Mbak Zahra tampak salah tingkah. Lalu mengangguk mantap.

"Alhamdulillah," ucap kami kompak.

Mbak Zahra semakin salah tingkah mendengar ucapan kami. Mungkin ia mengira hanya bertiga saja, ternyata ada aku dan mas Akmal juga.

 

***

"Sah!"

Suasana haru menyelimuti acara sakral itu. Ummi dan beberapa orang yang hadir menitikkan air mata menyaksikan pernikahan sederhana ini. Tak ada pesta. Tak ada tamu undangan sebagaimana aku dan mss Akmal dulu. Hanya kerabat dan para santri yang turut menyaksikan pernikahan ini.

 Begitu pula denganku. Tak mampu membendung air mata bahagia ini. Bahagia karena akhirnya mbak Zahra yang kuanggap kakakku sendiri sudah menemukan imam yang sempurna untuknya. Yang akan memberikan kasih sayang dan bimbingan padanya. Meski awalnya penuh drama, karena hampir saja membuat kapal rumah tangga kami oleng, akhirnya bisa berakhir bahagia.

Aku tetap menjalani hidup bersama mas Akmal tercinta, dan mbak Zahra yang mengarungi bahtera rumah tangga bersama Iqbal. Doa kebaikan mengalir dari semua yang ada di tempat ini.

Kami pun pulang dengan dada membuncah bahagia. Sepanjang jalan mas Akmal menggenggam tanganku dengan tangan kirinya sambil nyetir. Sesekali pindah ke perseneling, untuk menambah dan mengurangi gigi.

"Jika Allah berkehendak, apa pun padti terjadi. Iya, kan?"

"Eh?" Aku gelagapan tiba-tiba mas Akmal mengucap demikian.

"Setiap malam mas berdoa agar rumah tangga kita diberkahi. Mas meminta pada-Nya untuk menjaga hati Mas tetap utuh untukmu. Dan Allah mengabulkan. Seberapa pun kamu memaksa mas untuk menikahi ning Zahra, jika takdir kita hanya berdua, pastibada jalan untuk kita tetap bersatu."

Speechless. Tak ada suara yang mampu keluar dari mulut ini. Nay tatapan mata ini tak mampu beralih dari wajah tampan di sampingku. Mas Akmal meminggirkan mobilnya di jalan sepi. Lalu mengubah posisinya menjadi menghadapku. Kedua tangan ini digenggamnya lalu dicium. Tatapan mata kami saling mengunci.

"Mulai hari ini, jangan pernah lagi memintaku membagi hati. Karena ... sampai maut memisahkan, aku tak akan pernah menduakanmu."

Seperti embun pagi yang menyejukkan. Kata-kata sederhana mas Akmal membuatku melayang. Aku bagaikan kupu-kupu yang terbang dengan riang selepas menghusap madu. Mendapat energi baru untuk melangkah menuju kehidupan selanjutnya.

"Tapi, sekarang Adek nggak sempurna. Adek wanita tak berrahim. Apa mas siap menua tanpa buah hati?"

Direngkuhnya kepala ini dalam dekapan hangatnya. Kurasakan sebuah kecupan hangat di keningku.

"Anak itu rezeki. Allah tak memberi rezeki itu pada kita, tapi memberi rezeki lain yang melimpah. Kita tetap bisa berbuat kebaikan dengan itu. Mungkin Allah hendak memberi kesempatan kepada kita untuk membantu anak-anak yatim." Mas Akmal menjeda kalimatnya dengan melapas pelukannya. Tapi tatapan matanya tak lepas dariku.

"Mereka bukan anak yang lahir dari rahimmu, tapi mereka bisa memperoleh kesempatan hidup layak dengan kasih sayangmu."

Air mata ini sudah tak mampu lagi kubendung. Getaran halus serupa kepakan sayap kupu-kupu terasa menggelitik perutku. Bahkan darah ini ikut berdesir mendengar ucapan mas Akmal. Tak salah jika Allah menyatukan kami untuk saling melengkapi dan menyayangi. Ucapan syukur saja tak cukup untuk membalas segala karunia-Nya. "Maka nikmat Tuhan yang manakah yang kamu dustakan?"

Kami terus mengungkapkan perasaan bahagia dengan terus bercerita. Mengenang kembali masa-masa awal pernikahan kami yang penuh drama, hingga masa-masa perjuangan kami memperoleh buah hati meski akhirnya gagal.

Sebuah ketukan dipintu membuyarkan acara nostalgia kami. Kepalaku yang entah sejak kapan sudah menyandar di bahu mas Akmal, sedikit terguncang saat imamku ini membuka kaca disampingnya.

"Ya, Pak. Ada apa, ya?" ucap mas Akmal pada seorang laki-laki berseragam cokelat itu.

"Maaf, Pak, pasangan mesum dilarang beroperasi di sini. Lebih baik kalian berdua segera pergi dari sini sebelum digrebek warga setempat."

 

Kami berdua saling pandang, mencerna ucapan pria itu. Kemudian tanpa aba-aba tawa kami pecah. 

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!