Wanita Tanpa Rahim

Gunjingan Tetangga

Aku seperti kehilangan pijakan. Lututku melemas seketika. Pandangan memburam, seperti ada yang mendesak ingin keluar dari kedua mata ini.

Mas Akmal menggenggam tanganku di bawah meja. Menyalurkan kekuatan agar aku tegar. 

"Apa masih bisa disembuhkan, Dok?"

"Insyaallah. Kita berusaha sambil terus berdoa. Semoga bisa sembuh."

Dokter menuliskan sesuatu pada buku resep, lalu menyerahkan kepada suami. Dia juga memintaku untuk rutin datang setiap obatnya habis. 

"Sepanjang perjalanan pulang, hanya keheningan yang meliputi kami. Tatapanku lurus ke depan. Sementara mas Akmal fokus mengemudikan mobil yang kami tumpangi." 

Sampai di rumah aku langsung berbaring di ranjang. Meringkuk menghadap tembok. Kurasakan kasur di belakangku bergerak. Sebuah tangan melingkari perutku. 

Air mata ini terus mengalir tanpa bisa dicegah. 

"Sabar ya, Dek. Ini ujian kita."

Tangisan ini makin menjadi. Aku berbalik dan masuk dalam dekapan hangatnya. Menelusupkan kepala ke dadanya. 

"Maaf ya, Mas. Adek cuma bisa nyusahin aja."

"Sttt, jangan berkata begitu. Kita disatukan Allah untuk menghadapi semuanya bersama. Kita berjuang sama-sama, ya."

Kurasakan belaian lembut di punggungku. 'Ya Allah, terimakasih Kau berikan imam yang sempurna untukku.'

Lalu mas Akmal menceritakan kisah Nabi Ayub yang diberi ujian sakit hingga semua orang menunggalkannya kecuali sang istri. Seperti mendapat kekuatan baru mendengar kisah itu kembali. Meski sering mendengar atau membaca kisah-kisah para Nabi dalam menghadapi ujian, kali ini rasanya seperti beda. 

Mas Akmal menceritakan dengan penuh penghayatan. Membuatku larut dalam kisah itu. Sungguh beruntung aku memiliki suami dia. 

 

***

 

"Sayur ... Bu! Sayur ..." 

Kusambar kerudung instan yang tergantung di balik pintu. Memakai kaos kaki, lalu keluar menuju penjual sayur itu berhenti. 

Ternyata ibu-ibu komplek sudah bergerombol mengelilingi penjual sayur itu. Melihatku memdekat, beberapa ibu-ibu menyingkir. Memberi akses padaku untuk memilih. 

"Mbak Aira, mau belanja juga, ya? Mau masak apa, Mbak?"

Aku tersenyum sambil memilih beberapa bahan untuk kumasak dua hari. Tiga ikat kangkung, sepotong tempe, brokoli, buncis, bumbu dan ikan bawal. 

"Ini, Bu mau oseng kangkung sama goreng tempe."

"Ini lo, Mbak. Banyak makan tauge biar subur." Bu Ratna menyodorkan seplastik tauge padaku. "Ngomong-ngomong, mbak Aira sudah isi lagi belum?"

"Doakan saja ya, Bu. Semoga diberi lagi secepatnya oleh Allah." 

Aku segera menyerahkan belanjaanku ke penjual agar dihitung. Rasanya sudah nggak betah berlama-lama di sini. 

"Oh, jadi belum? Makanya mbak makan tauge ini lo yang banyak." Sekali lagi bu Ratna menyodorkan taoge yang dari tadi kuabaikan. Hanya senyumku yang menjawab kalau aku tak suka sayur putih itu. "Aku kasih saran ya, Mbak ... Kalau ada yang melahirkan curi popok bayinya yang dijemur terus simpan di bawah bantal." 

Saran bu Ratna membuatku mengelus dada. Segitu putus asanya kah aku sampai harus melakukan perbuatan haram itu? Beginilah kalau mitos lebih dipercaya daripada janji-Nya. Banyak yang tersesat gara-gara keyakinan yang tak berdasar. Hanya berdasarkan "kata mbah jaman dulu", astaghfirullah.

Aku segera berlalu setelah membayar belanjaanku. Namun rupanya ibu-ibu itu masih belum tenang jika aku tak meladeninya. 

"Mbak Aira, saya belum selesai ngomong loh. Kok udah pergi aja. Mbak Aira nggak takut kalau mas Akmal kepincut perempuan lain?"

Aku menghentikan langkah. Mulai gerah dengan ucapan bu Ratna itu. Kuhela napas panjang untuk meredam gejolak di dada. 

"Mas Akmal itu ganteng, sukses, masih muda lagi. Bisa jadi kan mbak di luar sana banyak cewek yang menginginkannya. Apalagi kalau ada yang bersedia memberi keturunan!" ucap bu Ratna lagi setengah berteriak. 

Kali ini aku sudah tak tahan. Aku berbalik dan tersenyum kecut menatap ibu-ibu yang seolah iba melihatku. 

"Maaf, Bu Ratna, tahu nggak kemarin ada berita di TV seorang ibu gantung diri gara-gara menuduh tanpa bukti. Ternyata suaminya sendiri yang main perempuan."

Bu Ratna dan lainnya langsung kicep. Mereka berpandangan satu sama lain. Nggak berani lagi bersuara sekadar untuk menanyakan harga pada penjual. Sebelum berbalik, aku kembali berucap.

"Insyaallah suami saya masih punya iman. Rasa takutnya pada Allah lebih besar dari godaan perempuan tak halal. Jadi tidak akan melakukan hal-hal yang membuatnya terseret dalam neraka. Siksa neraka itu pedih lo, Buk!"

Aku langsung meninggalkan mereka dalam diam. Hatiku merasa lega setelah mengucapkan itu. Sebenarnya aku nggak mau cari masalah dengan mereka. Apalagi kami tetangga dekat. Tapi entah mengapa ucapannya selalu saja membuat darah mendidih. 

Kulangkahkan kaki dengan ringan menuju pintu. Kepala menunduk sambil memikirkan ucapan ibu-ibu tadi. Walau percaya dengan ucapanku sendiri, entah mengapa kalimat terakhir bu Ratna mampu memporak-porandakan akal sehatku. Seketika aku teringat telepon seorang wanita beberapa hari lalu. 

'Apa selama ini mas Akmal memendam keinginannya untuk mendapatkan keturunan. Bagaimana kalau aku tak mampu memberikannya?' 

Batinku terus berkecamuk. Memikirkan kemungkinan-kemungkinan yang belum pasti. 

“Nunduk terus, nanti nabrak, loh!”

 Aku mendongak. Mas Akmal tersenyum menatapku yang sedang kaget. Diraihnya belanjaan dari tanganku dan merangkul dengan tangan satunya. Aku hanya bisa diam dan mengikuti langkah panjangnya. 

 “Nggak usah dengerin omongan yang nggak jelas. Kalau nggak kuat lambaikan tangan saja.”

 Aku mencubit perutnya yang keras seperti papan. “Apaan sih, emang lagi ikut uji nyali?” ucapku sambil mengerucutkan bibir. Mas Akmal terkekeh sambil meletakkan belanjaanku di pantry. Lalu duduk di meja makan yang berdekatan dengan dapur. 

 “Mas dengar ucapan bu Ratna tadi?” 

 Aku mulai memetiki kangkung. Melihatku menyibukkan diri dengan bahan masakan, mas Akmal mendekat. Lalu dengan cekatan mengambil tempe untuk di potong. Melumuri dengan tepung bumbu dan memanaskan minyak untuk menggoreng. Dia memang sering membantuku memasak. Jadi sudah tidak kaku lagi ketika berada di dapur. Dia sangat tahu apa yang harus dia lakukan.

 “Mas seneng akhirnya Adek bisa menjawab telak omongan bu Ratna.” Ia menghadapku, “Jangan Cuma diam kalau dirasa perlu untuk dijawab. Sekali-kali dia harus disadarkan bahwa ucapannya itu tajam seperti belati.”

 Ah, suamiku ini tahu banget kalau istri tercintanya ini sering terluka dengan omongan para tetangga. Tidak semua, sih. Masih banyak juga tetangga yang memiliki empati. Kami lalui acara masak ini dengan bercerita. Satu minggu lelaki di sampingku ini berkutat di luar rumah, inilah saatnya menghabiskan waktu berdua sambil mengerjakan tugas rumah bersama. Kami memang sudah sepakat untuk menggunakan week end sebagai family time. Kecuali ada acara dadakan. 

 Dering HP mas Akmal mengalihkan peerhatian kami yang sedang berdiskusi tentang Feminisme. Paham liberal yang diusung kaum perempuan yang merasa bahwa mereka memiliki otoritaspenuh atas dirinya. Nggak mau diatur dengan aturan Allah, dan sering kali membuat program-program berkedok pemberdayaan perempuan padahal isinya menyesatkan. Mereka sering kali menolak syariat Islam dengan alasan tidak sesuai dengan perkembangan zaman atau menindas kaum perempuan. 

 “Kyai Jumhuri yang nelpon,” bisik mas Akmal sambil mengangkat telepon. Aku memberi kode agar lodspeakernya diaktifkan.

Mas Akmal melakukan apa yang aku minta. Tapi mendadak ada perasaan tak nyaman saat suara Abah terdengar.

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!