Warna Pelangi Cinta
Naurah
Senandung nyanyian Menggema dalam hati
Semerdu tasbih alam Mendayu pilu
Asrama Salima tampak ramai sore ini, tidak seperti biasanya. Asrama Salima terletak di bagian timur Universitas Muhammadiyah dan STAIN, dari arah matahari dimunculkan Allah Azza wa Jalla. Walau kala sore Kampus memang dipadati para pemuda dan pemudi yang ramai berjalan-jalan mencari udara sore setelah lelah belajar, baik yang masih pelajar maupun yang sudah Mahasiswa.
Dalam bayangan remaja, inilah surganya dunia. Saat-saat bersanding dengan pujaan hatinya, atau yang menawan hatinya. Mereka saling tersenyum dan bercanda bersama, saling merindu walau hanya sehari tak bertemu. Alangkah bahagianya wajah-wajah mereka ketika berjalan bersama kala sore di pandang malu-malu oleh matahari yang semburat hendak menghilang di kaki langit sebelah barat. Benarkah itu kenikmatan? Benarkah yang mereka rasakan hanya terisi keindahan? Tidakkah mereka mengetahui jika langit sore ini, matahari semburat kuning itu, jalan aspal yang mereka lewati, pohon-pohon yang tertiup sepoi angin, jembatan perbatasan Metro dan Lampung Timur, kerikil-kerikil di pinggir jalan akan menjadi saksi atas kenikmatan semu ini. Saksi ketika setiap hal dipertanggungjawabkan dalam catatan kitab yang nyata. Kitab yang tak meninggalkan sedikitpun dari yang kecil hingga yang besar.
Kitab yang tidak ada kebohongan sedikitpun, sehingga tidak ada lagi manusia yang mengatakan bahwa hidupnya lalai dari apa yang dilakukannya. Seorang manusia tidak akan beranjak kakinya nanti ketika ditanya di akhirat, sebelum ditanyakan untuk apa usia muda digunakannya. Untuk menuntut ilmu? Atau menikmati hidup dengan gelimang nafsu?
Pada hari ketika mereka dibangkitkan Allah semuanya, lalu diberitahukanNya kepada mereka apa yang telah mereka kerjakan. Allah mengumpulkan (mencatat) amal perbuatan itu, padahal mereka telah melupankannya. Dan Allah Maha Menyaksikan segala sesuatu. (QS. Al-Mujaadilah: 6).
Atau mereka beralasan bahwa mereka tidak tahu akan ilmu? Dan akhirnya terjerumus kedalam hidup syahwat dan bersenang-senang bersama syetan.
Dan diletakkanlah kitab, lalu kamu akan melihat orang-orang yang bersalah ketakutan terhadap apa yang (tertulis) di dalamnya, dan mereka berkata : ”Aduhai celaka kami, kitab apakah ini yang tidak meninggalkan yang kecil dan tidak (pula) yang besar; melainkan ia mencatat semuanya; dan mereka dapati apa yang telah mereka kerjakan ada (tertulis). Dan Tuhanmu tidak menganiaya seorang juapun. ( Al-Kahfi : 49).
Wanita berjilbab hijau daun itu berjalan masuk ke pelataran Salima, dia baru saja mengurus persiapan ujian skripsinya. Wajahnya yang bercahaya bagai rembulan tampak indah tersinari matahari temaram yang hampir mengundurkan diri dari pekerjaannya siang ini. Tapi matahari pasti akan datang lagi esok, ia tidak pernah absen dan mogok kerja. Dia hanya melaksanakan titah Tuhannya dengan tunduk dan patuh, dia berdzikir dengan cahayanya menerangi dunia.
”Assalamu’alaikum,” tas punggungnya yang lumayan berat dilepasnya dan dijinjing dengan tangan kanannya, tangan kirinya menjinjing sepatunya. Terdengar suara sahabat-sahabatnya dari dalam, kakinya langsung melangkah masuk. Dia tahu teman-temannya pasti tengah sibuk di dapur untuk persiapan acara kajian untuk Mahasiswi baru. Di kost-kost sekitaran Salima, terutama Mahasiswi baru yang kost di Salima sendiri.
”Sudah siap Imah?” wanita itu bertanya pada Khusnul Khatimah yang sedang memotong-motong buah bengkoang, nanas dan pepaya. Kelihatannya baru dibeli, buahnya masih terlihat segar-segar. Khatimah masih semester dua.
”Tinggal sedikit lagi Mbak Ifah, di dalam sedang ramai membuat sambal lutis dan menggoreng pisang, bakwan dan tahu bunting. Saya minta motongin buah saja, soalnya saya belum bisa masak-masak,” wajah polosnya tersenyum.
Naurah Lathifah An-Nawwar tersenyum, lalu berlalu menuju kamarnya. Menaruh sepatu di rak dan tasnya di gantungan di pojok kamar di atas meja belajarnya. Naurah di Salima dipanggil dengan Lathifah atau Ifah, ketika di Kampus banyak yang memanggilnya Naurah. Baginya tak masalah.
Naurah melepaskan jilbabnya dan mengganti dengan jilbab kaos yang sama lebarnya. Dia ingin bergabung dengan teman-temannya, mempersiapkan acara nanti malam. Dia menghadap cermin sejenak, melihat sudut-sudut wajahnya yang bersih. Tidak ada komedo atau jerawat disana. Naurah tersenyum, ’Ya Allah, jadikanlah akhlak hamba sesuai dengan wajah hamba,’ Nauroh berdiri dan bergabung bersama teman-temannya di dapur. Dia langsung mengambil alih pekerjaan Indah yang sedang memegang saringan dan sutil. Cerianya teman-teman menyambutnya. Canda ria mereka karena ukhuwah itu indah, bisa saling memercayai, saling mengerti, dan saling tolong-menolong dalam kebaikan.
”Di antara kita yang hampir selesai kuliah ada empat. Kira-kira siapa ya, yang akan menggenapkan diennya dulu?” Indah yang nganggur sementara akhirnya membuat topik pembicaraan baru. Di dapur itu ada enam orang, dua masih semester empat dan enam, dan yang empat hampir ujian skripsi. Mereka semua kuliah di Universitas Muhammadiyah Metro.
Endang yang mengadon bakwan melirik Indah, ”Bukankah kamu bilang ingin segera menikah setelah proses skripsimu selesai?” sambil terus mengaduk-aduk adonan, karena bakwan belum waktunya digoreng. Pisang telah selesai, kini masih menggoreng tahu bunting.
”Ya, siapa tahu Ani atau Naurah diam-diam mendahuluiku. Apalagi kulihat Naurah kini lebih sering berkaca, dia pintar, pasti banyak lelaki shalih yang ingin mempersuntingnya,” Indah mengangkat kedua bahunya sambil melirik Naurah yang wajahnya segera berubah.
”Kenapa aku? A...,aku belum belum memikirkannya sama sekali untuk itu?” pemberontakan biasanya adalah menutupi. Itulah manusia. Jika dilarang sesuatu, dia pasti penasaran dan ingin mengetahuinya, kenapa dilarang?
”Lihatlah wajahnya yang merona merah,” Indah semakin gencar mengerjai Naurah, ”Ada seorang aktivis jempolan lho, dia sangat pintar dan kini sedang persiapan ujiannya di UM juga. Dia dulu bareng kita kok waktu Protama dan Mastamanya,” Indah melirik teman-temannya. Terlihat ada yang acuh dan ada yang penasaran dari raut wajahnya.
”Memangnya siapa dia Ndah?”Endang bertanya penasaran.
”Dia..., pintar, tajir, agamanya bagus, Dia...,” wajah kelima orang itu semakin penasaran memandanginya, ”Dia Latif Zilullah, dia ketua At-Taghyir. Kalian pasti mengenalnya.”
Kelima teman Indah menganggukkan kepalanya tanda setuju. Zilul memang selama menjadi ketua At-Taghyir banyak melakukan terobosan-terobosan, lalu didukung keuangannya selalu tak masalah ketika ada event-event besar. Dia selalu menalangi dan tidak mau jika dikembalikan. Mereka berenam saja seolah tak akan sesuai dengan lelaki itu, lelaki serba sempurna dalam pandangan mereka. Tapi, Naurah acuh menggoreng dengan tenang.
”Itupun semua tahu Ndah. Semoga dia nanti melamarmu dan kau pasti akan bahagia, amiin,” Endang mengangkat kedua tangannya ke atas.
”Amiin,” Indah mengamini sambil memejamkan matanya, ”Tapi rasanya tidak mungkin dia melamarku. Tapi jika iya, aku tak akan menolaknya.”
”Eit! Tapi ada yang lain juga kan. Ketua Al-ishlah STAIN juga orangnya berkarakter. Dia itu si Lutfi A’saru,” Indah kembali berbicara. Yang lain hanya geleng-geleng kepala pada Indah yang memang baru memakai jilbab itu. Teman-temannya masih memaklumi, dia memang masih awal berubah menjadi baik. Mereka harus sabar menghadapinya.
”Tapi...,” Laila yang masih semester empat tiba-tiba angkat bicara, ”Aku mengenal seseorang yang berada di Baitul’ilmi yang kata temanku di STAIN, dia juga terkenal berkarakter dan kuat dakwahnya.”
”Siapa dia Dik?” Indah Penasaran
”Namanya Faza, ya, tapi aku lupa lengkapnya. Dia Penulis yang karyanya sering nampang di Lampung Post, Radar Lampung, atau di majalah Kronika.”
Ada setrum yang tiba-tiba menjalar di seluruh syaraf Naurah, nama itu adalah ketua Ghuroba. Dia sendiri belum terlalu mengenalnya, hanya dulu pernah melihatnya sekilas. Ghuroba bergerak di luar Kampus, memberi bimbingan-bimbingan pada Sekolah Menengah dan dakwah di masyarakat. Ada getar yang tiba-tiba timbul, ada sebuah cerita yang dia simpan dalam hatinya. Suatu cerita tentang Faza Arfani Al-Barraq.
”Sudah..., sudah. Kita lihat saja nanti. Aku juga ingin segera menikah jika skripsi sudah selesai dan wisuda. Bagi wanita seperti kita, tidak baik menunda-nunda pernikahan walau alasannya ingin meneruskan kuliah S2, bukankah S2 juga bisa disambi menikah?” Ani menengahi sambil memasukkan tahu yang telah dimasukkan racikan di dalamnya.
”O...iya Naurah,” Ani teringat sesuatu. Dia menatap Naurah, ”Bukankah kamu harus rapat TDB di Babussalam?”
”Insyaallah, rapat hari ini ditunda. Tadi siang ba’da dzuhur semua anggota PH At-Taghyir dihubungi bahwa rapat hari ini dibatalkan, ada agenda di beberapa organisasi dakwah, Tajdid, At-Taghyir dan IMM ada acara yang tidak bisa ditinggal.”
Begitulah ramainya persiapan kajian ruhiah di Asrama Salima nanti malam, pada dasarnya usia-usia mereka rentan tentang masalah cinta. Saatnya mungkin sudah tiba bagi mereka untuk menikah. Matahari benar-benar tenggelam, setelah mendengarkan mereka bercanda sambil mempersiapkan hidangan nanti malam. Bulan mulai terlihat dan mendoakan mereka yang berjuang di jalan Allah Azza wa Jalla. Maghrib tiba.