Warna Pelangi Cinta
Pantang Menyerah adalah Jalannya Kehidupan
Endang mondar-mandir ke depan dan belakang. Beberapa Mahasiswi berdatangan setelah shalat isya’. Ada keceriaan bercampur kegelisahan dari wajahnya. Langkahnya kembali ke dapur, menghitung kue yang telah disediakan dengan telunjuknya, walau hanya memperkirakan saja. Tidak mungkin kan menghitung sungguh-sungguh kue yang ditumpuk seperti itu?
Wajahnya kembali mendongak lalu diturunkan kembali, menghembuskan nafas pelan-pelan. Tapi, langsung panik kembali.
”Mbak kenapa sih? Bolak-balik,” Imah yang menyiapkan tisu makan, bertanya pada Endang. Tangannya sigap menata rapi tisu-tisu yang berwarna-warni.
”Waduh Imah, kalau pesertanya sebanyak itu bagaimana?” Endang berkacak pinggang, lalu tangan kanannya memegang keningnya, ”Waduh!”
”Lho, kan bagus Mbak kalau pesertanya banyak. Kajiannya tambah rame.”
”Iya, tapi kuenya tak akan cukup Dik.”
”Tinggal beli lagi aja Mbak, kenapa repot.”
Endang menatap Khusnul Khatimah, ”Iya! Kenapa tidak terpikir olehku, mungkin karena malam jadi tidak terpikir ada yang jualan kue di kampus,” Endang segera menuju ke ruang tamu dimana peserta sudah berdatangan. Endang langsung mendekati Naurah dan duduk di sebelahnya.
”Ada apa Ukhti? Kelihatannya ada masalah?” Naurah langsung bertanya melihat wajah Endang yang kelihatan gelisah. Wajah khas Lampungnya yang putih terlihat jelas ketika ada masalah.
”Kuenya kurang Ifah, pesertanya melebihi kapasitas yang kita perkirakan. Kalau kamu tidak ada yang penting kamu bisa kan beli kue di luar. Aku menunggu Umi Bari’ah, aku kebagian tugas menyambut pemateri. Indah sedang mencuci dan mengelap piring yang masih kotor karena peserta melebihi perkiraan, lalu Ani sedang ngeprint absensi kegiatan, kamu bisa kan?” Endang sedikit berbisik, tidak enak terdengar peserta yang masih asyik mengobrol dengan lainnya. Obrolan mereka tentu saja bermacam-macam, dari mulai kuliah hingga cowok-cowok di kampus.
”Insyaallah bisa, tapi aku jarang keluar malam-malam di kampus jika tidak ada urusan penting. Aku tidak tahu dimana yang jualan kue.”
”Mbak,” gadis di sebelah Naurah ikut berbicara.
”Ada apa Dik Putri?” Naurah menatap adik tingkatnya di FKIP Matematika itu, tadi baru saja kenalan. Putri adalah putri salah satu anggota dewan di Bandar Lampung. Dia kuliah di Metro karena alasan ingin belajar di daerah saja daripada di kota besar yang banyak kecenderungan kehidupan bebasnya. Begitu alasannya ketika Naurah bertanya.
”Saya tahu dimana yang menjual kue, terutama disana yang membeli kebanyakan Mahasiswa karena harganya murah dan rasanya enak. Saya sudah beberapa kali membeli gorengan disana. Selain itu, penjualnya juga ramah-ramah dan mereka menjaga kesopanan. Penjualnya disana juga Mahasiswa, bisa jadi kalau beli banyak dapat kortingan,” mata Puteri berbinar sambil menjelaskan.
”Adik bisa nemenin Mbak kesana?”
”Insyaallah Mbak.”
Naurah ke belakang sebentar untuk menemui Umi Sri, pemilik kost-kostan tetapi rumahnya di samping. Rumah itu berbentuk later U. Umi Sri di sebelah kiri rumah hingga di tengahnya garasi dan di sebelah kanan ditempati enam orang Mahasiswi yang kost. Umi Sri sangat perhatian pada mereka, selain memberi kost yang relatif lebih murah dari yang lain juga kadang mengirim sayur atau gorengan.
Dia ke belakang bersama Endang. Melewati dapur, tapi Endang berhenti di dapur dan membantu yang lain. Setelah melewati pintu di ruangan gudang dekat dapur, Naurah membuka pintu. Tepat memasuki garasi di tengah rumah. Ada satu mobil dan dua motor, satu motor di gunakan oleh Rina, anaknya Umi Sri yang masih sekolah di SMA Negeri I Metro, yang satunya dipakai Suami umi Sri untuk kerja di Kas Negara Metro yang letaknya di dekat Taman Kota Metro. Umi Sri memiliki tiga orang anak. Si sulung Rina lalu adiknya Andi masih berusia 14 tahun kelas dua di SMP Negeri 4 yang letaknya di depan Kampus Universitas Muhammadiyah, dan satunya masih berumur lima tahun.
Dia terus melewati garasi dan langsung ke pintu yang membatasi dengan garasi, mengetuk pintu dan mengucapkan salam. Umi Sri keluar memakai jilbab biru batik, wajahnya yang teduh adalah sebagai tempat pengganti orangtua kandung. Di perantauan seseorang manusia harus pintar-pintar dapat mengobati rindunya. Misalnya saja mencari tempat kost yang pemiliknya tidak hanya menyediakan kamar, melainkan juga perhatian terhadap kegiatan-kegiatan yang mahasiswa itu lakukan.
”Mi, Naurah pinjam motornya sebentar ya? Insyaallah tak akan lama Mi,” wajahnya yang bercahaya itu membuat siapa saja jika dimintai pertolongannya akan sulit untuk menolaknya.
”Memangnya untuk apa Naurah? Ini kan sudah malam, tidak baik bagi wanita keluar malam-malam begini?”
”Ini terpaksa Mi, peserta kajian ternyata melebihi target dan kapasitas yang kami perkirakan. Kuenya kurang Mi, jadi Naurah pinjam untuk beli kue,” wajah Umi Sri masih terlihat memikirkan sesuatu.
”Insyaallah hanya beli kue saja kok Mi,” wajah itu semakin mengharap.
”Baiklah, Umi percaya Naurah. Umi udah tahu kepribadian Naurah, Naurah itu udah Umi anggap seperti anak sendiri. Umi sangat percaya, hanya saja Umi melarang karena Umi takut dan khawatir sama kamu cah ayu,” wajah Umi Sri yang masih berumur sekitar 40-an tahun itu terlihat teduh dan penuh perhatian.
”Terimakasih Mi, Insyaallah tidak apa-apa. Naurah sudah bisa menjaga diri.”
”Ya sudah, tunggu sebentar,” Umi Sri masuk rumah kembali dan kembali kepada Naurah sambil memberikan kunci motor dan surat-surat motor.
”Doa Umi,” Naurah mulai melangkah menuju motor setelah melihat senyum indah terukir dari wajah ibu kost-nya. Menstarter motor dan melaju ke depan kost. Naurah turun sejenak dan memanggil Putri, Putri segera memakai sandalnya dan naik di belakang. Motor melaju membelah malam, suara motor yang lembut tertutup angin malam kota metro yang bertiup mesra, merekam setiap hal yang terjadi di penjuru dunia.
Sementara itu di Baitul’ilmi, Faza baru saja pulang dari mushola Baiturrahman setelah shalat isya’. Hafidz tersenyum menyambutnya dan mengundurkan diri dari membantu Lutfi. Dia segera meneruskan menghafal Quran di dalam kontrakan. Faza masuk sejenak ke rumah dan menaruh buku panduan dakwah masjidnya. Bismillah, Faza Mengganti bajunya dengan kaos lengan panjang bergambar dan bertuliskan salah satu baitul mal wattamwil di Metro. Kaos itu didapatkannya ketika bekerja sama dengan BMT Fajar untuk seminar sosialisasi penerapan syariah di gedung wanita Kota Metro yang bersebelahan tempatnya dengan Cabang Pramuka Kota Metro.
Kakinya melangkah keluar. Melewati teman-temannya yang tengah sibuk dengan bacaan dan kesibukannya masing-masing. Zilul pasti sedang mempersiapkan ujiannya, Shafwan pasti sedang asyik mempelajari ilmu-ilmu baru, Rasyid terlihat masih membaca buku Islam Funding karya Dr. Ramadhan al-Buthy, sedang Hafidz menekuri mushafnya lalu di sebelahnya ada buku metodologi penelitian. Jika teringat cita-cita dari awal kuliah yang memang ingin totalitas mempelajari ilmu, airmatanya sempat menetes kembali. Dia harus selalu bersyukur, apapun yang terjadi dia bersyukur dapat melewati segalanya dengan baik. Allah, terasa sangat dekat dengan kehidupannya.
Faza melangkah membersamai Lutfi kembali, ”Kamu sudah nyiapin untuk ujianmu Lut?” Faza menatap sahabatnya yang masih memberikan susuk uang kepada bu Fatimah yang telah lama menjadi langganan mereka.
”Matur suwon ngeh Bu,” Lutfi tersenyum ketika menyerahkan kue dalam bungkus dan uang sisanya. Setelah pembeli itu pergi, Lutfi ikut duduk di dekat Faza yang telah duduk di depan penggorengan. Ditatapnya sahabat seperjuangannya itu, ”Faza, kau sedang memikirkan sesuatu?”
”Lut...,” dalam sudut mata itu ada titik-titik embun, ”Aku iri. Aku iri padamu dan Zilul,” airmata itu meleleh, ”Kalian sebentar lagi lulus skripsi, kalian telah membuktikan diri telah berhasil. Itu adalah nilai yang lebih daripadaku. Aku ingin merasakan bagaimana indahnya perasaan yang kalian rasakan saat bolak-balik mengajukan skripsi lalu Dosen menyalahkan skripsi kita. Alangkah indahnya itu Lut, aku iri pada kalian. Entahlah, rasa apa yang kurasakan ini. Aku telah kalah dari kalian.”
”Aku takut ketika membaca pada firman Allah, ’Aku bersumpah dengan hari kiamat, dan Aku bersumpah dengan jiwa yang amat menyesali (dirinya sendiri). Apakah manusia mengira, bahwa Kami tidak akan mengumpulkan (kembali) tulang belulangnya?’ (QS. Al-Qiyaamah : 1-3), aku takut padaNya Lut. Aku telah menyia-nyiakan dalam persoalan ilmu. Atau ketika Allah Azza wa Jalla berfirman, ’Maka apabila mata terbelalak (ketakutan). Dan apabila bulan telah hilang cahayanya. Dan matahari dan bulan dikumpulkan’ (QS. Al-Qiyamaah : 7-9)aku telah mengecewakan Allah..., aku telah menyia-nyiakan ilmu yang kupelajari,” Faza mengusap airmatanya dengan punggung tangan kirinya. Lutfi masih diam, dia turut dalam dalamnya rasa cinta saudaranya akan ilmu.”
”Begitu pertama kali aku menginjakkan kakiku untuk kuliah, begitu inginnya aku mencium tanah di Universitas Muhammadiyah. Aku menjadi manusia paling bahagia sedunia jika aku teringat hari itu, hari penuh dengan berkah Allah. Hari dimana seorang miskin bernama Faza Arfani Al-Barraq dapat menuntut ilmu di Perguruan Tinggi. Aku benar-benar ingin mencium tanah waktu itu, biarlah dilihat Mahasiswa yang lain aku tak peduli. Tapi, iman dan maluku menahanku dari itu semua. Kebahagiaan itu harus kubayar pada Allah dengan bersungguh-sungguh menuntut ilmu, tapi aku telah mengecewakan Allah,” di antara sesenggukannya Faza mengecilkan api. Dia berhenti sejenak dari menggoreng, pembeli pun belum ada yang terlihat hendak datang untuk membeli.
”Aku merasa menjadi orang tak berguna Akhi, hatiku seperti teriris-iris ketika di Kampus kudengar Mahasiswa yang berbincang tentang skripsi dan pengalamannya berhadapan dengan Dosen Pembimbing. Dada ini terasa sedikit sesak Lut. Aku benar-benar tak memenuhi amanah Allah untuk menuntut ilmu.”
Lutfi memegang pundak sahabatnya itu, ”Faz, baru kali ini kulihat kamu punya masalah. Kau biasanya tegar dan tak pernah terlihat punya masalah sama sekali, aku bahkan sangat hormat padamu. Kau tipe contoh ideal, tapi kini..., aku ternyata melihat kau lebih dari yang kubayangkan. Aku sangat bersyukur bisa mengenalmu dan banyak belajar darimu. Tahukah engkau Faz, kau merasa tidak berguna untuk orang lain namun sesungguhnya kau telah mewarnai banyak manusia. Minimalnya adalah aku Faza, kau yang mengajariku tegar dalam setiap persoalan hidup.
Seberapa pun tegarnya kita, kita adalah manusia yang pasti punya masalah yang harus kita selesaikan. Kita adalah sahabat, kita harus saling membantu dalam setiap hal. Keberhasilan seseorang itu tidak harus dilihat dari akademik semata saudaraku, nilai akan bagaimana kita mempelajari sesuatu dari pangalaman kita adalah keberhasilan. Aku sangat bangga padamu saudaraku, aku bahkan telah kalah jauh darimu. Kau merelakan kuliahmu dengan mengambil cuti demi kuliah adikmu adalah sebuah pengorbanan tiada tara yang dilakukan seseorang yang mencintai ilmu. Hatimu yang ikhlas adalah cerminan kebaikan abadi.”
Lutfi menatap wajah Faza yang masih menekuri di depan kompor.
”Nilai IPK-mu kemarin juga sangat memuaskan. Bangkitlah saudaraku, semester ini kau sudah bisa menyusun skripsi bukan? Kau harus semangat karena bukankah semangat orang-orang yang mencintaimu hidup di hatimu? Jika kau hanya bersedih hati dan menyesali diri kau akan menjadi menyesal sungguhan di hadapan Allah. Kau akan terpuruk dalam perasaan bersalah dan gelisah, yang kita butuhkan adalah melakukan yang terbaik selagi kita masih diberi kesempatan oleh Allah untuk merubah keadaan menjadi lebih baik,” Lutfi menganggukkan kepalanya saat Faza menatap matanya. Faza mulai menemukan cahaya yang terasa redup.
”Kau benar saudaraku. Ya, lakukan yang terbaik!”
Lutfi menganggukkan kepalanya.
”Itu baru Faza yang kukenal.”
Faza menatap bintang yang bertaburan di langit. Mereka begitu ikhlas mengorbankan cahayanya untuk manusia meski manusia kadang tak menatapnya. Begitulah manusia seharusnya, berbuatlah yang terbaik untuk manusia yang lain walau mereka tak akan mengganggap kebaikannya karena Allah-lah yang akan menilainya. Faza teringat beberapa hari yang lalu ketika mengisi kajian di SMK Negeri I Metro.
Dia sendiri melupakan ujarannya sendiri, ”Bagaimana untuk membedakan godaan syetan dan dorongan nafsu kita sendiri? Sesungguhnya Syetan itu membisikkan maksiat dari satu perbuatan jika manusia menolak, maka syetan akan membisiki dengan maksiat yang lain begitu seterusnya hingga syetan selalu menghadirkan dalam hati kita maksiat yang berbeda-beda. Sesungguhnya nafsu kita itu cenderung kepada salah satu maksiat saja, kita merasa maksiat itu menjadi kebiasaan maka syetan tak perlu lagi mengipasi maksiat itu dengan keindahan. Karena manusia itu telah dikuasai oleh nafsunya sendiri.”
Jika aku bermalas-malasan dan terkungkung dalam ketakutan dan kegelisahan, berarti aku telah kalah oleh nafsu syahwatku sendiri, yaitu kemalasan. Ampuni hambaMu ya Allah, hamba tak akan lagi berputus asa dari rahmatMu. Semua ini bukanlah dari bisikan syetan melainkan dari nafsuku sendiri yang mencoba memisahkanku dengan Allah Azza wa Jalla.
Bukankah, ”Jika manusia tidak sadar bahwa musuh terbesarnya adalah nafsunya sendiri maka dia tidak mengenal dirinya dengan baik.”
”Jazakallah saudaraku,”
”Afwan (kembali).”
”Dan ingatlah satu hal yang penting Faza.”
”Apa itu Lut?”
”KERJA BAGIMU ADALAH IBADAH bukan? Itu juga adalah prestasi, kau juga telah memberiku lapangan pekerjaan, itu juga prestasi. Kau tak boleh sekalipun berputus asa,” Lutfi tersenyum teduh.
Faza kembali menatap bulan separuh dan gemerlap bintang. Dihapusnya airmatanya. Allah, tunjukkanlah jalanku, yang terbaik untuk hambaMu. Dalam pikirannya segera terframe untuk segera mengajukan judul esok hari, tak peduli walau dia masih kuliah mengambil semester enam dan kuliah bersama-sama adik tingkatnya. Keyakinannya bulat. Dia teringat kembali kata-kata yang tertulis dalam jadwalnya, ’AKU AKAN MEMBANGUN PERADABAN! IBADAH, BELAJAR DAN BEKERJA HANYA UNTUK ALLAH SEMATA.’ Untuk merubah keadaan dibutuhkan keyakinan. Anaa ’Indadlonni ’Abdii Bii, Aku (Allah) berdasarkan persangkaan hambaKu. Jika berpikir sukses maka Allah akan memberikan kesuksesan selama itu untuk mendekatkan diri padaNya.
Bintang, aku akan naik lebih tinggi darimu. Dengan apapun dan dalam keadaan apapun.