Warna Pelangi Cinta
Kenangan Naura
Sementara di perjalanan ke Salima.
”Kalau menurut Mbak, gantengan mana antara kak Lutfi dan kak Faza?” Putri tiba-tiba bertanya. Membuyarkan konsentrasinya.
”Dik Putri kenal darimana nama-nama mereka?”
”Siapa yang tidak kenal keduanya. Mereka berdua terkenal di Metro Mbak, jika kak Faza itu terkenalnya dari karya-karyanya di media massa. Tapi..., kalau kak Lutfi itu adalah ketua Al-Ishlah bahkan dia sering menghadiri acara-acara yang diadakan Pemerintah Metro. Bahkan, dia diundang pak Gubernur waktu penangganan lahan nganggur di Lampung Timur. Dan ide-idenya itu dipakai untuk kontruksi pertanian dan Industri di Lampung Timur.”
”Mmm,” Naurah bergumam pelan, motor telah berada di depan Salima dan berhenti di garasi. Naurah tidak jadi meneruskan kata-katanya, ingin mengomentari tapi waktunya sudah tidak tepat.
Endang yang memang menunggu disana segera sigap membawa kue yang dibawa Putri, membawanya ke dapur. Putri langsung masuk lewat depan, kembali bergabung dengan rekan-rekan peserta. Naurah mengembalikan kunci motor dan mengucapkan terima kasih pada Umi Sri, lalu ke dapur dengan menenteng kue dalam wadah satunya. Pikirannya masih terngiang sebuah kenangan. Ya, kenangan yang disimpan kuat dalam memorinya.
”Ayo Naurah, acaranya sudah dimulai. Kuenya dimasukkan ke dalam wadah,” Endang membuka wadah kue yang tadi dibawanya. Naurah juga membuka yang dibawanya. Imah mengambil piring lagi, masih kurang.
Mereka membagi-bagi kue agar merata bagian di setiap piringnya. Setelah selesai memasukkannya ke dalam piring, Endang dan Imah membawa kue-kue itu menuju ruang depan dimana kegiatan kajian telah dimulai sekaligus menyusul yang lain yang telah lebih dulu menyiapkan acara pembukaan.
Naurah membuat minuman juice jeruk, jeruk yang dibeli Indah tadi siang di Kedai Buah di Simpang Kampus. Dia merasa sedikit kepanasan karena memang kali ini panas Kota Metro benar-benar menyengat di siang hari dan imbasnya di malam masih terasa gerah. Namun, nanti ketika melewati waktu malam udara dingin sangat menggigit.
Saat memasukkan gula ke dalam blander, dan saat mesin itu berputar. Kenangan itu muncul kembali. Kenangan Naurah tentang Faza.
”Kenapa kamu tidak membawa pita!” lelaki bernama kak Fahmi itu menatapnya tajam.
”Tadi hilang sewaktu saya berwudhu Kak, padahal saya taruh di atas tas saya tapi begitu selesai wudhu pitanya sudah tidak ada,” Naurah hanya menunduk, wajahnya yang bersih dan ditutupi jilbab begitu memesona dipantulkan sinar mentari siang itu.
”Alasan, kamu bohong ya!” lelaki yang tinggi kurus itu masih saja mencari-cari alasan untuk memarahi. Matanya yang tajam sebenarnya memerhatikan wajah adik tingkatnya itu. Cantik juga anak ini, bisa untuk gebetan nih. Rasanya belum ada Mahasiswa yang secantik dia di UM.
”Demi Allah, saya tidak bohong Kak,” sekilas Naurah mendongak ke wajah di depannya lalu menunduk kembali. Dia merasa benar sehingga berani memperjuangkan keyakinannya sampai mati sekalipun.
”Baiklah, aku tidak peduli alasanmu. Kamu Kakak hukum untuk...,” lelaki kurus itu terus memikirkan hukuman apa yang ingin diberikan.
Hati Naurah gelisah. Pasalnya di samping kiri masjid itu tak ada orang sama sekali, hanya dia dan Kakak tingkatnya yang menjadi sekretaris pelaksana Protama dan Mastama penerimaan Mahasiswa baru di UM, dari salah satu UKM (Unit Kegiatan Mahasiswa). Kaki kanannya menjejak-jejak tanah berulang kali, pikirannya semakin gelisah. Dalam hatinya sebenarnya ingin marah seandainya ini tidak dalam acara Protama. Kembali hatinya berdzikir untuk menenangkan hatinya.
”Kamu saya hukum untuk merayu saya seperti seorang wanita yang sedang menyatakan cintanya pada lelaki yang dicintainya,” Fahmi tersenyum.
Dasar! Naurah merutuk dalam hati. Allah, hamba tak akan menurutinya walau hamba harus dikeluarkan dari Universitas ini. Karena, hamba hanya akan menyatakan cinta padaMu.
”Cepat lakukan atau kartu merah akan kuberikan padamu, bukankah kartu itu panitia pelaksana telah diberi kewenangan secara mutlak! Kamu ingat peraturannya sewaktu pembukaan Protama dan Mastama bukan?” Naurah masih diam.
”Cepat lakukan sekarang!”
”Dia tidak akan melakukannya,” lelaki itu datang memakai seragam celana hitam dan baju kemeja putihnya. Berarti dia juga Mahasiswa baru, Mahasiswa itu sebenarnya ingin berwudhu sebagaimana kebiasaannya untuk selalu memperbarui wudhunya ketika batal. Kebetulan dia mendengar percakapan antara Fahmi dan Mahasiswa baru itu.
Fahmi menatap tajam pada Maba (Mahasiswa Baru) itu. Masih tingkat satu sudah berani macam-macam. Pikiran syetan merasukinya, ”Apa urusanmu Faza!” Fahmi membaca karton besar yang digantungkan di depan sebagai identitas nama peserta Protama.
Faza tidak menggubrisnya. Dia bertanya pada Naurah, ”Kenapa kamu dihukum oleh kak Fahmi Naurah?” Faza juga membaca tulisan besar di dada wanita yang menunduk itu.
Naurah menatap sekilas pemuda yang baru datang itu. Tidak kenal, ”Pita saya tidak ada, hilang sewaktu shalat dzuhur tadi. Tapi, kak Fahmi tidak memercayainya,” Naurah segera mengalihkan pandangannya ke pohon-pohon Akasia di depan Masjid.
”Bukankah dia tidak bersalah Kak?” Faza menatap Kakak tingkatnya itu.
”Aku tidak peduli! Yang jelas dia tidak membawa pita maka dia harus dihukum!”
”Kakak hanya mencari-cari alasan untuk bisa menghukum. Sukakah Kakak melihat orang lain susah?” Faza menatap santai kearah Fahmi.
”Berani sekali kau! Baru masuk sudah bertingkah!”
”Saya hanya mencoba melerai bukankah Allah berfirman, ’Karena itu damaikanlah antara kedua saudaramu,’ (QS. Al-Hujuraat : 10). Rasulullah saw juga bersabda, ’Maukah kalian jika aku memberitahukan kepada kalian perbuatan yang derajatnya lebih tinggi daripada melaksanakan shalat, syiam, dan sedekah?’ para sahabat berkata, ’Dengan senang hati, wahai Rasulullah.’ Beliau bersabda, ’(Yaitu) melerai orang yang bermusuhan. Sebab membiarkan orang bermusuhan merupakan perbuatan keji.’ (HR. Abu Dawud). Saya hanya ingin membantu saja.”
”Tapi, aku akan tetap menghukumnya karena dia tidak membawa pita! Peraturannya seperti itu!”
”Jadi..., permasalahannya hanya ada pada pita?”
”Ya!”
Faza berjalan mendekati Naurah. Lalu melepas pita yang melingkar di pundak seperti cangklongan tas, ”Bawa saja pita ini, semuanya Insyaallah lancar. Biar aku saja yang kena hukuman.”
”Tapi kamu nanti?”
”Tidak apa-apa, aku sudah biasa. Bukankah tidak baik laki-laki dan perempuan hanya berdua?”
Naurah menerima pita itu. Jujur, saat ditatapnya sekilas sebentuk wajah lelaki itu, sungguh memesona. Naurah segera menundukkan kepalanya.
”Dia sudah punya pita, berarti dia sudah boleh bergabung dengan yang lain bukan?”
Fahmi menatap Faza tajam. Gigi-giginya gemeretukan.
”Sudahlah, kamu pergi dan bergabunglah dengan yang lain. Lain kali hati-hatilah,” Faza tak melihat kecuali merunduk setelah melihatnya sekilas ketika menyerahkan pita. Wanita itu memang cantik, pantas saja kak Fahmi menahannya berlama-lama.
”Jazakallah Faza,” pemilik suara lembut itu meninggalkan Faza dan kak Fahmi.
”Sekarang saya tidak punya pita, silakan beri hukuman apapun kepadaku,” Faza tetap tenang. Dari jauh Naurah tidak benar-benar pergi, dia amat khawatir maka dia bersembunyi di balik tembok ruang praktik MIPA Biologi. Melihat apa yang akan terjadi antara penyelamatnya dan kakak tingkatnya yang terkenal galak itu.
”Push Up seratus kali Maba bodoh!” Fahmi tak tertahan emosinya.
Faza langsung menurunkan tangannya dan memulai Push Up sambil menghitungnya satu-satu. Kalau cuma Push Up gampang, itu sudah seperti pekerjaan beratku setiap hari. Tangan Faza yang keras karena kesehariaanya memang pekerja keras. Keluarga yang dimiliki tinggal adiknya Azizah seorang. Untuk biaya sekolah dia harus bekerja apa saja, menjaga wartel di malam hari, sepulang sekolah biasanya ikut buruh bangunan membangun rumah atau proyek-proyek pembangunan yang lainnya. Kehidupan keras baginya seperti makanan sehari-hari.
”...,89, 90, 91, 92,” Faza masih menghitung dengan sabar. Ada gurat kelelahan juga dalam peluh yang membasah baju putihnya, keringat di wajahnya banjir.
Fahmi yang merasa dipermainkan mendekatinya dan tak ayal tanpa diduga oleh Faza, tendangan kaki Fahmi keras mendarat di tubuhnya yang masih lurus mengangkat badannya, pada hitungan push up ke 99. tubuh itu berguling ke samping. Faza meringis kesakitan. Perutnya seperti sobek, perih.
Saat Fahmi hendak menendang untuk kedua kalinya seseorang penyelamat datang.
”Fahmi! Apa yang kamu lakukan?” Fahmi beringsut ke belakang. Lelaki yang baru datang itu membantu Faza berdiri.
”Kamu tidak apa-apa?”
”Tidak Kak,” Faza melihat kartu panitia yang ditempel di saku kemeja lelaki itu, ’Andre, Ghuroba UM,’ Faza masih memegangi perutnya yang masih sedikit nyeri.
”Ayo ke PMII,” Andre membantu memapah tubuh Faza yang terlihat kelelahan, ”Kamu Fahmi, akan saya laporkan kepada Ketua Pelaksana. Ini sudah berlebihan, kamu akan mendapatkan teguran,” lalu berjalan meninggalkan Fahmi yang masih terlihat kesal.
Fahmi tak bisa berkata apa-apa. Siapa yang tidak kenal Andre, ketua Ghuroba yang bergerak di dakwah sekolah dan masyarakat dan namanya amat diperhitungkan oleh pak Rektor. Fahmi hanya menendang rumput yang tegar menjulang langit lalu menuju ke ruang panitia. Dan, Naurah kembali bergabung bersama teman-temannya yang lain.
Aku pun belum sempat berterima kasih padanya kecuali lewat kak Umar. Lelaki itu memang tak terkenal di kancah internal kampus, dia mengoptimalkan dirinya membimbing Sekolah-Sekolah Menengah dan bimbingan terhadap masyarakat. Ada perasaan halus yang terus menyusup dalam hati Naurah. Dia menghidupkan blander dan deru suaranya memecah keheningan ruangan dapur yang luas itu.
Ingatanya kembali terngiang ketika berbincang pada kak Umar tentang Faza.
”Aku punya kenalan yang sangat tinggi cita-citanya. Kau mau dengar?”
”Iya. Siapa dia Kak?”
”Namanya Faza dia masih semester 3, sama denganmu...,”
Naurah memotong cepat.
”Dari UM juga?”
”Darimana kamu tahu? Kamu kenal dia?”
”Tidak! Hanya pernah bertemu sekilas, tapi mungkin Faza yang kakak maksud bukan dia, bukankah nama Faza banyak di dunia ini?”
”Namanya Faza Arfani Al-Barraq, dia Fakultas Ekonomi,”
Naurah yakin lelaki yang diceritakan kakaknya itu adalah lelaki yang pernah menolongnya sewaktu Protama, entah kenapa perasaannya begitu yakin. Lelaki pertama kali yang membuatnya merasakan getaran aneh, walau selalu dicobanya melupakan dengan berdzikir namun seolah pesonanya tak bisa dihapus sama sekali. Naurah menata hatinya kembali. Allah, kuatkanlah hambaMu.
”Memangnya apa kehebatannya Kak?” Naurah ternyata masih penasaran.
”Cita-citanya adalah menjadi wisudawan dengan indeks prestasi tertinggi di UM, dan dia akan melakukan apapun untuk bisa mewujudkannya. Dan aku yakin dia akan mendapatkannya,” Umar menatap adiknya itu.
”Kakak kenal lama dengan dia?”
”Tidak, kami hanya bertemu Ramadhan kemarin karena sama-sama itikaf di masjid Taqwa.”
”Kakak terlalu percaya saja, siapa saja bisa mempunyai cita-cita seperti itu. Bahkan, lebih dari itu Naurah juga bisa. Lalu kenapa Kakak begitu yakin?” Naurah sebenarnya sangat penasaran dengan cerita kakaknya.
”Ilmu agamanya memang belum seberapa, tapi keyakinannya tak tertandingi. Dia banyak cerita padaku, orangtuanya telah tiada sejak dia kecil. Dia punya satu orang adik perempuan yang teramat dicintainya. Dia bekerja keras dari kecil dengan bekerja memarut kelapa hingga bekas luka tangannya penuh dengan luka. Kau tahu apa yang dipesankan oleh ayahnya sebelum meninggal?”
Naurah menggeleng, tak ingin menebak.
”Ayahnya ingin dia menjadi penerang bagi gelapnya kehidupan, menjadi orang yang bermanfaat dan berguna untuk orang lain. Ayahnya ingin suaranya di dengar oleh manusia. Maka Faza melakukan apapun, dia bahkan bekerja membiayai sekolahnya sendiri sejak kecil dan biaya sekolah adiknya. Dua semester yang terlewat IP-nya 4,00 dan 3,88. dia ingin bisa mempersembahkan yang terbaik untuk Allah. Itulah yang membuatku begitu akrab ketika kami bersama selama sembilan hari. Aku juga cerita tentang keluarga kita sehingga kami sangat akrab.”
”Kakak juga menceritakan tentang aku?”
”Ya, sedikit.”
”Sedikit? Tunggu Naurah tanya lagi, pengalaman apa yang menarik selama Kakak bersamanya yang membuat Kakak terkesan?” Naurah ingin tahu lebih banyak.
”Malam itu sewaktu shalat isya, Ustadz Muchlis kebetulan menjadi imam shalat. Dia membaca surat Ar-Rahmaan. Sang Imam dan para makmum menangis sesenggukan, kami larut dalam bacaan indah sang imam yang teramat menyentuh dan menggetarkan hati kami,” Umar terdiam sejenak, seolah menghadirkan kejadian itu dalam benaknya.
”Lalu? Apa hubungannya dengan Faza?”
”Kenapa kamu ini tidak sabar? Cerita itu harus dari awal kalau langsung kepada pokok masalah cerita itu jadi tidak menarik. Baiklah..., jadi setelah shalat dan berdoa. Faza terus menangis, dia membaca terjemahan surat Ar-Rahmaan yang dibaca sang Imam. Kau tahu? Ternyata Faza baru belajar Al-Quran setelah masuk kuliah. Jadi, belum ada yang dihafalnya kecuali surat-surat pendek dan mungkin baru tiga surat begitu dia cerita pada kakak. Hidupnya dari kecil penuh kerja dan sekolah, dia kurang dalam mempelajari ilmu agama.
Malam itu dia tidak tidur semenjak Isya’ hanya untuk menghafal surat Ar-Rahmaan hingga pukul tiga pagi. Dia belum tahu sama sekali metode menghafal Quran, dia hanya terus membacanya berulang-ulang dan airmatanya selalu menetes. Akupun tak bisa tidur mendengarkan suaranya, walau aku berbaring. Saat paginya dia sangat bahagia. Dia telah menghafal surat Ar-Rahmaan, dia bilang akan membacanya untuk shalat malam besok malamnya.”
Umar mengusap airmatanya, ”Dia lelaki yang diberikan pemahaman di hatinya, aku yakin dia akan menjadi orang besar suatu hari,” Umar menatap kosong celah di depannya.
Naurah menatap Kakaknya yang telah lulus S2 di Universitas Indonesia. Kini Kakaknya itu menjadi dosen di STAIN, Stit Agus Salim Kota Metro dan juga di IAIN Raden Intan Bandar Lampung. Jika Kakaknya memercayai seseorang, maka Naurah akan mempercayai orang tersebut. Naurah semakin penasaran terhadap sosok Faza yang diceritakan Kakaknya itu?
Faza pernah ke rumahnya sekali di Way Jepara, waktu itu Naurah sedang di Metro. Waktu itu di rumah ada adiknya Ani dan kakaknya Umar. Mungkin karena itu tadi sewaktu membeli kue dia tahu kalau dia adiknya Umar. Pantas, dia tahu aku adiknya kak Umar. Naurah mengingat percakapannya dengan Faza sewakatu membeli kue.
Kenangan demi kenangan membuyar dari bayangan Naurah. Diminumnya juice jeruknya. Alhamdulillah, kesegarannya benar-benar kenikmatan yang tiada tara sebagai hasil karya penciptaan Allah yang menciptakan rasa. Masihkah ada hamba yang tidak mau mengabdi padaNya setelah semua kenikmatan yang dinikmatinya Cuma-Cuma?
Naurah melangkahkan kakinya, hendak bergabung dengan teman-temannya. Malam semakin merangkak perlahan. Setiap hal akan kembali pada asalnya, jiwa yang bersih akan kembali pada fitrahnya, semesta mencoba mengukir setiap keserasian yang dititahkan untuknya. Allah kembali menurunkan kasih sayangNya ke seluruh penjuru kehidupan, malam yang damai dan indah mengingatkan akan kelemahan manusia. Untuk selalu mentafakuri dirinya bahwa hidupnya akan berakhir dan kembali kepada Rabbnya.
Hai jiwa yang tenang. Kembalilah kepada tuhanmu dengan hati yang puas lagi diridhaiNya. Maka masuklah ke dalam jamaah hamba-hambaKu dan masuklah ke dalam surgaKu. (QS. Al-Fajr :27 – 30)