Warna Pelangi Cinta

Melawan Godaan Setan

Hafidz memasukkan parfum-parfum dalam kotaknya. Parfum itu terdiri dari tiga macam kemasan dan tiap-tiap kemasannya memiliki bermacam-macam aroma non alkohol yang wangi baunya. Ketiga kemasan itu terdiri mulai dari 3 ml, 6 ml, dan 10 ml. Inilah salah satu enaknya jadi penjual minyak wangi, pasti akan terciprat wangi terus yang dihembuskan angin ketika para pembeli menjajalnya.

Hafidz mengambil tas kecil cangklongnya yang biasa dibawanya ketika berdagang. Tas bermotif corak ukiran indah berwarna biru, walau sudah terlihat warnanya mulai pudar dan beberapa tambalan jahitan toh Hafidz tak pernah merasa minder memakainya. Tas itu dulu diambilnya dari kamar ibunya sebelum pergi meninggalkan Tegineneng hingga kini. Hafidz menatap langit panas berwarna biru, sebiru hatinya, sebiru tas tuanya dan sepasang mata biru Zulfa saat terakhir kali bertemu. Dimana kau Zulfa? Allah pertemukanlah aku dengannya, aku ingin menebus kesalahanku pada wak Sobri dan isterinya. Aku akan menjaga Zulfa. Allah pertemukanlah aku dengannya.

Hafidz mengambil mushafnya, dimasukkan ke dalam lubang kantong yang kecil di tasnya itu. Dia teringat ayahnya kembali. Diambilnya mushaf itu di tasnya, diangkatnya di depan wajahnya yang bersinar. Diciumnya lama penuh takhzim, airmatanya menetes hangat dan lembut mengaliri wajahnya.

”Rasyid, aku berangkat dulu ya?” Rasyid yang sedang mengerjakan tugas kuliahnya di ruang tamu menganggukkan kepalanya.

”Hati-hati Fidz.”

Hafidz menganggukkan kepalanya sambil tersenyum. Kakinya melangkah keluar sangat ringan bagai burung yang mencari rezeki dengan mengepakkan seluruh potensinya.

Hafidz menatap langit di depan Baitul’ilmi, ”Allah, aku ridha Engkau sebagai Rabbku, Islam sebagai agamaku, Muhammad saw sebagai rasul dan nabi (anutanku), dan Al-Quran sebagai hakam dan imamku. Hafidz teringat pesan sayidina Ali bin Abi Thalib ra. yang berpesan tentang enam kenikmatan, ’Nikmat itu ada enam macam, yaitu; Islam, Al-Qur’an, Muhammad saw, kesehatan, tertutupnya aib, dan tidak memerlukan bantuan orang lain.’  Bukankah aku telah memiliki enam nikmat itu? Tidak ada lagi yang aku khawatirkan dari hidup ini.”

Bismillahirrahmaanirrahiim. Langkahnya mantap melangkah, menjemput rizki dari Allah yang disiapkan untuknya di hari ini. Jika melihat dunia yang hanya sebentar untuk menimba bekal, maka Hafidz segera mengambil jalan ketaqwaan, mengambil jalan kebenaran, mengambil jalan kemulyaan, mengambil jalan yang ditunjukkan Al-Quran dan As-Sunnah.

Al-Quran memberikan pemahaman kepada kita bahwa Syetan selalu membisiki manusia dengan tipu daya. Tapi..., kadang manusia selalu mengkambinghitamkan syetan sebagai satu-satunya penyebab kemaksiatan manusia. Benarkah? Tentu tidak seluruhnya benar, karena kita punya musuh terbesar dalam diri kita, yaitu nafsu yang selalu mengajak kita dalam keburukan.

Hafidz teringat kisah Syaikh Ali Tanthawi rahimallah yang dituliskannya dalam buku, ”Yaumun Ma’a Syaithan.” Syaikh Ali berujar, ”Aku mengintai syeitan. Kudapati ia mengikatku di setiap jalan yang bisa mengantarkanku ke surga. Ia mendatangiku seperti diberitakan Allah swt dalam Al-Quran, dari arah kananku, dari kiriku, dari hadapanku, dari belakangku. Tapi, ia tidak bisa mendatangiku dari atasku dan ia tidak akan mampu menghalangiku dari pemahaman selamat kepada Rabbku.”

Hafidz mengayunkan langkahnya, sembari bibir dan hatinya memohon perlindungan kepada Allah godaan syeitan dan nafsunya. Hafidz berkata dalam hatinya, ”Aku merasa keimanan itu adalah benteng yang melindungi manusia dari syeitan. Tapi, pada dinding itu ada lubang – lubang yang bisa dijadikan sela untuk masuknya syeitan. Lubang itu di antaranya adalah kesombongan yang mempunyai rongga-rongga yang nyaris tak terlihat sebagaimana pori-pori manusia.

Setiap Mukmin, harus waspada terus-menerus untuk menjaga bentengnya. Menutup semua lubang itu dengan teliti agar terlindungi dari datangnya syaitan. Tapi bisa saja, syaitan menanti dengan penuh kesabaran dan pengorbanan tak ternilai saat-saat Mukmin melakukan hal buruk dengan menyibukkan dari kewaspadaan, sehingga ia masuk melalui lubang-lubang yang lainnya.

Itu juga pernah terjadi pada diriku, ketika itu aku percaya pada syithan bahwa shalatku telah batal. Syetan justru masuk pada diriku melalui  celah ujub atau sombong. Ia memperlihatkanku bahwa shalat yang aku lakukan itu diterima dan telah sempurna. Dan, akupun bimbang.”

Panas masih terasa membakar, Hafidz membenahi kacamatanya. Dilihatnya dua orang laki-laki yang sedang duduk di pinggir jalan besar, mungkin menunggu angkot berwarna merah. Mereka pegawai Pemda, terlihat dari baju Dinas kebesaran yang mereka pakai beserta atributnya. Hafidz mendekati kedua orang itu.

”Permisi pak, mau beli parfum non alkohol? Harganya Insyaallah murah,” tak lupa senyumnya terukir mesra, ”Tersedia bermacam-macam aroma aroma Mas,” Hafidz melihat salah satunya mengangguk dan Hafidz sigap mengeluarkan kotak parfum yang ukurannya peling besar. Biasanya, para PNS senang yang isinya banyak dan untuk prestise.

”Harganya berapa ya Dik?” kata Lelaki berkacamata minus kecil, tangannya telah memegang satu botol beraroma melati dan mencium aromanya.”

”Biasa mas, sembilan ribu rupiah. Saya Insyaallah selalu menjual dengan harga seperti itu kecuali jika beli banyak maka akan saya beri diskon.”

”Rul, Kau mau beli?” Lelaki berkacamata bertanya pada temannya.

”Uangku habis untuk bayar kredit motor di FIF, pengen sih bauku juga apek tanpa parfum. Beliin aku Din,” Khoirul sebenarnya hanya bercanda.

”Baiklah, Mas aku beli dua ya. Rul, kau pilih sendiri aroma yang kamu senangi.”

”Beneran Din?”

”Ya bener lah.”

Khairul memilih satu, aroma Yasmin. Lelaki berkacamata menyerahkan uang dua puluh ribu . Hafidz segera mengembalikan kembalian dua ribu rupiah.

”Buat Mas saja, sepertinya anda membutuhkan banyak uang, ” Lelaki berkacamata menolak uang kembaliannya.

”Anda harus menerimanya Mas, itulah akad jual beli kita. Dan, saya tidak ingin menjadi beban untuk orang lain, saya sudah biasa bekerja dan mendapatkan hasil yang sesuai dengan pekerjaan saya,” Hafidz memaksa mengambil tangan lelaki berkacamata dan menaruh uang itu di tangannya, ”Maaf, bukan saya menolak, tapi saya hanya menerapkan profesionalitas kerja.”

”Baiklah, Kau orang yang teguh pendirian Dik. Siapa namamu?”

”Hafidz.. Hafidz Habibullah.” Hafidz menjabat uluran tangan lelaki yang memang terlihat lebih tua lima atau hampir sepuluh tahun  darinya.

”Jahiddin. Muhammad Jahiddin,” mereka berdua tersenyum bersama, ”Dan ini teman kerjaku di Kantor Pemda, namanya Khairul.” Khairul menjabat tangan Hafidz.

”Baiklah, saya duluan. Meneruskan dagang. Terima kasih Mas.”

”Tunggu!”

”Ada apa Mas Jahiddin?”

”Kau punya nomor telpon? Kebetulan di bagian Umum Pemda, teman-teman saya harus sering kesulitan mencari parfum non alkohol. Nanti, akan saya informasikan dan kuhubungi anda jika mereka butuh parfum non alkohol.”

”Ada, dengan senang hati Mas,” Mereka bertukar nomor telpon dan Hafidz meneruskan langkahnya, bibir dan hatinya selalu luluh oleh setiap cinta yang diberikan Allah padanya. Alangkah dekat Engkau ya Allah, hamba akan selalu setia menghamba padaMu, selamanya. Di dunia ini ataupun di akhiratMu kelak. Izinkanlah ya Allah, Wahai Dzat Yang Maha Menentukan.

Hafidz teringat kembali ujaran Syaikh Ali Tanthawi rahimallah ;

”Sebenarnya, Allah Azza wa Jalla tidak meninggalkan seseorang untuk terus-menerus berjaga tanpa henti. Allah swt akan memberikan manusia mukmin senjata yang sangat ampuh untuk menolak kedatangan syaitan-syaitan. Senjata itu adalah Dzikrullah yang bisa membuat Syetan lemah, mengecil, tak berdaya sehingga tak bisa melanjutkan serangannya.

Yang dimaksud dzikir itu tidak hanya dzikir lisan saja, tapi dzikir dengan hati. Orang yang melakukan perjalanan dan mengingat kampung halaman serta keluarganya, tidak hanya mengingati mereka dengan menyebut nama-namanya dengan lisan saja, tapi ia akan menghadirkan kampung halaman dan keluarganya itu di dalam hatinya. Itulah dzikir kita kepada Allah Azza wa Jalla dengan tidak melupakanNya, sedetik sekalipun. Agar Allah swt senantiasa berada di hati kita. Menggambarkan bahwa sepertinya Allah Azza wa Jalla selalu memantau kita, selalu bersama dan membersamai kita. Dan bila dzikir itu diiringi dengan dzikir yang diriwayatkan oleh Rasulullah saw, maka itu lebih baik dan lebih sempurna.”

”Ya Allah, jangan Kau tinggalkan aku untuk diriku walau hanya sekejap mata atau yang lebih sedikit dari itu, karena kalau Kau meninggalkanku, maka Kau tinggalkan aku dalam kelemahan, aurat dan kesalahan. Dan aku tidak percaya kecuali pada rahmatMu.” 

Hafidz meresapi setiap kata-kata Syaikh Ali Tanthawi rahimallah, yang selalu terngiang di dalam hatinya terdalam. Benar-benar umpama air teduh yang meneduhkan. Hatinya membenarkan, ”Kondisiku dengan syetan pada hati itu mencatat sejumlah peristiwa yang mengharuskanku untuk  tetap selalu siaga. Aku sebutkan di antara peristiwa itu misalnya tentang was-was yang terus – menerus dihembuskan syetan. Syetan berusaha agar aku marah kepada Allah Azza wa Jalla, dan melupakan semua karunia dan nikmat-nikmatnya.”

Hafidz teringat serpihan kenangannya, ”Saat itu, aku melewati sebuah jalan dan bertemu dengan seseorang yang dahulunya adalah teman sekolahku sewaktu di Aliyah. Pembicaraan kami berkembang dan melebar hingga dia menceritakan bahwa dirinya kini sudah memiliki kedudukan yang terhormat, hartanya banyak.

Ketika itulah Syetan berkata membisikiku, ”Lihatlah itu. Mengapa engkau dengan ilmu dan kemulyaan dirimu itu tidak memperoleh harta dan kedudukan? Apa salahmu sehingga takdirmu tidak seperti dia? Kau telah merugi menetapi imanmu, bersusah payah menghafalkan Al-Quran, mempelajari ilmu agama dengan Ustadz dan kuliah? Sedangkan Allah menyia-nyiakanmu bukan?”

Aku kemudian berkata kepada syetan, ”Diam wahai musuh Allah! Engkau ingin ada seseorang manusia yang memperoleh semua kebaikan yang dia inginkan sehingga tak ada orang lain yang melebihinya? Bukankah jika Allah menginginkan kebaikan untuk hambaNya maka diberikan pemahaman agama untuknya? Mengapa aku harus melihat pada orang ini dan tidak memandang pada orang-orang lain yang sepertiku yang juga memiliki ilmu dan sikap baik serta belajar istiqomah di jalanNya?

Mereka juga tidak memunyai kedudukan dan tidak memunyai harta banyak. Mengapa engkau wahai musuh Allah, ingin mengajakku untuk melihat orang yang lebih tinggi dariku dalam urusan dunia untuk iri kepadanya? Mengapa engkau tidak mengarahkanku untuk lebih melihat orang yang berada di atasku dalam hal agama dan akhirat? Mengapa aku harus berdesakan untuk meninggikan derajat di dunia yang tidak kekal? Mengapa aku iri dengan orang ini yang hartanya lebih banyak dariku dan tidak iri kepada orang yang shalatnya lebih banyak dari shalatku dan memperoleh lebih banyak dariku, serta memiliki simpanan kebaikan yang lebih besar dari simpananku?”

Mengapa aku iri kepada hartanya dan tidak iri kepada ilmu yang aku miliki? Bukankah ilmu, manusia dan kepandaian itu adalah sama halnya dengan nikmat harta dan jabatan? Bahkan lebih! Mengapa engkau wahai musul Allah, meremehkanku? Alhamdulillah aku tidak meremehkan diriku sendiri sedikitpun karena aku mendapatkan sesuatu yang aku inginkan. Kesehatanku baik, keluargaku satu-satunya teramat mencintai dan menyayangiku, orangtuaku di sisiNya dan tak perlu khawatir lagi, aku hidup dalam kedamaian dengan teman-temanku di Baitul’ilmi, aku tenang dalam belajar dan bekerja, aku ridha dengan Rabbku. Aku tidak ingin apapun kecuali meminta kepada Allah Azza wa Jalla agar engkau menjauhiku!”

Hafidz melihat tiga orang Ibu-Ibu di depan rumah di blok Simpang Kampus. Hafidz menawari parfum, ketiga  Ibu itu menolak, katanya masih ada. Hafidz melangkah kembali. Di sebuah sekolahan yaitu di SMA Teladan, Hafidz menawari parfumnya kembali, guru-guru ditawarinya. Dua orang guru membeli dan tiga orang siswa membeli kemasan yang 3 ml. Alhamdulillah, dzikir lembut berulangkali melingkupi hatinya. Langkahnya melaju kembali ke jalan raya, hendak ke pusat kota di pasar dan di taman Kota Metro.

Hafidz menghentikan sebuah angkot warna merah jurusan Terminal Metro – Kampus. Warna kuning genting untuk arah 16C, warna hijau untuk Pekalongan dan biru abu ke Kota Gajah. Mobil merah itu melaju membawa jiwanya, di dalam hanya ada satu penumpang pria yang terlihat tua dengan rambut ubannya yang awut-awutan. Baru sekitar puluhan meter, mobil tiba-tiba berhenti. Ada penumpang lain yang hendak masuk. Seorang wanita berambut terurai mengkilap, kulitnya kuning langsat, dan cahaya mukanya seperti rembulan. Masuk dan duduk berhadapan tepat dari tempat duduk Hafidz.

Hafidz menundukkan pandangannya. Sekilas, wanita itu seperti wajah indo karena matanya sedikit sipit. Hati Hafidz berdialog, ”Syetan terus – menerus mengikutiku, melalui cara membangkitkan syahwatku.” Wanita itu terbuka bagian dada, betis dan kakinya.

Tiba-tiba ada dorongan pada diri Hafidz untuk mencuri-curi pandang dari wanita cantik di hadapannya. Syetan kembali berbisik, ”Kau bodoh Hafidz, kesempatan tak datang untuk ke-dua kali, ayo! Lihatlah dia, engkau akan merasakan keindahan. Sekali-kali saja kau hiburlah hatimu. Bukankah kau selalu menetapi sinar matamu di depan Al-Quran? Cobalah untuk memberinya hiburan?”

Hafidz segera melafadzkan tasbih, seketika hatinya dipenuhi kesejukan tiada tara. Hatinya mencoba menepis ajakan syetan, ”Wahai musuh Allah! Aku ingat sebuah hadits Nabi saw tentang dua jenis pandangan, ’Yang pertama itu adalah bagianmu dan yang kedua itu adalah dosa atasmu.’ maka, aku tundukkan pandanganku dari perempuan itu hanya untuk Allah semata karena aku ingin melihat wajah Allah kelak yang Maha Sempurna dan merupakan kenikmatan teragung bagi orang-orang yang beriman. Enyahlah Engkau makhluk terlaknat!”

Hafidz mengalihkan pandangannya ke jalanan dan mencoba berpikir pada masalah lain. Apa saja. Dakwah di Kampus, kuliah yang tugasnya mulai menumpuk untuk membuat makalah-makalah. Atau permasalahannya dengan teman-teman di kontrakan. Dia sudah bisa melupakan wanita itu.

Namun, syetan datang kembali dengan menggiringnya untuk tetap berfikir ketika Hafidz kehabisan bahan untuk dipikirkan. Syetan mencari celah, syetan mendatangkan ingatan sosok perempuan itu dalam pikiran Hafidz dalam bentuk yang tidak mungkin diceritakan, dan semua orang pasti tahu gambaran tentang apa yang didatangkan syetan itu kepada Hafidz.

Dan akhirnya..., Hafidz benar-benar mencuri pandang sekali lagi ke arah wanita cantik itu dan kebetulan wanita itu juga dari tadi menatapnya. Jadilah pandangan itu bertemu sejenak. Allah ’Azza wa Jalla meniupkan cintanya kepada hati Hafidz, hingga Hafidz langsung tersadar dan ingat dan segera memohon perlindungan Allah ’Azza wa Jalla. ”A’uudzubillahi minasy syaithaanir rajiim.” 

Hafidz memejamkan matanya sejenak. Hatinya perih menyayat. Dimana miracle Al-Quran yang telah aku hafalkan? Mana bukti Al-Quran itu ada di hatiku? Kenapa hanya karena urusan syahwat melalaikanku dariMu Allah? Dimana bibirku yang selalu basah menyebutMu, dimana hati yang selalu merinduMu? Dimana wajahku yang selalu dibasuh dengan air wudhu? Allah, jangan pernah tinggalkan aku, sedetik sekalipun.

Hafidz lirih membaca Al-Quran, lirih. Hanya hati dan seluruh syarafnya yang bisa mendengarnya, ”Ya’lamu Khaa Inatal A’yuni wa Maa Tukhfish Shuduur.”  Allah..., Engkau mengetahui pengkhianatan mata dan apa yang tersembunyi dalam hati hamba-hambaMu. Hafidz  sejenak dibuat kagum dengan petunjuk kemukjizatan yang ada dalam ayat Al-Quran tersebut. Hanya dengan dua kata saja, ayat itu menjelaskan kondisi lubuk hati manusia. Khaal Inatal A’yun, pengkhianatan mata. Sungguh Hafidz sadar dirinya telah mengkhianati matanya. Betapa indah susunan kata Al-Quran...

Hafidz semakin kuat melawan syetan, pertarungan dalam jiwanya dengan syetan berlangsung terus dan dia khawatir bila tidak mampu bertahan, maka Hafidz memutuskan untuk lari dengan membawa agama dan cintanya kepada Allah. Hafidz turun dari angkot walau dia tahu pusat kota masih jauh, mungkin masih setengah perjalanan dan bayarannya tetap sama. Tapi, dia merasa tidak rugi sama sekali. Langkahnya teramat mantap kerena jerit takbir kemenangan bernyanyi di hatinya, itulah nyanyian cinta sejati. Itulah kemenangan sejati.

Nyanyian cinta itu mengiringinya kemanapun kakinya melangkah. Allah menatapnya dari singgasanaNya. Kenikmatan itu, ’Jika engkau sudah merasakan nikmatnya dekat dengan Allah, niscaya engkau dapat merasakan bagaimana pahitnya jauh dari Allah Azza wa Jalla.’ 

Yang mempunyai kerajaan langit dan bumi, dan Allah Maha Menyaksikan atas segala sesuatu (QS. Al Buruuj : 9)

 

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!