Warna Pelangi Cinta

Cinta ala Ibnu Qayyim Rahimallah

Pagi itu di bibir pagi yang hendak menyapa, di Baitul’ilmi. Sepulang shalat subuh di Al-Aqsho. Mereka berenam lengkap, membaca tilawah bergantian. Tadarus. Lutfi giliran tausiyah, matanya sedikit terlihat sendu. Mengantuk.

“Saudaraku sekalian di jalan Allah, berhati-hatilah kita akan riya’ yang akan menghanguskan amal sebagaimana kayu bakar yang disulut lalu memberangus segalanya. Segala yang telah diupayakan dengan susah payah. Allah swt berfirman dalam hadits qudsi, ‘Barang siapa beramal, dan menyekutukanKu dengan yang lain. Maka, itu buat yang ia menyekutukannya denganKu, dan Aku berlepas diri darinya.’  

Berhati-hatilah kita, betapa menakutkannya hadits ini. Bayangkan, apa yang terjadi kalau kita termasuk golongan ini? Riya’ berasal dari kata ru’yah yaitu berarti penglihatan manusia. Nabi Muhammad saw juga bersabda

“Sesungguhnya, sesuatu yang paling aku takutkan dari kalian adalah syirik kecil.” Sahabat bertanya, “Apakah itu syirik yang paling kecil?” Rasul menjawab, “Riya’...dan Allah akan berkata pada orang yang riya’ di hari kiamat, ‘Pergilah kalian kepada orang yang kalian memamerkan amalan kalian pada mereka, dan apakah kalian mendapatkan balasa dari mereka?’.” 

Sungguh ini adalah pelajaran berharga bagi para ahli ibadah, para manusia yang mengabdikan dirinya pada Allah ‘Azza wa Jalla. Apakah ibadahnya benar-benar tulus hanya untuk Allah atau ada syirik kecil? Sangat mudahnya bibir manusia kadang enteng mengucapkan, ‘Saya ikhlas.’ Padahal konsekuensi ikhlas sangatlah berat.

Nabi Muhammad saw pernah bersabda, ‘Mereka bertigalah yang pertama kali merasakan jahannam pada hari kiamat ’ siapakah ketiga orang tersebut? Mereka adalah orang yang berperang di jalan Allah dan niatnya agar disebut pemberani dan dia telah mendapatkannya di bumi, itulah riya’. Lalu, orang yang menuntut ilmu dan mengajarkannya namun dia ingin disebut sebagai ‘alim, ingin disebut qari’ dan dia telah mendapatkan di dunia, itulah riya’. Ketiga adalah orang yang sangat dermawan namun niatnya bukan untuk Allah melainkan agar di puji sebagai seorang dermawan, dan dia telah mendapatkannya di dunia, itulah riya’.

Hadits ini bukanlah seruan untuk tidak mempelajari ilmu, membaca Al-quran dan mengajarkannya, dan bukan seruan agar tidak mencari kesyahidan, atau berinfak di jalan Allah ‘Azza wa Jalla, tetapi hanyalah peringatan agar kita semua berhati-hati dan menjauhi riya’.

Riya’ tidak akan memusnahkan semua amalan manusia, Allah telah menetapkan keadilannya. Karena itu, niat itu ada di awal perbuatan, di tengah-tengahnya dan di akhirnya. Allah akan membalasnya sesuai apa yang diniatkannya, ‘Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan seberat dzarah pun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya. Dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan seberat dzarah pun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya pula.’  Allah ‘Azza wa jalla tak akan menyia-nyiakan sekecil apapun perbuatan kebajikan hamba-hambaNya.” Lutfi menyelesaikan taujihnya.

Penghuni Baitul’ilmi, enam orang itu meneruskan aktifitasnya masing-masing.

Zilul berpamitan mandi, lalu buru-buru bersiap di depan cermin. Setelan bajunya rapi, lipatan-lipatan bajunya amat rapi dan soft. Wanginya menyedak hidung. Senyumnya sumringah dan pamitan hendak berangkat duluan. Dia ada rapat At-Taghyir, rapat pengurus harian. Pukul 06.15 di mulai rapat. Shafwan menyusul hendak ke STAIN, dia ingin membereskan ketikan proposal di Al-Ishlah yang belum selesai padahal acara sebentar lagi, tinggal satu bulan. Acara besar.

Hafidz selesai mandi juga segera memakai baju koko hitamnya, dia menyiramkan sedikit parfum non alkohol spaldingnya. Wangi harum tercium lembut, dia segera menyambar tas bututnya dan berpamitan. Dia hendak ke rumah Ustadz Humam untuk mengambil parfum yang baru untuk dijual kembali sambil setoran parfum yang laku, lalu dia akan terus kuliah. Senyumnya mengembang, dia akan gajian pagi ini. Doa keluar rumah dilantunkannya.

“Bismillah, tawakkaltu ‘alallah wa laa hawla walaa quwwata illa billah ” Hafidz tersenyum saat langkah pertamanya meninggalkan kontrakan, matahari yang masih terlihat siluetnya dari timur tampak bagai pias cahaya membias terang dan indah, bagai kipas kaca yang terpantul  lampu. Tiada keindahan bagi manusia kecuali nuur, Nuur Ilahi, yaitu cahaya kebenaran di dalam hati.

Rasyid mencuci bajunya, beberapa hari ini dia sibuk mengurus acara di Taqwa di pusat Kota Metro. Acara persiapan pemberangkatan haji untuk Kota Metro, musim haji biasanya Rasyid sering diminta pak Mahmudi yang tinggal di Iringmulyo untuk membantu-bantu, terutama untuk daerah Metro Timur. Pernah juga si Rasyid ikut jadi pelayan haji ke Mekkah dua kali, dari enam orang di Baitul’ilmi hanya dua orang yang pernah ke mekkah. Dialah Zilullah beserta Ibu dan Ayahnya serta Rasyid yang kesempatannya menjadi pelayan haji sehingga dapat haji gratis. Dia sangat bersyukur karena sebenarnya dia dari keluarga yang kurang mampu, orangtuanya di Mesuji adalah petani sawit. Dua hektar sawit terhampar di barisan panjang pepohonan sawit dan karet. Layaknya pelayan haji, Rasyid tidak full mengikuti resepsi haji. Banyak yang terpotong-potong karena disana statusnya adalah pelayan para jamaah. Setengah-setengah. Dia harus kesana-kemari ke tiap tenda dan pemondokan terutama untuk para haji dari Metro Timur. Dia bersama yang lain harus mencuci baju para jamaah haji, menyediakan air, melayani makanan dan keperluan haji lainnya.

Rasyid pasti cerita jikalau telah pulang dari perjalanannya bersama para jamaah haji, seolah kelelahannya saat di Makkah dan perjalanan sirna malam itu ketika dia bercerita berkobar-kobar tentang Kota Mekkah, hajar aswad, ka’bah, tempat melempar jumrah. Dan itu menjadi semangat baru bagi Faza, Lutfi, Shafwan dan Hafidz untuk dapat mencicipi hidangan Allah di kota Mekkah. Kerinduan itu semakin membuncah kala Rasyid berapi-api bercerita pengalaman-pengalamannya selama di Mekkah. Zilul ikut menyimaknya, dia menganggukkan mengiyakan setiap cerita Rasyid sehingga yang lain tampak berkobar-kobar pula ingin ke Mekkah.

Pagi ini, Rasyid tidak ikut menjadi pelayan ke Mekkah, dia hanya mempersiapkan keperluan saja. Dia akan menghadapi mid semester dan semester di Universitas Muhammadiyah sebentar lagi. Dia ingin sekali lagi ke Mekkah, tapi dia lebih tidak bisa mengecewakan orangtuanya yang dalam bayangan sewaktu shalat malamnya mereka memetik sawit tergopoh-gopoh, keringat bercucuran di bawah ladang panas. Dia tidak kuat seandainya dia pulang membawa nilai yang buruk, alangkah nelangsanya mereka. Sudah kelelahan ditambah prestasi anaknya tak sesuai yang diharapkan. Maka dia bilang ke pak Mahmudi hanya sebatas melayani saat persiapan dan menangani pra pemberangkatan di Masjid Taqwa sebelum berangkat ke Jakarta lalu ke Mekkah. Rasyid juga menjadi panitia pelatihan haji, manasik.

Rasyid mengambil air wudhu, shalat dua rekaat lalu mengambil tas cangklong hitamnya. Mirip salesman. Baju dimasukkan rapi, warna coklat. Peci putih segera bertahta di kepalanya. Dia pamitan pada dua orang yang masih tersisa di kontrakan.

“Kak Faza aku berangkat, pamitkan pada kak Lutfi sekarang sedang mandi nanti telat,” tangannya menghulur, Faza menyambutnya, “Assalamu’alaikum.”

“Wa’alaikumsalam warahmatullah, jangan lupa Rasyid buatlah para jamaah haji tersenyum sebelum mereka berangkat. Kuatkan mereka agar dapat menjalani ritual haji dengan ikhlas,” Faza tersenyum.

“Insyaallah Kak,” Rasyid tersenyum dan mengambil sepatunya di rak, langkahnya mantap. Senyumnya ceria, membayang orangtuanya yang tersenyum di langit biru yang terhampar. Mereka pasti sedang mendoakanku, Ayah, Ibu, akan kutunaikan amanah kalian sekuat tenaga. Lihatlah nanti, kubawa nilai yang akan membuat lelah kalian hilang seketika setelah melihat nilai kuliahku. Bismillah, langkahnya melenggang merdu penuh semangat.

Faza masih mengetik proposal skripsinya, beberapa buku di atas meja di dekat komputer. Perhitungan dalam pembahasan telah dikuasainya, tinggal teori-teori yang telah dipersiapkannya. Senyumnya mengembang ketika jari-jarinya menari di atas keyboard, kala nyanyian kemenangan dalam hatinya berdendang dan kala ditemani murottal yang mengalun dari winamp komputer. Biidznillah, aku harus mengejar ketertinggalanku. Aku tak boleh menyerah karena segala keterbatasan, harus kudobrak. Itulah tawakkal yang dimaksudkan Allah ‘Azza wa Jalla. Berusaha habis-habisan dulu baru menyerahkan segalanya padaNya.

Lutfi datang menghampirinya tanpa suara, di atas kasur memunggungi Faza. Faza terus mengetik setelah menengok sejenak dan tersenyum, wajah Lutfi terlihat lesu. Mungkin kecapekkan tadi malam. Lutfi tetap diam, rambutnya belum disisir setelah mandi hanya dilap handuk sehingga masih acak-acakkan. Lutfi berdiri di depan cermin dan menyisiri rambutnya lalu duduk kembali dan diam lagi. Faza merasakan kegelisahan sahabatnya yang berbeda dari biasanya. Tapi, dia tak mau menanyakannya. Jika dia butuh bantuan maka dia akan membantunya sebisa mungkin.

Saat lantunan Murottal di tengah surat Ali-Imraan. Sebuah suara agak berat muncul dari belakang Faza, lirih.

“Faz,”

Faza menengok ke belakang. Wajah Lutfi menatapnya dalam, Faza diam saja menunggu ucapan Lutfi selanjutnya.

“Bagaimana menurutmu seandainya seorang juru dakwah yang terkena virus merah jambu? Bagaimana menurutmu seandainya aktivis jatuh cinta?” matanya seolah mengharapkan jawaban.

Faza tak tega melihat mata itu, “Bukankah engkau sudah tahu apa yang harus diperbuat oleh orang yang terkena virus itu?” Faza balik bertanya.

Tiba-tiba sejernih air berkaca di kedua sudut mata Lutfi, orang bisa mengatakan sesuatu. Tapi kini, dia sedang mengalami ujian besar bagi para juru dakwah. Yaitu wanita. Dia tak bisa berbohong pada hatinya yang selalu membayang wajah Naurah, dia tak bisa bercerita kecuali pada Allah. Teman yang dipercayanya hanyalah Faza saat ini, maka dia nekad hendak terbuka karena dia yakin Faza tak akan membeberkan aib saudaranya.

“Tahukah kau Faza, ada sesuatu yang bermain di hatiku. Aku sudah berusaha sekuat tenaga menghancurkannya. Tapi, benteng imanku seolah tak berdaya kala nama wanita itu disebut atau ketika tiba-tiba syetan meniupkan bayangannya di pelupuk mataku. Apa yang harus kulakukan Faz? Aku merasa tak berdaya, aku merasa telah menduakan Allah. Aku takut Faz, tapi perasaan itu benar-benar membelenguku dan tak menyisakan sedikitpun kecuali bayangan wanita itu. Apa, apa yang harus kulakukan Faz?” airmatanya tak terbendung, sungguh orang yang melihatnya tak akan pernah tega. Faza mengambil tisue di meja dekat komputer dan menyerahkan pada Lutfi.

“Akhi,” Faza meninggalkan komputernya, dikecilkannya volume suara. Faza mendekati Lutfi dan duduk disampingnya. Tidak disangkanya sama sekali, sahabatnya yang pernah menjadi duta berbicara tentang ekonomi syariah dengan Gubernur, terpuruk dalam sebuah hal yang sama sekali tak disangkanya. The love virus. Virus mematikan. Spirit to kill. Alangkah banyaknya masalah yang dihadapi bidang dakwah yang mengurusi kadernya, karena ketuanya pun terkena virus itu.

“Apa yang kau hadapi itu adalah masalah yang sering Rasulullah saw pesankan agar seorang laki-laki harus waspada pada hal yang akan menjadi fitnah terbesar yaitu wanita. Cinta yang kamu rasakan adalah salah satu tipu daya syetan yaitu fitnah yang ditimpakan kepada mereka yang sedang dilanda mabuk cinta kepada seorang wanita.

Ingatlah pesan Ibnu Qayyim Al-Jauziyah dalam kitab “Ighatsatul lahfam Min Mashayidisy Syaithan ” beliau berkata, ‘Demi Allah, ini (cinta syahwat) merupakan fitnah dan bencana yang sangat besar, yang menjadikan nafsu menghambakan diri kepada selain penciptanya, yang menaklukkan hati kepada kekasih yang digandrunginya yang akan menimpakan kehinaan kepadanya, yang menyalakan peperangan antara mabuk cinta dan tauhid, dan yang mengajak untuk memberikan kesetiaan kepada syetan durhaka.

Ia akan menjadikan hati sebagai tawanan hawa nafsu, sebaliknya menjadikan hawa nafsu sebagai hakim dan pemimpinnya. Di penuhinya hati dengan bencana dan fitnah, dihalanginya dari kebenaran, dan dipalingkannya dari jalan yang lurus. Ia berteriak di pasar perbudakan, menawarkan hati kemudian menjualnya dengan harga yang murah. Diberikannya imbalan yang rendah kepada hati, sebagai ganti dari imbalan yang bernilai tinggi, yaitu kamar-kamar surga, dan lebih dari itu adalah kedekatan dengan Ar-Rahman.” Begitulah petuah Ibnu Qayyim Rahimallah dalam kitabnya.

“Lantas saudaraku, apakah kau tahu,” mata berkaca Lutfi masih menatap Faza, “Ingatlah, jika kau terus menyimpan perasaan itu, pasti hatimu akan merasa tenteram membayangkan dirimu berada di sisi kekasih itu, padahal Allahlah yang abadi tanpa cela dan hina. Kau menghancurkan dirimu sendiri sedangkan pujaan hatimu itu belum tentu memikirkanmu dan dia mungkin lebih dekat dengan Rabb Semesta Alam tanpa merasakan hal hina yang kamu rasakan. Kedekatan dengan kekasih yang bukan halal adalah sebab terbesar kesengsaraan.

Padahal, alangkah cepatnya seorang kekasih berubah menjadi seorang musuh! Alangkah cepatnya seorang kekasih meninggalkan kekasihnya, sampai-sampai tidak pernah merasa menjadi seorang kekasih. Itulah nasib bagi cinta dunia dan wanita. penyakit Al wahn . Andaikan engkau meneruskan cinta tanpa ikatan suci itu, kau bisa bersenang-senang dengan kekasih itu di dunia ini, namun tidak lama lagi ia pasti mendapat penderitaan yang lebih besar padanya, apalagi di hari ketika para kekasih telah menjadi musuh bagi kekasihnya, kecuali bagi orang-orang yang bertaqwa yang melandaskan cintanya pada Rabb Semesta Alam.”

“Aku yakin engkau sudah tahu semua hakikat itu, tapi aku hanya ingin menguatkanmu agar tegar menghadapi hal yang membelitmu hingga kulihat kau beda dari biasanya.” Faza memegang pundak kanan Lutfi, menguatkan.

“Jazakallah Faz, engkau memang sahabat yang menguatkanku kala lemah. Tiada kebaikan kecuali teman-teman yang menasehati untuk kebaikan. Jika aku berusaha sekuat tenaga menghilangkan rasa itu dan ternyata aku tidak kuat, apakah aku seperti konsekuensi seorang yang paham agama?”

Faza mengangguk tak menjawab. Berarti, ‘ya’ dan harus memilih dari dua hal lupakan habis-habisan atau melaju ke jenjang pernikahan.

“Jika kau masih punya penguatan untukku maka kuatkanlah lagi hatiku kawan, agar aku semakin kuat untuk melangkah ke depan,” mata itu bagaikan mata yang sakit dan membutuhkan perawatan intensif bagi penyakitnya. Cinta memang sesuatu yang aneh, bisa membawa ke jalan Allah dan bisa menjerumuskan kepada jalan syetan.

Faza mengangguk pelan, “Baiklah, sekedar tambahan. Cinta, betapa meruginya orang yang mabuk cinta kepada selain Allah, yang telah menjual dirinya kepada selain Kekasih abadi dengan harga murah dan kenikmatan sesaat, begitu kelezatannya hilang, tinggallah tanggung jawabnya; begitu manfaatnya hilang, tinggallah mudharatnya, begitu kenikmatannya hilang, tinggallah kesengsaraannya, dan begitu kebahagiaannya hilang, tinggallah penyesalannya yang berlarut-larut. Penyesalan abadi di akhiratNya.

Aku akan bacakan sedikit syair;

Duhai, 

Kasihinilah orang yang mabuk cinta

Cinta pada dunia dan wanita

Juga harta dan popularitas

Duka,

Duka karena tidak mendapatkan kenikmatan abadi

Duka karena kepayahan dan siksa pedih hasil dari cinta semunya

Dan duka terbesarnya

Adalah tak mencintai Allah dengan setulus penuh

“Pada hari itu, orang yang tertipu cinta mengetahui perdagangan apakah yang telah disia-siakannya serta mengatakan bahwa orang yang selama ini telah memperbuda dirinya dan menguasai hatinya, sebenarnya tidak layak dirinya menjadi pembantu dan pengikut kekasih fananya. Musibah apakah yang lebih besar daripada seorang raja yang diturunkan dari tahta kerajaannya, dijadikan sebagai tawanan orang yang tidak pantas menjadi tuannya, serta dipaksa untuk mematuhi segala perintah dan larangannya? Kubacakan satu puisi lagi yang pernah kutulis tentang cinta fana.

Ibarat burung di genggaman seorang bocah

Yang menimpakan berbagai penderitaan kepadanya

Sedangkan si bocah bergembira dan bermain

Jika anda melihat keadaan dirinya dan kehidupannya

Niscaya anda akan berkomentar

Tiadalah di muka bumi orang yang lebih menderita dari orang yang dimabuk cinta.

Meski hawa nafsunya memperoleh kenikmatan

Kau lihat,

Ia menangis setiap saat

Sebab takut berpisah atau karena rindu

Menangis ketika mereka jauh, karena rindu kepada mereka

Juga menangis ketika mereka dekat, karena takut berpisah

Menangis ketika sesuatu mengkhawatirkannya

Kau pasti sudah tahu hakikat itu sahabatku, andaikan kamu melihat tidur dan istirahat orang yang ditimpa cinta, niscaya cinta dan tidur telah berjanji dan bersepakat untuk tidak akan pernah bertemu. Jika kita melihat simbah air matanya dan gejolak hatinya yang bergejolak, niscaya kita akan membaca dia berucap syair kelemahannya.

Beginilah syairnya;

Maha suci Rabb ‘Arsy yang menciptakan dengan sempurna

Yang menjadikan hal-hal yang berlawanan tanpa penolakan

Tetes airmata, muncul dari gejolak api di dalam diri

Air dan api berada di satu tempat

Andaikata anda bisa melihat masuk dan merasuknya cinta ke dalam hati

Niscaya anda akan mengetahui cinta itu lebih halus cara masuknya

Lebih halus dari masuknya roh ke dalam badan.

Allah, hamba lemah maka persatukanlah aku dengannya

Hamba hanya mengharap padaMu, persatukanlah dia denganku.

“Begitulah kawan, mereka merasa telah kalah melawan hatinya, pantaskah orang yang berakal menjual, Raja yang ditaati kepada siapa yang akan menimpakan siksaan buruk kepadanya dan menciptakan pembatas tebal antara dirinya dan Allah, yang senantiasa dibutuhkannya? Jika cinta itu bisa menguatkan keimanan pada Allah, maka itulah cinta yang sesungguhnya dan jika cinta itu menjauhkan hamba dari Tuannya, itulah bencana saudaraku,” Faza menganggukkan kepalanya pada Lutfi yang serius mendengarkan ujarannya.

“Boleh aku memelukmu?” Lutfi menatap sahabat yang dikaguminya itu.

Faza langsung memeluk tanpa menyatakan ya atau mengangguk. Lutfi menguatkan hatinya untuk mengatasi masalah yang selama ini menghimpitnya.

“Doakan aku Saudaraku, doakan aku kuat menghapus cinta yang fana ini.”

“Selalu, selalu saudaraku, Insyaallah tak akan lepas doaku untukmu dan saudara-saudara kita yang lain yang terjebak dalam cinta fana yang menjebak.”

Senyum mereka merekah, seumpama matahari yang tulus terbit di sebelah timur. Senyumnya sungguh perkasa menyinari dunia penuh ketulusan, senyum penuh tasbih dan dzikir dalam bara panasnya. Lutfi berpamitan hendak menjemur bajunya yang tadi baru dicucinya. Ada senyum baru dari sudut bibirnya.

“Tapi...”

Faza berbalik kembali dari komputernya, tiba-tiba wajah lutfi menyembul keluar dari daun pintu yang terbuka itu. Dia menanti kata selanjutnya dari Lutfi.

“Jika aku tak bisa menghilangkan perasaan itu, maukah engkau membantuku lagi dalam menunaikan ketaatan padaNya?”

Faza langsung paham apa yang dimaksud Lutfi, pasti untuk melamarkan sang pujaan hatinya. Seolah Lutfi berkata dalam diamnya, “Bantu aku untuk melamarnya, agar prosesnya baik dan tanpa merusak hati.” Faza segera mengangguk dan senyumnya tulus.

Lutfi mendendangkan lagu cintanya, dia mengangkat kain dalam embernya dan menuju tali jemuran di belakang kontrakan. Dia tersenyum menatap matahari, “Perkasanya Engkau ya Allah, yang menciptakan matahari yang begitu perkasa. Aku pasti kuat menghadapi ujian itu, biidznillah.”

Hatinya berujar doa, “Ya Tuhan kami, janganlah Engkau jadikan hati kami condong kepada kesesatan sesudah Engkau beri petunjuk kepada kami, dan kurniakanlah kepada kami rahmat dari sisi Engkau, karena sesungguhnya Engkau-lah Maha Pemberi (karunia).” 

Lutfi telah siap menghadapi godaan hatinya, syetan akan dihadapinya habis-habisan. Apakah Lutfi akan bisa mengatasi masalah cintanya? Waktulah yang akan menjawabnya.

 

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!