Warna Pelangi Cinta

Cinta Pertama yang Berat

Satu bulan ini dilaluinya penuh perjuangan. Perjuangan untuk menuntaskan misinya, menuntaskan amanahnya. Eternal to fight, perjuangan keabadian.

Hari minggu ini, dan besok mid semester. Malam ini, setelah dia menyetorkan hafalan juz ke-27nya kepada Ustadz Ramadhan. Lengkap sudah, kebahagiaannya pun membuncah. Hafidz ingin mengakan syukuran malam ini, Zilul, Rasyid dan Shafwan setuju. Acara syukuran itu gagal karena ada satu yang tidak setuju, dia Faza. Bukannya tidak setuju, melainkan diundur saja nanti setelah mid semester selesai. Dengan penjelasannya, semua mafhum agar mid semester berjalan lancar. Pasti, jika kekenyangan maka konsentrasi mereka besok akan terganggu, Lutfi mengiyakan pendapat Faza.

Tapi, malam itu setidaknya Faza memberi solusi agar mereka tidak terlalu kecewa. Mereka membeli mie ayam yang lewat di kontrakan. Mereka memesan enam, pada awalnya empat namun Zilul dan Lutfi yang walau sedang ada acara dapat pulang demi melihat senyum Hafidz. Mereka turut merasakan kebahagiaan Hafidz yang mungkin malam ini terlihat senyumnya yang terindah, senyum kemenangan karena telah menuntaskan amanah almarhum ayahnya.

Hafidz tidur dalam buaian kebahagiaan tak terkira, entah kenapa ada manusia yang masih ada dan mengingkari segala nikmat dari Allah? Tidak ada alasan sama sekali manusia untuk kecewa dan putus asa akan segala yang telah diberikan Allah ‘Azza wa Jalla. 

‘Ya Allah, aku menyerahkan diriku kepadaMu, aku menyerahkan urusanku kepadaMu, aku menghadapkan wajahku kepadaMu, aku menyandarkan punggungku kepadaMu, karena senang (mendapatkan rahmatMu) dan takut pada (siksaanMu, bila melakuka kesalahan). Tidak ada tempat perlindungan dan penyelamatan dari (ancaman)Mu, kecuali kepadaMu. Aku beriman pada kitab yang telah Engkau turunkan, dan (kebenaran) NabiMu yang telah Engkau utus. apabila engkau meninggal dunia (di waktu tidur), maka kamu akan meninggal dunia dengan memegang fitrah (agama Islam).’ 

Bagi Hafidz, the first love-nya tak akan pernah berubah sama sekali. Cinta pada Allah ‘Azza wa Jalla adalah segalanya. Dialah yang memberinya semangat yang tak pernah padam sampai ajal menjemputnya. Semoga.

Embun-embun kembali menyapa bumi dalam segala kesejukannya. Fresh. Dimana masih banyak orang yang terlelap pukul 06.00, hilanglah rejekinya. Masih ada juga orang yang tertidur, baik belum bangun dari tidurnya atau yang sudah shalat subuh lalu tidur kembali. Beda dengan Baitul’ilmi, penghuninya seakan terlihat segar-segar hari ini setelah tadarus, doa dan taujih. Kini, mereka telah rapi terutama Hafidz yang bahagianya sedang meluap-luap, seolah ingin segera menaklukkan soal-soal mid semester hari ini.

Rasyid menyiapkan buku-buku yang hendak dibawanya, belajarnya sedikit terganggu dengan peristiwa yang belum bisa dilupakannya sama sekali. Nirmala Sari. Dia belum menceritakan kepada siapapun kecuali kepada Rabbnya semata. Tapi, kegelisahan itu sama sekali tak mengurangi esensi persiapannya untuk mid semester. Cita-cita utamanya adalah mempersembahkan nilai terbaik untuk kedua orangtuanya di Mesuji, yang bekerja setiap hari di antara pohon-pohon sawit.

Shafwan masih tenang di depan cermin, menyisir rambutnya. Buku-bukunya sudah ditatanya tadi malam sebelum tidur. Mid semester walau tidak dianggapnya enteng, tapi sering dia tak membutuhkan waktu lama untuk mengerjakannya. Biasanya teman-teman sekelasnya menyelesaikan dua nomor dia sudah selesai jika soalnya lima soal esai. Jika sepuluh soal, dia akan selesai ketika teman-temannya baru mengerjakan empat soal. Itulah Shafwan dengan segala ketenangannya. Teman-teman di kontrakan tak pernah meragukan kemampuannya.

Shafwan melihat wajahnya dari pantulan cermin. Ya Allah, jadikanlah akhlakku indah  sebagaiman Kau jadikan indah wajah hambaMu ini. Tiba-tiba sebuah wajah seolah muncul dari kaca. Wajah wanita cantik, sangat cantik. Shafwan menggelengkan kepalanya. Naudzubillah. Pikiran apa ini? Wajah itu semakin tersenyum menatapnya. Wajah wanita yang pernah dilihatnya saat sama-sama mengambil buku di toko Taqwa. Saat mata mereka saling menatap. Saat panah Iblis dilepaskan hingga menembus ke dalam hati mereka yang jernih.

Ampuni hambaMu Allah. Shafwan meninggalkan cermin, walau hatinya terasa perih karena akhir-akhir ini, ibadahnya sedikit terganggu. Dia pamitan kepada yang lain untuk berangkat ke STAIN duluan, katanya hendak membersihkan sekret Al-Ishlah dulu. Saat langkahnya meninggalkan kontrakan, ada bening yang berkaca dari kedua sudut matanya dan langsung dilapnya dengan punggung tangannya. Dan Allah menatapnya dari arsy-Nya.

Zilullah masih menghafal Al-Quran, dia telah selesai ujian dan hasilnya amat memuaskan. Nilainya sama dengan Lutfi, ukuran A sama walau kalau nilai kuantitatifnya berbeda koma sedikit. Tampak wajahnya berseri-seri, dia telah membuktikan dirinya. Mami dan Papinya bangga padanya, waktu seminggu yang lalu menghadiri ujiannya. Saat itulah hatinya berbunga-bunga tanpa bisa dibohonginya. Kenapa?

Naurah ikut hadir memberi semangat padanya, Naurah datang beserta teman-temannya. Mereka menyemangati sebagai perwakilan dan penyemangat dari At-Taghyir. Zilul semakin mantap menjawab setiap soal-soal dan uji skripsinya dari para Dosen Pembimbing. Senyum kemengannya bertalu-talu, bernyanyi indah dalam hatinya. Smile of victory.

Selesai ujian Naurah dan Indah mendekatinya.

“Barakallahu fika akh, ” suara lembut itu seolah membawanya terbang. Fly.

“Wafiki Baarakallah ,” suara Zilul dibuat amat pelan. Takut terlihat gemetar di hadapan wanita yang diam-diam diharapkannya untuk menjadi pendampingnya itu.

Sudah saatnya aku harus segera menentukan pilihan. Pilihan untuk melamar Naurah, resiko ditolak atau diterima urusan belakang yang penting bergerak duluan. Sebelum ada lelaki lain yang melamarnya, karena kutahu beberapa laki-laki telah melamarnya dan Naurah menolaknya. Jujur, kecantikannya sempurna tetapi agamanya juga sangat baik. Zilul menguatkan hatinya, dia telah memutuskan untuk melamarnya segera. Tanpa perantara. Dia sendirilah yang akan melamarnya.

Di Universitas Muhammadiyah, STAIN dan beberapa Perguruan Tinggi lainnya di Kota Metro yang mengadakan mid semester benar-benar menampakkan kekuatannya. Lihatlah dari wajah-wajah keseriusan para Mahasiswanya, yang terlihat ceria karena telah mempelajari dan menguasai Mata Kuliah yang akan diujikan atau lihatlah wajah bingung karena memikirkan caranya mengerjakan soal-soal, menyiapkan contekan.

Inilah ajang sebuah kejujuran dipertaruhkan. Dalam sebuah komunitas kecil bernama kampus, bukan dalam tataran Pemerintahan dan perusahaan. Setiap hal yang besar bermula dari hal yang kecil, dari sinilah dapat dilihat kualitas pemimpin masa depan Indonesia. Mental kejujurankah? Atau mental pencontek dan membuang harga dirinya.

Lutfi berjalan ke kantor Rektorat untuk menyerahkan persyaratan-persyaratan yudisiumnya. Sudah lengkap. Kemenangannya telah tertunaikan, hanya tinggal menunggu wisuda saja. Formalitas sarjana untuk legalitas. Tapi dia sadar, kesuksesan seseorang tidaklah berada pada gelarnya, tapi pada kemulyaan akhlaknya. Itulah prestasi sesungguhnya. Juga, bukankah banyak Sarjana yang menganggur? Dan juga tidak sedikit orang sukses dalam dunia hanya lulusan SD, SMP? Kini, dalam dunia modern yang digunakan adalah profesionalitas dan spesifikasi.

Jurusannya adalah Ekonomi Islam, itu adalah amanah yang besar di tengah badai konvensional yang telah menjamur kuat di negara ini. Riba dan jual-beli gharar  masih marajalela selama syariat mengatur ekonomi ditegakkan.

Lutfi akan merasa sangat malu pada Allah swt, apabila dia tidak dapat menerapkan ekonomi dan usahanya dalam bingkai syariat seperti ilmu yang telah diperolehnya selama kuliah. Dia akan malu kepada para Dosen syariah yang telah membimbingnya, dia akan malu kepada setiap penulis buku yang buku-buku ekonomi Islamnya telah dibaca, dia malu jika terjerat dalam ekonomi bebas tanpa aturan Islam. Dia akan memperjuangkan apa yang telah dipelajarinya, sampai maut menjemputnya.

DR Khusnul Fatharib mendekatinya dari dalam Rektorat STAIN, dan mengucapkan salam padanya. DR Fatharib adalah lulusan Ekonomi Islam dari Sudan, menyelesaikan SI-nya di Mesir, S2 di Sudan, dan S3 di Sudan juga. Dosen yang paling anti jika ada pencurangan dari pihak Mahasiswa, karena ada beberapa Mahasiswa yang menyuap agar skripsinya dimudahkan. Hal seperti itu, sama saja membodohkan generasi Indonesia, begitu katanya berapi-api. Karena itulah beliau dihormati para Mahasiswa dan para Dosen.

“Sudah punya rencana setelah menerima ijazah anakku?” Tidak disangkanya Pak Fatharib langsung menanyakan apa yang sedang dipikirkannya.

“Sedang membuat rencana-rencana Pak, karena kita sama-sama tahu Ekonomi Islam baru mulai diminati di seluruh pelosok Negeri ini, namun pada dasarnya masih banyak umat Islam sendiri belum memahaminya.”

“Benar Anakku. Jika kau berminat, saya punya tawaran menarik untukmu. Itupun jika kau tertarik datanglah ke ruangan saya,” DR Khusnul mengucapkan salam dan pamitan. Masih ada yang ingin diselesaikannya.

Lutfi masih terpaku di tempatnya, Inilah kekuatanMu Allah, hakMu memberikan sesuatu pada apa yang Kau kehendaki. Untuk menjadi orang besar, tidak cukup hanya sebatas mimpi tapi harus sigap mengambil peluang. Melakukan quantum-quantum terhadap peluang apapun. Lutfi tak ambil banyak pertimbangan, langkahnya segera menyusul langkah Pak Khusnul. Daripada meraba, lebih baik mengambil peluang yang sudah digelarkan Allah, itu lebih baik.

Masuk ke ruang Dosen Pengajar, bertanya pada petugas TU di bagian depan. Dia bertanya apakah Pak Khusnul masih di ruangan, pak Firman mengangguk dan mempersilakan Lutfi masuk ke ruangan pak Khusnul. Dipanggil orang besar dan dihormatinya, berarti Insyaallah telah dipersiapkan langkahnya untuk menapak jalan dan peluang pekerjaan atau peluang job yang lain.

Pak Khusnul menyambutnya dengan senyum kecilnya, dia mempersilakan Lutfi duduk dengan isyarat tangannya dan anggukan kepala.

“Gubernur Lampung dan Bupati Lampung Timur kemaren meresmikan APBN untuk anggaran ekonomi syariat di Sukadana, kebetulan saya diundang dalam acara tersebut. Saya diminta mencari orang-orang untuk mengisi usaha yang segera akan didirikan tersebut, dana untuk proyek ini sudah ketuk palu dan nilainya adalah 10 milyar. Dan saya dipercaya untuk mencarikan sepuluh orang untuk mengelola ekonomi syariah tersebut di Lampung Timur.

“Besar harapanku, kau mau menerima tawaran ini untuk dapat menunaikan amanah ini di Lampung Timur. Ekonomi syariah, sejak kemunculannya telah menggemparkan konvensional. Itulah bisnis besar yang telah dicontohkan Rasulullah saw dan satu hal lagi kenapa saya memilih kamu di antara sepuluh orang nantinya yang akan menjalankan ekonomi syariah di Lampung Timur tersebut,” Pak Khusnul menghirup udara segar menjelang siang itu. Dalam-dalam.

“Boleh saya tahu, apa itu Pak?” Lutfi merasakan ada tugas lain selain menjalankan proyek baru itu, dan dirasakannya tugas yang akan disampaikan selanjutnya lebih berat.

“Disana, tidaklah seramai Kota Metro. Disana kau kutugaskan untuk meneruskan dan berdakwah di daerah itu. Kau tahu, disitu adalah daerah kelahiranku dan aku ternyata tidak bisa berjuang secara total disana untuk membangun tanah kelahiranku. Aku ingin kau meneruskan dakwah kampusmu disana, kau juga akan kuusahakan untuk beasiswa S2 jika kau sudah disana selama dua tahun. Bagaimana Lutfi, kau bersedia?” DR Khusnul menatapnya penuh harap. Menunggu jawaban.

Ada bening kecil yang hendak mengembung dari kedua sudut mata Lutfi, pagi ini dia baru saja mengazamkan untuk menerapkan ilmunya seoptimal mungkin. Kini, Allah benar-benar menunjukinya jalan. Alangkah dekatnya Engkau ya Allah, walau Kau tahu hambaMu ini tak bisa utuh menyembahMu. Tapi, Kau sama sekali tak pernah meninggalkanku, Kau selalu mempermudah jalanku. Allah, aku akan berusaha utuh menjadikanMu yang terulung di hidupku.

“Insyaallah saya bersedia Pak,” matanya yang berkaca segera diusapnya dengan telunjuk kanannya. Malu terlihat orang besar yang kini duduk di hadapannya itu, “Dan, saya mohon dukungan dan doa Bapak. Semoga Allah benar-benar memberikan yang terbaik untuk kita. Saya sangat bersyukur mendapatkan karunia ini, saya tidak pernah menyangka akan dimudahkan oleh Allah jalannya hidup saya Pak. Jazakallah Pak atas kepercayaannya kepada saya.”

“Bersiap-siaplah, karena mulai bulan depan survey-survey akan segera dilakukan oleh pihak  Pemerintah Daerah. Mulai bulan depan, sepuluh orang yang akan menjalankan proyek ini akan ditugaskan riset dan pemeriksaan lebih lanjut tentang lokasi yang strategis sebagai center ekonomi syariah di Lampung yang diposisikan di Lampung Timur. Persiapkanlah dirimu baik-baik Lutfi.”

“Insyaallah, mohon doanya Pak.”

“Aku berharap banyak padamu Lutfi, aku tahu kemampuanmu bisa diandalkan makanya kau kurekomendasikan menjadi ketua team yang akan dibentuk nantinya.”

“Masyaallah, jangan Pak. Bukankah saya masih belajar, biarlah saya mempelajarinya dulu dan jangan langsung di PJ-kan menjadi ketua team.”

“Sudahlah, aku yakin padamu. Kau pasti bisa, yakinlah dan optimislah. Semoga Allah selalu memberikan karuniaNya padamu.”

Hari itu. Lutfi pulang dengan sebuah kemenangan yang diraihnya, tinggal hari senin besok dia yudisium. Dan pekerjaan besar telah menunggunya, mendirikan dan menjalankan centre ekonomi syariat. Lalu pemikiran keindahan itu tiba-tiba menari dan bermain kuat dalam pikirannya. Married. Akankah dia bisa melawan cinta yang tak semestinya itu? Atau melupakannya? Atau melamarnya? Ampuni hamba ya Allah, hamba memang tidak bersyukur, hamba bahkan tak bisa utuh mencintaiMu. Gambar wanita itu tiba-tiba menyeruak kuat kembali. Alangkah indahnya jika dia kuajak ke Lampung Timur untuk membuka lahan dakwah disana, merenda kasih dan menikmati dakwah dalam keindahan rumah tangga. Astaghfirullah! Lutfi tak kuat menahan gejolak yang bermain di hatinya. Pulang. Tujuannya adalah masjid Babussalam, dia ingin mengadu akan ketidakberdayaannya. Dan Allah selalu menunggunya, untuk selalu kembali...

Faza tersenyum mesra, sangat mesra. Semesra awan yang menemani dengan setia matahari siang ini, sehingga hasilnya siang ini tidak terlalu panas. Weather 24 derajat celcius-lah buktinya. Tak butuh waktu lama baginya menikmati soal-soal mid semester yang berada di tangannya. Jawaban segera tertuang dengan lancar di kertas jawaban yang telah dibubuhi biodata dan nomor NPM -nya. Senyumnya selalu tersungging seiring dengan gerakan ujung penanya, seolah tak membiarkan sehurufpun keliru dalam penulisannya. Harus sempurna!

Hanya orang yang visi, tujuan, goal yang tidak kuat atau tidak jelaslah yang tidak mau mewujudkan mimpi-mimpi besar. Bukankah banyak orang bermimpi menjadi orang kaya? tapi tak mau bekerja. Bermimpi menjadi orang pintar? tetapi malas belajar? Bermimpi menjadi orang terkenal? tapi enggan membuat karya, atau kreatifitas. Bermimpi mendapatkan pendamping hidup yang sholeh atau sholehah? Tapi tida mau memperbaiki dirinya. Jauh sekali. Itu karena visi dan tujuan hidupnya tidak kuat dan hanya sebagai label dalam legalitas hidupnya saja. Agar diangggap oleh orang lain bahwa yang penting dia ada di dunia.

Secara filosofi mudah seperti ini, kita ibaratkan sebuah wadah yang kita isi dengan batu-batu besar ke dalamnya, sampai penuh. Apa yang terjadi? Masih ada celah-celah yang tercipta dari wadah yang diisi batu-batu besar tersebut. Bisakah dimasuki benda lain? Bisa! Mungkin pasir, isi hingga penuh. Bisakah dimasuki benda lain lagi? Bisa! Yaitu air.

Kita lalu membalik filosofi di atas. Wadah kosong kita masukkan pasir di dalamnya. Bisakah batu-batu besar dimasukkan? Bisa! Tapi mungkin banyak pasir yang akan tumpah. Tapi air masih bisa masuk. Filosofi ini, menggambarkan bahwa kita harus optimis menyelesaikan dan memikirkan hal-hal besar dan tentu saja hal-hal kecil akan mengikutinya dan relatif dapat diselesaikan. Namun, jika tujuan manusia itu hanya hal-hal biasa dan remeh, maka bisa dipastikan hal-hal besar dan cita-cita besar akan terbengkalai.

Faza mengumpulkan pertama kali lembar jawabannya ke Dosen pengawas sekaligus Dosen mata kuliah tersebut. Pagi tadi mid semester untuk mata kuliah “Aspek Hukum Dalam Ekonomi” dia juga keluar pertama, kini mata kuliah kedua untuk mid ini yaitu, “Metodologi Penelitian.” Faza meninggalkan kelas. Hatinya mendesah doa, agar hasil mid semesternya jayyid atau bravo. Dia segera bergegas ke masjid Babussalam, biasanya menjelang dzuhur, Ustadz Ramadhan sudah datang dari mengajar. Dia bisa setoran surat Muthaffifiin.

“Tidakkah orang-orang itu yakin bahwa sesungguhnya mereka akan dibangkitkan, pada hari yang besar, (yaitu) hari (ketika) manusia berdiri menghadap Tuhan Semesta Alam.” 

Sekalian Faza ingin menyiapkan untuk materi pembinaan di SMK Negeri I Metro. Bisa sambil menyiapkan materi di Masjid, karena acara pertemuannya dengan para Mad’u  sepulang mereka kuliah yaitu pukul 14.00. langkahnya semakin bergegas, ayunannya cepat namun riang, wajahnya teduh. Sangat teduh. Mencoba mengalahkan panas siang ini.

Benar saja. Di masjid Babussalam Ustadz Ramadhan tengah duduk di depan mimbar. Menunggu waktu dzuhur sambil dzikir dan tilawah Al-Quran. Setoran hafalan Quran milik Faza. hanya dua kali salah di bagian makhrojal hurufnya.

“Allah, jadikanlah hambaMu ini selalu bersyukur kepadaMu.  Berilah petunjuk untuk jalan yang lurus, benar-benar lurus. Tiada kekuatan kecuali milikMu, dan tiada kenikmatan kecuali dariMu. Karena jika dariMu, itulah karunia dan keberkahan.”

Faza membuka buku untuk mengisi nanti pukul dua siang. Minggu kemarin materinya problematika remaja tingkat part one, hari ini meneruskan materi kemarin. Problematika remaja dipelajari untuk dapat diambil mana yang memang bermanfaat dan mana yang hanya sebagai penghalang kita untuk kader yang punya keteguhan.

Senyumnya teduh, merdu, dan tulus. Menciptakan aura kesyukura siapapun yang melihat wajahnya yang bersinar.

 

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!