Warna Pelangi Cinta

Soulmate 2

“Bibi gak usah ngatur-ngatur Salwa! Salwa udah gede. Lebih baik bi Murni selesaikan pekerjaan Bibi!”

“Kalau begitu Non sarapan nasi goreng dulu ya?” senyumnya merekah.

Aku jengkel bukan main, teman-temanku sudah menunggu di luar, “Ya udah dibungkus saja Bi. Kasihan teman-teman sudah menunggu,” aku memakai sepatu kets-ku. Harus cepat.

“Iya Non,” bi Murni masuk ke dapur, terlalu lama.

“Bi! Cepetan! Salwa mau berangkat nih!”

Bi Murni tergopoh-gopoh membawa plastik, “Ini Non! Dimakan ya,” matanya yang telah menua nampak bersinar, keriputnya tak tertutupi lagi.

“Terserah Salwa!” aku melenggang keluar. Teman-teman sudah jenuh di luar, mereka mengomel. 

Kenapa aku tiba-tiba memikirkannya? Makanan yang selalu dibungkusnya selalu kubuang atau kuberikan pada pengemis atau teman-temanku atau bahkan kubuang di tong sampah. Bi Murni? 

“Hei! Kau memikirkan sesuatu? Ceritakanlah padaku, bukankah kita sudah menjadi teman?” senyum Salwa sangat mirip dengan pembantuku itu. Tulus.

“Aku teringat seseorang yang penting dalam hidupku,” aku menaruh sendok di atas piring lalu kosorongkan agak ke tengah, “Dia orang yang paling perhatian dan baik kepadaku, tapi entah kenapa aku selalu menyakitinya. Aku selalu mencari alasan untuk memarahinya, aku sangat risih dan benci akan perhatiannya padaku sedangkan kedua orangtuaku bahkan sekedar berbincang denganku saja tidak sempat.”

“Itulah kehidupan Salwa, semakin kau paham kehidupan kau akan semakin paham bagaimana mengatasi setiap persoalannnya. Intinya semua yang ada di dunia ini adalah pelajaran yang harus kita ambil manfaatnya,” Azizah mengambil piringku dan menumpuknya dengan piringnya, dua sendok dikumpulkan di atasnya.

“Salwa,” Azizah menatapku dalam dan tenang.

“Ada apa?”

“Tataplah mataku dengan hatimu.”

Walau aku masih bingung, tapi kuikuti saja apa yang dimintanya. Kami lama berpandangan. Angin bertiup membelai rambutku, sungguh tiba-tiba kumerasakan ketenangan merasuk dalam hatiku.

“Setiap Allah memberikan cintaNya pada hamba, maka dibuatNya manusia mencintainya pula. Jika ada yang mencintai kita, itulah karunia yang tidak boleh kita sia-siakan. Bisakah kau melihat cinta di mataku Salwa? Kau tidak mengetahuinya seberapa besar rasa cintaku dan rasa sayangku kepada seseorang walau kau menatapnya sampai ajal menjemput. Tapi, cukuplah apa yang dilakukannya pada kita dan apa yang dia korbankan untuk kita. Tidak perlu kita tanyakan dimana cinta itu, cukuplah pengorbanannya untuk kita sebagai bukti bahwa dia teramat mencintai kita dengan sepenuh jiwa dan raganya.

Kau tahu..., aku tak pernah mengetahui seberapa besarnya cinta seseorang yang kumiliki di dunia ini. Dia yang mencurahkan seluruh pengorbanannya hingga melupakan keinginannya. Dia telah melupakan kesenangan dan merelakan senyumnya demi melihatku mencapai mimpi-mimpiku. Aku tak pernah tahu, bagaimana sayangnya padaku karena aku hanya mengetahui setiap pengorbanan yang harus dibayarnya dengan luka dan derita. Dan aku, tak akan sekalipun menyia-nyiakan pengorbanannya walau dalam mimpi sekalipun. Cukuplah pengorbanannya sebagai dasar kesungguhan cintanya. Jangan sia-siakan cinta yang telah datang, karena akan ada penyesalan di setiap tindakan  bodoh kita,” Azizah mengusap airmatanya dengan kedua telapak tangannya.

“Maafkan aku jika membuatmu mengingatkan kenangan pahit masa lalumu Azizah.”

Azizah mengangkat tangan kanannya dan menepuk pundakku, “Tidak apa-apa, aku hanya ingin mengabarkan kalau orang yang menyia-nyiakan cinta yang menghiasinya akan mengalami penyesalan yang dalam jika telah kehilangan. Cinta itu adalah kata terindah yang ada di dunia ini, jika keindahan itu hilang maka hilanglah senyum dunia ini,” senyumnya kembali menyapa jiwaku. Allah, inikah cinta yang Kau berikan. Entah kenapa tiba-tiba hatiku amat sangat rindu padaMu.

“Kau punya saran untukku tentang orang yang amat sayang dan cinta pada kita?”

Azizah tersenyum, “Berikan yang terbaik untuk orang yang kau cintai, sebelum semua cinta dan rasa sayangnya pada kita dibawanya pergi menemui Tuhannya. Karena cinta itu tak akan kembali lagi, jika kau menyia-nyiakannya dan dia lebih senang mendoakan kita dari tempatnya di pijar cahaya keabadian.”

“Bagaimana kalau dia terlalu membosankan kita, walau dia mencintai kita?”

“Kita hanya perlu menengok hati kita, apakah cinta dan sayang itu benar-benar kita rasakan? Tanyalah hati, karena dia tidak pernah berbohong.”

Allah, akhir-akhir ini aku benar-benar merasakan cintaMu teramat dekat.

          

Kehidupan ini memang sangat menarik, bersyukur adalah jalan terbaik untuk menanggapinya. Kesyukuran yang tak akan pernah berakhir, hingga nafas berhenti berhembus. Baru beberapa minggu yang lalu sepertinya aku mengenalnya, tapi seperti ada kecocokan di setiap percakapan yang tercipta.

“Kau tidak malu berjalan berdua bersamaku Azizah?” dia melirikku sejenak, tapi langkah kami terus melangkah menuju Barakah. Dia belum sarapan dari pagi.

“Bukankah seharusnya aku yang bertanya seperti itu padamu Salwa,” aku mengembalikan pertanyaannya.

Langkah kami terhenti di depan Barakah, sebuah rumah makan di sebelah barat STAIN, berjarak sekitar 140 meter. Dua orang pasangan muda-mudi baru saja keluar dari sebelah kanan ruangan yang merupakan ruang makannya dan sebelah kiri melayani penjualan makanan yang dibungkus. Tergantung ingin makan disana atau dibawa pulang.

 Lima tahun yang lalu, Barakah mulai didirikan pak Mahmudi beserta isterinya dan seorang anaknya yang tertua. Mereka melihat prospek momentum yang besar dari usaha makanan karena duta-duta ilmu setiap tahunnya mulai membludak di kota Metro yang notabenenya adalah kota pendidikan. Berbekal rumah mereka yang kecil dibuat ruangan tamu diperbesar dan dijadikan tempat makan dan pembelian sayuran dan lauk-pauk. Mereka bertiga memulai sebuah usaha yang belum banyak dilirik sebagai usaha yang prospek di tengah pusat-pusat pendidikan.

Kini, setelah kurang lebih lima tahun sejak pak Mahmudi dan isterinya mendirikan warung-warung makan yang mulai menjamur di kampus Metro. Pak Mahmudi dapat menikmati kerja kerasnya sebagai perintis, makanan yang mereka tawarkan telah memiliki rasa tersendiri di lidah para pelanggannya, susah untuk mencoba berpaling dari Barakah yang selain makanannya yang khas juga harganya terjangkau. Barakah kini telah menjadi rumah makan terbesar di sekitaran kampus Metro, bertingkat dua dan tempatnya luas serta nyaman. Pelajarannya adalah, kesuksesan didapatkan oleh orang-orang yang mau memulai mengambil momentum yang ada.

“Bu, biasa. Dua piring nasi, daging ayam plus sopnya,” Salwa duduk dan menarik kursi di sampingnya menjauhi meja, “Ayo duduk, kamu pasti juga belum makan siang ini. Sekali-kali bolehkan aku gantian mentraktirmu?” dia menatapku yang masih berdiri. Jujur aku tak terbiasa makan di rumah makan, “Please, jangan dianggap ada maunya tapi aku hari ini ingin mengajakmu menemui anak asuhku. Nemenin aja kok, kamu libur menjahit siang ini tidak apa-apa kan?”

Akhirnya aku duduk juga, tak enak menolak tawaran Salwa.

“Benarkah kamu punya anak asuh?”

Dia hanya menganggukkan kepalanya, “Aku punya dua.”

Seorang pelayan wanita keluar membawa nampan berisi dua piring dan beberapa mangkok-mangkok kecil dari ruangan sebelah kiri, tubuhnya agak gemuk. Biasalah,  penjual makanan tentu akan kecipratan bagian makanan seperti penjual minyak wangi mau tak mau pasti ikut wangi pula. Atau bisa juga penjual arang akan tergores hitamnya arang juga, seperti pula penjual bawang maka dia akan menyatu dengan lingkungan yang ada di sekitarnya.

“Silakan makan, jangan malu-malu,” Salwa tersenyum menatapku. Dia mengambil kuah dan mengambil sendok lalu mulai makan, “Seminggu lagi kan musim semesteran untuk Sekolah Dasar, makanya aku harus ke rumah anak asuhku untuk memberikan uang untuk bayaran mereka di semester ini. Kau akan rugi jika tak ikut, mereka lucu-lucu lho.”

Aku tak menanggapinya, Bismillah, aku mulai memotong daging paha ayam itu. Aku menggigitnya sedikit bersama satu sendok nasi. Subhanallah, nikmatnya karuniaMu ya Allah. Tapi..., aku teringat Kakak. Sedang makan apa dia, apakah seperti dulu sewaktu pernah aku diajak bi Husna saat mendatangi kostnya sewaktu SMA. Saat dia menjadi marbot di masjid Babussalam, saat itulah hatiku terenyuh dan menangis perih dan tak bisa membayangkan alangkah kurusnya kak Faza. Saat itu, saat dia masih berdzikir shalat dzuhur aku menengok dapur di samping tempat wudhu masjid. Dalam wajan itu terdapat sayur yang tak lazim, sayur daun alang-alang yang membayangkan ketika dimakan saja pasti lidah menjadi perih jika tergores daunnya yang kasar. Oh...., Kakak. Dan kini aku bahkan tak ingat dia, Allah...

“Kau kenapa Azizah? Matamu berair.”

“Tidak apa-apa, Aku teringat kembali orang yang kucintai. Aku tak tahu sedang apa dia sekarang dan kini aku sedang menikmati makanan enak. Lalu, sedang makan dia apa sekarang atau bahkan dia belum makankah,” kutatap awan yang semakin menipis tertiup angin. Hanya bara panas yang selalu bertahan di siang ini.

“Suatu saat kau mau kan menceritakan siapa orang yang kaucintai itu?”

“Insyaallah,” kulihat senyumnya, lalu jemarinya kembali mengangkat sendok ke mulutnya.

“O ya, Tadi pertanyaanku belum kau jawab.”

“Tentang apa?” Salwa menatapku dalam.

“Apakah kau tak malu jalan bersamaku, kalau kata orang pakaian yang kukenakan ini kuno dan kombroh-kombroh  lho. Lihat saja pakaianmu, serba modis.”

Dia tertawa dan menutupi mulutnya dengan telapak tangan kirinya, “Bukankah kau yang bilang sendiri, kita dinilai bukan dari fisik kita. Tapi, dari pemikiran kita. Aku enjoy kok, kenapa mempermasalahkan hal sepele seperti itu,” Salwa menggeleng-gelengkan kepalanya, “Tapi, sejujurnya...” ada keraguan dalam diamnya. Wajahnya menunduk sambil memotong daging ayamnya, “Dulu aku amat membenci orang-orang sepertimu yang memakai jilbab, aku menganggap mereka selain kuno juga sok suci. Tapi, setelah kulihat di dunia kampus ternyata banyak teman-teman dan kakak tingkat yang berjilbab ternyata orangnya amat familiar. Dan salah satunya kulihat darimu Azizah, kau berbeda dari wanita pada umumnya. Kau punya mimpi-mimpi besar.”

“Kau terlalu melebih-lebihkan.”

“Tidak Azizah. Bahkan, ada keinginan dalam hatiku bahwa suatu saat aku akan memakai jilbab,” aku kaget mendengarnya, dia masih menunduk.

“Subhanallah, cahaya telah mulai merasuk dalam hatimu saudariku,” kulihat senyumnya mengembang indah. Ya Allah, berilah dia karunia cintaMu sehingga dia dapat menemukan kesejatian cintaMu. Berilah kabar gembira itu secepatnya, dekatkan dia akan cahayaMu Allah.

“Ayo berangkat?” Salwa membayar makanan dan jalan mendahuluiku. Aku pun mengikutinya. Di depan Barakah, sebuah angkot merah berhenti. Kami langsung naik angkot dan kami telah berada di ruangan kotak bagian belakang mobil. Berdesakan dengan penumpang lain yang kebanyakan siswa SMA. Seseorang lelaki tepat duduknya di depanku, tembaga mengkilat menempel di kedua daun telinganya. Naudzubillah, inikah akhir zaman ya Allah?

“Terminal! Terminal!” Si kernet terus-menerus berteriak, memekakkan telinga. Di dalam angkot sebenarnya sudah sangat penuh, berdesakan dan gerah luar biasa. Tapi inilah rumus sekali mendayung dua pulau terlampaui atau selagi menyelam sambil minum air karena hitungan angkot sekali jalan kenapa gak jika pemasukan lebih. Jadilah, penumpang dibuat seperti ekan pepes, diunkep seperti kue lemper.

 

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!