Warna Pelangi Cinta

Menantang Matahari

Lelaki ini rebahan tapi pikirannya masih terus menerawang.

Mata lelaki yang rebahan itu sebenarnya menyimpan pemikiran dalam sel-sel otaknya. Kadang matanya yang terlihat terlelap, masih sering membuka, mencoba mengais kenangan-kenangan yang berceceran. Kenangan apa? Sebuah kenangan yang kuatkah? Hingga membuatnya tak nyenyak sedikitpun walau ayat-ayat cinta mengalun, menelisik, mencoba menenangkannya. Murottal terus mengalun dari komputernya.

Hari ini skripsinya tinggal perbaikan akhir lalu mendaftar untuk ujian. Bayangan sebuah sosok akhir-akhir ini melintas dalam setiap geraknya, bayangan yang benar-benar memenjarakan dalam tahanan yang menyentak hatinya, hatinya telah terisi ode  atau elegi yang melankolis. Hanya Zilul yang bisa merasakan betapa, kelebatan bayangan itu membuat susah payah menetralisir setiap aktifitasnya. Walau matanya seolah terpejam, tapi hatinya terus saja membayang wajah cantik, soft, putih bagai pualam bersinar, bagai mutiara terindah yang pernah dilihatnya. Lelaki itu merubah posisi tidurnya, sambil berucap Istighfar lirih.

Zilul benar-benar tersiksa oleh hatinya yang terus-menerus membayang wajah cantik Naurah. Ya! Gadis pujaannya itu bernama Naurah, aktivis yang berkarakter dan lembut, cantik dan jadi perbincangan baik di kalangan para aktivis pria maupun yang bukan. Hatinya terasa tertusuk pisau jika nama itu disebut-sebut oleh pria lain, ada kecemburuan yang menelisik. Sungguh rasa cinta itu telah mengakar kuat dalam dadanya. Hanya Zilul sendirilah yang dapat menjelaskan betapa kuat perasaannya itu, karena dia sendirilah yang merasakan perasaan aneh itu. Bibirnya kembali berujar Istighfar sambil merubah posisi tidurnya.

Dalam posisi tidurnya yang membelakangi pintu, sebenarnya dia merasakan akan lirikan Faza saat melintasi kamarnya. Faza yang bolak-balik saat mengambil minum dari galon air di dapur. Saat itulah hanya dia yang tahu pergulatan hebat terjadi dalam batinnya, airmatanya menetes, meresap ke dalam bantal yang bermotif bunga-bunga yang menyangga kepalanya. Hatinya terus berdenyut kencang, tak ada yang tahu denyutannya kecuali dirinya dan Rabbnya. Denyutannya hanya bermuara pada satu nama, Naurah Lathifah An-Nawar.

Hati Zilul berteriak keras, ’Naurah! Engkau bunga yang mekar dan merekah di hatiku. Walau merekah di hati yang lain tapi hanya di hatikulah mekarmu itu bisa harum dan menjadi bunga yang terindah. Lathifah! Tuturmu yang lembut hanya bisa bersanding denganku yang tak akan membiarkan siapapun menyakiti dan melukaimu. Biarlah lembutmu cukup semai dalam hatiku yang halus dan nelangsa. Kau tercipta khusus untukku. An-Nawwar! Dan hanya akulah yang membenarkan bahwa engkau sangat terang, engkau pemberi cahaya di hatiku yang gersang. Biarlah hatiku dan hatimu yang akan menyatukan cinta yang suci.’ Dan dia sendiri yang membenarkannya ujaran hatinya itu.

Hatinya remuk, jika ingat tak boleh ada perasaan yang lebih hingga di hati orang yang beriman kecuali Allah, maka Zilul segera mendesah Tasbih, Tahlil, Tahmid, Takbir, dan Istighfar dalam hatinya yang kini selalu goyah dan terisi bayangan wajah bidadari itu. Bayangan yang seharusnya tidak boleh ada jika itu merusak iman dan ibadahnya pada Rabb yang Menciptakan segala sesuatu.

Zilul berupaya keras menyingkirkan bayangan itu..., sekuat tenaga hatinya membenahi keterpurukan perasaan namun hatinya semakin meradang karena pikirannya telah dipenuhi bayangan wanita lembut dan cantik Naurah, seorang aktivis ketua Bendahara Umum At-Taghyir.

          

Sepeda  jengki milik Shafwan itu terus melaju, membawa pengemudinya, membelah angin di atas jalan raya Kota Metro yang panas menguapkan aspal, membuat liukan-liukan bergoyang bagai awan yang selalu berubah-ubah bentuknya, atau bagai air yang ditimpa benda berat hingga menciptakan gelombang tak tentu yang terus memantul.

Debu – debu panas yang beterbangan menempel pada apa saja yang ditemukannya. Mata jernih Faza merasa aman kini, Faza bersyukur atas pinjaman kacamata Shafwan. Allah teramat dekat dan sayang padanya. Maka, kini dia berjuang untuk lebih dekat padaNya. Dengan berdakwah.

SMA Negeri 3 letaknya cukup jauh, sekitar 10 km. Setengah jam naik kendaraan sepeda. Hendak cepat naik angkot, tapi uangnya harus benar-benar hemat untuk persiapan penyusunan skripsi dan biaya SKS kuliah. Mobil, motor, dan kendaraan-kendaraan lain yang melewatinya begitu cepat hingga menimbulkan hembusan angin marah dan panas cukup kencang memukul-mukulnya hingga rambutnya terombang-ambing. Keringatnya mulai mengucur deras, sekaligus dipancing terus mengalir oleh bara panas sang bola api yang mentereng di tengah-tengah langit.

Faza tersenyum menatap langit, matahari yang panas yang kata para ahli kini disebut pemanasan global yang disebabkan pengaruh rumah kaca atau penebangan hutan-hutan secara ilegal. Matahari yang sangat terang, sangat panas. Seolah berkata padanya, ’Aku mencintaimu, tapi aku akan menempamu agar kau bertambah kuat dan dekat dengan Sang Penciptamu. Bersabarlah..., karena ada balasan yang disembunyikan untukmu jika kau menetapi Allah,’ maka, Fazapun tersenyum menantang dan mengiringi mentari yang berpijar di petala langit.

Faza menatap langit yang bercahayakan terang. Bibirnya mengucapkan ayat-ayat Allah, sebuah ayat Al-Quran yang jika dilantunkan hatinya menjadi sejuk walau berada di tengah lautan duri, walau berada di tengah kobaran api seperti Ibrahim as. ketika dilemparkan dikobaran api yang tiba-tiba menjadi dingin rasanya.

”Hai orang – orang yang beriman, (Allah..., Allah hanya memanggil orang-orang yang beriman yang ketika dibacakan ayat-ayatNya maka bergetarlah hati mereka, dan bertambahlah iman karenanya) jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu.  ”

Kini, yang ada di pikiran Faza adalah sosok anggun lagi cantik. Jika dia bunga, dia baru saja mulai merekah. Kemampuannya dalam menganalisa sungguh bravo, bahkan sosok anggun itu pernah mengajarinya menyelesaikan tugas kuliah statistiknya. Mulanya Faza hanya bercanda untuk minta tolong dikerjakan, tapi gadis anggun itu hanya melihat contohnya lalu mengerjakannya dengan cepat, padahal Faza memakan waktu sedikit lebih lama untuk mengerjakannya. Itupun sesudah mempelajarinya di Kampus dan mengulangnya di kontrakan.

Sosok anggun itu sangat menawan hatinya, jika kedua sudut bibir gadis itu tersungging senyum kala menyambut kedatangannya. Dalam angannya hanya ada kebahagiaan untuk gadis anggun itu walau itu akan menyakitkannya. Jiwa raganya rela dikorbankan untuk gadis anggun itu, gadis yang mengingatkannya akan pertemuan terakhir dengan almarhum ayahnya serta mengingatkannya pada wajah almarhum ibunya yang selalu tersenyum.

Wanita anggun dalam ingatan Faza adalah Azizah Sabbah An-Nasyath. Faza biasa memanggilnya Iza, keluarga satu-satunya yang dia miliki. Adik kandung satu-satunya. Ibunya meninggal dunia ketika melahirkan Iza karena pendarahan yang hebat, Allah mengambil Ibunya dan memberikan pengganti berupa bayi perempuan kecil kala umurnya baru lima tahun. Iza..., kau harus bahagia, apapun yang terjadi.

Pedalan kakinya terus mengayuh, ritme gerakannya terus berputar mengiringi intonasi alam berupa dengungan bus yang melaju, deruman motor para remaja yang dimodif bagai kerangka atau seirama dengan bunyi peluit yang ditiup tukang parkir di ruko – ruko pinggir jalan atau dinas kota atau apotek maupun jika ada barnamaj  di mintakat-mintakat perhelatan.

Mobil – mobil angkot riuh menggemakan knalpot bagai kumbang-kumbang berpantat kuning yang melubangi atap-atap kayu rumah, bisingnya saling menawarkan jasa antar. Teriakan-teriakan kernet memanjakan diri bagai nyanyian sumbang penyanyi pemula atau amatiran, sungguh panas terasa di telinga lebih panas dari panggangan mentari. Mobil-mobil angkot itu saling salip, dunia mereka para supir mengajarkan untuk menghadapi bisingnya kehidupan terminal dan jalanan dalam naungan panas menyengat, hiburan mereka bagaikan sapi yang saling mendahului kala lomba parapan sapi, sungguh hiburan yang miris dan sangat ironis untuk menyenangkan hati. Bukankah hiburan itu hanyalah berdzikir, agar hati merasa teduh dan aman dari bisikan syetan? Sayang sedikit dari mereka yang tahu.

”(Yaitu) orang – orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenang dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah hati akan menjadi tenteram.”(QS. Ar-Ra’d: 28).

Hari ini Faza jatah puasa Daud. Sehari puasa dan sehari berbuka. Maka, air minum dalam keranjang tasnya adalah simbol usahanya menjaga keikhlasannya agar di kontrakannya baitul’ilmi, teman – temannya tak ada yang tahu amalan yang dilakukannya tanpa henti dari umurnya dua belas tahun hingga kini usianya mendekati angka 23. Dan usahnya berhasil karena hingga kini sahabat-sahabatnya tidak menyadari akan puasanya itu. Puasa satu hari dan satu hari berbuka dijalaninya dengan penuh cinta dan amanah, baru sekali dia putus yaitu sekali sewaktu dia sakit demam berdarah dua tahun yang lalu.

Faza punya alasan motivasi tersendiri kenapa puasa itu terus dijalaninya. Mungkin hanya dia dan Rabbnya yang tahu.

Keringatnya membasah baju di dalam kerubung jaketnya, peluh juga terlihat mengucur dari wajahnya yang bersih berkilatan ditimpa sinar mentari melewati waktu dzuhur itu. Ditambahnya kecepatan kayuh sepedanya, pasti para murid-murid kajiannya telah menunggunya dengan penuh rindu. Biasanya, kala sepedanya sampai dan diparkir di depan mushola Al-Furqon, wajah – wajah ceria dan polos itu tersenyum seolah padang air yang melepaskannya dari kecapaian di padang gersang.

Faza memiliki enam binaan yang harus dikelolanya setiap minggu. Rasa cintanya pada Sang Khalik telah membuatnya menjadi tegar di kala badai menerpa, menjadi karang di tengah amukan moral yang hancur dan tak peduli akan generasi Islam. Kemiskinan akan harta tak membuatnya menjadi lemah sama sekali dalam urusan dakwah. Usahanya tak perlu ia perlihatkan pada orang lain, cukuplah Allah semata sebagai saksinya, Hasbunallah wani’mal wakiil ni’mal maula wani’mannasyiir.

Membina rohani Islam di SMA 3 setiap ba’da shalat jum’at, lalu di SMK Negeri I ba’da pulang sekolah setiap hari senin, di SMA 4 setiap pukul 13.00 setiap hari selasa, hari Rabu khusus di Mozaik Entertainment mengajar sastra bagi para pemula yang ingin belajar sastra. Untuk dua binaannya yang lain, yaitu mahasiswa. Masing-masing sepuluh orang yaitu Rabu pagi pukul 07.00 dan hari kamis ba’da Dzuhur. Kuliah yang ditinggalkannya juga masih ada lima mata kuliah. Jadwal yang ketat selain dia sendiri harus mengikuti kajian untuk menambah ilmu-ilmunya. Ilmu bagi para pemuda adalah bagaikan harta terindah yang merupakan puncak pendakian seumpama para petualang penakluk gunung maupun hutan.

Selain itu, dia adalah seorang Penulis muda yang namanya sudah tidak diremehkan lagi di Sastra Kota Metro. Dia kadang sering diundang untuk mengisi kajian sastra oleh Dewan Kesenian Metro. Jika Mozaik Entertainment, dia dan kawan-kawannya yang tertatih-tatih mendirikan organisasi seni itu. Faza meluangkan waktu setelah shalat malam atau ba’da tilawah setelah subuh untuk mengasah terus kemampuan menulisnya. Novelnya kini sedang dalam proses editing, setelah itu rencananya ingin mengirimnya ke penerbit Jogyakarta yang biaya cetaknya semua dari penerbit. Tapi..., dia masih ragu, apakah karyanya pantas untuk diterbitkan?

Begitulah ilmu bagi Faza, setiap malam sabtu dia selalu hadir jika tak ada halangan di masjid Mujahiddin ba’da isya’, letaknya di sekitaran Polres Metro, dekat dengan Terminal dan merupakan daerah komplek Muhammadiyah. Faza juga rutin setiap malam minggu, kajian di Masjid Babussalam yang diisi Ustadz Ramadhan Habibi Atau Faza selalu hadir dalam acara Tatsqif dua minggu sekali di Al-Qolam, lalu sebulan sekali setiap awal bulan menghadiri majelis ta’lim di masjid Al-Jihad, atau dua minggu sekali kajian di malam bina iman dan taqwa dua bulan sekali, yang diadakan organisasi Ghuroba yang membidangi pembinaan pelajar dan masyarakat yang Dia sendirilah sebagai ketuanya.

Jika memikirkan ilmu maka otaknya selalu cerah dan siap menampungnya. Kemiskinan baginya bukan penghalang sama sekali, lebih baik menahan lilitan lapar daripada menahan ilmu. Kuliahnya tidak terganggu sama sekali, tetapi lebih meningkatkan semangatnya. Kuliahnya sempat terhenti selama satu semester, cuti, bukan karena dia tidak sanggup menerima ilmu atau malas tetapi dia berhenti karena uangnya digunakan untuk memasukkan adiknya Azizah ke Perguruan Tinggi STAIN. Adiknya sempat menolak dan menginginkan Kakaknya menyelesaikan kuliahnya dulu baru dia akan masuk Perguruan Tinggi. Saat itulah, dalam sejarah Faza yang lembut itu sedikit keras suaranya bukan karena marah tetapi karena cintanya yang terlalu besar pada sosok anggun adiknya Azizah.

Terjadi kecelakaan di depan pondok pesantren Wahdatul Ummah. Sebuah mobil dan motor beradu kepala. Korban dari pengemudi motor terjatuh bersimbah darah. Kecelakaan itu di depan Faza yang tengah asyik berdzikir. Dia segera sigap membantu mengangkat tubuh pengemudi motor hingga mencegat sebuah mobil untuk diantarkan ke Rumah Sakit. Pengemudi mobil mau bertanggung jawab, dia yang menemani korban ke Rumah Sakit. Faza lebih lega, dia meneruskan perjalanannya.

Kayuhnya telah mencapai bundaran dua sembilan, dibelokkannya stang sepeda kearah kiri, sekitar dua kilo lagi. Bibirnya terus mendesah dzikir tak henti. Dia teringat dua hari ini tidak setor dengan Ustadz Ramadhan di Masjid Babussalam, tempat masjidnya Pesantren Darul Arqam. Tadi pagi, dia terlupa karena setelah tilawah pagi harus belanja tahu, tempe dan pisang serta bahan-bahan lain untuk dagangan gorengannya di depan kontrakan. Biasanya yang belanja Lutfi, tapi dia sedang sibuk-sibuknya persiapan ujian skripsinya, Faza tak tega. Jika teringat masalah skripsi, ada penyesalan kuat mendera jiwanya. Dia harus segera menyusul teman-temannya.  Semester ini, Insyaallah dia akan mengusahakannya setelah KKN Fakultas Ekonomi.

Faza memuraja’ah surat Al-Ghaasyiyah yang baru dihafalnya, tapi belum sempat disetorkan ke Ustadz Ramadhan. Tidak ada yang terlambat untuk menghafalkan Al-Quran, umur berapapun, karena itulah kata-kata terindah yang pernah didengarnya di muka bumi. Sebagai maha karya terbesar dari the Greatest, Allah Azza wa Jalla. Bibirnya terus mengalunkan nada-nada terindah yang pernah ada, elegi dan kadang syair bahagia, ode terdahsyat. Faza belum lama mencintai Al-Quran, kini dia baru memulai menghafal Juz 30.

Mata Faza kini semakin mantap menatap matahari sejenak, hatinya berteriak, ”Sungguh! Demi Allah yang menciptakanmu wahai matahari. Kau tak akan bisa sama sekali meruntuhkan sedetikpun jiwaku yang telah terpenuhi akan cinta padaNya. Kau tak akan bisa menyurutkan langkahku ke belakang walau kau membuat peluhku membasah baju dan melekat hingga menimbulkan bekas basah pada baju dan tasku. Karena aku datang hanyalah untuk memenuhi panggilan Allah! Hanya untuk Allah,” SMA 3 telah terlihat gerbangnya. Batu, pasir, semen, cat, kayu, besi, semua menyambutnya dengan salam terindah dalam setiap dzikirnya masing-masing.

”Katakanlah, ’Sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidupku, dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan Semesta Alam. Tiada sekutu bagiNya; dan demikian itulah yang diperintahkan kepadaku dan aku adalah orang yang pertama – tama menyerahkan diri (kepada Allah).” (Al-An’aam : 162-163)

Alam semesta turut melantunkan doa bagi para pencari ilmu dan yang mengajarkannya. Semuanya mendoakan para pencari ilmu untuk kebaikannya, seluruh hewan, tumbuh – tumbuhan, gunung-gunung, lautan yang luasnya tak terbatas, bukit – bukit, danau – danau, semut di dalam sarang – sarangnya, bahkan seluruh ikan di dunia ini mendoakan agar para pencari ilmu diberikan pemahaman yang mendalam untuk semakin menguak rahasiaNya. Para malaikat ikut andil memayungi dengan rahmat siapa saja yang mencari ilmu, memayungi hingga lapis langit ke tujuh dan di sampaikan kepada Rabbnya.

Sambutlah cahaya kemulyaan

Dari tempatmu menyalakan pijar

Karena alam memercayai 

Bahwa manusia telah berdiri di gerbang fajar keagunggan

Dalam kristal-kristal bening

Yang meleleh sebagai bukti pengorbanan

Ilmu itu tak akan diperoleh

Kecuali dengan tumpukan luka

Dan perihnya peluru-peluru yang mencabik-cabiknya

Hingga bibir yang telah pecah-pecah itu hanya mengucapkan kalimat

’Hanya cinta yang membuatku bertahan’

 

Langgam setiap kehidupan akan berakhir, tinggal kita memilihnya. Akhirnya, langsam kita menuju, terus berjalan, hingga tak terasa ujung perjalanan sebenarnya hanya tinggal selangkah lagi.

 

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!