Warna Pelangi Cinta
Menjemput Bidasari (1)
Rapat Pengurus Harian berakhir di sekretariat At-Taghyir. Ruangan itu di sekat menjadi dua ruangan; pertama untuk ruangan laki-laki dan Ruangan kedua untuk ruangan perempuan. Di antara dua ruangan itu dibuat celah lubang bawah dan tinggi pembatasnya sebatas tinggi orang dewasa agar ketika rapat dapat terdengar jelas. Penataannya di buat ketika masuk ada ruangan kecil di depan, ada perpustakaan buku dan langsung dihadapkan dua pintu laki-laki dan perempuan. Di setiap ruangan memiliki kelengkapannya sendiri-sendiri, komputer dan kelengkapan lainnya.
“Marilah kita tutup rapat PH kita dengan melafadzkan doa kafaratul majlis,” suara lembut itu mengajak delapan orang yang berada disana untuk mengakhiri rapat.
Hati Zilullah kembali bergetar mendengar suara itu, ditegarkannya. Matanya terpejam, bibirnya lirih melafadzkan doa, “Subhhaa nakallaa humma wabihhamdika asyhadu alla ilaa ha illaa anta astaghfiruka wa atuu bu ilaika, ”
Rapat ini adalah rapat terakhir Pengurus Harian At-Taghyir, karena dua hari lagi akan diadakan reorganisasi, Musyawarah pemilihan ketua baru At-Taghyir.
“Aku akan selalu merindukan kalian semua sahabat-sahabatku,” tiba-tiba kalimat itu meluncur saja dari bibir Zilul. Suasana tenang dan sangat tenang. Ada kegetiran dalam ucapan Zilul yang biasa dikenal agak keras oleh teman-temannya. Tapi, kaliman melankolis singkatnya itu hanya menjadi angin lalu yang diembuskan dan hilang membaur bersama aliran gumpalan angin yang lain.
Satu-persatu orang pamit pada Zilul yang masih di ruangan sekretariatan, didahului perempuan karena bersiap-siap untuk meminta tanda tangan pada Pembantu Rektor empat di bagian kemahasiswaan. Zilul masih bersama sekretarisnya, Lukman Hakim.
“Afwan Akhi lupa, surat permohonan tempat belum ditandatangani,” suara lembut itu kembali menampar kesadarannya, mendayu di dalam khayalan Lutfi.
“E... iya,” Lutfi menarik sebuah kertas yang disodorkan dari sekat ruangan melalui celah di bawahnya. Matanya melirik sejulur jemari lentik yang mendorong kertas tersebut, sungguh lembut dan gemulai. Astaghfirullah! Ada apa denganku sebenarnya ya Allah! Dosa! Dosa! Wahai Zilul! Perasaannya Zilul semakin tak karuan. Hatinya yang gemetaran memaksa tangannya menggerakkan pena dengan ukiran-ukiran yang disepakati semua orang sebagai tanda tangan.
“Ini Ukhti,” ada serak dalam setiap ucapannya jika berhadapan dengan Naurah, entah ada apa dalam hatinya yang seolah-olah tersihir oleh semua pribadi yang ada pada Naurah. Wajahnya memang cantik, bahkan bagaikan pualam bercahaya di antara gemintang yang lain serta sifatnya yang santun dan perhatian mampu memikat setiap hati siapapun yang mengenalnya dan yang paling terpenting adalah kedalaman agamanya. Inilah kriteria yang dicanangkan dalam-dalam oleh Zilul.
“Oh ya Ukhti, sebentar,” entah darimana kekuatan itu timbul, ataukah karena takut sebuah kata yang membentang di depan? Yaitu perpisahan.
“Ada yang terlupa Akh?”
“Anti sudah yudisium?”
“Alhamdulillah sudah, tinggal menunggu hari wisuda saja. Ada apa memangnya Akh?”
“Tidak apa-apa, berarti Naurah juga akan meninggalkan kampus UM juga.”
“Iya, mungkin setelah musyawarah harus pulang untuk bantu-bantu kedua orangtua. Sudah saatnya untuk mengabdikan diri pada mereka. Kalau kak Umar memintaku untuk melanjutkan S2, tapi menurutku mungkin aku tunda dulu setahun. Kalau Ketum sendiri bagaimana? Apakah masih betah disini?”
“Wallahua’lam, aku masih bingung. Ada dua alternatif yang masih membingungkanku. Yang pertama melanjutkan S2 atau, atau... menikah,” ada keraguan di penekanan kata-kata terakhirnya.
“Subhanallah. Ketum sudah istikharah?”
“Alhamdulillah sudah. Tapi, hatiku masih bingung Naurah,” ada ketenangan luar biasa yang menjalari seluruh syaraf Zilul ketika dapat berbincang dengan wanita yang telah memenuhi setiap ruang di hatinya.
“Hei, sepertinya ramai nih. Boleh ikutan?” Lukman yang sedari tadi merapikan kertas-kertas dalam map besar akhirnya ikut nimbrung.
Wajah Zilul menampakkan perubahan dari airmukanya, wajah kurang senang. Dia memasukkan LPJ yang akan dibacakan di acara musyawarah ke dalam tasnya, “Ada yang harus kuurus dulu di Fakultas Hukum. Assalamu’alaikum,” Zilul menenteng sepatunya dan membawanya keluar. Lukman paham sifat Zilul, dia tidak bermaksud menyinggung hanya ketika tadi mendengar obrolan yang seru dia ingin bergabung.
Zilul mengenakan sepatunya di luar sekretariat. Matanya lurus menatap pepohonan yang tumbuh di sekitar Universitas, tampak menjulang tinggi dan di bawahnya tampak parkir yang luas dan ratusan motor saling berhadap-hadapan tersusun rapi bagai laut yang terbelah dan menciptakan jalan.
Zilul melewati jalan di antara parkiran motor, tujuannya bukanlah di Fakultas melainkan duduk di pinggir sungai di ujung perbatasan Universitas dengan persawahan yang dibatasi tembok besi berlubang-lubang sehingga Zilul dapat menikmati udara sejuk persawahan dan menikmati deburan air sungai mengalir. Pikirannya berenang bersama aliran sungai.
Zilul pandanga yang pertama itu adalah bagianmu dan yang kedua itu adalah dosa atasmu. Tapi, ketika melihat Naurah saat bersama sahabat-sahabatnya dadanya bergetar amat kuat. Saat senyum Naurah terkembang itulah, seluruh syaraf dan hatinya tersihir oleh keindahan tiada terkira. Jika sudah begini, Zilul teringat lagu sebuah lagu nasyed dan tiba-tiba dia merasa teramat lemah di hadapan Allah ’Azza wa Jalla.
Jika mata,
Diuji manisnya senyuman
Terpaling rasa, menyubur harapan
Dan seketika,
Teruntai ke dunia khayalan
Hingga terlupa singkat perjalanan
Tersadar aku
Dari kerlingan
Dibuai lembut belaian cinta
Rela kubenamkan mimpi yang telah tersimpan
Hingga kukeasyikan
Kusangka keindahannya merampas rasa cinta
Pada Dia yang Sempurna
Allah? Kenapa cinta ini semakin menyakitkanku? Di atas nama cinta kepadaMu, aku ingin menyingkirkan semua cinta yang menghalanginya. Tapi kenapa aku tak mampu menyingkirkan wajah Naurah jauh-jauh dari hatiku. Apakah ini berarti aku telah mengkhianatiMu ya Allah? Aku sudah berusaha sekuat tenagaku Allah, tapi aku tak bisa..., sungguh! Aku tak bisa..., aku harus segera menyelesaikannya. Iya, itu lebih baik.
Zilul telah menyiapkan segalanya, rencana-rencana telah bermain di pikirannya.
Saat malam memainkan perannya. Zilul keluar dari Baitul’ilmi, segala kemungkinan dan konsekuensi telah dipikirkannya matang-matang. Ini adalah bagian dari ikhtiarnya, walau dia sendiri ragu akan ikhtiarnya kali ini. Benar atau salah? Yang jelas, hatinya merasa resah tetapi pikirannya tidak bisa lagi membiarkan semuanya menggila dan binasa. Dia harus melakukannya, atau binasa.
Malam ini, rembulan tampak malu-malu di balik awan. Malam yang sunyi, siapa yang bisa menggunakannya sebaik-baiknya akan mendapat naungan dan lindungan Allah. Karena malam, adalah tanda kegelapan dan misteri. Di baliknya, ada orang yang ditunjukiNya melakukan kebaikan dan ada yang melakukan penyelewengan-penyelewengan. Tabir malam adalah pusat dari segala misteri kegaiban.
Dia mengatur urusan dari langit ke bumi, kemudian (urusan) itu naik kepadaNya dalam satu hari yang kadarnya (lamanya) adalah seribu tahun menurut perhitunganmu. Yang demikian itu ialah Tuhan yang mengetahui yang gaib dan yang nyata, Yang Maha Perkasa lagi Maha Penyayang.
Tujuannya adalah satu, rumah Solekhan. Solekhan adalah sekretaris bidang dakwah atau sering disebut kaderisasi. Untuk apa Zilul kesana di malam hari begini? Namun, Zilul telah mantap melangkah.
Rumah Solekhan tidak terlalu jauh dari Baitul’ilmi, mungkin berkisar satu kilometer. Zilul berjalan kaki, sebenarnya dia mempunyai kendaraan jika mau namun dia tidak membawanya ke Metro. Dia ingin mandiri dari semua fasilitas orangtuanya karena ingin menunjukkan bahwa dirinya dapat berdiri sendiri tanpa selalu dibayangi orangtua yang teramat memanjakannya dengan memberikan apapun yang diminta namun kelemahannya adalah hausnya rasa kasih sayang yang diberikan.
“Assalamu’alaikum Akhi,” seseorang menyapanya ketika melewati masjid Babussalam. Orang yang menyapa itu sedang mengunci pintu gerbang kecil di belakang masjid yang langsung terhubung dengan pondok mahasiswa Darul Arqam.
“Wa’alaikumsalam. Silaturahim Ustadz, ada sesuatu yang penting,” Zilul berhenti sejenak dan menyalami Ustadz Ramadhan. Tangan itu bertemu di antara lubang gerbang.
“Apa tidak bisa besok saja? Ini sudah pukul sebelas malam,” Ustadz Ramadhan mengingatkannya.
“Memang sebenarnya kurang baik bertamu di malam hati Ustadz, tapi ini penting bagi saya.”
“Iya ya, saya tahu. Memang pemuda dari dulu sukanya terburu-buru saja, apalagi untuk urusan kampus dan skripsi. Ya sudah, lanjutkan perjalananmu,” Ustadz Ramadhan tersenyum.
Zilul melanjutkan perjalanannya melewati STAIN, jalanan di kala malam sangat sepi hanya beberapa motor berkecepatan tinggi sesekali melesat menimbulkan desau angin dingin malam. Dikuatkannya ayunan kakinya yang sempat ragu ketika melihat wajah bersinar Ustadz Ramadhan yang sering mengisi kajian pekanan di At-Taghyir. Kesempatan tidak akan datang lagi, aku harus menyelesaikannya atau menyesal selamanya.
Universitas Muhammadiyah yang menjulang tinggi dilewatinya, jembatan pembatas antara Kota Metro dan Lampung Timur dilaluinya. Sebentar lagi. Dari jembatan itu kurang lebih 25 meter, Zilul berhenti di mushala Baiturrahman. Dia berjalan menuju belakang mushala, sebuah kamar kecil dihampirinya. Zilul mengucapkan salam sambil mengetuk pintu pelan.
Agak lama ditunggunya, diulanginya lagi salamnya. Menunggu beberapa detik, jika tiga kali tidak ada jawaban, berarti aku pulang. Saat tangannya hendak mengetuk ketiga kalinya, terdengar suara menjawab salam serak dari dalam. Lirih. Zilul tersenyum, akhirnya ada juga dan dia sudah tertidur rupanya.
Pintu terbuka pelan. Wajah yang menyipit karena baru bangun tidur tersenyum kecil menatap tamunya, “Ada apa Bos malam-malam begini, tidak biasanya?” Solekhan menjabat tangan Zilul dan tangan kirinya mengucek-ucek matanya.
“Silaturahim, memangnya tidak boleh?” Zilul tersenyum.
“Maksudku, tidak seperti biasanya. Ayo silakan masuk,” Solekhan mempersilakan tamunya masuk dan mereka duduk di tepi ranjang. Ruangan yang agak sempit, maklum Solekhan adalah marbot masjid Baiturrahman. Menjadi marbot di Kota Metro banyak diminati para duta-duta ilmu yang kekurangan dalam hal finansial, karena biaya kost terhapuskan dan kadang-kadang selalu saja ada rejeki dari para tetangga di sekitaran masjid. Selain itu, menjadi marbot adalah sarana tepat untuk semakin mendekatkan diri kepada Allah.
Solekhan memompa air di galon, menampungnya dalam gelas. Ditaruhnya gelas itu di meja, “Minum Bos, pasti haus karena berjalan dari kontrakan,” Zilul tersenyum. Masih saja Solekhan memanggilnya, “Bos” jika sudah begitu dia merasa akan sulit meninggalkan teman-temannya di At-Taghyir.
Zilul meminum air putih itu, “Selain silaturahim, aku ingin melihat data-data aktivis At-Taghyir. Sebelum aku pergi, aku ingin menyalin beberapa.”
Solekhan mengangguk-angguk sambil matanya kriyip-kriyip. Maklum malam telah menunjukkan tengah malam. Soleh masih duduk di sebelah Zilul, sarungnya masih melilit di lehernya, melingkar.
“Buka saja di lemari pakaianku Bos, di dalam map. Cari sendiri saja ya Bos.”
Zilul menganggguk sambil meneguk air putih, setelah itu dia beralih ke lemari dan membuka pintunya yang tidak terkunci.
“Di rak yang paling bawah Bos, aku mau tidur lagi. Nanti, kalau mau pulang bangunin saja tapi kalau mau nginap berarti Bos yang kunci pintunya,” Solekhan langsung rebahan sambil membetulkan kemul sarungnya.
Zilul segera membaca sampul-sampul map yang berada di tumpukan sebelah kiri. Ini dia. Sebuah map bertuliskan “Data Anggota At-Taghyir.” Dibukanya buku folio besar di dalamnya, semua data anggota mulai dari awal berdirinya At-Taghyir terlihat disana. Zilul menengok ke belakang sejenak, Soleh terlihat sudah nyenyak dengan tidunya.
Zilul mencatat semua keterangan yang dianggapnya penting tentang seorang anggota wanita. Naurah. Dia segera membereskan kembali buku itu di dalam map dan menutup lemari. Solekhan dibangunkannya untuk pamitan pulang.
“Tidak jadi menginap?”
“Ada yang masih harus diselesaikan nih.”
“Ya sudah,” Solekhan mengikutinya hingga di depan pintu.
“Makasih ya, aku sudah sering merepotkanmu.”
“Seperti dengan siapa saja,” Solekhan tersenyum.
“Assalamu’alaikum.”
“Wa’alaikumsalam warahmatullah,” Solekhan melihat punggung Zilul hingga menghilang di kejauhan dan pekatnya malam. Aneh kak Zilul, tidak biasanya kesini malam-malam begini. Biasanya jika silaturahim kesini pasti sore hari, itupun sangat jarang dilakukannya. Astaghfirullah, aku telah berhusnudzon . Solekhan menutup pintu kembali dan meneruskan tidurnya yang sempat tertunda, dilihatnya jam weker. Ternyata telah dihidupkan pukul 03.15, dia meneruskan tidurnya yang sempat tertunda.
Lutfi agak ragu-ragu. Tangannya gemetaran hendak mengetuk pintu rumah Ustadz Fajar malam ini, namun segera ditepisnya perasaan ragu-ragunya. Bukankah keragu-raguan berasal dari syetan? Begitu pikirannya meyakinkan. Terdengar lantunan Al-Quran lembut dari dalam rumah. Ketukan pintu dan suara salamnya yang sedikit gemetar akhirnya terjadi juga. Jawaban salam segera terdengar pelan dari dalam.
Pintu perlahan terbuka, wajah dari dalamnya segera tersenyum akrab.
“Ada tamu istimewa rupanya, masuklah Lutfi,” suara itu sungguh teduh, seteduh wajah yang selalu mendekatkan dirinya pada Allah. Mereka bersalaman, ustadz Fajar masih terbilang saudara dekat, bahkan sangat dekat dengan Lutfi karena ustadz Fajar adalah anak dari Kyai Bisri yang merupakan kakek kandungnya. Ustadz Fajar adalah adik kandung ayahnya. Kyai Bisri merupakan Kyai pengasuh pondok pesantren An-Nawwar di Kalianda. Jadi, ustadz Fajar adalah pamannya.
“Afwan mengganggu Ustadz malam-malam begini,” Lutfi masuk mengikuti pamannya yang lebih duduk di tikar di ruang depan itu. Ustadz Fajar terkenal dengan kesederhanaannya, walaupun beliau seorang guru besar dan dosen di STIT Agus Salim namun rumahnya terlihat sangat sederhana. Lutfi maklum dengan pamannya yang selalu mengutamakan kesederhanaan hidup sebagai wujud kehati-hatian dan wara’. Tapi, di tikar itulah beberapa Mahasiswanya yang datang untuk bimbingan skripsi, jadi lebih akrab, menjadi serius dengan bimbingan yang penuh perhatian.
“Kebetulan kamu datang, bibimu baru saja membuat keripik tempe dan pisang pisang goreng,” ustadz Fajar lalu menengok ke arah belakang, “Dik, sudah matang belum? Ini ada keponakan kita Lutfi datang,” sungguh ada getar yang tiba-tiba muncul di hati Lutfi. Alangkah lembutnya pamannya itu memanggil istrinya, mesra walaupun pernikahan mereka terbilang sudah lama karena anak mereka kini tiga dan yang pertama sekarang kelas satu SMP plus mondok di Bandar Lampung. Ada kerinduan yang tiba-tiba menyusup di hatinya untuk segera menikah, membina kemesraan, dan memperkokoh keimanannya. Aduhai..., Allah mudahkanlah urusanku.
“Aku jadi merepotkan paman nih,” Lutfi menatap pamannya yang melepas kacamatanya dan menaruh di meja kecil di samping mushaf di atas meja kecil di sampingnya.